“TATIANA TANPA PENA”

Posted: December 15, 2010 in Gb3n story 1

Setelah melewatkan perjalanan udaranya, akhirnya Tatiana sampai di bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Ini kali pertamanya ia menginjak tanah Makasar.

“Hahh, akhirnya sampai juga.”

Dengan bawaan yang tidak sedikit, ia berdiri di depan pintu masuk bandara tanpa tujuan.

“Hemm, sekarang aku harus kemana yach. Peta dan brosur penginapanku tertinggal di pesawat lagi,” gumam Tatiana kebingungan.

Perjalanan yang tidak terencana dengan matang itu membuatnya kelabakan, pasalnya ia tidak memiliki kerabat atau sahabat di Makasar.

“Mmm, maaf boleh tanya dimana penginapan paling murah di dekat pantai Losari?” tanya Tatiana pada seorang lelaki muda yang belum di kenalnya.

Lelaki itu tak lalu menghiraukan pertanyaan Tatiana, ia terus memandangi jam di tangannya, sepertinya ia  tengah menunggu seseorang untuk menjemputnya.

“Huhh, sombong sekali,” umpat Tatiana dalam hati.

Dalam hitungan menit sebuah mobil berhenti di depan mereka, lelaki itu kemudian masuk kedalam mobil.

Setelah melaju beberapa meter, mobil itu kembali dan berhenti tepat di depan Tatiana.

Dari dalam lelaki itu membukakan pintu mobilnya.

“Hey..!!” panggilnya

Tatiana celingukan, dilihatanya tak ada orang lain disebelahnya.

“Aku?” ia menunjuk dirinya sendiri.

“Yah kau, ayo ikut. Kau mencari penginapan bukan? aku akan mengantarmu.” sahut lelaki itu.

“Kau serius?”

“Yah cepat, aku buru-buru.”

Tanpa pikir panjang Tatiana mengiyakan tawaran lelaki itu, dibantu seorang supir ia memasukan barang-barangnya ke bagasi.

Perjalanan yang canggung, pasalnya lelaki itu tak sedikitpun bicara pada Tatiana. Ia sibuk menjawab ponselnya yang terus berdering bak orang penting saja.

Kendati begitu Tatiana tak mau ambil pusing, ia lalu asyik memandangi keindahan kota Makasar yang terlewatinya.

Tak sampai 30 menit mereka telah sampai tujuan. Mobil itu berhenti disebuah hotel mewah di Makasar.

“Gol-den Ho-tel Ma-ka-sar,” Tatiana mengeja tulisan di muka hotel itu.

Lelaki itu turun dan menyuruh sopirnya membawa barang-barang Tatiana.

“Ayo turun, kita sudah sampai,” ujarnya.

“Tunggu apa kita tidak salah berhenti, bisakah kau suruh supirmu untuk mengantarku ke penginapan murah saja. Setahuku ini hotel mahal aku tidak punya cukup uang untuk membayarnya.” Ucap Tatiana lirih.

“Aku kan tadi hanya bilang akan mengantarmu mencari penginapan. Kalau penginapan murah aku tidak tahu. Sudahlah, kau mau menginap tidak? Ayo masuk.” Kata lelaki itu sedikit membentak.

“Kenapa kau jadi marah-marah, kalau kau tidak tahu tak perlu sok menawarkan diri untuk mengantarku.” Sahut Tatiana cetus.

“Terserah kau sajalah.” Jawab lelaki itu datar.

Bersama supir dibelakangannya lelaki itu meninggalkan Tatiana menuju lobi hotel.

Dengan terpaksa Tatianapun, mengejar lelaki itu hingga di lobi hotel .

“Wid tolong sediakan satu kamar untuknya” pinta lelaki itu  pada resepsionis hotel yang sepertinya ia kenal betul.

“Baik pak Rendy, atas nama siapa dan untuk berapa lama?” tanya resepsionis hotel itu dengan ramah.

“Hey siapa namamu?” Tanya Rendy sembari menengok pada Tatiana.

“Tatiana.” Jawabnya.

“Kau mau menginap berapa lama?”

“Emm, mungkin seminggu. Ups 3 hari saja.”

“Wid, atas namanya  Kau hitung saja sampai dia keluar. Oya mengenai pembayaran masukan ke tagihananku saja.”

“Baik pak.”

Tatiana terpelongo, sembari menggaruk kepalanya. Lelaki dingin dan  selalu bicara cetus yang ternyata namanya adalah Rendy ternyata baik juga.

“Hemm pasti ada udang dibalik batu,” gumam Tatiana curiga.

“Hey Tatiana, aku masih ada urusan. Istirahatlah.” Kata Rendy kemudian mengayunkan langkahnya meninggalkan Tatiana.

“Makasih Ren!!” seru Tatiana.

“Silahkan ini kunci kamarnya bu,” kata resepsionis sambil memberikan sebuah kunci.

Diantar seorang pelayan Tatiana menuju kamarnya.

“Woww!!” decak kagum Tatiana ketika pertama kali memasuki kamar hotel. Ia tak pernah membayangkan akan menginap di hotel berkelas di Makasar.

Setelah membesihkan dirinya, Tatianapun beranjak tidur karena kelelahan.

Di tengah bunga tidurnya ia terbangun lantaran seseorang mengetuk pintu kamarnya.

Dengan rambut yang masih berantakan ia membuka pintu, didapatinya seorang pelayan dengan seragam putih berdiri didepan pintu.

“Permisi bu, saya diminta pak Rendy menyerahkan ini.”

Pelayan itu menyodorkan sebuah kotak dengan hiasan pita merah yang cantik.

“Terima kasih pak.” Kata Tatiana merasa heran.

Pelayan itu kemudian beranjak meninggalkan Tatiana.

“Tunggu pak..!!” Tatiana memanggil pelayan itu kembali.

“Ya bu, ada yang bisa saya Bantu?” tanya pelayan itu.

“Kalau boleh tau siapa Rendy itu, sepertinya dia cukup di kenal di hotel ini?”

“Pak Rendy, beliau adalah putra dari pak Shahrul pemilik hotel ini.”

“Apa..!! putra pemilik hotel,” gumam Tatiana terkejut.

“Makasih pak.”

“Kembali.”

