“AYAH”

Posted: December 15, 2010 in Gb3n story 1

Dengan berbekal secarik alamat yang di berikan pamanku priono yang mana ia merupakan adik dari bapak kandungku dan keluarga satu-satunya yang tinggal di Jakarta.

Aku ditemani Prasetyo suamiku, untuk pertama kali kami mengunjungi keluarga dari bapak kandungku di Purwokerto. Dedekan, penasaran, takut, dan khawatir  berbaur dihatiku sepanjang perjalanan.

Kami berhenti di sebuah toko jajanan untuk membeli oleh-oleh sekaligus menanyakan alamat pada pemilik toko tersebut. Ternyata rumah kakekku tidak jauh lagi hanya sekitar 1 km lagi dari situ. Setelah membeli oleh-oleh kamipun melanjutkan perjalanan.

Tepat di sebuah rumah besar tempo dulu yang masih nampak begitu asri, Pras menghentikan laju kendaraan kami.

“De’ sepertinya ini rumah kakekmu. Ds. Cikidang no. 186,” ujar Pras sembari mencocokan alamat di tangannya.

Kemudian kami turun dari mobil, dengan menggenggam tanganku Pras mengajak aku masuk, terlihat ia justru lebih antusias ketimbang aku.

“Assalamualaikum…,” kami memberi salam.

“Wa’alaikumsalam..,” sambut wanita paruh baya dengan ramah.

“Febri dan nak Prasetyo yach?” tanya wanita paruh baya itu dengan yakin.

“Benar bu, saya Febri dan ini suami saya Prasetyo,” Ujarku sambil berjabatan.

“Saya budemu Ratih, saya anak ke-2 kakak bapakmu pas.”

“Oo..,” aku melempar senyuman.

“Tadi pagi, Priono sudah telepon katanya anaknya Julianto mau datang dari Jakarta. Ayo..ayo masuk kedalam jangan berdiri saja,” ajaknya.

Kami berdua menganggukan kepala.

“Pak, mba Wita , Yo.. ini Febri sudah datang,” kata bude Ratih memberitahu keluarga lainnya.

Satu per satu mereka keluar, aku disambut dengan ramah. Peluk hangat mereka menyapaku silih berganti. Tapi jujur aku sedikit risih ketika mereka berkata “Oo ini anak Julianto” saat menyapaku. Hemmmm,,

“Aku Wiharja kakekmu, nenekmu Jumiarti beliau sudah alm 10 tahun yang lalu.” Ujar kakekku nampak sedih.

“Ini Bude Wita anak pertama, Ini Vivi dan Viko anaknya. Kalo ini Bude Ratih anak kedua, ketiga bapakmu, yang keempat pamanmu priono dan yg terakhir pamanmu Toto.

Aku dikenalkan pada keluarga besar kakek dan sanak saudara lainnya. Kakek menerangkan silsilah keluarga yang sebelumnya tidak pernah aku ketahui. Maklum selama ini aku hanya mengenal keluarga dari Ibuku.

Meski ini kali pertama aku bertemu mereka, tapi kami dapat dengan mudah menjadi akrab. Setelah makan siang Vivi membawakanku sebuah album besar milik kakek.

Ia menunjukan beberapa photo nenek dan keluarga lainnya.

Bude Wita menunjuk satu photo saat pernikahannya. Kemudian menjabarkan siapa saja yang ada di dalam photo tersebut.

“Photo ini diambil sekitar awal 70an, ini Ratih masih 16 tahun, ini bapakmu sekitar 14 tahun, dan priono 9 tahun.”

“Bapakmu itu tidak suka di Photo, makanya hanya ini saja photonya. Sejak usianya 18 tahun dia ikut paman Lukas ke Jakarta. Sejak itu jarang pulang terakhir pulang waktu ibu meninggal. Dan kabar terakhir kami dengar sekarang di Kalimantan. Tentang kau dan pernikahannya dengan ibumu, paman Lukas yang memberitahu kepada kami.”

“Bagaimana dulu waktu kecilnya bude?” tanyaku ingin mencuri tau dari tutur bude Wita dan yang lainnya.

“Dulu yahh sama bandel  He,,he,,he,,” Bude Wita tersenyum padaku.

Akupun tak bertanya lagi, meski aku ingin banyak tau tentangnya dari mereka.

Dua hari aku begitu menikmati kebersamaanku dengan mereka. Senang mengenal keluarga baruku.

