gb3n (geben)

Posted: May 19, 2013 in Gb3n story 1

“gb3n” (geben) sebuah kata yang pernah kusalah artikan tapi justru kini melekat bahkan menjadi icon dari diriku. Yups, seperti artinya dalam bahasa Jerman (memberi) akupun ingin selalu dapat menjadi pemberi kebahagiaan bagi orang-orang disekitarku.

Meskipun hidup terbilang cukup keras buatku, tapi aku mensyukuri betapa aku telah menjadi bagian dari kehidupan mereka yang dengan penuh kasih menyayangi aku. Dalam hidup aku selalu menyakini satu hal bahwasanya jika kita membantu orang lain dengan tulus maka Allahlah yang kelak akan membantu kita. Sesulit apapun keadaan kita.

Dan setiap rencana indahku untuk mereka yang aku sayangi, sepertinya Allah selalu memberi jalan dan memudahkannya untuk menjadi nyata. Menjadi penyempurna kebahagiaan orang lain terutama orang-orang disekitarmu adalah hal yang juga membahagiakan buat diriku. Aku selalu ingin dapat menghapus mendung dari wajah mereka. Seperti seniman yang mengukir senyuman dan menjadikan harapan mereka menjadi bentuk. Aku adalah g3bn pemberi yang selalu ingin memberi karena aku menyayangi mereka.


Saya 20 Tahun Kemudian

20 tahun kemudian saya akan telah berumur 47 tahun, saya akan tinggal di Kalianda, Lampung Selatan bersama suami tercinta dan kelurga kecil kami. Tentunya saya akan menjadi seorang ibu namun saya akan menjadi ibu yang modis dan dekat dengan anak-anak.

Selain menjadi ibu rumah tangga yang baik, saya akan punya kesibukan lain yaitu sebagai guru PAUD dan menjadi pemilik toko pakaian yang letaknya tepat didepan rumah kami. Dan kegiatan yang paling menarik di keseharian saya adalah dapat berbagi ilmu dan menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi orang lain disekitar saya. Saya dan ibu-ibu sekitar rumah saya, membuat kerajinan perhiasan seperti kalung, gelang, cincin, bross yang terbuat dari hasil laut (keong, kerang, dan batu2 yang kecil). Kami juga mengolah hasil perkebunan seperti keripik nangka, ubi, dan pisang. Meskipun hasilnya tidak banyak tapi kegiatan ini cukup membantu para ibu rumah tangga untuk member uang saku anak-anak mereka. Biasanya kami menjual hasil produksi kami pada pedagang-pedagang disekitar tempat pariwisata di sekitar kami.

Bicara tempat pariwisata, di Lampung banyak sekali pantai yang sangat indah. Saya dan keluarga hampir setiap bulan bertamasya ke sana. Dan pantai favorit keluarga kami adalah Grand Elty Krakatau, selain pantainya yang indah Grand Elty Krakatau juga memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Disana juga tersedia vila untuk menginap.

Di umur saya yang 47 tahun saya akan telah memiliki 3 orang anak, anak pertama saya akan telah berumur 20 tahun dan sedang mengambil kualiah jurusan pertenakan di Bogor, karena dia mewarisi kecintaan terhadap hewan peliharaan dari ayah dan kakeknya. Anak kedua kami akan telah berumur 17 tahun, dia akan sedang kelas 3 SMA dan dia sangat tertarik didunia pengajaran jadi kami pikir akan memasukan kuliah dengan jurusan FKIP di UNILA nantinya. Sedangkan anak ketiga kami akan telah berumur 12 tahun. Dia baru akan telah kelas enam SD, seperti saya dia sangat suka dunia fashion, dunia lukis melukis, dan tulis menulis. Dia dan saya setuju jika nantinya dia akan masuk sekolah seni untuk mengembangkan bakatnya.

Di dalam kehidupan setiap orang pastilah banyak menemui masalah dan kesulitan-kesulitan, juga saya. Hal yang paling sulit menurut saya adalah ketika mengajak para ibu-ibu untuk lebih kreatif dan menciptakan lapangan kerjanya sendiri. Karena kebanyakan dari mereka berpikir wanita itu tidak perlu mandiri karena sudah ada suami. Tapi saya rasa saya telah bisa mengubah pemikiran mereka. Dan saya sangat bersyukur untuk itu.

Saya tahu saya akan dapat menjadi orang yang lebih berguna bagi orang-orang disekitar saya di masa depan, tapi saya tidak pernah tahu rasanya sebahagia ini dan ini sangat membanggakan bagi saya juga keluarga saya. Terima kasih buat keluarga dan orang-orang yang telah mendukung saya selama ini.

 

 

 

I Twenty Years Later

20 years later I would have been 47 years old, I would stay in Kalianda, South Lampung with my dear husband and our little family. Surely I would be a mother, but I would be a mother who is fashionable and close to my children.

Besides to being a good housewife, I would have something else to do that as playgroup teachers and become the owner of a clothing store that is located right in front of our house. And the most interesting activities in my daily life is to share knowledge and become more useful to others around me. The mother around our house, make crafts jewelry such as necklaces, bracelets, rings, bros made from marine products (snails, clams, and small stones). We also cultivate plantation such as jackfruit chips, yams, and bananas. Although the result was not much but this activity help enough the housewife to give pocket money for their children. Normally we sell our products at merchants around the tourist places around us.

Talk tourism places, in Lampung there are so many beautiful beaches. My family and I almost every month jaunt there. And our family’s favorite beach is Grand Elty Krakatau, in addition to its beautiful beaches Grand Elty Krakatau also has complete facilities. There is also available villa for your stay.

In the 47 years of my life I would have had 3 children. My first child would have been 20 years old and currently taking college in science of animal husbandry in Bogor, because he inherited a love of pets from his father and grandfather. Our second son would have been 17 years old, he will was third grade of senior high school and he is very interested in the world of teaching so we thought he would be entering college with a major in Guidance and Counseling in UNILA later. While our third child would have been aged 12 years, she will have a new sixth grade, like me she really likes fashion, painting, and writing. She and I agree that she will be entered art school to develop her talent.

In the life of every person must have a lot of problems and difficulties as well as I. The most difficult thing in my opinion is when invites mothers to be more creative and create his own field. Because most of them think that women do not need to be self-sufficient because there husband. But I think I have been able to change their minds. And I’m very thankful for that.

I knew I would be able to be more useful for the people around me in the future, but I never knew it will be as happy as this and this was so proud to me also my family. Thanks for my family and the people who have supported me over the years.


CIMG0386CIMG0373CIMG0377CIMG0375CIMG0387

ImageImage

ImageImageImageImageImageImageImageImageImageImage

ImageImageImageImageImage

Image  —  Posted: March 8, 2013 in Gb3n story 1

My new place, My new life

Posted: February 4, 2013 in Gb3n story 1

Aku sekarang berada disini, Desa Tanjung Sari, Kec. Palas, Lam-Sel. Desa yang mayoritas penduduknya adalah pembuat gula merah dan petani. Setiap pagi para pembuat gula memanjat pohon-pohon kelapa mereka untuk mengambil air dari dahan kelapa ( kegiatan ini disebut juga Menderes), Setelah itu air kelapa itu di rebus hingga kurang lebih 4-6 jam. Setelah proses itu baru gula dicetak. Mereka tidak khawatir tentang bagaimana mereka akan menjualnya karena sudah ada pengumpul yang siap membayari gula-gula mereka. Perkeluarga setiap harinya bisa mendapat 20-25kg dengan harga per kg sekitar 9000-10000. Sementara para petani kebanyakan menanam jagung, tentu saja sebagian dari mereka juga menanam padi, karet, dan sayur mayur ala kadarnya. Meskipun bukan desa yang sangat sangat pelosok, aku pikir mereka cukup ramah. Kehidupan disinipun terbilang cukup nyaman meskipun agak sepi.

Diluar dari itu semua, aku suka tempat ini. Yups, siapapun pasti akan berkata ini menakjubkan. Aku suka sekali pantai dan entah sejak kapan aku menyukainya. Dan disini aku bisa melihat begitu banyak hamparan pantai-pantai yang indah dengan gunung-gunung yang tinggi disekitarnya. Hemm.. aku bisa menghiruk udara pagi yang segar, melihat kabut masih menyelimuti gunung dan para petani, pembuat gula yang bergegas melakukan aktifitas mereka.

Dan yang membuat semua itu lebih berarti, adalah seseorang disampingku sekarang. Yups, dia Suamiku. (Thanks for bring me to the beautiful place).

Mulai hari ini aku kan bercerita, aku akan menulis, lagi..lagi..dan lagi.. Semangat!!!