Tatiana kemudian masuk ke kamarnya, dengan penasaran ia membuka kotak pemberian Rendy. Ternyata kotak itu berisi gaun malam berwarna hitam yang anggun. Selain gaun itu terdapat juga selembar memo yang bertuliskan;

“Hey,,Tatiana, lekas bersiap kenakan gaun itu.”

“Kutunggu kau di lobi hotel pukul 07.00 malam ini.”

“Rendy.”

“Hahh,, memangnya siapa dia menyuruhku seenaknya. Aku kan masih mengantuk,” Tatiana sedikit kesal.

Tatiana kemudian menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Matanya berkeliling memandangi hiasan pada dinding kamar yang nampak mewah.

Pandangannya lalu terhenti pada arah jarum jam di dinding yang menunjukan 06.45.

Kontan Tatiana bangkit dari tempat tidur, dengan tergesa-gesa ia mandi dan bersiap-siap.

Kemudian ia bergegas menuju lobi hotel, dengan setelan jas hitam rapi Rendy telah menunggunya sedari tadi.

“Hey,, kau terlambat 20 menit. Ayo cepat.”

Rendy menarik tangan Tatiana, mereka menuju restoran di hotel itu. Sesampainya disana Rendy membawa Tatiana menghampiri seorang lelaki dan wanita paruhbaya yang sepertinya memang tengah menunggunya.

“Malam pa,” sapa Rendy pada lelaki yang ternyata adalah ayahnya.

“Ini Tatiana, temanku dari Jakarta. Dia sedang berlibur disini.” Rendy memperkenalkan Tatiana.

Tatiana melempar senyuman. Lalu menjabat tangan keduanya.

“Shahrul, papa Rendy”

“Sarah, mama Rendy”

“Mama tiri,” sahut Rendy cetus.

“Rendy, kau ini tidak sopan.” Ujar Shahrul.

Rendy hanya diam, sesaat suasana sedikit menegang. Entah karena apa sepertinya keluarga itu sedang tidak begitu akur.

“Ayo silahkan duduk, kami sudah memesan makanan,” kata Sarah.

“Baik tante,” kata Tatiana.

“Oya sudah berapa lama kalian berteman, Tatiana?” tanya Shahrul.

“Oo seha..”

“Setahun pa,” Rendy menyeringis sembari menginjak kaki Tatiana.

“Apa maksudmu?” gumam Tatiana kesal.

“Sudah,” kata Rendy pelan.

Percakapan merekapun terhenti ketika pesanan datang, beberapa pelayan dengan piawai menyajikan berbagai menu yang kebanyakan adalah dari hasil laut di meja mereka.

“Ayo, silahkan dicicipi Tatiana,” ujar Sarah.

“Iya, tante.”

Mereka mulai menikmati hidangan demi hidangan.

Ditengah-tengah perjamuan, tiba-tiba Tatiana merasa mual. Sepertinya ia akan muntah huekk,,huekk,,huekk.

“Maaf Om Tante, saya permisi ke belakang sebentar.” Kata Tatiana sambil menutup mulutnya dengan tisu.

Keduanya saling memandang, dipikir mereka Tatiana tengah mengandung.

“Yah, silahkan.” Ujar mereka.

“Rendy temani Tatiana,” ujar Shahrul.

Kemudian Rendy mengantar Tatiana. Ia mondar-mandir menunggu Tatiana di depan toilet.

Dengan wajah sedikit pucat Tatiana akhirnya keluar.

“Hey, apa yang kau lakukan didalam. Kau tidur? Lama sekali,” kata Rendy.

“Kau ini cerewet sekali.”

“Ayo cepat, mereka pasti sudah lama menunggu. Jangan sampai mereka berpikir macam-macam.”

“Tunggu, Selain kau suka memotong perkataan orang lain kau juga suka berbohong. Kenapa kau bohong pada mereka. Kau hilang ingatan.. kita baru tadi pagi bertemu, kenapa kau bilang kita sudah kenal selama setahun?”

“Apa maksudmu, sebenarnya?”

“Sudah kau ini banyak tanya, kau hanya harus menemaniku bertemu mereka. Aku tak ada maksud apa-apa. Memangnya aku mau apa dengan wanita sepertimu.”

“Hahh,,kau ini.”

“Sudah ayo,” Rendy menarik tangan Tatiana.

“Kau ini kasar sekali.”

Sesampainya di meja Tatiana dihujani pertanyaan dari orang tua Rendy.

“Kau kelihatan tidak sehat Tatiana, apa perlu kami antar ke dokter?” kata Sarah khawatir.

“Makasih tante, ga usah. Tadi saya hanya telat makan, tidak apa-apa kok tante.”

“Oo, begitu.”

Pernyataan Tatiana tak lalu memupus  pemikiran mereka yang menyangka dirinya tengah mengandung anak Rendy, pasalnya selain Ve baru Tatiana wanita yang terlihat bersama Rendy.

“Ya sudah kalau begitu. Ren, maksud papa mengundangmu kemari adalah untuk mengajakmu berlibur ke pulau kita selama 3 hari. Sudah lama sekali kita tidak berlibur bersama bukan?”

“Maaf pa aku sibuk,” jawab Rendy datar.

“Tunggu Om, ke pulau pribadi?” sahut Tatiana.

“Ya, kau boleh ikut dan mengajak siapa saja.” Ujar Shahrul.

“Serius Om? Wahh kami pasti datang Om. Iya kan Ren.” Kata Tatiana sembari membalas injakan kaki Rendy.

Keduanya saling memandang, Tatiana menyeringis, Rendy melempar senyuman sinis.

“Baiklah lihat besok saja.” Ujar Rendy.

“Baiklah besok Pukul 07.00 pagi kita berangkat. Kalian mau bergabung dengan kami?”

“Tidak pa, kami bawa mobil sendiri.”

“OK, sampai ketemu besok.”

Usai perjamuan itu mereka kemudian meninggalkan Rendy dan Tatiana karena masih ada urusan, sementara Rendy mengantar Tatiana ke kamarnya.

“Kalau sampai kau telat, kami akan meninggalmu besok!!” Rendy mewanti-wanti Tatiana.

“Beress..” Tatiana mengacungkan jempolnya.

