tugas antropologi indonesia

Posted: April 22, 2014 in Gb3n story 1

Nama Kelompok :
1. Riskawati / 41182170100029
2. Fatmah Algasia / 41182170100048
3. Pitri Handayani/41182170100016
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Jurusan : Pend. Geografi
UNIVERSITAS ISLAM ’45 BEKASI
EKSISTENSI KEBERADAAN KEBUDAYAAN LUAR DI TENGAH-TENGAH KEBUDAYAAN LAMPUNG (Kab. Lampung Tengah)
Kebudayaan Lampung yang semakin pudar dapat di lihat dari bahasa daerah Lampung. Bahasa Lampung di bagi dua bagian yaitu dialek A (API) dan O(nyo), dua dialek ini dipakai oleh orang lampung A untuk daerah pesisir dan O untuk daerah tengah. Namun sayangnya karena minimnya masyarakat Lampung yang menggunakan bahasa lampung sendiri, bahasa yang seharusnya menjadi budaya Lampung ini kian tenggelam diantara bahasa-bahasa lain, seperti bahasa pendatang dari pulau Jawa dan pulau Bali. Disamping hal tersebut saat ini pihak pemerintah juga kurang begitu memperhatikan bahasa daerah Lampung, instansi pendidikan, dan kebanyakan orang tua yang ada di Lampung juga enggan berbicara bahasa daerah Lampung kepada anak-anak mereka. Hal inilah yang membuat eksistensi kebudayaan Lampung berkurang. Selain itu rumah adat Lampung juga semakin hari semakin jarang terlihat karena sudah tergantikan dengan model rumah yang bentuknya lebih modern. Kebudayaan Lampung yang semakin memudar ini dikarenakan masuknya warga pendatang luar pulau yang sekarang mendiami Provinsi Lampung. Provinsi Lampung yang telah terlanjur dinobatkan dengan sebutan ‘Indonesia Mini’ karena keanekaragaman suku-suku bangsa bermukim di tempat ini (karena adanya transmigran dan pendatang lainnya), juga tak terkecuali dengan Lampung Tengah. Kabupaten yang dimekarkan tahun 1999 itu sendiri, selain didiami penduduk pribumi banyak pula masyarakat pendatang yang berdiam serta menetap. Berbagai suku bangsa seperti Jawa, Bali, Sunda, Palembang, Padang, Batak dan sebagainya mendiami belahan daerah-daerah Kabupaten Lampung Tengah. Eksistensi kebudayaan luar Lampung dapat di lihat dari beberapa budaya Luar yang mampu menggeser kebudayaan Lampung, yakni:
1. Eksistensi Kebudayaan Jawa
Kampung paling dominan di Kabupaten Lampung Tengah dihuni oleh masyarakat suku Jawa. Agama yang dianut mayoritas Islam dan sebagian lagi agama Kristen Katolik, Kristen Protestan, Budha dan Hindu. Sebagian besar dari masyarakat ini tadinya bermula dari transmigran yang ditempatkan di Lampung Tengah waktu itu. Mereka berasal dari bagian tengah dan timur pulau Jawa. Didalam pergaulan hidup sehari-hari di kampung, mereka mempergunakan bahasa Jawa sebagai penutur. Di lingkungan setempat, terutama dalam pergaulan hidup sehari-hari masyarakat Jawa di Kabupaten Lampung Tengah, bahasa yang digunakan lebih banyak menuturkan bahasa Jawa Kasar atau Jawa Pasaran. Penuturan ini lebih gampang di mengerti dan sering di pakai di dalam bercakap-cakap. Bahkan tidak sedikit suku lain mampu bercakap-cakap mempergunakan bahasa Jawa tersebut. Masyarakat suku Jawa di Lampung Tengah masih memegang teguh kultur daerah asal. Hal ini nampak jelas terlihat dari bahasa yang digunakan, sistem kekerabatan serta kebudayaan yang ada di lingkungan setempat. Berbagai kesenian tradisional Jawa seperti: Jaranan, Reog Ponorogo dan Campursari terlihat seringkali di tanggap, baik di saat perayaan pernikahan, hari besar nasional dan lain-lain.
2. Eksistensi Kebudayaan Bali
Masyarakat dominan lain yang bermukim di Lampung Tengah adalah penduduk suku Bali. Sebagian besar mendiami di beberapa kecamatan di wilayah timur dan sisanya berada di kecamatan lain di Lampung Tengah. Agama yang di anut mayoritas memeluk agama Hindu-Bali. Kampung-kampung Bali akan terasa bila saat berada di lingkungan setempat. Sama halnya dengan masyarakat suku Jawa dan Sunda, masyarakat suku Bali bermula dari transmigran yang ditempatkan di daerah ini. Penempatan itu terdiri dari beberapa tahapan. Sehari-harinya, penduduk setempat mempergunakan bahasa Bali sebagai penutur. Memasuki kampung-kampung masyarakat suku Bali terlihat khasanah yang begitu menonjol. Kehidupan keagamaan dan seni ukir Bali sangat akrab dilingkungan penduduknya. Tempat melakukan ibadat agama Hindu-Bali disebut Pura. Dalam kehidupan keagamaan, mereka percaya akan adanya satu Tuhan, dalam konsep Trimurti, Yang Esa. Trimurti mempunyai tiga wujud atau manifestasi, yakni wujud Brahmana; yang menciptakan, wujud Wisnu; yang melindungi dan memelihara serta wujud Siwa; yang melebur segalanya. Di samping itu, orang Bali juga percaya pada dewa dan roh yang lebih rendah dari Trimurti serta yang mereka hormati dalam upacara bersaji. Kebudayaan Bali sebagai bagian dari budaya masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah, terlihat pada lingkungan kampung-kampung bersuku Bali yang bermukim di daerah ini. Adat istiadat serta kebudayaan lainnya berkembang dengan sendirinya seiring perputaran waktu. Berbagai kesenian baik seni rupa, seni pahat, seni musik dan tari tetap menjadi khasanah daerah.
3. Eksistensi Kebudayaan Bugis-Makasar
Sementara itu, di kabupaten ini ada pula kelompok masyarakat suku Bugis-Makasar. Sebagian besar dari masyarakat suku Bugis-Makasar bertempat tinggal di daerah pesisir, terutama di Kecamatan Bandar Surabaya. Walaupun jumlah penduduknya tidak banyak namun di Kabupaten Lampung Tengah mereka sudah dikenal sejak dulu sebagai suku pelaut. Di daerah pedalaman (sekitar pusat ibukota kabupaten) jarang sekali ditemui kelompok orang Bugis-Makasar. Bahasa penutur kelompok masyarakat ini mempergunakan bahasa Bugis-Makasar sebagai bahasa percakapan. Biasanya penggunaan bahasa daerah lebih sering di pakai di dalam lingkungan keluarga maupun sesama suku. Keberadaan mereka di Lampung Tengah pada awalnya atas inisiatif sendiri atau bukan atas dasar pentransmigrasian. Karenanya masyarakat Bugis-Makasar tidak banyak berdiam pada sebuah kampung tetapi hidup membaur dengan suku-suku lain di daerah belahan pesisir umumnya.
Sekarang ini, di Kabupaten Lampung Tengah berdiam berbagai macam suku-suku bangsa dalam jumlah yang tidak sebanyak suku Jawa, Sunda, Bali maupun Bugis-Makasar. Suku-suku bangsa seperti Ogan, Palembang, Padang, Batak dan lainnya telah menjadi bagian dari penduduk kabupaten ini. Satu sama lain berinteraksi serta menyesuaikan diri dengan lingkungan masing-masing, tempat dimana mereka sekarang tinggal dan menetap.