Seribu Langkah Terakhir

Posted: October 7, 2012 in Gb3n story 2

Terbiasa hidup bebas, Tania selalu menjalani hidup dengan caranya sendiri. Wanita kelahiran Bandung yang kini berprofesi sebagai guru tari ini, semasa remaja hidupnya selalu berpindah-pindah lantaran tugas ayahnya. Berpindah-pindah kota tak lalu mempertemukannya pada tambatan hatinya. Kini usianya menginjak 29 tahun, tapi ia masih sangat menikmati kesendiriannya. Baginya berkumpul dengan banyak teman lebih menarik ketimbang terikat dalam sebuah hubungan. Lebih tepatnya Tania tidak menyukai sebuah aturan. Sampai Ia bertemu Galih, lelaki yang tinggal satu lantai di atas apartemennya. Galih adalah seorang pekerja kantoran yang selalu berpenampilan rapi, tepat waktu, perfectionist dan jelas dia bukan tipe lelaki idaman Tania. Kesamaan mereka hanyalah sama-sama menyukai kopi dan mereka berlangganan kopi di cafe yang sama di sekitar apartemen mereka. Sering bertatap muka di cafe ataupun di lift tidak membuat Tania tertarik pada Galih. Tapi suatu malam, Galih membuat kehebohan di cafe. Malam itu dia naik kepanggung cafe lalu membawakan satu lagu romantis dengan seikat bunga mawar di tangannya. Semua wanita dalam cafe itu terpanah dengan aksinya tak terkecuali Tania. Mereka berpikir pasti Galih hendak melamar kekasihnya. Tapi ternyata tidak, di akhir lagunya Galih berkata:

“Lagu ini aku persembahkan untuk wanita yang sangat special dan istimewa buat sahabatku Danar, “Melody”.”
Galih turun dari panggung dan menyerahkan bunga itu kepada Danar. Danar segera merogoh sakunya dan mengambil sebuah cincin yang sudah ia persiapkan untuk wanita yang sangat dicintainya. Malam itu menjadi malam bersejarah bagi Danar karena berkat bantuan sahabat baiknya ia berhasil melamar Melody.

Beberapa hari kemudian Tania tidak sengaja menguping pembicaraan Melody dan Galih di pintu lift;
“Apakah mencintai harus begitu?” tanya melody
“Kau masih bisa memaafkannya dengan apa yang dia sudah lakukan padamu?” tanya Melody lagi.
“Ini bukan yang pertama, jadi lupakan saja. Kau tahu Shandra bagaimana, dia akan segera kembali padaku.”
“Andai aku jadi Shandra, aku tidak akan menyia-nyiakan dirimu.”
“Sudah jangan khawatirkan aku, temanku yang cantik. Persiapkan saja pernikahanmu dengan Danar,” ujar Galih sembari mendorong Melody masuk ke lift.
“Jaga dirimu,” kata Melody.
Galih mengacungkan jempolnya sembari tersenyum.

“Hemmm, ternyata dia sudah mempunyai pacar. Bodoh sekali dia mau dipermainkan wanita,” gumam Tania
“Hey kau,” ujar Galih.
“Iya, ada apa?” jawab Tania agak sedikit kaget
“Wajahmu tidak asing, kita sering bertemu kan? Namaku Galih,” ucap Galih sembari menyodorkan tangan sebagai tanda perkenalan.
“Tania,” Tania menjabat tangan Galih
“Nama yang bagus. Lain kali jangan menguping pembicaraan orang ya,” ujar Galih lalu masuk kedalam lift.
“Apa yang dia katakan barusan, siapa yang menguping. Jelas-jelas mereka yang bicara terlalu keras,” Tania menggerutu.

Waktu berlalu namun tidak menghapus kesan menyebalkan Galih di otak Tania dan mereka bertemu lagi di dalam lift.
Saat itu Tania tengah bersama teman-temannya hendak keluar makan. Di dalam lift teman-teman Tania asyik berbisik tentang kekaguman mereka pada Galih.
Usai Galih keluar dari lift, mereka menyerbu Tania dengan pertanyaan.
“Siapa dia Tania?” tanya mereka kompak.
“Galih,” jawab Tania datar.
“Wahh kau mengenalnya, jangan bilang dia lelaki yang kau ceritakan pada kami?”
Tania mengangguk.
“Pantas saja kau betah tinggal di apartementmu. Kau punya tetangga sekeren Galih,” ujar teman-temannya meledek.
“Iya keren, tapi aneh.”
“Aneh kalau dia sampai jatuh cinta padamu Tan,” ujar salah satu temannya yang mengundang tawa diantara mereka.
“Dia bukan tipeku, dia atau aku tidak mungkin jatuh cinta. Kalian dengar,”
“Awas jangan sesumbar, nanti kemakan omongan kamu Tania.”
“Kalian mau taruhan?”
“Tentu saja.”
“Baiklah kalau kami sampai berpacaran, maka kalian bisa makan di tiga tempat semau kalian.”
“Setuju..!!” jawab mereka serentak.

Sabtu malam bersama teman-temannya Tania menghabiskan waktu mereka dicafe, tak disangka Galih dan Shandra juga ada disana. Mereka sepertinya sedikit cekcok setelah seorang lelaki yang tidak lebih keren dari Galih datang menghampiri mereka.

“Kau tidak bisa memutuskan aku. Menunggu hanya itu pilihanmu,” ujar Shandra dengan penuh percaya diri.
“Maaf aku tidak bisa menunggumu lagi, pergilah bersamanya dan jangan kembali. Kita sudahi saja perjodohan kita,” ujar Galih dengan tetap tenang
“Maksudmu?”
“Iya, aku bertemu dengan wanita yang jauh lebih baik darimu dan aku menyukainya.”
“Kau pasti bohong, bukan?”

Galih lalu membawa Shandra ke meja Tania.

“Kenalkan dia Tania wanita yang aku sukai, dia pacarku.”

Galih menarik Tania dari bangkunya, sementara Tania masih terpelongo dengan apa yang baru didengarnya.

“Apa, serius Tania? Kalian jadian?”
“Ohh aku tidak percaya ini.”
“Selamat yach buat kalian berdua kami ikut senang.”
“Tania, jangan lupa traktirannya.”

Cecar teman-teman Tania. Sementara Shandra dan teman lelakinya segera meninggalkan cafe.

“Senang bertemu kalian, tapi maaf aku masih ada urusan. Sampai berjumpa lagi,” Galih berpamitan.
Setelah Galih meninggalkan cafe, Tania mencoba menjelaskan bahwa sebenarnya dia dan Galih tidak berpacaran. Tapi sayangnya teman-temannya keburu percaya omongan Galih ketimbang dirinya.

Keesokan harinya, Tania dan Galih bertemu di Cafe. Tania yang melihat Galih langsung menghampirinya.
“Masalah kemarin, bisa kita bicara?” tanya Tania.
“Dengan senang hati. Duduklah,” ujar Galih
“Bisa kau jelaskan, apa maksud tindakanmu kemarin?”
“Maaf telah melibatkanmu dalam kekacauan ini, apa kau merasa dirugikan? Bukankah kau tidak punya pacar, jadi tidak masalah donk. Aku kan hanya mengakui kau pacarku di depan Shandra.”
“Tentu saja, karena ucapanmu teman-temanku jadi percaya kalau kita pacaran dan aku harus mentraktir mereka di 3 tempat.” ujar Tania sedikit kesal.
“Kalian taruhan?”
Tania mengangguk dengan sedikit malu.
“Kau yang taruhan kenapa menyalahkan aku?”
“Ya karena ucapanmu aku jadi dianggap kalah, pokoknya kau yang harus mentraktir mereka!!”
“Iya, baiklah. Aku yang traktir mereka.”

Setiap akhir pekan selama tiga minggu Galih pergi bersama Tania dan teman-temannya untuk mentraktir mereka. Hal itu membuat hubungan pertemanan mereka semakin erat.
Galihpun mengajak Tania untuk menemaninya hadir ke pesta pernikahan Danar dan Melody. Melihat Galih bersama teman-temannya membuat Tania tahu sisi kehidupan Galih yang hangat.