Keesokan harinya Tatiana sudah siap sebelum Rendy datang menjemputnya. Ia menunggu di muka hotel.

Selang beberapa menit Rendy turun dari mobilnya. Ia tak hanya sendiri ada seorang wanita yang kemudian diperkenalkan Rendy pada Tatiana.

“Tatiana, ini Vera temanku. Ve dia Tatiana yang kuceritakan kemarin.”

“Halloo, senang mengenlmu Tatiana.”

“Aku juga Vera.”

“Panggil aku Ve saja.”

“Baiklah Ve.”

“Hey apa-apa’an kau ini, bawaanmu banyak sekali. Kita mau berlibur ke pulau bukan ke hutan.” Ujar Rendy setelah melihat bawaan Tatiana.

“Sudah tutup mulutmu, kau membuatku menunggu 18 menit 51 detik. Cepat Bantu bawakan barang-barangku.” Suruh Tatiana tak peduli.

“Hahh kau ini membuatku jengkel saja.”

“Ayo naik, mereka pasti sudah menunggu kita.”

“Iya- iya.”

Sesampainya dipulau pribadi milik keluarga Rendy, mereka lalu menuju kamar mereka masing-masing. Tatiana cepat-cepat menaruh barang-barangnya kemudian bergegas menuju pantai. Dengan kaki telanjang ia menyepak teburan ombak.

“Waw, indah sekali tempat ini.”

Tatiana terus memuji keindahan alam di pulau yang baru saja di datanginya itu.

Sementara Rendy dan Ve duduk di tepian pantai sembari mengombrol.

“Hey Rendy..!!” panggil Tatiana.

“Yah ada apa?”

“Kemari..!!”

Kemudian Rendy menghampiri Tatiana.

“Ada apa?”

“Tolong fotokan aku. Yahh,,yahh.. tolong,” pinta Tatiana.

“Baiklah.”

Tatiana perpose kesana kemari, nampak ia begitu bahagia dan menikmati pemandang di sekitarnya.

Terik matahari siang itu tersapu tiupan angin yang menggoyang dahan-dahan pohon kelapa di sepanjang pantai.

“Hey Tatiana, apa kau tidak cape. Sudah yach, aku lelah. Lihat Ve memanggil kita, ini sudah jam makan siang. Ayo kita makan dulu mereka pasti menunggu kita.” Ujar Rendy sambil melambaikan tangan pada Ve.

“Iya dech.”

Setelah makan siang Tatiana kembali berjalan disekitar pulau untuk mengambil beberapa gambar. Kemudian dihampirinya papa dan mama Rendy yang tengah mengobrol di taman.

“Om tante, ayo kita foto bersama.”

“Ayo,” kata mereka kompak.

Dipanggilnya Ve juga Rendy yang kebetulan melintas.

“Ve, Rendy ayo gabung kita foto bersama. Buat kenang-kenangan.” Kata Tatiana.

“Iya,” kata Ve sambil menarik tangan Rendy.

Kemudian mereka mengambil beberapa foto bersama. Setelah itu mereka duduk dan mengobrol sebentar.

“Tatiana apa yang kau lakukan di Jakarta?” tanya Sarah.

“Selain menjaga butik milik ibuku, aku penulis free line untuk sebuah majalah remaja.”

“Oo, kau ini seorang seniman rupanya,” ujar Shahrul.

“Bukan Om, orang cuma sebagai hobby saja.”

“Oya Tatiana, nanti malam kita akan bakar ikan dan menyalakan kembang api di pantai.” Kata Rendy.

“Kita juga akan menari sampai pagi. Om Shahrul paling jago menari,” sahut Ve.

“Wahh asyik sekali. Jadi tidak sabar,” Ujar Tatiana.

Setelah bercakap-cakap, Tatiana meninggalkan mereka untuk menggambil gambar lagi.

Hingga sore hari Tatiana belum terlihat di rumah. Rendy kemudian diminta untuk mencarinya.

Setelah mencari disekitar pulau, akhirnya Rendy mendapati Tatiana tengah duduk di bibir pantai sendirian. Rendy kemudian menghampiri Tatiana.

“Hey.. ternyata kau disini,” kata Rendy sembari penepuk pundak Tatiana.

“Hey..Ren,” sahut Tatiana yang sedikit terkejut oleh keberadaan Rendy yang tiba-tiba duduk disampingnya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Rendy.

“I’m waiting for that final moment”

“What final moment?” Rendy tersentak oleh perkataan Tatiana.

“Yach,” Ujar Tatiana sembari menunjuk keindahan sunset yang tengah dipandanginya dari bibir pantai.

“Kau tidak sedang buru-buru kan Ren?”

“Ya, kenapa Tan?”

“Temani aku menyudahi senja ini.”

Tatiana menyandarkan kepalanya ke bahu Rendy. Rendy sedikit gugup.

“Hey Penulis amatir kenapa kau ini, puitis sekali. Apa kau salah makan tadi?” tanya Rendy sembari mengoyang-goyangkan bahunya.

Tatiana hanya tersenyum, matanya yang sayu terus memandangi sunset seakan ia tak mau melewatkan keindahan itu berlalu.

Sesaat mereka terhanyut oleh keindahan sunset, dingin ombak membasuh kaki telanjang mereka. Hingga senja benar-benar tersudahi.

“Tatiana.”

“Hemm.”

“Kau tidur, bahuku sudah pegal. Kau ini seenaknya.”

“Ohh maaf Ren,” Tatiana dengan sigap menegakan kepalanya.

“Hari sudah mulai gelap, Ayo pulang.”

Tatiana mengangguk.

Rendy bangkit dari duduknya, ia mengayunkan langkahnya menjauh dari bibir pantai.

Sesaat langkahnya terhenti, ia menyadari Tatiana tak bersamanya. Ditengoknya kebelakang dan Tatiana belum juga beranjak sedikitpun, ia tengah tertunduk. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

Rendy berlari kearah Tatiana, ia cemas dengan keadaan Tatiana yang sedikit aneh sore itu.

“Kenapa kau masih duduk disini?” tanya Rendy cemas.

“Kakiku keram. Mungkin terlalu lama duduk disini,” jawab Tatiana.

“Kenapa kau diam saja, kau kan bisa memanggilku. Kau ini bagaimana.”