Madu-Madu Suamiku

Posted: June 23, 2013 in Gb3n story 1

Dalam hidup kadang kita menemui pilihan yang salah atau pilihan yang salah itu adalah bagian dari takdir. Kisahku terlalu berliku dengannya banyak bahagia dan perih yang kurasa. Setiap tahap kuanggap sebagai perjuangan, hingga detik ini aku masih berjuang.

45 tahun yang lalu, aku adalah ragil dari 9 bersaudara. Cantik dan menarik, sudah tentu banyak pria ganteng, baik, dan mapan mengantri. Tapi aku rasa, aku telah menjatuhkan pilihan pada orang yang salah. Alex, pria arogan yang jauh dari mapan adalah pilihanku. Dia juga yang membuat aku berani meninggalkan bangku SMAku dan mengabaikan kata orang tuaku untuk kawin lari dengannya. Waktu itu mungkin yang ada dipikiranku hanya cinta dan Alex. Aku mendampinginya dari nol, kami berjuang bersama-sama dan aku ikhlas melakukannya. 1 tahun dari pernikahan kami, kami dikaruniani putra yang membuat kami lebih berusaha keras untuk hidup yang lebih baik. Beruntung pada akhirnya Alex mendapat posisi yang baik di perusahaanya dengan cepat kami dapat membeli rumah dan kendaraan. 2 tahun kemudian putri kami lahir, tentu saja kebahagian kami semakin lengkap saja.

5 tahun pertama, aku masih berpikir bahwa tidak ada yang salah dengan keputusanku. Namun setelah pindah kantor Alex sering ke luar kota. Aku masih menganggapnya wajar, mungkin urusan kantor. Tak sedikitpun aku menaruh curiga terhadapnya. Sampai suatu ketika, Aida teman baikku suatu di SMA yang kini menjadi Bidan. Tiba-tiba menelponku dan mengatakan bahwa Alex tengah mengantar seorang wanita muda melahirkan di tempatnya. Aku berulang kali menyakinkan apakah yang Aida lihat benar suamiku. Aida bahkan mengirim bukti photo ke ponselku. Tanpa pikir panjang aku bergegas ke tempat Aida, 4 jam perjalanan akhirnya aku tiba. Dengan perasaan yang bercampur aduk aku menemui Aida, setelah mendapat no. ruangan dimana wanita itu dirawat aku melangkahkan kakiku dengan penuh amarah.

Aku langsung masuk saja ke kamarnya, kebetulan Alex ada didalam.
“Lagi jenguk siapa bang?” tanyaku
“De kok kamu disini? Ayo kita bicara diluar,” ajaknya sambil menarik tanganku.
“Ga usah bang saya ada perlu sama dia,” ujarku menolak
“Bener kamu istrinya Alex?” tanyaku pada wanita itu
“Bener mba, maaf mba ini siapa?”
“Oo, jadi Alex belum kasih tahu kamu ya. Saya istrinya Alex,” tegasku
“Mba ini jangan bercanda, mas Alex nikah sama saya statusnya masih bujang. Ngga mungkin mba, bener kan mas?”
Alex hanya terdiam.
“Liat dia ga bisa jawab kan. Sekarang kamu bisa liat photo-photo ini,” Aku melempar photo pernikahan dan photo keluarga kami kemukanya.
“Bener ini, mas?” tanyanya pada Alex.
“Ya, itu bener.”
“Maaf mba saya ga tahu kalau mas Alex udah nikah, tapi maaf kalau saya harus tinggalin mas Alex saya ga bisa. Kasian anak saya yang baru lahir mba,” ujar wanita itu sambil menangis.
“Eehh saya ga mau tahu ya, saya juga ada anak-anak. Pokoknya kamu harus cerei sama ALex!”
Tiba-tiba wanita itu mengalami pendarahan, dan harus mendapat penanganan yang serius. Karena sudah muak dengan semua ini, aku pulang meninggalkan Alex.

3 hari kemudian, Alex pulang. Ia benar-benar memohon maaf atas kekhilafannya dan memintaku untuk menerima wanita itu ditengah-tengah kehidupan kami. Tak mau dianggap kalah, aku bertahan sebagai istri Alex juga demi anak-anak kami. Waktu berlalu tapi Alex mengulangi kesalahannya, ia menikahi seorang gadis yang baru lulus dari bangku SMA. Aku marah mengetahuinya, tapi tidak sesakit penghianatan pertamanya. Aku menggunakan gadis itu untuk membalas rasa sakitku pada Neni istri kedua Alex. Dan aku berhasil membuat Neni merasakan hal yang sama denganku yaitu dihianati Alex.

Setelah semua itu berlalu, hubunganku dengan Alex terasa hambar. Aku mulai masa bodo dengan apa yang dilakukannya diluar. Aku mulai dengan kehidupanku sendiri membiasakan diriku dengan keadaan ini dan berfokus pada pendidikan anak-anak kami. Sekarang perjuanganku adalah masa depan yang baik untuk putra putri kami. Meski sejujurnya masih ada cinta yang tersisa buat Alex.

