SANDAL UNTUK MASKAWIN

Posted: December 15, 2010 in Gb3n story 1

Pagi yang sacral, kedua pihak mempelai sudah berkumpul. Ijab Kabul segera akan dimulai. Kenya dan Rangga keduanya menghela nafas panjang nampak ketegangan tersirat di wajah mereka.
Penghulupun telah menanyakan kesiapan semua pihak. Tatanan acara mulai dibacakan, tahap demi tahap membawa pada inti acara yaitu ijab Kabul.
Kemudian Penghulu menerangkan sedikit aturannya dan lalu menjabat tangan Rangga.
“Saya nikahkan Kenya Dewi binti Dwi Darmawan dengan maskawin sepasang sandal dibayar tunai!!”
“Ha,,ha,,ha, ,” beberapa hadirin kelepasan tertawa.
Yahh memang sedikit tidak lazim karena umumnya sebuah maskawin merupakan seperangkat alat solat, alqur’an, perhiasan, atau uang dan hal itu yang memicu tawa beberapa hadirin.
Kenya dan Rangga saling memandang, bibir keduanya membentuk senyuman. Kata sandal membawa ingatan mereka kembali pada saat pertama mereka bertemu.

“Mendung pekat menyelimuti sebuah pasar tradisional di desa Sukowati. Langit yang kelam nampaknya tak mampu lagi menahan gundukan awan-awan hitam itu. Hujan lebat berujung kegaduhan. Para pembeli berlarian mencari tempat untuk berteduh.
“Awas..!!” seru Kenya yang baru saja menginjak sandal bagian belakang Rangga yang tengah berjalan didepannya. Tanah yang becek ditambah tekanan kaki Kenya tak ayal membuat sandal Rangga putus.
“Bruuukkkk!! !” Kenya dan Rangga jatuh.
Wajah mereka celemotan kotoran tanah.
“Maaf,, aku tidak sengaja” kata Kenya sambil mencari sesuatu di dalam tasnya.
“Ini, pakailah. Daripada nyeker” Kenya menyodorkan sepasang sandal.
“Maaf aku buru-buru lain kali saja aku ganti sandalmu yang putus. Dachh” Kenya kemudian berlari meninggalkan Rangga.
Rangga terpelongo dengan sepasang sandal di tangannya.
Dalam hatinya terus bertanya siapa sich wanita yang baru saja membuatnya terjatuh dan sama sekali tidak memberinya kesempatan bicara. Rangga menggelengkan kepalanya.
Kemudian Ia pulang dengan mengenakan sandal yang ukurannya lebih kecil dari kakinya.
Sesekali senyuman tersungging dibibirnya.

Keesokan paginya Rangga bermaksud pergi ke SD Sukowati untuk menyuntik cacar anak-anak di SD itu. Ia adalah dokter muda yang lebih memilih praktek didesanya meskipun ia mendapat tawaran untuk bekerja di RS ternama di Jakarta.
Rangga terlihat senang menikmati udara pagi dan pemandangan di sepanjang jalan menuju SD Sukowati meskipun ia harus berjalan kaki karena memang jalan yang ia lalui tidak memungkinkan untuk sebuah kendaraan.
“Permisi..!! maaf yach aku duluan” kata Kenya kepada seseorang yang tengah berjalan membelakanginya. Rangga sedikit terkejut kemudian menoleh.
“Oo, silahkan Bu” katanya pada seorang guru muda yang wajahnya sepertinya ia kenal. Lalu Rangga sengaja minggir dan membiarkan Kenya mendahuluinya. Maklum jalan setapak yang mereka lalui hanya cukup untuk satu pejalan kaki saja.
Kenya berjalan sangat cepat hingga meninggalkan Rangga jauh. Sementara Rangga masih mencoba mengingat-ingat siapa guru muda itu sembari tetap berjalan.

Kenya yang baru kurang lebih 2 bulan mengajar di SD Sukowati, mulai menikmati pekerjaannya. Meskipun ia harus jauh dari keluarga dan teman-temannya. Kenya memulai hidup baru di sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian . Demi tugas hal itu yang harus membuatnya bertahan hingga 1 tahun kedepan.
Meskipun dibalut pakaian rapi nan sopan Kenya tak bisa menyembunyikan gayanya yang tomboy. Tapi justru itu banyak murid-murid yang menyukai gayanya.
Di cela jam belajar tiba-tiba Bu Ida masuk bersama seorang dokter muda.