Rendy kemudian jongkok membelakangi Tatiana.

“Ayo cepat!!” serunya.

“Apa yang kau lakukan, kau mau menggendongku. Hahh yang benar saja, memangnya aku anak kecil.”

“Kau mau ombak menyapumu kelaut atau kau mau melihat penghuni pantai ini berkeliaran. Pantai ini dikenal angker oleh penduduk disekitar pulau ini, apa kau tidak takut?”

“Hahh kau ini, bisa-bisanya malah menakutiku.”

“Ya sudah, cepat.”

“Baiklah,” dengan tertatih Tatiana naik ke punggung Rendy.

“Hey Tatiana, sebenarnya apa yang terjadi padamu?”

“Tidak ada.”

Tatiana menyandarkan kepalanya kepunggung lebar Rendy. Airmata meleleh di pipinya tanpa sepengetahuan Rendy.

Kerinduan memenuhi ruang hatinya, ia benar-benar merasa takut kala itu.

Rendy terus melangkah meninggalkan jejak di pasir basah. Tatiana membisu digendongannya.

“Hey Tatiana, kita sudah sampai.”

Rendy kemudian menurunkan Tatiana dari gendongannya.

“Apa kau sudah bisa berjalan?” tanya Rendy.

“Yahh sedikit.”

Rendy memapah Tatiana ke kamarnya.

“Bersihkan dirimu, aku akan menjemputmu saat makan malam.”

“Ya, Makasih Ren.”

Rendy hanya mengangguk.

Sesaat langit nampak hitam pekat, perlahan angin dengan lembut menghapus kepekatannya. Bintang-bintang kini tersenyum manis mereka seakan lega akhirnya bisa berunjuk gigi.

 Biyarrr.. biyarrr…kembang api mulai dinyalakan. Kerlap-kerlipnya seperti tawa yang terus menganga di bibir mereka.

Mereka mulai menari diatas lembut pasir putih, tabuhan gendang para pemusik menggoyang pinggul mereka.

“Huuhhh,,,Hahhh…!!” sorak riang mereka.

Tatiana menghentikan tariannya karena merasa kelelahan, la kemudian duduk sambil meneguk segelas orange jus segar. Kedua bola matanya tertuju pada keharmonisan yang dipertontonkan oleh keluarga Rendy. Sesekali senyuman tersungging dibibirnya.

Tanpa Tatiana sadari Rendy telah duduk disebelahnya.

“Hey, Tatiana pandanganmu tak lepas dari papaku. Jangan kau bilang kalau kau menyukai papaku yach. Hemm.. memang setiap wanita akan tunduk pada pesona papaku. Tapi aku sarankan lebih baik kau menyukai aku saja he,,he,,.” Rendy menyeringis.

“Apa baiknya dirimu, kau itu cetus, dingin, dan suka marah-marah. Mana ada wanita yang akan betah denganmu Ren.” Ujar Tatiana.

“Masa aku seperti itu?”

“Yuppss..!!”

“Oo,, aku kecewa sekali atas pernyataanmu.” Rendy tersenyum.

Tatiana membalas senyuman Rendy, mereka lantas bergabung untuk menari lagi hingga larut.

Dingin angin laut membekukan tarian mereka. Merekapun kembali untuk beristirahat.

Keesokan harinya Ve dan Sarah mengajak Tatiana untuk berbelanja disekitar pulau. Sementara Rendy masih terlelap memeluk gulingnya.

Setelah bangun rencananya Rendy akan mengajak Tatiana untuk berkuda. Setelah selesai sarapan ia mencari Tatiana kekamarnya. Tentu saja Tatiana tak berada dikamarnya Rendy tak tahu kalu dia pergi bersama Ve dan Sarah.

Tak mendapati Tatiana, ia beranjak meninggalkan kamar. Namun langkahnya terhenti, ia kembali dan menuju meja rias dikamar itu. Dimana beberapa obat milik Tatiana berserakan. Dilihatnya satu persatu obat itu. Ia merasa penasaran mengapa Tatiana mengkonsumsi obat sebanyak itu. Apakah Tatiana sedang sakit. Untuk memastikan kecurigaannya Rendy menghubungi Sandy Omnya yang mana adalah seorang Dokter umum di Rumah Sakit ternama di Makasar.

Ia memberitahu obat apa saja yang tengah dipegangnya. Beberapa waktu Rendy menunggu sementara Sandy sedang mengechek obat-abot tersebut.

Akhirnya ponselnya berdering, tapi bukan dari Sandy melainkan dari Ve.

Ve memberitahu Rendy bahwa dia dan ibu tirinya tengah di rumah sakit lantaran Tatiana yang tiba-tiba jatuh pingsan saat berbelanja. Rendy langsung melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menemui Sandy di ruangannya untuk menanyakan keadaan Tatiana.

Hal yang mengejutkan didengarnya dari mulut Sandy, yang menyatakan bahwa Tatiana tengah mengidap Limfoma non-Hodgkin atau umumnya disebut kanker kelenjar getah bening dan sudah menginjak stadium IV.  Sepertinya Tatiana telah mengetahui kondisinya terbukti dengan obat-obat yang terdapat di kamarnya.

Yang dipertanyakan Rendy adalah mengapa ia mesti jauh-jauh ke Makasar dengan kondisinya dan sisa waktunya yang boleh dikatakan tidak banyak itu. Seharusnya ia menghabiskan sisa-sisa waktunya bersama keluarganya. Kalaupun ingin ke Makasar semestinya ada yang mendampingi karena tidak ada yang bisa menjamin kalau kondisinya sewaktu-waktu tidak akan memburuk bahkan bisa saja ia kehilangan nyawanya.

Mendegar penjelasan Sandy, Rendy benar-benar tak bisa berkata-kata. Ia marah, sedih, kecewa, dan bingung.

Setelah itu ia mengayunkan langkahnya menuju kamar dimana Tatiana dirawat.

Rendy disambut Papa dan mama tirinya juga Ve yang sedari tadi menunggu di luar kamar.

“Ren, Tatiana sakit.” Kata Ve memberitahui Rendy.

“Aku tahu, dimana dia?” jawab Rendy datar.

“Di dalam, ia baru saja sadar Ren. Biarkah dia istirahat dulu.”