Sehari sebelum pulang, setibanya dari rumah bude Ratih. Dengan tergesa-gesa dan nampak begitu khawatir, paman Toto memintaku dan Pras untuk kerumahnya. Memang selama di Purwokerto aku belum sempat mampir ke rumah paman Toto.

“Ada apa paman, apa terjadi sesuatu pada kakek?” pikiranku langsung tertuju pada kesehatan kakek.

Paman Toto hanya menggelengkan kepalanya.

“Sudah ikut saja, nanti biar diberitahu disana saja,”  tutur paman Toto membuatku penuh tanya.

Sesampainya di rumah paman Toto, ternyata semua keluarga sudah berkumpul. Aku semakin tidak mengerti ada apa sebenarnya.

“Febri, Pras kemari. Ayo duduk dulu”

“Ada apa to Kek, bude Wita ada apa?” tanyaku.

“Mmm,,  begini ini tentang bapakmu Julianto”

Mendengar nama Julianto, hatiku tiba2 menjadi kacau. Aku takut jika yang akan disampaikan bude Wita adalah kabar kematiannya.

“Kenapa dengannya?” celahku dengan wajah pucat pasi.

“Sebenarnya bapakmu ada disini sudah hampir 3 bulan dia sakit Liver, sebenarnya ia tidak mau kau tau tentang keadaannya. Tapi belakangan ini kondisinya semakin parah, kami khawatir dia tidak mampu bertahan lebih lama lagi jadi kami memutuskan untuk mempertemukan kalian. Sekarang dia ada dikamar, sedang menunggumu.”

“Eemm,, bude tidak sedang bercanda kan,” aku berharap ini hanya sebuah lelucon.

“Tidak, kami tidak sedang bergurau. Ayo cepat temui bapakmu,” kata kakek membenarkan pernyataan bude Wita.

“Tapi,,ini terlalu mendadak buatku, aku rasa aku tidak bisa menemuinya. Aku belum siap,”  ucapku sembari memandang mereka.

Aku menengok pada Pras, ia mengganggukan kepalanya kemudian menepuk kedua pundakku. Aku mengerti ia ingin aku menemui ayah kandungku.

“Baiklah.”

Mereka menemaniku ke kamar itu. Dengan kaki gemetar aku menghampirinya. Sebegitu dekat aku menatapnya. tubuh renta serta kerutan di dahinya.

“Apakah benar yang sedang kutatap adalah kau, mimik wajah yang terlihat canggung mata yang ingin berkata. Akankah kami hanya saling memandang, tanpa bertegur sapa,”

gumamku dalam hati.

“Febri anakku, aku bapakmu,” ucapnya terbata-bata.

“Tunggu.., cukup kau sebut namaku jangan kau mengulurkan tanganmu dan berharap aku memelukmu seperti adegan di sebuah sinetron pada umumnya,” ujarku dalam hati.

“Maafkan bapak nak, selama ini bapak tidak menjaga dan mengurusmu,” ucapnya penuh rasa penyesalan.

“Ibu sudah mengurus dan menjagaku dengan baik, tak perlu khawatir.”

“Aku rasa tak ada yang perlu dimaafkan dariku.”

Airmata meleleh dipipinya aku merasa sedih, tapi bukan karena melihat keadaannya dan semua penyesalannya terhadapku. Aku merasa sedih lebih karena aku tak dapat melihat sosok ayah didirinya. Dimataku ia masih seorang lelaki yang menyakiti hati ibuku. Seandainya Tuhan mempertemukan aku selagi rasa rindu dihatiku masih ada mungkin aku akan memeluknya dengan bahagia. Tapi kerinduan itu telah remuk terlindas oleh setiap komentar pedas ibuku.

“Kau marah pada bapak nak?”

“Kau memang tak melakoni peranmu sebagai ayah. Yahh aku mungkin sedih waktu itu, saat teman-temanku berolok-olok dengan nama ayah mereka. Aku iri saat mereka diantar dan dijemput sekolah oleh ayah mereka. Aku ingin sekali ayahku menghadiri rapat sekolahku, aku mau bercerita dengan bangga tentang ayahku layaknya seperti teman-temanku. Tapi apa..!!! aku bahkan tak tau seperti apa wajah ayahku. Tak ada yang aku tau tentangmu sebagai ayah.