Rindu, Maaf, dan putriku

Posted: June 23, 2013 in Gb3n story 2

Aku segera kembali setelah mendengar kondisi ayah tiriku tidak sehat, seharian ku lihat ia masih dibangkunya.
Aku tak hanya melihat linangan air mata yang berusaha ia bendung, tapi juga melihat betapa ia sangat kecewa pada dirinya sendiri. Selama ini aku tidak terlalu dekat dengannya, tapi aku pikir ia seorang ayah yang baik buat kami. Belakangan ini, setelah ia menerima kabar putri tunggalnya wafat ia nampak sering melamun disudut perapian itu. Dan aku rasa hangatnya api perapian itu tak mampu mencairkan hatinya yang membeku.
Ku beranikan diriku duduk disampingnya berharap ada yang mau ia bagi denganku, tentang kesedihannya, tentang kerinduannya.

“Bagaimana kabar ayah?” tanyaku
“Ayah baik-baik saja,” jawabnya sambil memijat-mijat keningnya.
“Apa yang diderita putri ayah?” tanyaku.
“Delia tidak sakit, ia dan suaminya mengalami kecelakaan dan Delia tidak terselamatkan.”

Aku terdiam sesaat, tak tahu apa lagi yang harus aku katakan. Sesekali kupandangi dirinya yang entah kemana arah matanya memandang.

“Waktu tak akan membawa kembali apapun kecuali hanya ingatan yang terus terbawa serta dalam raga yang menua. Ada ruang kosong yang masih selalu senyap disini, didadaku. Andai waktu bisa kuputar kembali, akan kugapai kesempatan yang telah kuabaikan yang kini menjadi bukit penyesalanku,” ujarnya lirih.
Ia kemudian menoleh arahku.
“Aku bukan ayah yang baik,” ucapnya
“Ayah tidak seperti itu,” kataku
Ia menghela nafas panjang
“Ya, mungkin kau benar. Tapi tidak buat putriku Delia”
“Harusnya aku datang pada pernikahannya, melengkapi kebahagiaannya. Atau aku datang setelahnya, tapi aku hanya diam disini. Sampai tak ada kesempatan untuk menjumpainya lagi. 29 tahun bukan waktu yang singkat dan aku tak melakukan apapun untuknya sebagai ayah.”
Kemudian ia mengais kotak disampingnya, didalamnya ada photo-photo Delia, putrinya.
Tak mau mengganggunya aku bangkit dan meninggalkannya beserta kenangan dan penyesalannya.

Pagi-pagi benar, ibu sudah berteriak histeris medapati suaminya sudah tak bernyawa.
Aku melihat ayah masih dibangkunya, bangku dekat perapian beserta photo-photo putrinya di genggamannya.

gb3n (geben)

Posted: May 19, 2013 in Gb3n story 1

“gb3n” (geben) sebuah kata yang pernah kusalah artikan tapi justru kini melekat bahkan menjadi icon dari diriku. Yups, seperti artinya dalam bahasa Jerman (memberi) akupun ingin selalu dapat menjadi pemberi kebahagiaan bagi orang-orang disekitarku.

Meskipun hidup terbilang cukup keras buatku, tapi aku mensyukuri betapa aku telah menjadi bagian dari kehidupan mereka yang dengan penuh kasih menyayangi aku. Dalam hidup aku selalu menyakini satu hal bahwasanya jika kita membantu orang lain dengan tulus maka Allahlah yang kelak akan membantu kita. Sesulit apapun keadaan kita.

Dan setiap rencana indahku untuk mereka yang aku sayangi, sepertinya Allah selalu memberi jalan dan memudahkannya untuk menjadi nyata. Menjadi penyempurna kebahagiaan orang lain terutama orang-orang disekitarmu adalah hal yang juga membahagiakan buat diriku. Aku selalu ingin dapat menghapus mendung dari wajah mereka. Seperti seniman yang mengukir senyuman dan menjadikan harapan mereka menjadi bentuk. Aku adalah g3bn pemberi yang selalu ingin memberi karena aku menyayangi mereka.


Saya 20 Tahun Kemudian

20 tahun kemudian saya akan telah berumur 47 tahun, saya akan tinggal di Kalianda, Lampung Selatan bersama suami tercinta dan kelurga kecil kami. Tentunya saya akan menjadi seorang ibu namun saya akan menjadi ibu yang modis dan dekat dengan anak-anak.

Selain menjadi ibu rumah tangga yang baik, saya akan punya kesibukan lain yaitu sebagai guru PAUD dan menjadi pemilik toko pakaian yang letaknya tepat didepan rumah kami. Dan kegiatan yang paling menarik di keseharian saya adalah dapat berbagi ilmu dan menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi orang lain disekitar saya. Saya dan ibu-ibu sekitar rumah saya, membuat kerajinan perhiasan seperti kalung, gelang, cincin, bross yang terbuat dari hasil laut (keong, kerang, dan batu2 yang kecil). Kami juga mengolah hasil perkebunan seperti keripik nangka, ubi, dan pisang. Meskipun hasilnya tidak banyak tapi kegiatan ini cukup membantu para ibu rumah tangga untuk member uang saku anak-anak mereka. Biasanya kami menjual hasil produksi kami pada pedagang-pedagang disekitar tempat pariwisata di sekitar kami.

Bicara tempat pariwisata, di Lampung banyak sekali pantai yang sangat indah. Saya dan keluarga hampir setiap bulan bertamasya ke sana. Dan pantai favorit keluarga kami adalah Grand Elty Krakatau, selain pantainya yang indah Grand Elty Krakatau juga memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Disana juga tersedia vila untuk menginap.

Di umur saya yang 47 tahun saya akan telah memiliki 3 orang anak, anak pertama saya akan telah berumur 20 tahun dan sedang mengambil kualiah jurusan pertenakan di Bogor, karena dia mewarisi kecintaan terhadap hewan peliharaan dari ayah dan kakeknya. Anak kedua kami akan telah berumur 17 tahun, dia akan sedang kelas 3 SMA dan dia sangat tertarik didunia pengajaran jadi kami pikir akan memasukan kuliah dengan jurusan FKIP di UNILA nantinya. Sedangkan anak ketiga kami akan telah berumur 12 tahun. Dia baru akan telah kelas enam SD, seperti saya dia sangat suka dunia fashion, dunia lukis melukis, dan tulis menulis. Dia dan saya setuju jika nantinya dia akan masuk sekolah seni untuk mengembangkan bakatnya.

Di dalam kehidupan setiap orang pastilah banyak menemui masalah dan kesulitan-kesulitan, juga saya. Hal yang paling sulit menurut saya adalah ketika mengajak para ibu-ibu untuk lebih kreatif dan menciptakan lapangan kerjanya sendiri. Karena kebanyakan dari mereka berpikir wanita itu tidak perlu mandiri karena sudah ada suami. Tapi saya rasa saya telah bisa mengubah pemikiran mereka. Dan saya sangat bersyukur untuk itu.