“Aku harus menemuinya sekarang,” Rendy kemudian masuk tanpa menghiraukan perkataan Ve.

Dilihatnya wajah Tatiana yang pucat, tubuhnya yang terulai lemas. Perlahan matanya terbuka ia menyadari kedatangan Rendy. Perlahan Rendy mendekat.

“Apa yang kau lakukan disini Tatiana?”

“Kenapa kau bohongi aku, kau sakit bukan?”

“Kau mau mempermainkan aku?”

“Kau pikir ini lucu?”

“OK, kau berhasil. Kau penipu paling berbakat yang pernah aku temui.”

Tatiana hanya terdiam mendengar semua perkataan Rendy, matanya mulai berkaca-kaca.

Ia telah menduga Rendy akan mengatakan semua itu padanya.

“Ketika kematian menjadi harga mati, ketakutan mendekapku erat. Kerinduan itu semakin senyap. Aku berusaha tegap, tapi tetap saja aku gagap menunggu kematian itu tiba.”

“Kau tau Ren, kematian itu lebih menyakitkan bagi mereka yang ditinggalkan. Karena itu aku tak mau melihat kesedihan di mata keluargaku di saat-saat terakhirku. Aku mau memelihara kenangan di benak mereka saat aku tersenyum, tertawa dan bahagia bukan saat aku rapuh. Mungkin ini kedengaran tak masuk akal buatmu, tapi inilah alasanku.”

“Kau tak hanya sedang sakit, tapi kau sekarat Tatiana. Apa kau tidak menyadari itu?” suara Rendy mengeras.

“Aku tau,” ujar Tatiana.

“Dengar Tatiana kau membutuhkan keluargamu disampingmu, jangan biarkan mereka menyesal karena membiarkanmu berjuang sendiri. Aku sudah membelikanmu tiket dan menyuruh pelayan mengemasi barangmu, besok kau harus pulang ke Jakarta. Aku akan mengantarmu ke bandara besok. Dan kau tak punya pilihan,” tegas Rendy.

Keesokan paginya, pukul 05.30 pagi Rendy sudah menjemput Tatiana ke Rumah Sakit.

Peluk cium melepas kepergian Tatiana.

“Terima kasih Om, Tante, Ve. Maaf telah menyusahkan kalian. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi, tapi jujur aku sangat merasa senang mengenal kalian.” Ucap Tatiana sebelum pergi.

“Hati-hati Tan, baik-baik kau disana. Kabari kalau sudah sampai,” ujar Sarah.

“Ya,” sahut Tatiana sambil tersenyum.

Sepanjang perjalanan menuju bandara, Rendy  juga Tatiana tak banyak bicara, mereka sangat terlihat kaku. Rendy hanya mengantar sampai luar bandara, ia tak sanggup melihat Tatiana meninggalkannya. Karena sesungguhnya perpisahan ini sangat menyakitkan baginya.

Kembali dari bandara hatinya begitu gusar, dibenaknya dipenuhi oleh kenangannya bersama Tatiana yang baru 3 hari ia kenal. Ia teringat dengan kata-kata Tatiana di Rumah Sakit;

“Kau tau Ren, kematian itu lebih menyakitkan bagi mereka yang ditinggalkan. Karena itu aku tak mau melihat kesedihan di mata keluargaku di saat-saat terakhirku. Aku mau memelihara kenangan di benak mereka saat aku tersenyum, tertawa dan bahagia bukan saat aku rapuh. Mungkin ini kedengaran tak masuk akal buatmu, tapi inilah alasanku.”

Ragu bahwa Tatiana benar-benar akan pulang, ia bergegas kembali ke bandara.

Di bandara ia tak menemukan Tatiana, lega sekaligus sedih itu yang dirasakannya kala itu.

Dengan langkah pelan Rendy berjalan keluar. Ia berhenti tepat di depan pintu masuk bandara. Ia mengingat ketika pertama kali bertemu Tatiana. Kemudian ia menoleh ke tempat dimana Tatiana sebelumnya berdiri. Sepertinya ia melihat Tatiana disitu, Rendy menengok sekali lagi untuk memastikan itu hanya sekedar bayangan. Namun ternyata benar itu Tatiana.

Dilihatnya Tatiana tengah memeluk lututnya, tubuhnya gemetaran. Rendy menghela nafas panjang. Ia berusaha menampik kesedihan di hatinya dan mencoba tegar.

“Hey kau, kenapa kau belum pergi?”

Tatiata tersentak oleh suara yang ia kenal betul, lalu ia menolehkan kepalanya ke arah suara itu berasal. Dilihatnya Rendy yang perlahan menghampirinya.

“Kalau kau datang hanya untuk menyuruhku pulang., kau takkan berhasil. Dengar Makasar bukan kepunyaanmu jadi kau tak berhak mengusirku Ren!”

Dengan gugup Tatiana menatap mata Rendy yang sudah berada di hadapannya, wajahnya terlihat kaku semakin membuat Tatiana merasa takut.

Tanpa diduganya Rendy tiba-tiba memeluknya, airmata meleleh dimata lelaki yang tadinya cetus dan dingin itu.

“Apa yang kau lakukan, kenapa kau tidak kembali. Kenapa kau mempersulit aku.” Ucap Rendy penuh perasaan.

“Maaf Ren, aku mohon jangan paksa aku pulang. Aku benar-benar tidak sanggup menghadapi keluargaku.” Tatiana memelas.

“Aku tak datang untuk memaksamu pulang. Aku justru ingin mengajakmu ke suatu tempat yang paling indah di Makasar.”

Rendy tersenyum lebar, kemudian mengajak Tatiana menuju tempat yang ia maksud.

Dibawanya Tatiana menjauh dari kota. Mereka  berhenti di sebuah rumah yang menghadap ke pantai dan memiliki halaman luas.

Meskipun terlihat sepi tanpa penghuni taman pada halaman depan tersusun rapi dan asri.

“Ini rumah mamaku, tempat kuhabiskan masa kecilku.” Ujar Rendy, lalu mengajak Tatiana masuk.

“Indah sekali,” senyuman melebar dibibirnya.

“Ini kamarmu, istirahatlah. Sore nanti akan ku ajak kau jalan-jalan.” Kata Rendy sambil membukakan pintu kamar.