Minggu pagi Galih dan Tania pergi bersepeda di taman. Tentunya setelah sarapan dan minum kopi di cafe langganan mereka. Setelah lelah menggoes sepeda mereka mengelilingi taman, mereka lalu duduk dibangku taman untuk melepas lelah.
“Boleh aku menanyakan sesuatu Galih?”
“Tentu saja, tanyalah.”
“Kenapa kau sebelumnya mempertahankan hubunganmu dengan Shandra, bukankah dia sudah menghianatimu berulang kali?”
“Oo soal Shandra, aku seperti tidak punya alasan untuk mencegah Shandra datang dan pergi dari kehidupanku dengan sesukanya. Mungkin karena Shandra sangat mirip dengan almh ibuku. Jika bersamanya aku jadi merasa dekat dengan ibuku.”
“Kau tidak mencintainya,” tambah Tania.
“Aku selalu bisa memaafkannya dan dengan setia menunggunya, apa itu termasuk cinta? Galih balik bertanya.
“Hahh,, Kau tidak peduli padanya. Akui saja, kau tidak pernah menunggunya untuk kembali tapi kau menunggunya untuk benar-benar pergi. Apa tebakanku salah?”
“Kau ini sok tahu,” ujar Galih sembari mengusap-ngusap rambut Tania.
“Dari tadi kita membicarakan aku, kau sendiri bagaimana? Kau sudah 29tahun, mengahabiskan harimu dengan anak-anak dan bergaul dengan teman-temanmu yang cerewet sekali, sama sepertimu. Kau kesepian, bukan?”
“Tidak, I’m single and I’m happy.”
“Gengsimu tinggi sekali. Kau sering mengahabiskan kopi sendiri, bukan? rasa kopi membuat perasaanmu nyaman dan melupakan kesepianmu?”
“Aku suka kopi dan kau tahu itu.”
“Tidak,” kata Galih dengan senyuman mengejek.
“Sudahlah, aku mau pulang!!”
Galih menarik tangan Tania agar tetap duduk.
“Dengar Tania, kalau diperhatikan kau ini punya wajah yang cantik, kau pintar dan cukup menarik. Bagaimana kalau aku menyukaimu?” tanya Galih
“Hahhh… sudah jangan berusaha merayuku, kau perlu ingat kau sama sekali bukan tipeku,” tegas Tania.
Tania bangkit dan melangkah meninggalkan Galih.
“Dasar wanita yang sombong,” gumam Galih
“Hai Tania, lalu seperti apa tipemu. Biar aku carikan, temanku banyak. Aku bisa mengenalkanmu pada mereka, bagaimana Tania? Kau mau?” teriak Galih.
“Terima kasih!!” balas Tania sembari tetap berjalan.

Beberapa bulan kemudian Galih berulang tahun Danar, Melody, Tania dan teman-temannya turut hadir di pestanya. Tania diam-diam memperhatikan Galih yang tak melepaskan pandanganya dari Melody. Ada yang berbeda dari caranya memandang Melody. Dikesempatan berdua dengan Galih, Tania mengatakan apa yang ingin iya katakan;

“Sekarang aku mengerti bagaimana perasaanmu dan siapa yang sebenarnya kau sukai. Wanita itu bukan Shandra tapi Melody, bukan?”
“Apa?” tanya Galih yang pura-pura tidak mengerti.
Galih lalu tersenyum yang menandakan ia membenarkan perkataan Tania.
“Kenapa kau tidak memperjuangkan cintamu?”
“Untuk apa? Melody dan Danar sama-sama teman baikku. Keduanya sama pentingnya buatku.”
“Tapi,” ujar Tania
“Sudahlah, jangan lagi bicarakan mereka atau apalah yang berada di belakangku. Sekarang kenapa kita tidak membicarakan hubungan kita saja. Menikahlah denganku,”
“Kau becanda,” ujar Tania terkejut.
“Aku serius, menikahlah denganku”
Tania terdiam.
“Sudahlah aku mau bergabung dengan teman-temanku,” Tania bangkit dari bangkunya.

Tiba-tiba Galihpun bangkit dari bangkunya dan mengambil perhatian tamu-tamunya.

“Hari ini sangat special buatku karena tidak hanya waktu yang telah membulatkan umurku menjadi 30 tahun, tapi terlebih karena kehadiran kalian semua disini. Terimakasih telah menjadi orang-orang yang selalu peduli padaku dan menyayangiku tentunya. Di hari yang sangat berbahagia ini, aku ingin bilang pada seseorang bahwa dia adalah pelangi yang memberi warna dihidupku. Aku ingin dia selalu memberi warna di setiap hari yang akan kulalui selanjutnya.”
“Tania menikahlah denganku,” tutupnya sembari memandang ke arah Tania.
Semua orang bersorak “Terima!!” “Terima..!!” “Terima..!!”

Galih lalu berjalan ke arah Tania. Tania tersipu malu dan terlihat salah tingkah.
“Bagaimana Tania?” tanya Galih
“Ini terlalu manis buatku, terima kasih untuk ini. Tapi maaf..”
Semua orang tidak sabar mendengar Tania menyelesaikan ucapannya.
“Maaf aku tidak bisa menolakmu,” senyuman tersungging dibibirnya.
“Terima kasih,” ucap Galih lalu membubuhi kening Tania dengan kecupan.
Secara bergilir sahabat, kerabat serta keluarga memberi mereka selamat.

Setelah dua keluarga besar Galih dan Tania bertemu, akhirnya mereka sepakat akan melaksanakan pernikahan Galih dan Tania 5 bulan kedepan.

3 bulan kemudian, Tania dan Galih dikejutan oleh kabar duka dari Melody. Danar meninggal dalam sebuah kecelakaan. Selama seminggu Galih mencoba menenangkan Melody, tentunya atas izin Tania. Tania mengerti benar bagaimana perasaan Galih yang begitu kehilangan sahabat karibnya.

Tersisa dua bulan untuk menuju pernikahan mereka, Tania tak hanya sibuk dengan persiapan pernikahan mereka tapi juga persiapan pentas tari terakhirnya.
Namun semua ia persiapkan dengan sangat baik. Akhirnya pentas tari itu sudah ada didepan mata, Tania sudah mewanti-wanti Galih untuk bisa hadir. Galihpun sudah berjanji akan hadir. Tapi sampai acara selesai, bangku milik Galih tetap kosong. Disatu sisi ia sangat bahagia sekaligus bangga karena pentas tarinya terbilang sukses. Tapi disisi lain ia sangat kecewa karena ketidakhadiran Galih terlebih alasannya untuk tidak hadir adalah karena ia harus menjemput Melody dari bandara.

Malam sudah larut, Galih menggedor rumah Tania untuk meminta maaf.

“Untuk apa kau datang kesini, acaranya sudah selesai.”
“Maaf aku harus menjemput Melody dibandara, kau tahu dia baru kehilangan Danar.”
“Aku mengerti, kau mengkhawatirnya.”
“Harusnya aku tak perlu cemburu tapi pentas itu penting buatku, sangat penting bahkan. Aku ingin kau ada disana melihatku karena itu pentas terakhirku. Tapi sudahlah, itu sama sekali tidak penting buatmu.”
“Tania, maafkan aku.”
“Kau tak perlu minta maaf untuk ini. Aku mau istirahat,” ujar Tania sembari menutup pintu.

Sepekan Tania enggan bertemu dengan Galih, hanya pesan singkat yang ia kirimkan pada Galih;
“Aku rasa, aku tidak bisa melanjutkan ini. Aku ingin melangkah lebih jauh, berlari dan menari. Untuk itu aku berhenti, aku tidak ingin mengubah siapapun.Kau tidak bisa mencintai siapa-siapa, tidak Shandra juga tidak aku. Liat ke dalam hatimu, Melodylah yang kau cintai. Dia lebih membutuhkanmu ketimbang aku, sekarang. Jadi pergilah ke sisinya.”

“Hahhh… Dasar sok tahu,” gumam Galih.
Setelah membaca pesan Tania, Galih bergegas menuju tempat dimana dia tahu akan menemukan Tania disana.

“Ini seribu langkah terakhirku dari Melody, berada disisinya membuat aku dapat melihat dengan jelas siapa yang ada dihatiku. Kau tahu siapa? Bukan Melody tapi kau Tania.”
“Aku mundur tidak hanya karena masih meragukan perasaanmu tapi juga karena aku yang mungkin lebih suka hidup bebas, aku suka dengan kehidupan yang aku jalani sekarang meski aku berharap kau akan menemaniku menyeruput secangkir kopi setiap pagi, melihatku menari dan membiarkan aku tetap menjadi diriku. Kau benar-benar bukan tipeku, kau terlalu rapi dan terlalu banyak mengatur. Tapi sayangnya aku menyukaimu, ” Ujar Tania menjabarkan tentang perasaannya.

Galih tersenyum mendengar ucapan terakhir Tania.
“Aku tidak akan membatasi apa yang kau ingin lakukan. Aku akan membiarkanmu tetap menari dan aku akan menemanimu berlari ketempat yang kau suka, berkumpul dengan teman-temanmu yang cerewet itu. Itu aturanku sekarang, jadi menikahlah denganku.”
“Harusnya kau bilang itu dari dulu.”
“Jadi?”
Tania menganggukan kepalanya.

Musim berlalu dengan cepat dan kita tidak pernah tahu pada siapa kita akan menghentikan seribu langkah terakhir kita.

Konsistensi dan Dia

Posted: July 25, 2012 in Gb3n story 2

Ketika langit samar-samar mulai ungu. Diana masih terpaku dengan kedua tangannya yang menyanggah dagu. Guratan di wajahnya yang nampak kaku bersama bibirnya yang terus membisu mencair bersama airmata yang meleleh dipipinya.