Saya tahu saya akan dapat menjadi orang yang lebih berguna bagi orang-orang disekitar saya di masa depan, tapi saya tidak pernah tahu rasanya sebahagia ini dan ini sangat membanggakan bagi saya juga keluarga saya. Terima kasih buat keluarga dan orang-orang yang telah mendukung saya selama ini.

 

 

 

I Twenty Years Later

20 years later I would have been 47 years old, I would stay in Kalianda, South Lampung with my dear husband and our little family. Surely I would be a mother, but I would be a mother who is fashionable and close to my children.

Besides to being a good housewife, I would have something else to do that as playgroup teachers and become the owner of a clothing store that is located right in front of our house. And the most interesting activities in my daily life is to share knowledge and become more useful to others around me. The mother around our house, make crafts jewelry such as necklaces, bracelets, rings, bros made from marine products (snails, clams, and small stones). We also cultivate plantation such as jackfruit chips, yams, and bananas. Although the result was not much but this activity help enough the housewife to give pocket money for their children. Normally we sell our products at merchants around the tourist places around us.

Talk tourism places, in Lampung there are so many beautiful beaches. My family and I almost every month jaunt there. And our family’s favorite beach is Grand Elty Krakatau, in addition to its beautiful beaches Grand Elty Krakatau also has complete facilities. There is also available villa for your stay.

In the 47 years of my life I would have had 3 children. My first child would have been 20 years old and currently taking college in science of animal husbandry in Bogor, because he inherited a love of pets from his father and grandfather. Our second son would have been 17 years old, he will was third grade of senior high school and he is very interested in the world of teaching so we thought he would be entering college with a major in Guidance and Counseling in UNILA later. While our third child would have been aged 12 years, she will have a new sixth grade, like me she really likes fashion, painting, and writing. She and I agree that she will be entered art school to develop her talent.

In the life of every person must have a lot of problems and difficulties as well as I. The most difficult thing in my opinion is when invites mothers to be more creative and create his own field. Because most of them think that women do not need to be self-sufficient because there husband. But I think I have been able to change their minds. And I’m very thankful for that.

I knew I would be able to be more useful for the people around me in the future, but I never knew it will be as happy as this and this was so proud to me also my family. Thanks for my family and the people who have supported me over the years.


CIMG0386CIMG0373CIMG0377CIMG0375CIMG0387

ImageImage

ImageImageImageImageImageImageImageImageImageImage

ImageImageImageImageImage

Image  —  Posted: March 8, 2013 in Gb3n story 1

My new place, My new life

Posted: February 4, 2013 in Gb3n story 1

Aku sekarang berada disini, Desa Tanjung Sari, Kec. Palas, Lam-Sel. Desa yang mayoritas penduduknya adalah pembuat gula merah dan petani. Setiap pagi para pembuat gula memanjat pohon-pohon kelapa mereka untuk mengambil air dari dahan kelapa ( kegiatan ini disebut juga Menderes), Setelah itu air kelapa itu di rebus hingga kurang lebih 4-6 jam. Setelah proses itu baru gula dicetak. Mereka tidak khawatir tentang bagaimana mereka akan menjualnya karena sudah ada pengumpul yang siap membayari gula-gula mereka. Perkeluarga setiap harinya bisa mendapat 20-25kg dengan harga per kg sekitar 9000-10000. Sementara para petani kebanyakan menanam jagung, tentu saja sebagian dari mereka juga menanam padi, karet, dan sayur mayur ala kadarnya. Meskipun bukan desa yang sangat sangat pelosok, aku pikir mereka cukup ramah. Kehidupan disinipun terbilang cukup nyaman meskipun agak sepi.

Diluar dari itu semua, aku suka tempat ini. Yups, siapapun pasti akan berkata ini menakjubkan. Aku suka sekali pantai dan entah sejak kapan aku menyukainya. Dan disini aku bisa melihat begitu banyak hamparan pantai-pantai yang indah dengan gunung-gunung yang tinggi disekitarnya. Hemm.. aku bisa menghiruk udara pagi yang segar, melihat kabut masih menyelimuti gunung dan para petani, pembuat gula yang bergegas melakukan aktifitas mereka.

Dan yang membuat semua itu lebih berarti, adalah seseorang disampingku sekarang. Yups, dia Suamiku. (Thanks for bring me to the beautiful place).

Mulai hari ini aku kan bercerita, aku akan menulis, lagi..lagi..dan lagi.. Semangat!!!

Seribu Langkah Terakhir

Posted: October 7, 2012 in Gb3n story 2

Terbiasa hidup bebas, Tania selalu menjalani hidup dengan caranya sendiri. Wanita kelahiran Bandung yang kini berprofesi sebagai guru tari ini, semasa remaja hidupnya selalu berpindah-pindah lantaran tugas ayahnya. Berpindah-pindah kota tak lalu mempertemukannya pada tambatan hatinya. Kini usianya menginjak 29 tahun, tapi ia masih sangat menikmati kesendiriannya. Baginya berkumpul dengan banyak teman lebih menarik ketimbang terikat dalam sebuah hubungan. Lebih tepatnya Tania tidak menyukai sebuah aturan. Sampai Ia bertemu Galih, lelaki yang tinggal satu lantai di atas apartemennya. Galih adalah seorang pekerja kantoran yang selalu berpenampilan rapi, tepat waktu, perfectionist dan jelas dia bukan tipe lelaki idaman Tania. Kesamaan mereka hanyalah sama-sama menyukai kopi dan mereka berlangganan kopi di cafe yang sama di sekitar apartemen mereka. Sering bertatap muka di cafe ataupun di lift tidak membuat Tania tertarik pada Galih. Tapi suatu malam, Galih membuat kehebohan di cafe. Malam itu dia naik kepanggung cafe lalu membawakan satu lagu romantis dengan seikat bunga mawar di tangannya. Semua wanita dalam cafe itu terpanah dengan aksinya tak terkecuali Tania. Mereka berpikir pasti Galih hendak melamar kekasihnya. Tapi ternyata tidak, di akhir lagunya Galih berkata:

“Lagu ini aku persembahkan untuk wanita yang sangat special dan istimewa buat sahabatku Danar, “Melody”.”
Galih turun dari panggung dan menyerahkan bunga itu kepada Danar. Danar segera merogoh sakunya dan mengambil sebuah cincin yang sudah ia persiapkan untuk wanita yang sangat dicintainya. Malam itu menjadi malam bersejarah bagi Danar karena berkat bantuan sahabat baiknya ia berhasil melamar Melody.