Tatiana hanya menganggukan kepalanya.

Setelah itu, Rendy duduk di teras depan. Angin sepoi-sepoi memecah gemuruh ombak di pantai yang terdengar semu. Ia memangku dagunya dengan kedua tangannya. Seorang wanita tua menghampirinya perlahan. Ia kemudian duduk tepat disebelah Rendy. Ia adalah pengasuh Rendy namanya Mira.

Ditariknya kedua tangan Rendy dari dagunya.

“Apa yang terjadi Ren, apa kau bertengkar lagi dengan papamu?” tanya Mira.

“Tidak.”

Rendy merebahkan kepalanya kepangkuan hangat Mira. Lalu Mira membelai dengan lembut rambutnya.

“Kau mengurusku sedari kecil kau mengenalku dengan baik. Aku tidak pernah patuh, keras kepala, kasar, egois,..”

“Dan kau menyayangi kedua orang tuamu, meskipun sekarang kau dan papamu terlihat tidak akur. Aku yakin kau menyayanginya seperti kau menyayangi mamamu dan aku tak pernah meragukan kalau kau peduli padanya,” sambung Mira.

“Benarkah begitu,” Ujar Rendy.

Mira tersenyum sambil mengangguk.

“Lalu apa yang sebenarnya telah terjadi Ren?” tanya Mira kembali.

“Aku telah mengambil keputusan paling egois dihidupku, aku menginginkannya untukku sendiri.” Ujar Rendy.

“Maksudmu gadis di kamar ibumu itu, dia cukup manis.”

“Ceritakan tentang gadis itu padaku,” Pinta Mira.

Rendy mengangguk dan mulai menceritakan tentang Tatiana. Lambat laun kedua matanya mulai terpejam.

Mira membiarkan Rendy tertidur dipangkuannya.

Hari mulai sore, Tatiana mengendap-ngendap dibelakang mereka. Ia tekejut ketika Mira menengok ke belakang dan melihatnya.

“Maaf aku ingin jalan-jalan keluar sebentar,” ujar Tatiana pelan.

“Ya, jangan jauh-jauh.” Kata Mira.

Dilihatnya Rendy yang tengah tertidur pulas dipangkuan Mira.

“Ibu, aku merindukanmu. Maaf..” ucap Tatiana dalam hati.

Air mata mencair dipipinya, ia terus berjalan ke tepian pantai. Samar masa kecilnya membias dibenaknya sesekali senyuman tersungging dipipinya.

Sementara itu Rendy mulai terbangun dari tidurnya.

“Sudah jam berapa ini, kenapa kau tidak membangunkan aku?” ujar Rendy.

“Sudah pukul 3 sore.” Jawab Mira.

Rendy bangkit dan bergegas ke kamar Ibunya, ia terkejut tak mendapati Tatiana di kamar itu.

“Tatiana sedang berjalan-jalan di pantai, tadi dia meminta izin padaku.”

Perkataan Mira membuatnya lega.

“Tolong kau siapkan makanan, aku mau mandi dulu.”

“Aku sudah menyiapkannya, tinggal menghangatkan saja.”

“Baguslah kalau begitu. Terima kasih.”

Setelah mandi, ia langsung menuju pantai untuk menjemput Tatiana.

“Hey…Tatiana….!!!!” Teriak Rendy dari kejauhan.

“Dasar orang gila, apa-apaan sich.” Gumam Tatiana sedikit malu karena semua sorot mata tertuju padanya.

Rendy berlari menghampiri Tatiana, nafasnya terengah-engah.

“Hey kau, ayo pulang Mira sudah menyiapkan makanan buat kita. Kau pasti sudah lapar kan.”

“Benar, aku lapar sekali. Ayo cepat,” Tatiana berlari membelakangi Rendy.

“Hey tunggu!!” Rendy berteriak.

“Hey kau,, kenapa kau suka sekali memanggilku “HEY”?” sahut Tatiana sembari membalikan badannya.

“Kau lebih pantas dipanggil “HEY”,, namamu jelek!!” Sahut Rendy.

Tatiana berbenti dan menunggu Rendy menghampirinya.

“ Ada apa?” Rendy nampak khawatir.

“Aku marah.”

“Kenapa?”

“Karena kau bilang namaku jelek, kau harus menggendong aku sampai rumah.”

“Hahh, bilang saja kau malas. Banyak alasan, ya sudah ayo cepat.”

Senyuman melebar dibibir Tatiana, akhirnya ia bisa mengerjai Rendy yang sering membuatnya kesal.

“Sebenarnya aku takut sekali, aku takut harus meninggalkan dan kehilangan mereka yang aku sayangi,” ujar Tatiana.

“Semua orang akan berpulang, hanya masalah waktu. Yang harus kau ingat mereka menyayangimu dan akan selalu begitu,” Rendy mencoba menegarkan hati Tatiana.

“Kau benar.”

“Kau tau Ren, saat bereda di gendonganmu rasa takutku sedikit berkurang.”

“Mungkin mereka takut menatap punggung lebarku he,,he,,” Rendy menyeringai.

“Kau ini bisa saja he,,he,,”

“Oya Ren, kalau boleh tahu kenapa kau membenci tante Sarah?”

“Karena dia mencuri dan menempati tempat ibuku.”

“Harusnya kau tidak berpikir begitu, aku yakin mamamu memiliki tempat yang sangat istimewa di hati papamu. Dan tak ada yang akan dapat menggantikan tempat itu juga ibu tirimu.”

“Kau seharusnya bersyukur, karena ayahmu ada yang mengurus dan menemaninya. Tante Sarah juga bukan orang yang jahat, dia peduli padamu kan.”

“Sudah jangan bahas hal ini lagi.” Ujar Rendy

“Kau ini keras kepala sekali, Hemm.” Sahut Tatiana.

Sesampainya dirumah, Mira telah menghidangkan beraneka makanan di atas meja.

Mereka tak menunggu lama untuk menyantap makanan yang ada.

Tatiana sangat suka Pisang Epe khas Makasar yang sengaja dibuatkan Mira untuknya sebagai makanan penutup. Setelah makan mereka berkeliling di sekitar rumah Rendy.

Rendy menunjukan beberapa tempat favoritnya semasa kecil.