“Aku masih kesal,” ujarnya
“Kenapa kau kesal?” tanya Juwita yang sedari tadi duduk menemaninya di teras depan rumahnya.
“Kau tahu setiap orang bisa berbuat lebih baik, lebih maksimal untuk orang lain disekitarnya. Tapi jarang dari mereka yang mau mengorbankan atau menunda kepentingan pribadi mereka demi orang lain.”
“Siapa yang kau maksud, hemm?” tanya Juwita yang mencoba memahami kekesalan yang tengah dirasakan sahabat baiknya itu.
“Orang yang tidak pernah memahami kata KONSISTEN.”
“Memangnya apa yang dia perbuat?”
“Dia itu sama seperti calek-calek kita, yang kebanyakan umbar janji tanpa ada bukti pastinya. Mereka ngga pernah pikir janji mereka bagi orang lain adalah harapan hidupnya. Tapi dengan mudah mereka hancurkan tanpa peduli perasaan orang lain. Kalau gitu mending ngga usah ngomong kan!!!”
“Kau tahu semua orang punya keterbatasan untuk mewujudkan keinginan atau harapan dalam hidup mereka. Kadang hal kecil bagi kita bisa menjadi hal besar atau bahkan sangat berharga bagi orang lain dan sebaliknya. Dan bagi kita yang membantu mewujudkan harapan mereka tentunya dengan ikhlas akan juga merasakan kebahagiaan mereka.”
“Tapi setiap orang punya pilihan, mereka berhak melakukan apa saja, bukan? Termasuk tidak melakukan sesuatu untuk orang lain.” ujar Juwita
“Ya, tapi tidakah mereka menyesali melihat kesedihan dimata orang-orang disekitarnya, tanpa berbuat apa-apa?”
“Bisa jasa, mungkin hal itu karena mereka tidak menyayangi orang-orang disekitarnya.”
“Ya, kau benar. dia tidak menyayangi orang lain. Aku terlalu memaksakan keinginanku, terlalu berharap dia melakukan sesuatu yang lebih baik. Hemmm,” Diana menghela nafas panjang.
“Sudahlah,” ujar Juwita sembari menepuk pundaknya.
“Dengar Juwita, kalau kau merasa kecewa dengan pilihan mereka atau “Dia”. Kau harus berlaku sebaliknya untuk orang lain disekitarmu. Walaupun sulit aku yakin benar kau bisa melakukan yang terbaik yang kau bisa untuk mereka.”
“Yups, aku mengerti. Terima kasih kau sudah mau mendengarkanku.”
Diana dan Juwita bangkit dan melangkah masuk. Namun dalam pikiran Juwita masih dipenuhi tanya siapa orang yang disebut Diana tidak pernah memahami kata konsisten itu.

Cerita kecil pak Dady

Posted: June 22, 2012 in Gb3n story 1

Ini kali pertama aku berkunjung ke tempat kerja Dani, disana aku diperkenalkan dengan seseorang yang sudah paruhbaya. Beliau adalah pak Dady yang mana merupakan pengawas di tempat Dani bekerja. Pak Dady cukup ramah menurutku, ia juga murah senyum. Ketika Dani pergi memeriksa pekerjaanya, pak Dady sedikit banyak bercerita tentang kisah cinta pertamanya dulu. Mungkin karena melihat aku dan Dani lantas membangunkan ingatannya pada gadis yang ia cintai dimasa remajanya.

“Awalnya ia bercerita tentang pekerjaannya kemudian beralih tentang pendidikan yang sebenernya membalut kisah cintanya dulu.
Dizamannya transportasi sangatlah sulit, tidak banyak kendaraan yang mondar-mandir. Setelah mendaftarkan diri ke SMP diluar kotanya yaitu Semarang. Pak Dady menunggu kendaraan Truk untuk membawa mereka kembali ke Yogyakarta. Sayangnya tak satupun Truk yang bersedia mereka tumpangi. Merekapun menunggu seharian di tepi jalan. Seorang bapak tua untuk kedua kalinya melintasi mereka dan kemudian berhenti untuk yang ketiga kalinya.
“Mau kemana bu?” tanyanya.
“Kami mau ke Yogyakarta pak, saya baru mendaftarkan anak saya di SMP negeri Semarang. Tapi sampai sekarang kami belum mendapatkan tumpangan truk untuk kembali pulang,” jelas ibu pak Dady.
“Oo begitu, yasudah berbuhung hari sudah sore ibu dan adik bisa menginap dulu dirumah saya.”
“Tidak usah pak, terimakasih.”
“Sudah tidak apa-apa, pasti kalian lelah menunggu seharian disini. Mari bu.”
Akhirnya pak Dady beserta ibunya mengiyakan ajakan bapak tua yang namanya adalah pak Kijo. Rumah pak Kijo tidak jauh dari tempat mereka menunggu truk, hanya sekitar setengah kilo saja. Sesampainya di rumah pak Kijo, pak Dady dan Ibunya di perkenalkan pada istri pak Kijo (Lasmi) dan anak mereka yang seumuran dengan pak Dady (Retno). Ditengah makan malam, pak Kijo menawarkan seandainya pak Dady memang nanti diterima di SMP negeri Semarang. Tinggalnya tidak usah dimana-mana melainkan dirumah pak Kijo saja. Tentu saja tawaran tersebut disambut gembira oleh pak Dady dan ibunya. Setelah beristirahat semalam, pak Dady dan ibunya pulang ke Yoyakarta keesokan paginya.

Seminggu kemudian pak Dady kembali ke Semarang untuk melihat pengumuman penerimaan siswa baru, syukur alhamdulillah nama pak Dady tertulis diantara nama-nama siswa yang diterima di SMP negeri Semarang. Mulai ajaran baru dimulai pak Dadypun mulai tinggal di rumah pak Kijo dan di mulai pula kisahnya bersama Retno. Retno sangat senang dengan hadirnya pak Dady dikediamannya. Pak Dady baginya tidak hanya teman bermain, teman di sekolah, teman belajar tapi juga seorang kakak. Begitu juga Retno bagi pak Dady. Keduanya sudah seperti saudara, Retno sering ikut ke desa pak Dady ketika liburan sekolah. Melihat hamparan sawah, bermain di sungai adalah pengalaman yang sangat menyenangkan buat Retno.
Tiga tahun berlalu hanya keriangan serta perasaan nyaman satu sama lain yang mereka kenal. Namun setelah menginjak bangku SMU perasaan keduanya mulai menjadi cinta. Minder karena tingkatan sosial diantara mereka, pak Dady hanya memendam perasaannya di dalam hati saja. Hingga suatu malam pak Dady hendak menonton layar tancep dan ketika mengeluarkan sepeda miliknya ibu Lasmi bertanya dari balik kamarnya;
“Siapa?”
“Saya Dady bu,” jawabnya
“Mau kemana Dy?”
“Mau nonton layar tancep bu.”
“Aku ikut mas Dady!” Sahut Retno.
Pak Dady hanya diam dan kemudian mengembalikan sepeda miliknya, ia tak mau Retno ikut bersamanya karena ia tahu benar pasti Ibu Lasmi tidak akan memperbolehkannya. Tidak hanya mengurunkan niatnya untuk menonton malam itu tapi pak Dady juga harus mengurunkan cintanya pada Retno setelah didengarnya dari celah jendela bu Lasmi tengah memarahi Retno, ia melarang keras Retno berhubungan dengan pak Dady.
Waktu berlalu agak sulit bagi pak Dady. Yups, sulit bagi pak Dady menghadapi perasaan cintanya pada Retno. Lega rasanya akhirnya mereka meninggalkan bangku SMU, pasalnya pak Dady memutuskan untuk meneruskan kuliahnya di Yogyakarta sementara Retno tetap meneruskan kuliah di Semarang.

Lama tak bertemu Retno datang memintanya untuk menemaninya beserta calon suaminya ke tempat pamannya di Yogyakarta. Antara senang dan sedih mendengar kabar bahwa Retno akan menikah. Tapi itu adalah keputusan terbaik buat mereka.
Setelah menikah dan dikaruniai 3 orang putra, kabar buruk sampai ditelinga pak Dady. Suami Retno jatuh sakit. Pak Dady hanya bisa berharap Retno bisa melalui semuanya dengan baik.

Tak lama berselang pak Dady menemukan jodohnya yang tak lain adalah teman kantornya (Tina). Merekapun memutuskan untuk menikah. Di pesta pernikahannya Retno turut hadir bersama tiga putranya tanpa didampingi suaminya. Ia duduk di bangku depan seorang diri, matanya berkaca-kaca entah apa yang sedang dilamunkanya. Pak Dady mencuri pandang ke arahnya. Dirinya masih saja menghawatirkan wanita yang masih dianggapnya gadis kecil.
Waktu yang mempertemukan mereka waktu juga yang mengharuskan mereka untuk memilih jalan mereka masing-masing.”