Beberapa hari kemudian Tania tidak sengaja menguping pembicaraan Melody dan Galih di pintu lift;
“Apakah mencintai harus begitu?” tanya melody
“Kau masih bisa memaafkannya dengan apa yang dia sudah lakukan padamu?” tanya Melody lagi.
“Ini bukan yang pertama, jadi lupakan saja. Kau tahu Shandra bagaimana, dia akan segera kembali padaku.”
“Andai aku jadi Shandra, aku tidak akan menyia-nyiakan dirimu.”
“Sudah jangan khawatirkan aku, temanku yang cantik. Persiapkan saja pernikahanmu dengan Danar,” ujar Galih sembari mendorong Melody masuk ke lift.
“Jaga dirimu,” kata Melody.
Galih mengacungkan jempolnya sembari tersenyum.

“Hemmm, ternyata dia sudah mempunyai pacar. Bodoh sekali dia mau dipermainkan wanita,” gumam Tania
“Hey kau,” ujar Galih.
“Iya, ada apa?” jawab Tania agak sedikit kaget
“Wajahmu tidak asing, kita sering bertemu kan? Namaku Galih,” ucap Galih sembari menyodorkan tangan sebagai tanda perkenalan.
“Tania,” Tania menjabat tangan Galih
“Nama yang bagus. Lain kali jangan menguping pembicaraan orang ya,” ujar Galih lalu masuk kedalam lift.
“Apa yang dia katakan barusan, siapa yang menguping. Jelas-jelas mereka yang bicara terlalu keras,” Tania menggerutu.

Waktu berlalu namun tidak menghapus kesan menyebalkan Galih di otak Tania dan mereka bertemu lagi di dalam lift.
Saat itu Tania tengah bersama teman-temannya hendak keluar makan. Di dalam lift teman-teman Tania asyik berbisik tentang kekaguman mereka pada Galih.
Usai Galih keluar dari lift, mereka menyerbu Tania dengan pertanyaan.
“Siapa dia Tania?” tanya mereka kompak.
“Galih,” jawab Tania datar.
“Wahh kau mengenalnya, jangan bilang dia lelaki yang kau ceritakan pada kami?”
Tania mengangguk.
“Pantas saja kau betah tinggal di apartementmu. Kau punya tetangga sekeren Galih,” ujar teman-temannya meledek.
“Iya keren, tapi aneh.”
“Aneh kalau dia sampai jatuh cinta padamu Tan,” ujar salah satu temannya yang mengundang tawa diantara mereka.
“Dia bukan tipeku, dia atau aku tidak mungkin jatuh cinta. Kalian dengar,”
“Awas jangan sesumbar, nanti kemakan omongan kamu Tania.”
“Kalian mau taruhan?”
“Tentu saja.”
“Baiklah kalau kami sampai berpacaran, maka kalian bisa makan di tiga tempat semau kalian.”
“Setuju..!!” jawab mereka serentak.

Sabtu malam bersama teman-temannya Tania menghabiskan waktu mereka dicafe, tak disangka Galih dan Shandra juga ada disana. Mereka sepertinya sedikit cekcok setelah seorang lelaki yang tidak lebih keren dari Galih datang menghampiri mereka.

“Kau tidak bisa memutuskan aku. Menunggu hanya itu pilihanmu,” ujar Shandra dengan penuh percaya diri.
“Maaf aku tidak bisa menunggumu lagi, pergilah bersamanya dan jangan kembali. Kita sudahi saja perjodohan kita,” ujar Galih dengan tetap tenang
“Maksudmu?”
“Iya, aku bertemu dengan wanita yang jauh lebih baik darimu dan aku menyukainya.”
“Kau pasti bohong, bukan?”

Galih lalu membawa Shandra ke meja Tania.

“Kenalkan dia Tania wanita yang aku sukai, dia pacarku.”

Galih menarik Tania dari bangkunya, sementara Tania masih terpelongo dengan apa yang baru didengarnya.

“Apa, serius Tania? Kalian jadian?”
“Ohh aku tidak percaya ini.”
“Selamat yach buat kalian berdua kami ikut senang.”
“Tania, jangan lupa traktirannya.”

Cecar teman-teman Tania. Sementara Shandra dan teman lelakinya segera meninggalkan cafe.

“Senang bertemu kalian, tapi maaf aku masih ada urusan. Sampai berjumpa lagi,” Galih berpamitan.
Setelah Galih meninggalkan cafe, Tania mencoba menjelaskan bahwa sebenarnya dia dan Galih tidak berpacaran. Tapi sayangnya teman-temannya keburu percaya omongan Galih ketimbang dirinya.

Keesokan harinya, Tania dan Galih bertemu di Cafe. Tania yang melihat Galih langsung menghampirinya.
“Masalah kemarin, bisa kita bicara?” tanya Tania.
“Dengan senang hati. Duduklah,” ujar Galih
“Bisa kau jelaskan, apa maksud tindakanmu kemarin?”
“Maaf telah melibatkanmu dalam kekacauan ini, apa kau merasa dirugikan? Bukankah kau tidak punya pacar, jadi tidak masalah donk. Aku kan hanya mengakui kau pacarku di depan Shandra.”
“Tentu saja, karena ucapanmu teman-temanku jadi percaya kalau kita pacaran dan aku harus mentraktir mereka di 3 tempat.” ujar Tania sedikit kesal.
“Kalian taruhan?”
Tania mengangguk dengan sedikit malu.
“Kau yang taruhan kenapa menyalahkan aku?”
“Ya karena ucapanmu aku jadi dianggap kalah, pokoknya kau yang harus mentraktir mereka!!”
“Iya, baiklah. Aku yang traktir mereka.”

Setiap akhir pekan selama tiga minggu Galih pergi bersama Tania dan teman-temannya untuk mentraktir mereka. Hal itu membuat hubungan pertemanan mereka semakin erat.
Galihpun mengajak Tania untuk menemaninya hadir ke pesta pernikahan Danar dan Melody. Melihat Galih bersama teman-temannya membuat Tania tahu sisi kehidupan Galih yang hangat.