Malamnya Rendy mengajak Tatiana ke subuah pasar malam yang tidak jauh dari rumahnya.

“Pasar malam ini sudah ada semenjak aku kecil, dulu aku sering kemari bersama mamaku.” Ujar Rendy, mengulas kenangan bersama ibunya.

“Benarkah,” kata Tatiana heran.

Beberapa saat mereka hanya berkeliling. Melihat keriangan anak-anak kecil disana, Tatiana berminat untuk ikut menikmati keriangan itu bersama Rendy.

“Ayo kita naik semua permainan disini Ren.” Ajak Tatiana.

“Memangnya kau tidak malu apa, kita kan bukan anak kecil lagi.” Kata Rendy tidak mau.

“Kenapa harus malu toh aku tidak kenal mereka.”

“Ayolah,” pinta Tatiana.

“Iya.. baiklah,” Rendy tak bisa menolak permintaan Tatiana.

Lalu mereka mulai mencoba satu persatu wahana permainan yang ada di pasar malam tersebut.

Meskipun gelak tawa membahana, namun mata Tatiana tak dapat menyembunyikan kesedihan di hatinya. Sesekali matanya berkaca-kaca, ia merindukan keluarganya.

Setelah hampir semua permainan telah mereka coba. Tatiana tertarik pada satu latar yang dipenuhi orang menari. Gerak tubuh mereka menari dengan suka cita.

Tatiana memaksa Rendy untuk ikut menari, kali ini Rendy tak punya pilihan untuk menolaknya.

Merekapun bergabung untuk menggoyangkan pinggul mereka.

“Rendy malam ini aku bahagia sekali, aku seperti kembali ke masa kecilku. Terima kasih Ren,” ujar Tatiana sembari masih menari.

“Iya,” Rendy melempar senyuman.

Tiba-tiba Tatiana mulai batuk, ia seperti tersedak.

“Kau baik-baik saja Tatiana?” tanya Rendy cemas.

“Aku baik-baik saja, ayo kita menari lagi.”

Tubuh mereka mengikuti alunan musik, tawa terus menganga di bibir Tatiana.

“Ren!” teriak Tatiana.

“Yah.”

“Aku haus, belikan aku minuman.”

“Kau mau minum apa?”

“Orange jus.”
”OK, tunggu sebentar.”

Rendy meninggalkan Tatiana, ia segera menuju seorang lelaki penjual aneka minuman.

Setelah berhasil mendapatkan dua gelas orange jus, ia bergegas kembali.

Sesaat langkahnya terhenti, seperti ada yang aneh. Suara musik yang tadinya terdengar sangat keras tiba-tiba melengang. Hampir semua orang berkerumun di latar itu.

“Tatiana.”

Pikirannya langsung tertuju pada Tatiana, dibuangnya dua gelas jus ditangannya. Ia berlari ke arah latar itu.

“Permisi!!” teriak Rendy mencoba mencari ruas jalan.

Setelah berhasil melewati desakan orang-orang, nampak tubuh Tatiana terkulai jelas.

Darah segar mengalir dari hidung dan mulutnya.

Rendy langsung meraih Tatiana dan membawanya ke mobil. Dengan cepat ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit.

Sembari tetap menyetir Rendy mencoba menghubungi Ve.

“Ve, cepat ke rumah sakit. Beritahu om Sandy Tatiana kritis, 1 jam lagi kami sampai.”

“Tatiana?”

“Bukankah dia harusnya sudah pulang pagi tadi Ren?”

“Sudah jangan banyak tanya, nanti aku jelaskan.”

“Baiklah Ren, Hati-hati.”

“Terima kasih Ve.”

Sesampainya dirumah sakit, Rendy segera membopong Tatiana ke ruang UGD. Sesegera om Sandy dan para dokter menangani Tatiana.

Rendy duduk di luar menunggu Tatiana.

Wajahnya berantakan, ia nampak begitu khawatir. Melihat sahabatnya nampak begitu kacau Vepun mencoba menanyakan keingintahuannya dengan lembut.

“Apa yang terjadi Ren?”

Rendy langsung memeluk Ve yang berada dihadapannya, airmata mengalir bak hujan deras di pipinya.

“Semua salahku Ve, aku harusnya memaksanya pulang ke Jakarta pagi tadi.” Ujar Rendy terisak-isak.

“Tapi Ren bukankah kau yang mengantarnya ke Bandara tadi pagi.”

“Yahh aku memang mengantarnya, tapi hanya sampai luar bandara. Aku ragu dia benar-benar akan pergi maka dari itu aku kembali untuk memastikan kepergiannya meskipun aku takut jika takkan melihatnya lagi.”

“Aku sempat kecewa, saat kulihat sekeliling ruang tunggu dan tak mendapatinya. Tapi kemudian aku melihatnya duduk tepat di tempat pertama aku bertemu dengannya. Aku lega, aku senang, aku bahagia ia masih di Makasar. Sebenarnya aku tak mau memaksanya pergi, aku ingin memilikinya sendiri untukku. Aku  takut kehilangannya maka aku membawanya ke rumah mama.”

“Aku egois sekali bukan?”

“Sudahlah Ren, ini tak sepenuhnya salahmu. Kita serahkan semua kepada Tuhan.”

Rendy mulai melepaskan pelukannya. Ditemani Ve ia menunggu kabar dari Sandy.

Lama mereka menunggu, perlahan Sandy keluar dengan wajah yang tidak gembira. Rendy langsung menghampirinya.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Rendy tidak sabar.

“Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tatiana tidak dapat tertolong,” ujar Sandy sambil menepuk pundak Rendy.

“Apa..” Rendy tak percaya dengan apa yang baru ia dengar.

Pernyataan Sandy memberi sayatan dalam dihatinya.

Dengan langkah gemetar ia bersama Ve masuk ke dalam, dibukanya kain yang menutupi wajah Tatiana.

“Ve dia bukan Tatiana kan, pasti mataku sudah bermasalah.”

”Bukankah dia sudah pulang ke Jakarta tadi pagi?”

Sepertinya Rendy masih sulit menerima kenyataan bahwa Tatiana sudah meninggal. Ve tak dapat menahan tangisnya melihat Rendy yang begitu kehilangan Tatiana. Pemandangan seperti ini pernah ia lihat saat mama Rendy meninggal. Ve tahu benar Tatiana telah memberi warna di hati Rendy.