Aku melihat dimata pak Dady bahwa sebenarnya ia berharap seandainya cintanya bersama Retno adalah mungkin. Aku bisa merasakan cinta disetiap tutur katanya ketika ia menceritakan tentang kisahnya. Aku pikir kisah mereka hanya sampai disitu saja. Tapi pak Dady kemudian melanjutkan ujung dari cerita itu;

“3 tahun kemudian dia meninggal.”
“Suami Retno?” tanyaku.
“Bukan, tapi Retno.”
Aku tercengang mendengarnya, setahuku suami Retnolah yang sedang jatuh sakit. Pak Dadypun melanjutkan;
“Retno kena tumor, dari kecilpun dia sudah sakit-sakitan. Aku tahu benar tentang kondisinya. Kalaupun saya menikah dengan Retno mungkin saya sekarang sudah tidak punya istri,” tutupnya.

Aku tidak tahu harus bicara apa lagi, kupandangi wajahnya yang masih sangat kehilangan Retno. Aku yakin cintanya pada Retno masih tersimpan sangat rapi dilubuk hatinya.

Koin

Posted: April 4, 2012 in Gb3n story 1

“Jika nanti kau tak menemukan aku disini, berhentilah mencariku.”

Hari ini aku baru dapat memaknai kata-kata itu. Meskipun tidak menyesali menghabiskan hampir separuh hidupku untuk mencarinya, karena ketidaktahuanku.  Tapi jika boleh aku memilih aku lebih suka masih dalam pencarianku. Setidaknya aku masih punya harapan bertemu dengannya suatu hari nanti.

Haris menjatuhkan tubuhnya pada pagar yang membatasi antara dirinya dan laut. Tangan kanannya menggenggam erat sebuah koin yang didapatnya dari wanita yang sangat ia sayangi. Senyum kepedihan tersungging di sudut bibir merahnya. Haris dengan mudah tenggelam dalam kenangannya bersama wanita pemilik koin itu.

1978 merupakan awal pertemuan mereka. Hari itu seperti biasa Haris dengan Vespanya meluncur ke pasar tambak dan segera membuka toko sepatu miliknya. Hari itu juga sebuah toko bunga,  baru dibuka tepat di seberang tokonya. Pemiliknya adalah seorang wanita yang piawai dalam merangkai bunga tapi ia dikenal tidak terlalu ramah pada pelanggannya. Meskipun di tokonya dipenuhi bunga-bunga yang mengembang indah tapi jarang sekali terlihat senyuman merekah di bibirnya. Yups, Mety.  Nama itu tertulis jelas pada kertas nota pembelian bunga yang baru diterima Haris dari pemilik toko bunga diseberang tokonya. Setiap hari bertemu tidak lantas membuat mereka mudah akrab. Mety adalah sosok yang misterius yang mengundang keingintahuan Haris tentang dirinya.

1981 Masih tidak bisa menebak seperti apa Mety sesungguhnya. Dan suatu pagi ketika Haris tengah sibuk melayani pelanggannya. Terdengar suara teriakan Mety dari tokonya, Haris bergegas ke toko Mety.

“Ulat..Ulat!! ada ulat dibahuku,” Teriak Mety hampir menangis.

Haris dengan segera mengambil ulat itu dari bahu Mety.

“Terima kasih,” ucap Mety datar.

“Iya,” balas Haris sembari tersenyum memandangi wajah mety yang pucat karena ketakutan.

“Kenapa kau tersenyum? ada yang aneh dengan wajahku?”

“Tidak, hanya saja aku pikir kau tidak takut dengan apapun.”

“Lalu kau mau mengejekku karena takut pada ulat?”

Haris menggelengkan kepalanya.

“Baiklah aku harus kembali ke tokoku. Hati-hati banyak ulat di bungamu,”

“Kau,” Ujar Mety sedikit kesal.

Lain kesempatan, Mety berkunjung ke toko sepatu haris. Ia membeli beberapa pasang sepatu untuk anak-anak.

“Buat adikmu?” tanya Haris.

Raut wajah Mety tiba-tiba menegang, ia langsung membayar sepatu yang ia sudah tahu harganya dengan uang pas dan kemudian pergi. Merasa ada yang salah dengan ucapannya Haris bermaksud minta maaf. Ia mengejar Mety ke tokonya, tapi mety tidak ada disana. Ketika bermaksud kembali ke toko, Haris melihat Mety tengah memberikan sepatu-sepatu yang baru ia beli pada anak-anak yang suka membantu para pembeli juga penjual untuk mengangkat barang. Senyuman kecil nampak dibibir wanita yang boleh dibilang sangat pelit dengan senyum itu.

Keesokan harinya, Haris datang ke toko bunga Mety. Ia membawa sepasang sepatu wanita dengan aksen pita diatasnya dan memberikannya pada Mety.

“Untuk apa aku harus menerima sepatu ini? Aku tidak membutuhkannya, bawa kembali.”

“Kau tidak tahu, kata orang tua pamali menolak pemberian orang.”

“Aku tidak tahu.”

“Sudahlah terima saja, kau ini kan wanita tapi gayamu sudah seperti laki-laki saja. Paling tidak kau harus tampil cantik, kau kan penjual bunga.”

“Kenapa kau harus mengurusi cara berpakaianku, kau tidak punya kerjaan?”

“Tentu aku punya kerjaan. Kebetulan aku punya banyak waktu dan kau mengganggu pandanganku,” kata Haris lalu tertawa.

“Maaf aku hanya bercanda, jangan marah ya.”

“Tidak bisa, aku sudah terlanjur marah.”

“Ya sudah, aku pulang.”

“Pulang saja, sepatu ini sekalian kau bawa.”

“Tidak, sudah buatmu saja.”

Haris kemudian meninggalkan toko Mety tanpa membawa sepatunya.

Kedekatan mereka tak ayal memimbulakan cinta dihati keduanya, meski membiarkan hubungan mereka mengalir begitu saja tapi Haris punya niatan untuk membina sebuah hubungan yang lebih serius dengan Mety. Mungkin hanya menunggu waktu yang tepat saja. Disisi lain Mety mulai merasa  nyaman dengan Haris, Haris seperti sahabat yang tahu bagaimana harus menghadapinya.

Hari yang indah dengan  111 tangkai mawar merah, Haris meminta Mety menjadi kekasihnya.

“Dari awal kita bertemu aku hanya melihat 110 senyuman dari bibirmu, tapi aku yakin benar kau akan memberiku satu senyuman lagi sehingga jumlahnya akan sama seperti bunga mawar ini. Mety bunga-bunga di toko ini sangat indah juga terlihat sangat jelas dari toko sepatuku tapi aku sudah pernah bilang bukan kalau kau mengganggu pandanganku dan kau tahu ternyata kau tidak hanya mengganggu pandanganku tapi juga hatiku,” Haris tersenyum.

Itu senyuman yang paling manis yang pernah Mety lihat dari Haris.

Mety mulai salah tingkah, ia kemudian masuk dan mengambil sebuah koin miliknya.

“Aku sudah berhenti mengambil keputusanku sendiri, jadi semoga kau beruntung dengan koin ini. Koin ini punya dua sisi, Matahari dan Bintang. Jika Bintang berarti “Iya” dan “Tidak” untuk Matahari.”

“Baiklah.”

Kemudian Mety melempar koin itu ke udara dan segera mengkapnya.

Wajah Haris harap-harap cemas, Ia menghargai cara Mety menentukan keputusannya meskipun dengan cara yang tidak biasa.

Perlahan Mety membuka tangan kanannya, “Bintang”  gambar itu yang terlihat di koin itu. Berarti jawabannya adalah “Iya”.

Sejak itu Mety sedikit banyak mulai membuka diri pada Haris, tapi bukan Mety kalau ia tidak punya sisi yang misterius dari dirinya.

1986 Haris meminta Mety untuk menunggunya, karena ia akan pulang untuk menemui orang tuanya.

Namun setelah kembali, Haris tak menjumpai Mety di tokonya. Mety malah menitipkan sepatu pemberiannya pada penjaga tokonya. Ada selembar pesan didalamnya;

“Jika nanti kau tak menemukan aku disini, berhentilah mencariku.”

“Kapan Mety menyerahkan ini padamu?” Tanya Haris pada penjaga tokonya.

“Tadi pagi mas, aku lihat mba Mety memegang tiket kereta api dan baru 30menit yang lalu mba Mety menitipkan kunci tokonya. tapi tidak bilang apa-apa mas.”

Haris bergegas pergi ke stasiun dengan Vespanya.

Beruntung ia masih menemukan Mety di bangku tunggu.

Mety lalu bangkit dari bangkunya kerena menyadari kehadiran Haris.