Minggu pagi Galih dan Tania pergi bersepeda di taman. Tentunya setelah sarapan dan minum kopi di cafe langganan mereka. Setelah lelah menggoes sepeda mereka mengelilingi taman, mereka lalu duduk dibangku taman untuk melepas lelah.
“Boleh aku menanyakan sesuatu Galih?”
“Tentu saja, tanyalah.”
“Kenapa kau sebelumnya mempertahankan hubunganmu dengan Shandra, bukankah dia sudah menghianatimu berulang kali?”
“Oo soal Shandra, aku seperti tidak punya alasan untuk mencegah Shandra datang dan pergi dari kehidupanku dengan sesukanya. Mungkin karena Shandra sangat mirip dengan almh ibuku. Jika bersamanya aku jadi merasa dekat dengan ibuku.”
“Kau tidak mencintainya,” tambah Tania.
“Aku selalu bisa memaafkannya dan dengan setia menunggunya, apa itu termasuk cinta? Galih balik bertanya.
“Hahh,, Kau tidak peduli padanya. Akui saja, kau tidak pernah menunggunya untuk kembali tapi kau menunggunya untuk benar-benar pergi. Apa tebakanku salah?”
“Kau ini sok tahu,” ujar Galih sembari mengusap-ngusap rambut Tania.
“Dari tadi kita membicarakan aku, kau sendiri bagaimana? Kau sudah 29tahun, mengahabiskan harimu dengan anak-anak dan bergaul dengan teman-temanmu yang cerewet sekali, sama sepertimu. Kau kesepian, bukan?”
“Tidak, I’m single and I’m happy.”
“Gengsimu tinggi sekali. Kau sering mengahabiskan kopi sendiri, bukan? rasa kopi membuat perasaanmu nyaman dan melupakan kesepianmu?”
“Aku suka kopi dan kau tahu itu.”
“Tidak,” kata Galih dengan senyuman mengejek.
“Sudahlah, aku mau pulang!!”
Galih menarik tangan Tania agar tetap duduk.
“Dengar Tania, kalau diperhatikan kau ini punya wajah yang cantik, kau pintar dan cukup menarik. Bagaimana kalau aku menyukaimu?” tanya Galih
“Hahhh… sudah jangan berusaha merayuku, kau perlu ingat kau sama sekali bukan tipeku,” tegas Tania.
Tania bangkit dan melangkah meninggalkan Galih.
“Dasar wanita yang sombong,” gumam Galih
“Hai Tania, lalu seperti apa tipemu. Biar aku carikan, temanku banyak. Aku bisa mengenalkanmu pada mereka, bagaimana Tania? Kau mau?” teriak Galih.
“Terima kasih!!” balas Tania sembari tetap berjalan.

Beberapa bulan kemudian Galih berulang tahun Danar, Melody, Tania dan teman-temannya turut hadir di pestanya. Tania diam-diam memperhatikan Galih yang tak melepaskan pandanganya dari Melody. Ada yang berbeda dari caranya memandang Melody. Dikesempatan berdua dengan Galih, Tania mengatakan apa yang ingin iya katakan;

“Sekarang aku mengerti bagaimana perasaanmu dan siapa yang sebenarnya kau sukai. Wanita itu bukan Shandra tapi Melody, bukan?”
“Apa?” tanya Galih yang pura-pura tidak mengerti.
Galih lalu tersenyum yang menandakan ia membenarkan perkataan Tania.
“Kenapa kau tidak memperjuangkan cintamu?”
“Untuk apa? Melody dan Danar sama-sama teman baikku. Keduanya sama pentingnya buatku.”
“Tapi,” ujar Tania
“Sudahlah, jangan lagi bicarakan mereka atau apalah yang berada di belakangku. Sekarang kenapa kita tidak membicarakan hubungan kita saja. Menikahlah denganku,”
“Kau becanda,” ujar Tania terkejut.
“Aku serius, menikahlah denganku”
Tania terdiam.
“Sudahlah aku mau bergabung dengan teman-temanku,” Tania bangkit dari bangkunya.

Tiba-tiba Galihpun bangkit dari bangkunya dan mengambil perhatian tamu-tamunya.

“Hari ini sangat special buatku karena tidak hanya waktu yang telah membulatkan umurku menjadi 30 tahun, tapi terlebih karena kehadiran kalian semua disini. Terimakasih telah menjadi orang-orang yang selalu peduli padaku dan menyayangiku tentunya. Di hari yang sangat berbahagia ini, aku ingin bilang pada seseorang bahwa dia adalah pelangi yang memberi warna dihidupku. Aku ingin dia selalu memberi warna di setiap hari yang akan kulalui selanjutnya.”
“Tania menikahlah denganku,” tutupnya sembari memandang ke arah Tania.
Semua orang bersorak “Terima!!” “Terima..!!” “Terima..!!”

Galih lalu berjalan ke arah Tania. Tania tersipu malu dan terlihat salah tingkah.
“Bagaimana Tania?” tanya Galih
“Ini terlalu manis buatku, terima kasih untuk ini. Tapi maaf..”
Semua orang tidak sabar mendengar Tania menyelesaikan ucapannya.
“Maaf aku tidak bisa menolakmu,” senyuman tersungging dibibirnya.
“Terima kasih,” ucap Galih lalu membubuhi kening Tania dengan kecupan.
Secara bergilir sahabat, kerabat serta keluarga memberi mereka selamat.

Setelah dua keluarga besar Galih dan Tania bertemu, akhirnya mereka sepakat akan melaksanakan pernikahan Galih dan Tania 5 bulan kedepan.

3 bulan kemudian, Tania dan Galih dikejutan oleh kabar duka dari Melody. Danar meninggal dalam sebuah kecelakaan. Selama seminggu Galih mencoba menenangkan Melody, tentunya atas izin Tania. Tania mengerti benar bagaimana perasaan Galih yang begitu kehilangan sahabat karibnya.

Tersisa dua bulan untuk menuju pernikahan mereka, Tania tak hanya sibuk dengan persiapan pernikahan mereka tapi juga persiapan pentas tari terakhirnya.
Namun semua ia persiapkan dengan sangat baik. Akhirnya pentas tari itu sudah ada didepan mata, Tania sudah mewanti-wanti Galih untuk bisa hadir. Galihpun sudah berjanji akan hadir. Tapi sampai acara selesai, bangku milik Galih tetap kosong. Disatu sisi ia sangat bahagia sekaligus bangga karena pentas tarinya terbilang sukses. Tapi disisi lain ia sangat kecewa karena ketidakhadiran Galih terlebih alasannya untuk tidak hadir adalah karena ia harus menjemput Melody dari bandara.

Malam sudah larut, Galih menggedor rumah Tania untuk meminta maaf.