“Permisi bu Kenya, maaf mengganggu jam belajarnya” sapa bu Ida
“Ya silakan Bu” kata Kenya
“Oo, ini kan yang tadi pagi juga yang menginjak sandalku hingga aku jatuh. Ternyata dia seorang guru” gumam Rangga dalam hati.
“Anak-anak seperti biasa setiap 6 bulan sekali dari dinas kesehatan mengadakan penyuluhan di desa ini. Dan hari ini di sekolah kita akan diadakan suntik cacar jadi kegiatan belajar mengajar hari ini dilanjutkan besok” Bu Ida selaku Kepsek memberi sedikit pengumuman pada murid-muridnya.
“Oya bu Kenya, ini dokter Rangga kebetulan hanya sendiri kali ini jadi tolong dibantu. pak Rangga ini bu Kenya, kalau perlu apa-apa bilang saja ke bu Kenya” Bu Ida meemperkenalkan Rangga dan Kenya.
Rangga dan Kenya hanya tersenyum sembari berjabatan tangan.

Mereka baru bisa mengobrol setelah semua selesai dan kebetulan mereka pulang bersama.
“Ibu masih ingat saya” tanya Rangga
“Panggil Kenya saja, oya memangnya kita pernah bertemu sebelumnya?” Kenya tidak ingat pertemuan mereka sebelumnya.
” Tadi pagi kita bertemu di jalan menuju SD”
“Oo” sepertinya Kenya masih tidak ingat
“Dan kemarin kamu menginjak sandalku hingga putus dan membuat kita terjatuh di pasar” kata Rangga.
“Oo,, aku ingat sekarang. Maaf yach aku tidak sengaja kemarin aku buru-buru” ujar Kenya.
“Sepertinya kamu selalu buru-buru?” Kata Rangga memulai pembicaraan.
“Oo,, tadi pagi aku bangunnya kesiangan, habis nonton bola semalem he,,he,,”
jawaban yang tidak disangka Rangga.
“Kamu suka Bola juga yach”
“Suka banget malah”
Pembicaraan mereka berpusar pada bola, mereka ternyata memiliki hobby yang sama. Sama-sama penggila bola. Dengan cepat merekapun menjadi akrab.
“Oya maaf Rangga sandalmu jadi putus, biar nanti aku ganti saja yach. Tapi baru awal bulan aku ke kota, sekalian belanja bulanan.”
“Tidak usah, biar saja. Kamu kan sudah memberi gantinya he,,he,,” Rangga menyeringai.
Kenya ikut menyeringai.

Di awal bulan Kenya pergi ke kota untuk membeli keperluannya, ia selalu menyempatkan diri mengunjung sebuah toko sepatu Milik pak Amin yang ternyata masih kerabat dari Rangga.
Ketika ia hendak membayar beberapa sandal yang ia beli, tiba-tiba Rangga masuk dan menyapa.
“Kenya, kebetulan sekali”
“Hi..”
“Oya Rangga, biar ku ganti sandalmu yang kemarin yach” Kenya masih merasa tidak enak.
“Tidak udah, terima kasih” Rangga menolak
“Ayolah, yach” Kenya memaksa.
“Baiklah, tapi aku mau kamu menggantinya dengan mentlartirku makan bakso di seberang toko ini, bagaimana?” ujar Rangga.
“OK, kebetulan aku lapar he,,he,,”
Setelah membayar mereka pergi makan bakso di seberang toko sepatu itu.
Sembari makan bakso Rangga mengajukan sebuah pertanyaan.
“Kenya boleh ku tau mengapa kamu membeli sandal sebanyak itu?”
“Oo,, aku ini kan orangnya ceroboh. Dan sering sekali buru-buru makanya sandal yang ku pakai sering sekali putus. Apa lagi di musim hujan he,,he,,” Kenya sedikit malu.
“Oo,,” Rangga mengerti mengapa Kenya membawa sandal cadangan ditasnya sewaktu di pasar.
Setelah makan Rangga mengantar Kenya pulang. Sejak itu mereka sering bertemu untuk sekedar mengobrol atau mencari makan.