“Kenapa kau mau pergi, kau bermaksud meninggalkan aku?” Tanya Haris

“Maaf Haris, rasanya sudah cukup aku bersamamu.”

“Aku tidak mengerti ucapanmu.”

“Haris dengar, kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku.”

“Aku memang tidak tahu apa-apa, tapi aku ingin tahu semuanya.”

“Untuk apa, tidak ada gunannya buatmu.”

“Aku peduli dan sayang denganmu, kau masih bisakah berpura-pura tidak menyadarinya? Apa kau anggap keseriusanku ini main-main?”

Mety terdiam.

“Pergilah,” ucapnya lirih.

“Menikahlah denganku,” Ujar Haris mantap

“Kau tidak dengar, pergilah..!!!” teriak Mety.

“Kenapa, aku perlu tahu alasanmu.”

“Aku tak baik buatmu, kelak kau akan menemukan wanita yang pantas untuk kau nikahi.”

“Mety, aku cukup mengenalmu. Kau wanita yang baik, dan aku tidak peduli kau punya masa lalu yang kelam atau kau pernah membunuh seseorang sekalipun.”

Kata-kata Haris sepertinya telah membawa Mety kembali pada titik dimana titik itu terpenuhi dengan luka yang tak ingin ia sambangi lagi.

“Yups, aku seorang pembunuh. Aku membunuh adikku.”

“Kau dengar itu, lupakan aku.”

Dengan kereta yang tak mau lagi menunggu seorangpun, Mety meninggalkan Haris dengan berjuta tanya dibenaknya.

“Kau pasti bercanda,” Ujar Haris lirih.

Setelah tak mampu mencegah kepergian Mety. Haris duduk lemas dibangku tunggu sembari memeluk lututnya. Didalam hatinya  penuh tanya “Benarkah kata-kata  Mety barusan, ia seperti bukan Mety yang ia kenal selama ini. Itukah sisi misteriusnya? Benarkah itu alasan sesungguhnya atau itu hanya untuk menutupi alasan lain, Lalu apa alasan lain itu?”.

Bertahun-tahun berlalu Haris tak menemukan Mety juga jawaban atas semua pertanyaannya.

1991 Seorang wanita yang sebaya dengan Mety datang ke toko Haris.

“Kau Haris?” tanyanya

“Benar, maaf anda siapa?”

“Saya sabahat Mety. Firda,” wanita itu mengenalkan diri.

“Sahabat Mety, dimana dia?” Tanya Haris  penuh harap.

“Maaf bisa kita bicara di tempat yang tidak ramai,” pinta Firda.

“Tentu saja,” kata Haris lalu mengajaknya ke taman tengah kota.

Keduanya duduk bersebelahan, mereka nampak canggung satu sama lain. Ada goresan ketidaksabaran, keingintahuan, dan pengharapan di wajah Haris.

“Mety banyak bercerita lewat suratnya,” ujar Firda membuka pembicaraan.

“Apa yang dikatakan tentang aku?”

“Dia bilang, Ia kembali menemukan sosok ayah didirimu. Membuatnya merasa nyaman dan dilindungi. Kau laki-laki yang sangat baik.”

“Benarkah Mety mengatakan semua itu?”

Firda mengangguk sembari tersenyum.

“Dimana Mety Firda? Dia baik-baik saja kan?”

“Emmm…,” Firda menghela nafas panjang.

“Sebaiknya kau terima ini,” Firda menyerahkan kotak kecil pemberian Mety yang mana ia pinta untuk diserahkan pada Haris.

Kotak itu, Haris sudah tahu maksudnya. Bukan kabar baik. Perlahan Haris membuka kotak yang didalamnya hanya ada selembar kertas dan satu buah koin. Haris lalu mengambil kertas didalamnya. Dengan seksama iapun membacanya.

“Haris, maaf kali inipun aku tak bisa menentukan pilihananku dengan keputusanku sendiri juga dengan koin ini. Aku bukan tidak menyadari perasaanmu terhadapku. Tapi ternyata akupun mempunyai perasaan yang sama padamu. Hanya saja perasaan itu terlalu indah buatku, meski aku sangat merasa nyaman berada didekatmu, meski mungkin sebenarnya aku sangat membutuhkanmu. Tapi aku hanya akan membuatmu sedih, dan aku tidak mau itu. Terima kasih telah mengukir hari-hariku dengan senyuman. Aku menyayangimu, Mety.”

Haris menundukan kepalanya kebawah, nampak bahunya bergetar. Firda lalu menepuk pundaknya.

“Mety wafat 5 tahun yang lalu, karena gagal ginjal.”

“Dia sakit? Kenapa tidak memberitahuku?”

“Maaf itu keinginannya Haris.”

“Sebelum ia pergi, ia menolak lamaranku. Dia bilang dia membunuh adiknya, apa itu benar?” tanya Haris

“Tidak,” Firda menggeleng.

“Mety tidak pernah membunuh siapapun apalagi adik kesayangannya, satu-satunya yang ia punya di hidupnya setelah kedua orang tua mereka meninggal. Selama ini Mety memang selalu merasa kalau dialah yang menyebabkan kematian adiknya.”

“Adiknya meninggal bunuh diri.”

“Kenapa?”

“Dian Malu karena tidak lulus ujian Nasional dan merasa pengorbanan kakaknya terlalu besar untuknya.”

“Pengorbanan apa yang kau maksud?”

“Mety menjual satu ginjalnya, untuk membayar tunggakan uang sekolah dan biaya ujian Dian, juga untuk biaya hidup  mereka.”

“Memangnya dia tidak punya keluarga?”

Firda menggeleng

“Aku tidak tahu, waktu itu kami pendatang baru. Dan maaf Haris akulah penerima donor ginjalnya.”

“Apa!!! kau?” Haris menoleh pada Firda.

“Ya, aku. Waktu itu aku sakit dan membutuhkan donor ginjal segera. Ketika aku dan keluargaku hampir putus asa karena tidak menemukan pendonor yang cocok. Mety datang  menawarkan ginjalnya dan ginjalnya cocok denganku. Mety telah menyelamatkan hidupku. Sejak itu dia menjadi sahabatku juga keluarga baru kami.”

“Sejak adiknya meninggal dia pergi dari desa kami dan hanya setahun sekali pulang untuk menengok makam adiknya. Dan 5 tahun lalu ia pulang dan minta dimakamkan disebelah makan adiknya.”

“Bagaimana bisa dia..,” Haris tak bisa meneruskan ucapannya.

Airmata terus berderai dipipinya. Dan masih berderai ketika seorang kakek tua berdiri disebelahnya.

“Hei.. Anak muda, siapa yang sedang kau tangisi?” tanya kakek tua itu.

Haris hanya tersenyum dalam tangisnya.

“Kau pasti sangat menyayanginya, bukan?” ujar kakek tua itu sembari menepuk pundak haris.

Meskipun tak mendengar sepatah jawabanpun dari mulut Haris. Tapi dengan mudah ia menemukan jawaban itu dari raut wajah Haris. Kemudian kakek tua itu meninggalkan Haris sendiri.

Senja nampak indah di balik bukit  sementara deburan ombak semakin menderu keras. Laut sudah pasang, langitpun sudah jingga. Haris masih terpaku menatap jauh rasa  kehilangannya. Esok ia akan menjumpai perasaan yang sama,  seperti koin dalam genggamannya yang memiliki gambar yang sama di kedua sisinya.

Money Love

Posted: February 22, 2012 in Gb3n story 2

“Bagaimana jika seorang Ibu tiri dan anak tiri terjebak pada situasi berbahaya yang mana mengharuskan si anak tiri harus berusaha keras melindungi diri sendiri dan ibu tirinya yang paling dibencinya untuk bertahan hidup. Bersembunyi dari kejaran para lintah darat karena ulah ayahnya membuat mereka mengasingkan diri ke sebuah tempat terpencil. Menjalani kehidupan baru yang berbanding terbalik dengan kehidupan mereka sebelumnya,  hidup dengan orang yang baru saja menjadi bagian dari hidup mereka masing-masing. Akankah cinta bersemi diantara keduanya?”

Dengan setelan jas hitam, Rangga melangkah pasti menuju meja dimana seorang lelaki paruhbaya melambaikan tangan padanya. Ia kemudian berdiri tepat di belakang wanita yang duduk tepat di depan kursi ayahnya.

“Kemari Rangga, duduk disamping ayah.”

Rangga hanya mengangguk, lalu menuju kursi disebelah ayahnya.

“Perkenalkan dia Meta, calon istri ayah.”

Meta dan Rangga saling memandang, keduanya sama-sama terkejut karena ini bukan kali pertama mereka bertemu. Mereka ternyata adalah seorang Dosen dan mahasiswa. Tapi sanyangnya hubungan mereka tidak terlalu baik lantaran sikap Rangga yang kerap sinis pada Meta di jam kuliahnya. Dimata Rangga Meta merupakan dosen yang galak dan selalu memberi banyak tugas. Ia juga pernah memberi nilai Rangga D, mungkin hal itu yang menyebabkan keduanya tidak pernah akur.