“Untuk apa kau datang kesini, acaranya sudah selesai.”
“Maaf aku harus menjemput Melody dibandara, kau tahu dia baru kehilangan Danar.”
“Aku mengerti, kau mengkhawatirnya.”
“Harusnya aku tak perlu cemburu tapi pentas itu penting buatku, sangat penting bahkan. Aku ingin kau ada disana melihatku karena itu pentas terakhirku. Tapi sudahlah, itu sama sekali tidak penting buatmu.”
“Tania, maafkan aku.”
“Kau tak perlu minta maaf untuk ini. Aku mau istirahat,” ujar Tania sembari menutup pintu.

Sepekan Tania enggan bertemu dengan Galih, hanya pesan singkat yang ia kirimkan pada Galih;
“Aku rasa, aku tidak bisa melanjutkan ini. Aku ingin melangkah lebih jauh, berlari dan menari. Untuk itu aku berhenti, aku tidak ingin mengubah siapapun.Kau tidak bisa mencintai siapa-siapa, tidak Shandra juga tidak aku. Liat ke dalam hatimu, Melodylah yang kau cintai. Dia lebih membutuhkanmu ketimbang aku, sekarang. Jadi pergilah ke sisinya.”

“Hahhh… Dasar sok tahu,” gumam Galih.
Setelah membaca pesan Tania, Galih bergegas menuju tempat dimana dia tahu akan menemukan Tania disana.

“Ini seribu langkah terakhirku dari Melody, berada disisinya membuat aku dapat melihat dengan jelas siapa yang ada dihatiku. Kau tahu siapa? Bukan Melody tapi kau Tania.”
“Aku mundur tidak hanya karena masih meragukan perasaanmu tapi juga karena aku yang mungkin lebih suka hidup bebas, aku suka dengan kehidupan yang aku jalani sekarang meski aku berharap kau akan menemaniku menyeruput secangkir kopi setiap pagi, melihatku menari dan membiarkan aku tetap menjadi diriku. Kau benar-benar bukan tipeku, kau terlalu rapi dan terlalu banyak mengatur. Tapi sayangnya aku menyukaimu, ” Ujar Tania menjabarkan tentang perasaannya.

Galih tersenyum mendengar ucapan terakhir Tania.
“Aku tidak akan membatasi apa yang kau ingin lakukan. Aku akan membiarkanmu tetap menari dan aku akan menemanimu berlari ketempat yang kau suka, berkumpul dengan teman-temanmu yang cerewet itu. Itu aturanku sekarang, jadi menikahlah denganku.”
“Harusnya kau bilang itu dari dulu.”
“Jadi?”
Tania menganggukan kepalanya.

Musim berlalu dengan cepat dan kita tidak pernah tahu pada siapa kita akan menghentikan seribu langkah terakhir kita.

Konsistensi dan Dia

Posted: July 25, 2012 in Gb3n story 2

Ketika langit samar-samar mulai ungu. Diana masih terpaku dengan kedua tangannya yang menyanggah dagu. Guratan di wajahnya yang nampak kaku bersama bibirnya yang terus membisu mencair bersama airmata yang meleleh dipipinya.

“Aku masih kesal,” ujarnya
“Kenapa kau kesal?” tanya Juwita yang sedari tadi duduk menemaninya di teras depan rumahnya.
“Kau tahu setiap orang bisa berbuat lebih baik, lebih maksimal untuk orang lain disekitarnya. Tapi jarang dari mereka yang mau mengorbankan atau menunda kepentingan pribadi mereka demi orang lain.”
“Siapa yang kau maksud, hemm?” tanya Juwita yang mencoba memahami kekesalan yang tengah dirasakan sahabat baiknya itu.
“Orang yang tidak pernah memahami kata KONSISTEN.”
“Memangnya apa yang dia perbuat?”
“Dia itu sama seperti calek-calek kita, yang kebanyakan umbar janji tanpa ada bukti pastinya. Mereka ngga pernah pikir janji mereka bagi orang lain adalah harapan hidupnya. Tapi dengan mudah mereka hancurkan tanpa peduli perasaan orang lain. Kalau gitu mending ngga usah ngomong kan!!!”
“Kau tahu semua orang punya keterbatasan untuk mewujudkan keinginan atau harapan dalam hidup mereka. Kadang hal kecil bagi kita bisa menjadi hal besar atau bahkan sangat berharga bagi orang lain dan sebaliknya. Dan bagi kita yang membantu mewujudkan harapan mereka tentunya dengan ikhlas akan juga merasakan kebahagiaan mereka.”
“Tapi setiap orang punya pilihan, mereka berhak melakukan apa saja, bukan? Termasuk tidak melakukan sesuatu untuk orang lain.” ujar Juwita
“Ya, tapi tidakah mereka menyesali melihat kesedihan dimata orang-orang disekitarnya, tanpa berbuat apa-apa?”
“Bisa jasa, mungkin hal itu karena mereka tidak menyayangi orang-orang disekitarnya.”
“Ya, kau benar. dia tidak menyayangi orang lain. Aku terlalu memaksakan keinginanku, terlalu berharap dia melakukan sesuatu yang lebih baik. Hemmm,” Diana menghela nafas panjang.
“Sudahlah,” ujar Juwita sembari menepuk pundaknya.
“Dengar Juwita, kalau kau merasa kecewa dengan pilihan mereka atau “Dia”. Kau harus berlaku sebaliknya untuk orang lain disekitarmu. Walaupun sulit aku yakin benar kau bisa melakukan yang terbaik yang kau bisa untuk mereka.”
“Yups, aku mengerti. Terima kasih kau sudah mau mendengarkanku.”
Diana dan Juwita bangkit dan melangkah masuk. Namun dalam pikiran Juwita masih dipenuhi tanya siapa orang yang disebut Diana tidak pernah memahami kata konsisten itu.

Cerita kecil pak Dady

Posted: June 22, 2012 in Gb3n story 1

Ini kali pertama aku berkunjung ke tempat kerja Dani, disana aku diperkenalkan dengan seseorang yang sudah paruhbaya. Beliau adalah pak Dady yang mana merupakan pengawas di tempat Dani bekerja. Pak Dady cukup ramah menurutku, ia juga murah senyum. Ketika Dani pergi memeriksa pekerjaanya, pak Dady sedikit banyak bercerita tentang kisah cinta pertamanya dulu. Mungkin karena melihat aku dan Dani lantas membangunkan ingatannya pada gadis yang ia cintai dimasa remajanya.