Tak beberapa lama Sarah dan Shahrul datang setelah menerima kabar dari Ve.

“Bagaimana bisa ini terjadi Ren?” tanya Shahrul sedikit marah.

“Kau sudah hubungi keluarganya di Jakarta?”

“Aku tak tau keluarganya pa,” Rendy menggelengkan kepalanya.

“Apa maksudmu, bukankan Tatiana temanmu. Kau bilang pada kami sudah setahun kalian berteman. Bagaimana mungkin kau tidak kenal keluarganya?”

“Aku baru kenal dia di bandara 3 hari yang lalu pa.” Kata Rendy dengan nada tinggi.

“Yang benar saja, kau ini buat perkara!!”

“Maaf Om biar Ve yang jelaskan.” Ujar Ve.

Lalu Ve menjelaskan apa yang telah terjadi sementara Rendy membisu di hadapan jasad Tatiana.

Setelah menerima penjelasan Ve, mereka sepakat untuk menyemayamkan Tatiana di Makasar untuk sementara, selagi mencari tahu dimana keluarga Tatiana sebenarnya.

Keesokan paginya atas permintaan Rendy akhirnya Tatiana dimakamkan tepat di sebelah kuburan mamanya.

Untuk beberapa hari Rendy tinggal di rumah mamanya untuk menenangkan diri, ditengoknya kamar mamanya dimana Tatiana pernah beristirahat di kamar itu.

Hatinya seakan teriris ketika ia melihat barang-barang milik Tatiana yang memang sengaja disimpan dikamar itu. Dipandanginya foto-foto Tatiana yang diambilnya sewaktu berlibur ke pulau, Airmata menggenang di matanya senyum kepedihan membeku di sudut hatinya.

Di antara barang-barang peninggalan Tatiana, Rendy menemukan sebuah surat yang ditujukan untuknya. Dibacanya perlahan tulisan tangan Tatiana pada surat itu;

“Hey,,Ren,” “

“Aku tahu saat kau baca surat ini aku telah berpulang dengan tenang.”

“Hey,,Hey,, jangan bersedih untukku. Ayo,, tersenyum, kau akan terlihat lebih tampan he,,he,,.”

“Ren aku cuma mau mengucapkan terima kasih sekali untuk semuanya, terima kasih telah membuat akhir perjalananku lebih indah.”

“Oya tolong titip barang-barang milikku suatu saat mereka (keluargaku) akan mengambilnya, aku yakin itu.”

“Sampaikan maafku pada papamu juga tante Sarah. Salam juga buat Ve, ngomong-ngomong soal Ve dia wanita yang cantik, pintar, baik, dan peduli pada kau,,jadi pertimbangkan dia OK!!! Semangat..!!!”

“Hahh,, dasar Tatiana masih saja bisa dia meledekku. Hemmm,” gumam Rendy.

Setelah membaca pesan terakhir Tatiana, ia membuka lembar demi lembar buku catatan milik Tatiana yang menuliskan tentang kehidupan Tatiana sebelum ia ke Makasar.

Seharian Rendy perpusar dengan kenangan dua Wanita yang ia sayangi “Mamanya dan Tatiana”.

Matahari mulai meredup, Rendy melangkahkan kakinya kebibir pantai. Ia kemudian duduk sambil mulai memetik senar gitarnya. Dilantunkan sebuah lagu yang diperuntukan Tatiana;

Lihat ku disini
Kau buat ku menangis
Ku ingin menyerah
Tapi tak menyerah
Mencoba lupakan
Tapi ku bertahan
 
Kau terindah kan selalu terindah
Aku bisa apa ‘tuk memilikimu
Kau terindah ‘kan selalu terindah
Harus bagaimana ku mengungkapkannya
Kau pemilik hatiku

Mungkin lewat mimpi
Ku bisa ‘tuk memberi
Ku ingin bahagia
Tapi tak bahagia
Ku ingin dicinta
Tapi tak dicinta
Kau terindah kan selalu terindah
Aku bisa apa ‘tuk memilikimu
Kau terindah ‘kan selalu terindah
Harus bagaimana ku mengungkapkannya
Kau pemilik hatiku

Kau pemilik hatiku
Kau pemilik hatiku
Kau pemilik hatiku

Petikan gitar yang mendalam diiringi senandung lagu milik Armada itu mewakilkan apa yang tengah ia rasakan.

Dilihatnya samar bayangan Tatiana tengah menyandar dibahunya sembari tersenyum manis.  Rendy membalas senyuman Tatiana.

Satu tahun kemudian, atas persetujuan Rendy. Ve membukukan kisah Tatiana berdasarkan tulisan tangan pada catatan Tatiana.

Buku itu di beri judul “TATIANA TANPA PENA”

Advertisements
Comments
  1. 孫悟空 says:

    ngomong-ngomong Tatiana umurnya berapa? masih muda kah atau sudah tua?

    Diluar itu semua, jangan-jangan penyebab Limfoma non-Hodgkin (LNH) pada Tatiana karena Tatiana adalah pengidap virus HIV positif atau ODA. Andaikan bukan karena virus HIV, meski stadium IV, Limfoma masih bisa disembuhkan kalau yang terkena penyakitnya itu masih muda. sayang eui… dia harus meninggal dunia 😦

    LNH bukan penyakit keturunan, tapi ya sudah… dia sudah pergi, gw doakan itu si Rendy suatu hari nanti ketemu dengan Sari 🙂

    • gb3n says:

      Umur Tatiana 27th dan dia tidak mengidap HIV atau ODA. mungkin itu disebabkan karena kekebalan tubuh Tatiana yang lemah, ia sedari kecil memang rentan dengan penyakit2 ringan.
      Tenang Rendy ga perlu tunggu Sari datang di kehidupannya, kan ada Ve teman baik yang sekaligus mencintai Rendy.
      Hanya mungkin butuh waktu untuk keduanya. dan mungkin pada saatnya Rendy menyadari keberadaan Ve di hatinya dan Ve berani mengetuk hati Rendy.
      Yahh,, Di do’akan saja…

  2. 孫悟空 says:

    Ooooooooo begitu ya? akhirnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s