“Hallo, Ibu Meta. Senang bertemu anda disini. Wow ini adalah kabar baik anda akan menjadi bagian dari keluarga kami,” ujar Rangga sembari menyodorkan tangannya pada Meta.

Meta hanya melempar senyuman sembari menjabat tangan Rangga dengan erat.

Selama makan malam berlangsung, Meta dan Rangga sesekali mencuri pandang. Pasti dipikiran mereka muncul pertanyaan yang sama yaitu “Kenapa harus bocah itu?” “Kenapa harus wanita itu?”.

Meskipun Rangga dan Meta saling membenci, tapi mereka mencintai orang yang sama yaitu Aldo. Dan karena alasan itu mereka mulai belajar mengkesampingkan masalah pribadi mereka. Selang 2 bulan Meta resmi menjadi ibu tiri Rangga. Meskipun usia Aldo dan Meta diatas empat puluhan tetap saja mereka adalah sepasang pengantin baru yang kerap mengumbar kemesraan. Dan bagi Rangga itu pemandangan yang memuakan.

3 bulan kemudian Aldo tiba-tiba meminta izin untuk pergi ke Jerman karena urusan bisnisnya. Namun hanya setelah 5 hari dari kepergian Aldo, sekelompok penagih hutang menyambangi kediam mereka. Para penagih hutang itu adalah suruhan Lintah Darat dimana tanpa sepengetahuan Rangga dan Meta Aldo meminjam uang dengan jumlah yang sangat besar dengan jaminan Perusahaannya. Namun karena ternyata perusahaan Aldo bangkrut dan diam-diam ia telah menjualnya dan melarikan diri sendiri. Meta dan Rangga kemudian harus menjual semua milik mereka termasuk rumah dan mobil untuk membayar hutang Aldo, meskipun itu masih belum cukup. Sampai mereka pindah ke kontrakan kecilpun para Lintah Darat itu masih selalu mencari mereka untuk memberitahu dimana Aldo berada. Sayangnya Aldo tidak pernah memberitahu kemana tepatnya ia akan pergi. Tidak mendapat informasi yang mereka inginkan para Lintah darat itu memukuli Rangga dan Meta. Merasa terancam keselamatan mereka Rangga dan Meta memutuskan untuk pergi ke tempat yang jauh dimana para Lintah Darat itu tidak akan menemukan mereka. Tengah malam mereka berkemas, dan mengunakan kereta mereka melarikan diri.

Malam semakin pekat namun kedua mata Meta masih membelalak mengarah ke luar jendela. Linangan airmata dengan segera memenuhi matanya dan luber seketika membasahi pipinya yang lebam.

“Maafkan atas sesalahan ayahku, tidak seharusnya kau dalam situasi ini.”

Meta tetap memandang ke arah jendela, sesekali menyigap airmatanya yang mudah sekali jatuh.

Tiba-tiba Meta menjatuhkan kepalanya ke pundak Rangga. Ranggapun membiarkan Ibu tirinya menyandar padanya.

“Kenapa, kenapa Aldo tega berbuat ini pada kita. Kenapa ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Kenapa?” kata-kata itu terulang berulang kali dari mulut Meta hingga matanyapun terpejam.

“Maafkan aku. Aku tidak cukup kuat untuk bisa melindungmu bahkan untuk melindungi diriku sendiri,” gumam Rangga dalam hati.

Pagi menyisir jalanan yang mereka lalui, sinar mentari mulai menampakan elok dan betapa asrinya pemandangan desa-desa yang terlewati kereta yang akan mengantarkan mereka ketempat tujuan. Desa. Karang Bolong, Yups, itulah tujuan mereka.

Turun dari bis Meta dan Rangga, berjalan menelusuri jalan setapak yang berakhir pada sebuah rumah tua dekat pematang sawah yang hanya memiliki beberapa tetangga di sebelah kanan dan kirinya.

“Permisi, Permisi, Permisi..” seru mereka

Perlahan seorang tua dengan balutan kain jarik membukakan pintu.

“Meta, Mas Rangga. Ayo masuk, maaf rumah mbok kecil dan tidak sebagus rumah kalian di Jakarta.”

“Tidak apa-apa Mbok, maaf kalau kami merepotkan.”

“Mbok tinggal sendiri?” tanya Rangga

“Iya, mas Rangga. Anak-anak Mbok sudah menikah semua dan ikut suami mereka.”

“Kalian pasti lelah sekali, mandilah dulu. Mbok akan siapkan makanan.”

“Terima kasih Mbok.”

Hari-hari berlalu dengan lamban, Meta dan Rangga mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan baru mereka. Mbok Tumirah yang akrab dipanggil dengan Mbok Tum saja, meski sudah tidak bekerja lagi dengan keluarga mereka tapi tetap melayani mereka dengan baik. Pasalnya ia telah bekerja sejak Meta dibangku SD dan Almarhum orang tua Meta sangat baik padanya. Meta dan Mbok Tum sudah seperti seorang Ibu dan anak.

Karena alasan keuangan Meta dan Rangga diharuskan bekerja untuk menyambung hidup, mereka tidak mau menggantungkan beban hidup mereka pada Mbok Tum. Meta mulai mengajar di sekolah-sekolah terdekat sementara Rangga menjadi pelayan di sebuah rumah makan dekat pasar. Menyadari kehidupan mereka yang tak seperti dulu lagi, mereka berusaha mensyukuri apa yang mereka dapatkan meski tak seberapa, apapun itu.

Sawah-sawah dihadapan rumah Mbok Tum masih berkabut tapi para petani sudah menginjakan kaki mereka di pematang sawah mereka. Meta dan Rangga sengaja duduk di depan rumah sambil menunggu mentari menujukan wajah indah pemandangan di hadapan mereka. Yups, itulah yang paling mereka syukuri. Alam dan keramahan warga sekitar yang tidak mereka lihat di Jakarta.

Mbok Tum keluar dan menyuguhkan dua gelas teh hangat dan sepiring singkong rebus yang Rangga cabut di kebon belakang Mbok Tum kemarin.

“Ini musim panen, jadi para petani banyak yang turun ke sawah untuk memanen pagi mereka.”

“Mbok beruntung punya tempat dan lingkungan seindah disini,” Ujar Meta.

“Tentu saja, Apa kalian betah tinggal di gubuk si Mbok?

Keduanya mengangguk bebarengan.

Musim panen berlalu, Petani menunggu hujan mengguyur lahan mereka. Sawah-sawah kering mereka kini di penuhi anak-anak yang bermain layangan. Meta dan Ranggapun tertarik untuk bergabung dengan mereka. Mereka duduk di pinggir sawah sembari tetap memegangi tali layangan mereka, menjaganya agar tidak putus.

“Kau tahu Bu Meta, aku tidak pernah melakukan hal seasyik ini di masa kanak-kanakku. Ibu dan Ayah selalu memberiku buku pelajaran dan sejak itu hidup terasa membosankan. Makanya setelah di SMA dan jauh dari ayah aku seperti burung yang lepas dari sangkarnya.”

“Aku mengerti, karena itu setiap di kelas ibu kau sangat menyebalkan.”

“Maaf, soal itu.”

Meta tersenyum dilihatnya seorang Rangga yang sudah jauh berbeda, lebih dewasa.

“Apa kau menyesal telah mengenal ayahku juga aku?”

“Aku tak pernah menyesali apapun, terlebih tentang kalian berdua. Aku tidak hanya mengenal Aldo yang sekarang, jadi hari ini aku disini tak akan mengubah apapun dihatiku. Yahh aku tak harus bohong jika memang aku kecewa dengan sikapnya pada kita, bukan?”

“Aku yakin Aldo punya penjelasan untuk ini.”

Suatu hari Meta jatuh sakit sementara Mbok Tum sedang pergi ke tempat anak ragilnya yang baru melahirkan.

Karena sakitnya tidak kunjung sembuh Rangga menggendong Meta ke Puskemas dekat pasar, Rangga begitu takut kalau terjadi sesuatu pada Meta. Ternyata Meta terkena DBD, untungnya Rangga tidak terlambat membawanya ke Puskesmas.

Selama beberapa hari Rangga tidak berkerja untuk merawat Meta karena Mbok Tum belum pulang juga.

Atas perawatan Rangga kesehatan Meta cepat pulih.

“Bu Meta jangan sakit lagi, nanti siapa yang akan menjagaku.”

“Bocah baik, tenang saja aku punya 7 nyawa untuk melindungimu,” pungkasnya

“Terima kasih kau repot-repot menggendongku ke Puskesmas. Aku mungkin akan kehilangan 7 nyawaku itu jika kau tidak…”

“Sudah, jangan teruskan. Mulai sekarang aku akan menjadi pelindungmu,” Rangga memotong perkataan Meta.