Semua itu aku maklumi karena perceraian kalian. Tapi kau terlalu jahat padaku, kau bebani semua kesalahanmu dipundakku, seumur hidupku. Kau tidak pernah tau betapa aku merasa sedih, ketika ibu menceritakan keburukanmu berulang-ulang dihadapanku. Aku merasa bersalah, saat harus melihat kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan dimata ibu setiap kali bicara tentangmu, kau tak pernah tau betapa sulit kujalani hariku bukan!!” Aku ingin mengatakan semua itu dengan lantang kepadanya, aku ingin ia dengar lengkingan kekecewaan dihatiku  tapi aku tak bisa melakukan itu.

Biarlah semua itu ku ucap dalam hati, aku tak mau ada yang terluka lagi.

“Febri kau kecewa pada bapak?” kembali ia bertanya.

“Tidak.”

“Maafkan bapak nak,” ucapnya lagi.

“Bukan aku yang seharusnya menerima maafmu, tapi ibu. Minta maaflah padanya.”

Dia terdiam sepertinya dia mengerti maksudku.

 “ Febri, aku mohon sekali saja kau panggil aku bapak, aku ingin mendengar kau memanggilku bapak,” pintanya sembari menangis.

Aku menggelengkan kepalaku, hatiku masih dipenuhi amarah. Aku belum puas menatap kekecewaan dihatiku yang semua orang tidak tau.

Kakek, bude Wita, bude Ratih dan semua orang di ruang itu juga Pras memintaku memanggilnya bapak.

“Ayo de’, panggil bapakmu,” ujar Pras  sembari menggenggam tanganku.

“Maaf aku tidak bisa.”

Aku terus memandangnya, aku tau dia kecewa dan sedih. tapi aku sungguh tidak bisa.

Tiba-tiba kondisinya memarah dan dia menghembuskan nafas terakhirnya.

Suasana mengharu biru, tangisan memecah hening ruangan. Sementara itu hatiku malah terasa lengang, aku masih tidak percaya tubuh yang terbujur kaku itu bapakku. Setelah hampir seumur hidupku akhirnya aku melihatnya dan sekarang dia sudah pergi, ini seperti mimpi bagiku. Aku masih tak bisa berkata-kata.

“Pras..,“ kulihat suamiku yang menatapku sedih.

Pras merangkul kepalaku ke dadanya.

“Dia meninggal dihadapanku, dan hingga detik nafas terakhirnya hatiku belum tergugah memanggil namanya dengan sebutan ayah. Apakah aku anak yang durhaka, apakah aku terlalu kejam? Lihat Mas sorot mata mereka yang menganggapku angkuh, tak memiliki hati , jahat dan semua hal buruk di peruntukan padaku.”

“Sudahlah De’.., Aku mungkin tidak mengerti bagaimana perasaanmu saat ini, tapi aku yakin kau punya alasan untuk itu. Yang tabah de’,” Pras mengelus rambutku.

Setelah pemakaman bubar, aku meminta Pras untuk meninggalkanku sendiri. Aku ingin melihat makam bapak kandungku lebih lama. Mungkin ini terakhir kalinya aku datang.

“Tri Julianto”

“Bin Wiharja Kusumo”

“Lahir/Wafat: 23 April 1960-19 Juni 2001”

Tulisan pada kayu nisan yang masih anyar, gundukan tanah merah yang agak basah, serta taburan bunga diatasnya membuat hatiku begitu nelangsa.

Advertisements
Comments
  1. 孫悟空 says:

    Hey dad… look at me! Think back and talk to me, did I grow up according to plan?

    And do you think I’m wasting my time doing things I wanna do? But it hurts when you disapprove all along.

    And now I try hard to make it I just… want to make you proud!
    I’m never gonna be good enough for you
    I can’t pretend that I’m alright and you can’t change me…

    ‘Cuz we lost it all
    Nothing lasts forever
    I’m sorry I can’t be perfect….

    Now it’s just too late and we can’t go back
    I’m sorry I can’t be perfect

    I try not to think about the pain I feel inside
    Did you know you used to be my hero?
    All the days you spent with me
    Now seem so far away
    And it feels like you don’t care anymore…

    And now I try hard to make it
    I just want to make you proud
    I’m never gonna be good enough for you
    I can’t stand another fight
    And nothing’s alright

    ‘Cuz we lost it all
    Nothing lasts forever
    I’m sorry I can’t be perfect

    Now it’s just too late and
    We can’t go back
    I’m sorry I can’t be perfect

    Nothing’s gonna change the things that you said
    Nothing’s gonna make this right again
    Please don’t turn your back I can’t believe it’s hard
    Just to talk to you but you don’t understand….:(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s