Sabtu siang setelah memeriksa salah satu pasiennya, Rangga sengaja mampir ke SD Sukowati untuk mengajak Kenya pergi makan. Tapi hari itu ternyata Kenya tidak mengajar dan ia juga tidak memberi kabar ke sekolah.
Karena khawatir Rangga memutuskan untuk pergi ke rumah Kenya. Sesampainya disana, beberapa menit Rangga mengetuk pintu tapi Kenya tidak membukakan pintu.
“Apa mungkin Kenya sedang pergi atau terjadi sesuatu padanya” Rangga mulai cemas.
Diketuknya lagi pintu rumah Kenya sambil memanggil-manggil Kenya. Masih tak ada jawaban. Kemudian Rangga menyimpulkan bahwa Kenya tengah pergi.
Ia membalikan badannya bermasud untuk pergi tapi tiba-tiba “Kreeekkk..! !” Kenya membukakan pintu. Dengan wajah pucat pasi menyapa Rangga.
“Hi.. tumben kau kemari, ada apa Rangga”
“Ku dengar kau tidak mengajar hari ini, wajahmu terlihat pucat apa kau sakit Kenya?” tanya Rangga
“Tidak, semalam aku nonton bola dan bangun kesiangan jadi aku putuskan untuk tidak mengajar hari ini karena malu he,,he,,he,, ” Kenya nyeringis.
“Oo begitu”
“Ayo masuk” ajak Kenya
“Baiklah” sahut Rangga
Mendadak tubuh Kenya roboh menimpa Rangga yang kebetulan tepat dibelakangnya.
Kenya telihat sangat lemah dan suhu badannyapun sangat tinggi. Sepertinya Kenya demam.
“Kenya,, kau sakit” Rangga nampak khawatir
Kenya hanya diam, ia sepertinya terlalu lemas untuk mengatakan satu katapun.
Kemudian Rangga membopongnya menuju kamar Kenya.
Ia merebahkan Kenya ke tempat tidur dan menyelimutinya dengan selimut hangat.
Setelah memeriksa Kenya dan memberinya obat, Kenya dibiarkan istirahat. Sementara Rangga keluar untuk membeli beberapa makanan untuk Kenya.
Setelah kembali ternyata Kenya sudah terbangun dari tidurnya.
“Rangga aku kenapa?” tanya Kenya
“Kamu tidak apa-apa, kamu hanya kelelahan. Apa belakangan ini kamu tidak makan dengan teratur Kenya?” Rangga balik bertanya
“Mungkin, belakangan ini aku sibuk membuat tugas untuk murid-muridku juga sibuk begadang nonton bola he,,he,,he,, ” Kenya sedikit becanda.
Senyuman tersungging dibibir Rangga sembari tangannya mengusap-ngusap kepala Kenya. Keduanya saling menatap, wajah mereka memerah jambu. Kemudian dengan cepat Rangga mengangkat tangannya dari kepala Kenya.
“Oya kamu pasti belum makan siang, aku sudah membelikan sesuatu untuk kamu. Makan ya” Rangga sedikit salah tingkah.
“Nanti saja, aku belum lapar” kata Kenya
“Terima kasih ya Rangga”
“Tidak usah sungkan, lain kali jika kamu sakit datang saja ke klinikku atau telpon saja biar aku yang datang ke rumahmu”
Kenya hanya mengangguk. Airmata menggenang di matanya, senyum kesedihan membeku di sudut bibirnya.
“Kenapa Kenya, apa ada kata-kataku yang salah” Tanya Rangga
Kenya menggelengkan kepalanya “aku tidak apa-apa, hanya saja aku jadi ingat ibuku”
“Hubunginya saja ibumu, suruh ia datang menengokmu” usul Rangga
“Tidak perlu, aku hanya demam biasa besok juga sudah sembuh. Aku tidak mau membuat ibuku khawatir” ujar Kenya.
“Kamu ini anak yang baik yach” kata Rangga.
“Aku tidak hanya baik, tapi juga pintar, cantik, ramah, dan manis he,,he,,he,, ” Kenya menyombongkan diri.
“Iya,, Iya,,” Kata Rangga membenarkan. Kemudian mereka tertawa karena merasa lucu.
Obrolan ringan silih berganti mengudang senyum dan tawa diantara mereka.
Sesekali mata mereka beradu, sesekali saling mencuri pandang. Sepertinya benih cinta mulai terajut di hati keduanya.
Setelah sore Rangga berpamitan.
“Istirahatlah, jangan lupa diminum obatnya. Semoga lekas sembuh”
“Ok, pak dokter he,,he,, Terima kasih ya ”
“Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku”
“Sipp,,”
Kemudian Rangga pulang.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar Rangga datang untuk memeriksa keadaan Kenya sembari membawakannya sarapan. Ia terheran ketika melihat Kenya sudah rapi dan siap berangkat mengajar.
“Apa kamu sudah merasa sehat Kenya, tidakkah lebih baik kamu istirahat dulu beberapa hari”
“Aku sudah sembuh kok, lagian aku bosan dirumah. Oya apa yang kau bawa?” Kenya melirik kantong hitam yang tengah dipegang oleh Rangga.
“Oya, ini kubawakan kamu sarapan, aku khawatir kamu masih sakit”
“Kebetulan aku memang belum sarapan, niatku malah sarapan di sekolah” ujar Kenya
“Ayo kita sarapan bareng aja Rangga” ajak Kenya.
“Kamu saja, aku sudah sarapan” kata Rangga
“Baiklah, kau temani aku sarapan. Aku akan membuatkan teh, kopi, atau susu?”
“Teh saja” Usul Rangga
Karena khawatir pagi itu Rangga mengantar Kenya ke sekolah.