“Awalnya ia bercerita tentang pekerjaannya kemudian beralih tentang pendidikan yang sebenernya membalut kisah cintanya dulu.
Dizamannya transportasi sangatlah sulit, tidak banyak kendaraan yang mondar-mandir. Setelah mendaftarkan diri ke SMP diluar kotanya yaitu Semarang. Pak Dady menunggu kendaraan Truk untuk membawa mereka kembali ke Yogyakarta. Sayangnya tak satupun Truk yang bersedia mereka tumpangi. Merekapun menunggu seharian di tepi jalan. Seorang bapak tua untuk kedua kalinya melintasi mereka dan kemudian berhenti untuk yang ketiga kalinya.
“Mau kemana bu?” tanyanya.
“Kami mau ke Yogyakarta pak, saya baru mendaftarkan anak saya di SMP negeri Semarang. Tapi sampai sekarang kami belum mendapatkan tumpangan truk untuk kembali pulang,” jelas ibu pak Dady.
“Oo begitu, yasudah berbuhung hari sudah sore ibu dan adik bisa menginap dulu dirumah saya.”
“Tidak usah pak, terimakasih.”
“Sudah tidak apa-apa, pasti kalian lelah menunggu seharian disini. Mari bu.”
Akhirnya pak Dady beserta ibunya mengiyakan ajakan bapak tua yang namanya adalah pak Kijo. Rumah pak Kijo tidak jauh dari tempat mereka menunggu truk, hanya sekitar setengah kilo saja. Sesampainya di rumah pak Kijo, pak Dady dan Ibunya di perkenalkan pada istri pak Kijo (Lasmi) dan anak mereka yang seumuran dengan pak Dady (Retno). Ditengah makan malam, pak Kijo menawarkan seandainya pak Dady memang nanti diterima di SMP negeri Semarang. Tinggalnya tidak usah dimana-mana melainkan dirumah pak Kijo saja. Tentu saja tawaran tersebut disambut gembira oleh pak Dady dan ibunya. Setelah beristirahat semalam, pak Dady dan ibunya pulang ke Yoyakarta keesokan paginya.

Seminggu kemudian pak Dady kembali ke Semarang untuk melihat pengumuman penerimaan siswa baru, syukur alhamdulillah nama pak Dady tertulis diantara nama-nama siswa yang diterima di SMP negeri Semarang. Mulai ajaran baru dimulai pak Dadypun mulai tinggal di rumah pak Kijo dan di mulai pula kisahnya bersama Retno. Retno sangat senang dengan hadirnya pak Dady dikediamannya. Pak Dady baginya tidak hanya teman bermain, teman di sekolah, teman belajar tapi juga seorang kakak. Begitu juga Retno bagi pak Dady. Keduanya sudah seperti saudara, Retno sering ikut ke desa pak Dady ketika liburan sekolah. Melihat hamparan sawah, bermain di sungai adalah pengalaman yang sangat menyenangkan buat Retno.
Tiga tahun berlalu hanya keriangan serta perasaan nyaman satu sama lain yang mereka kenal. Namun setelah menginjak bangku SMU perasaan keduanya mulai menjadi cinta. Minder karena tingkatan sosial diantara mereka, pak Dady hanya memendam perasaannya di dalam hati saja. Hingga suatu malam pak Dady hendak menonton layar tancep dan ketika mengeluarkan sepeda miliknya ibu Lasmi bertanya dari balik kamarnya;
“Siapa?”
“Saya Dady bu,” jawabnya
“Mau kemana Dy?”
“Mau nonton layar tancep bu.”
“Aku ikut mas Dady!” Sahut Retno.
Pak Dady hanya diam dan kemudian mengembalikan sepeda miliknya, ia tak mau Retno ikut bersamanya karena ia tahu benar pasti Ibu Lasmi tidak akan memperbolehkannya. Tidak hanya mengurunkan niatnya untuk menonton malam itu tapi pak Dady juga harus mengurunkan cintanya pada Retno setelah didengarnya dari celah jendela bu Lasmi tengah memarahi Retno, ia melarang keras Retno berhubungan dengan pak Dady.
Waktu berlalu agak sulit bagi pak Dady. Yups, sulit bagi pak Dady menghadapi perasaan cintanya pada Retno. Lega rasanya akhirnya mereka meninggalkan bangku SMU, pasalnya pak Dady memutuskan untuk meneruskan kuliahnya di Yogyakarta sementara Retno tetap meneruskan kuliah di Semarang.

Lama tak bertemu Retno datang memintanya untuk menemaninya beserta calon suaminya ke tempat pamannya di Yogyakarta. Antara senang dan sedih mendengar kabar bahwa Retno akan menikah. Tapi itu adalah keputusan terbaik buat mereka.
Setelah menikah dan dikaruniai 3 orang putra, kabar buruk sampai ditelinga pak Dady. Suami Retno jatuh sakit. Pak Dady hanya bisa berharap Retno bisa melalui semuanya dengan baik.

Tak lama berselang pak Dady menemukan jodohnya yang tak lain adalah teman kantornya (Tina). Merekapun memutuskan untuk menikah. Di pesta pernikahannya Retno turut hadir bersama tiga putranya tanpa didampingi suaminya. Ia duduk di bangku depan seorang diri, matanya berkaca-kaca entah apa yang sedang dilamunkanya. Pak Dady mencuri pandang ke arahnya. Dirinya masih saja menghawatirkan wanita yang masih dianggapnya gadis kecil.
Waktu yang mempertemukan mereka waktu juga yang mengharuskan mereka untuk memilih jalan mereka masing-masing.”

Aku melihat dimata pak Dady bahwa sebenarnya ia berharap seandainya cintanya bersama Retno adalah mungkin. Aku bisa merasakan cinta disetiap tutur katanya ketika ia menceritakan tentang kisahnya. Aku pikir kisah mereka hanya sampai disitu saja. Tapi pak Dady kemudian melanjutkan ujung dari cerita itu;

“3 tahun kemudian dia meninggal.”
“Suami Retno?” tanyaku.
“Bukan, tapi Retno.”
Aku tercengang mendengarnya, setahuku suami Retnolah yang sedang jatuh sakit. Pak Dadypun melanjutkan;
“Retno kena tumor, dari kecilpun dia sudah sakit-sakitan. Aku tahu benar tentang kondisinya. Kalaupun saya menikah dengan Retno mungkin saya sekarang sudah tidak punya istri,” tutupnya.

Aku tidak tahu harus bicara apa lagi, kupandangi wajahnya yang masih sangat kehilangan Retno. Aku yakin cintanya pada Retno masih tersimpan sangat rapi dilubuk hatinya.