Mata mereka beradu, ada perasaan istimewa di hati keduanya yang mana seperti kembang api di pesta tahun baru yang indah. Tanpa mereka sadari cinta rupanya mulai tumbuh dihati keduanya.

2 tahun seperti dua langkah yang begitu singkat, ketika Meta dan Rangga mulai melupakan kehidupan mereka sebelumnya. Aldo tiba-tiba datang dan menjemput mereka pulang. Selama ini Aldo berusaha keras membangun bisnisnya kembali di luar negeri dan setelah berhasil ia melunasi semua hutang-hutangnya. Hari itu Meta dan Rangga sebenarnya enggan kembali ke Jakarta, tapi setelah mendengar penjelasan Aldo dan permintaan maafnya. Mereka pada akhirnya ikut kembali dengan Aldo ke Jakarta.

Tinggal bersama Aldo lagi menjelaskan perasaan Meta pada Rangga yang ternyata adalah cinta, begitupun Rangga yang mulai tak bisa mengingkari kecemburuannya terhadap Aldo ayah kandungnya sendiri. Namun meski keduanya menyadari perasaan mereka masing-masing, mereka memutuskan menyimpannya sendiri.

Tapi waktu tidak bisa membohongi perasaan Meta yang terlanjur jatuh cinta pada Rangga, takut tidak bisa menahan perasaannya yang mungkin akan menghancurkan hubungan ayah dan anak serta hubungannya dengan keduanya. Meta memutuskan bercerai dari Aldo.

Setelah perpisahannya dengan Aldo, Meta melanjutkan karirnya tetap sebagai dosen. Sementara Rangga mulai belajar menekuni bisnis ayahnya.

Senin pagi yang cerah, Rangga sengaja mampir ke kampus dimana Meta mengajar. Duduk di salah satu bangku taman, Rangga begitu menikmati udara sepoi-sepoi disekelilingnya. Perlahan suara derap langkah sepatu kian jelas. Ditengoknya Meta mendekat ke arahnya, Senyumanpun tersungging dibibirnya.

“Hi, apa kabar Rangga?” Sapanya.

“Baik, senang melihatmu baik-baik saja.”

“Ada apa kau mencariku, ku dengar dari Aldo kau mulai sibuk mengurusi bisnisnya.”

“Yups, itu benar. Aku kesini hanya ingin menyerahkan ini buatmu,” ujar Rangga sembari memberikan sebuah buku karyanya sendiri.

“Apa ini, kau menulis buku?”

Rangga hanya mengangguk.

Sorot mata Meta  langsung tertuju pada sampul buku yang dipegangnya, di bagian bawah sampul itu bertulis; “Untuk wanita yang telah mengubah hidupku, wanita yang tak berani mengungkapkan perasaannya dan sayangnya aku tahu dia mencintaiku. Thanks a lot my women.”

Sontak setelah membaca tulisan itu, kedua mata Meta mengarah pada Rangga yang duduk tepat disampingnya.

“Kau tahu wanita yang ku maksud pada buku itu?” tanya Rangga

Meta tak bisa menjawab pertanyaan yang baru terlontar dari mulut Rangga, karena ia tahu benar yang dimaksud adalah dirinya.

“Emmm…, bagaimana apakah bukumu ini laris dipasaran?” Meta mengalihkan pembicaraan dengan salah tingkah.

“Menurutmu?”

“Tidak,” Meta menggeleng sembari tersenyum.

“Jahat sekali, harusnya kau bilang “Wahh,, pasti sangat laku.”"

“Harusnya kau menyenangkan hatiku sedikit, kita kan sudah lama tidak bertemu.”

Keduanya lalu tertawa bersamaan.

“Terimakasih banyak Meta,” ucap Rangga lirih.

“Apa?” tanya Meta memperjelas ucapan Rangga.

“Terima kasih banyak,” ucapnya lagi sembari menatap mata Meta.

“Untuk apa.”

“Untuk semuanya, terima kasih kau telah menjagaku selama ini. Aku berharap kau akan menemukan kebahagiaanmu sendiri.”

Lagi-lagi Meta hanya membisu. Diraihnya kening Rangga dan membubuhinya dengan kecupan.

“Lain waktu, kau harus lebih kuat agar kau bisa melindungi orang-orang yang kau sayangi. Semoga kau selalu sukses dan jaga ayahmu baik-baik.”

“Yups, tentu saja.”

“Maaf aku masih ada kelas hari ini, aku harus kembali mengajar.”

“Baiklah, aku pergi dulu. Senang bertemu kau hari ini Rangga.”

Meta bangkit dari bangkunya, dengan menggenggam buku pemberian Rangga ia kemudian melangkah pergi. Sementara Rangga hanya mampu pandangi wanita yang selalu ingin ia lindungi sekaligus ia cintai itu pergi.

Pilihan

Posted: January 26, 2012 in Gb3n story 1

Malam semakin larut, namun Teo masih di meja kerjanya. Sementara Kinar masih dengan segala kebimbangannya, ia mondar-mandir di depan pintu ruang kerja suaminya. Berulang kali ia menurunkan tangannya untuk tidak mengetuk pintu, setelah seluruh tekad dan keberaniannya beradu ia akhirnya masuk ke ruang kerja suaminya.

“Bisa kita bicara sebentar Mas?” tanya Kinar

“Duduklah, ada apa? kenapa kau belum tidur?”

Kinar menghela nafas panjang sebelum ia mulai bicara, sementara Teo memperhatikan raut wajah istrinya yang nampak berbeda malam itu.

“Mas, aku minta kau menceraikanku.? ujar Kinar to the point.

“Apa!! Cerai? Kenapa Nar?” Teo tersetak oleh perkataan yang baru saja Kinar lontarkan.

Kinar Mengangguk penuh keyakinan.

“Aku terlalu lelah dengan semua ini, aku ingin bebas dan hidup lebih baik.”

“Apa maksudmu, aku tidak mengerti. Apa kau punya simpanan? kau ingin pergi dengan lelaki itu, siapa dia?”

Kinar bangun dari bangkunya dan menatap mata lelaki yang menikahinya selama 6tahun lebih.

“Aku tidak percaya kau mengatakan itu, kita berpacaran 3 tahun dan aku merelakan perjodohanmu dengan Lisa. Untuk menjadi istrimu aku menunggu 2tahun. Dan hari ini kau masih meragukan kesetiaanku. Hahh.. Aku harusnya tidak menunggumu waktu itu.”

“Maafkan aku Kinar. Lalu apa alasanmu?”

“Mungkin kau tidak pernah tau, seperti apa ibu dan adikmu memperlakukanku. Mereka menghinaku sesuka mereka, tidak pernah menganggapku sebagai istrimu. Sejak awalpun mereka tidak pernah menyukaiku. Lalu kau tahu benar bagaimana keluarga kita tidak akur, aku lelah dengan pertikaian mereka, aku lelah berada ditengah-tengah keduanya Mas.  Dan Lisa begitu membuatku cemburu, kau memperlakukannya begitu istimewa. Apa karena dia menyelamatkan nyawa ibumu atau memang karena kau juga mencintainya? Oh ya aku lupa, Lisa juga istrimu. Dengan alasan itu semua, untuk apa aku terus disini????” Ujar Kinar.

Airmata meluap dari matanya, Teo menghampiri Kinar dan mencoba memeluk istri keduanya yang juga cinta pertamanya itu.

“Aku benar-benar minta maaf, karena aku telah sangat melukaimu. Maafkan aku Kinar, aku mohon jangan pergi.” pinta Teo

“Lepaskan aku,” ujar Kinar sembari menatap wajah lelaki yang begitu ia cintai.

“Aku tidak bisa meneruskan ini, aku sudah sangat lelah, lelah, dan lelah.”

Sebulan kemudian Kinar resmi bercerai dari Teo. Ia memutuskan meneruskan S2nya di Yogyakarta. Tinggal disekitar pantai, memhabiskan waktu luangnya dengan melukis dan mengajar anak-anak yang kurang mampu disekitar lingkungan membuatnya melupakan Teo, keluarganya dan kehidupannya yang buruk. Menjalani hidup dengan caranya sendiri. Bebas meski tanpa orang yang paling dicintainya.

waktu seperti roket yang meluncur sangat cepat. Seperti bom waktu, yang pada waktunya akan meledak. Ada kalanya kita harus melepaskan apa yang telah kita perjuangkan karena dengan memilikinya tidak membuat kita hidup dengan bahagia. Mungkin benar jika sebagian orang bilang bahwa akan lebih sulit mempertahankan ketimbang berjuang mendapatkannya.

Kebahagian adalah masalah keputusan, dan kita berhak menentukan pilihan yang lebih baik untuk hidup kita.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.