“I’m Sorry”

Posted: December 15, 2010 in Gb3n story 2

Pagi itu Ririn benar-benar tidak bisa membendung tangisnya. Ia merasa kesal dengan kata-kata Edo yang membuatnya tersinggung.

Di meja makan dengan sengaja Edo melontarkan semua uneg-unegnya pada Ririn, lantaran sikap dingin Ririn selama ini kepadanya.

“Kenapa kau lakukan ini padaku?” kata Edo.

“Apa maksudmu?” tanya Ririn.

“Kenapa kau mau menikah denganku?”

Sesaat Ririn terdiam, sepertinya sulit baginya untuk menjawab pertanyaan Edo.

“Aku merasa  kau seperti robot yang hanya melakukan tugasnya dengan baik.”

“Apa aku terlalu buruk bagimu sehingga kau tak bisa mencintaiku.”

“Oo, aku tahu! Cintamu sudah habis buat jasad yang sudah terkubur itu.”

“Kenapa kau tidak ikut saja terkubur bersamanya? Itu kan yang kau mau!!” tegas Edo.

“Cukup!!” ujar Ririn dengan nada tinggi.

“Susah payah aku berusaha memalingkan wajahku untuk tak lagi menatap kesedihan di mataku,,

Lalu kenapa kau tak berhenti membuatku marah,, aku capek jika harus membendung tangisku..

Aku harus bertahan, bukan buatku tapi untuk mereka yang aku sayangi..

Lalu bagaimana aku mesti bertahan, jika terus kau buat aku marah, sedih, dan menangis,,

Aku tak punya alasan kecuali untuk mereka,,,” Ujar Ririn penuh amarah.

“Kau yang tak mau beranjak dari kesedihanmu.”

“Kau membuatku selalu membandingkan diriku dengannya.”

“Kau tak hanya melukai dirimu sendiri, aku juga keluarga kita. Harusnya kau sadar itu.”

Edo bangkit dari bangkunya, dan kemudian mengayunkan kakinya meninggalkan Ririn.

Ririn masih terpaku, Ia tak bisa menelan mentah-mentah semua ucapan Edo kepadanya.

Jarum pada jam dinding menunjukan pukul 15.30 WIB, namun Ririn belum beranjak dari bangkunya. Hingga Edo kembali Ririn masih di bangkunya.

Edo mendapati Ririn sudah tak bernyawa, lengan kanannya dilumuri darah yang mulai mengental. Edo meraih secarik kertas pada genggaman tangan kiri Ririn.

Kertas itu pesan terakhir buat Edo. Dengan gemetar Edo membaca kata demi kata yang mebuatnya begitu menyesal.

“Edo, jauh sebelum kau katakan ini semua. Aku sadar telah membuatmu terluka.

Hanya saja aku selalu merasa benar, dan pagi ini kau membukakan mataku untuk melihat betapa egoisnya aku. Tapi aku masih merasa benar.

Dan kebenaran yang bisa ku terima dari ucapanmu hanya “Seharusnya aku terkubur bersamanya”.

“I’m Sorry”

“Ririn”

Advertisements
Comments
  1. Bagi yang membaca dan mirip dengan kisah ini, “dilarang bunuh diri!”, haraam, tidak benar, dan itu namanya putus asa.

    Mungkin lagu ini cocok:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s