Waktu terus bergulir Rangga dan Kenya semakin dekat tetapi belum ada yang bicara tentang perasaan mereka hingga satu tahun terlewati begitu saja.
Dan itu berarti Kenya sudah harus pergi, kembali ke Jakarta.
Rangga kelimpungan mendengar kabar bahwa Kenya akan segera meninggalkan desa Sukowati. Andai ada yang bisa ia lakukan untuk mencegahnya pergi.
“Tapi apa, apa aku terima saja tawaran om Benny untuk bekerja di Jakarta” Rangga nampak bingung.
Ia takut kehilangan Kenya tapi juga masih tak berani mengutarakan perasaannya.

Di pesta perpisahan yang diadakan SD Sukowati, Rangga turut hadir.
Dipandanginya seorang wanita yang telah mencuri dan menggoyahkan hatinya.
Wanita yang membuatnya berfikir untuk menerima tawaran bekerja di sebuah RS Ternama di Jakarta hanya agar bisa dekat dengan Kenya.

“Terima kasih untuk bu Ida serta teman-teman guru dan murid-muridku yang saya banggakan. Terima kasih untuk tarian, nyanyian serta puisi-puisi indah yang telah sengaja disajikan. Saya merasa sangat terharu, terima kasih murid-muridku. Tetap semangat saya yakin kalian akan menjadi kebanggaan nantinya.
Saya sangat bahagia berkesempatan mengajar di SD Sukowati ini, banyak sekali pengalaman yang bisa saya petik disini. Saya minta maaf jika ada kesalahan yang saya lakukan baik saya sengaja ataupun tidak. Sekali lagi terima kasih banyak, untuk murid-muridku ibu akan sangat merindukan kalian” tutupnya dalam sambutannya.

Tepuk tangan memecah suasana haru. Kemudian guru-guru dan murid-murid bergantian menyalami Kenya seraya mengucapkan perpisahan.

Kenya tak mampu menahan tangisnya ia masih sangat terharu.
“Kau tau Rangga sebelumnya aku sangat menginginkan untuk segera kembali ke Jakarta. Aku mengambil tugas ini karena aku ingin membuktikan pada keluargaku bahwa aku yang mereka anggap manja bisa hidup mandiri juga menjadi kebanggaan mereka. Tapi mengapa setelah saat ini tiba justru aku tidak menginginkannya, mengapa terasa sangat berat meninggalkan semua ini” ujar Kenya sembari tetap berjalan.
“Jangan pergi Kenya” kata Rangga
“Apa..?” Kenya menghentikan langkahnya kemudian membalikan badannya menghadap Rangga yang berjalan dibelakangnya.
Langkah Ranggapun terhenti.
“Emm,,ma..maksudku, kenapa kau tidak tinggal saja disini. Kau bisa mengajukan permohonan pindah tugas kan” Rangga sedikit gagap
“Oo,, Entahlah” lalu membalikan badannya dan melanjutkan perjalanan.
“Mungkin keluarga adalah satu-satunya alasanku” Kenya menundukan kepalanya.
“aku mengerti” ucap Rangga.
“Huhh payah,, kenapa sangat sulit bagiku untuk bilang Kenya jangan pergi karena aku sangat menyayangimu” gumamnya dalam hati
“Rangga,,Rangga, ,” panggil Kenya.
Karena sibuk bergumam Rangga tak sadar kalau mereka telah sampai di depan rumah Kenya.
“Maaf ada apa Kenya” tanyanya
“Tidak, aku hanya mau berterima kasih, maaf sudah banyak menyusahkanmu” lalu memeluk Rangga. Jantung Rangga berdegup sangat kencang, belum ada wanita yang pernah memeluknya selain ibunya.
“Jangan lupa menghubungiku, kalau kau punya waktu maenlah ke Jakarta” kata Kenya sembari melepaskan pelukannya
“Jaga kesehatanmu, semoga kamu berhasil disana” kata Rangga
“Kau juga”
“Istirahatlah, besok kamu akan menempuh perjalanan panjang. Maaf besok aku ada pasien jadi tidak bisa mengantarmu. Hati-hati yach, aku pulang” Rangga berpamitan
Kenya hanya mengangguk, matanya tak berkedip memandangi Rangga yang berjalan meninggalkannya.
Kenya menghela nafas panjang, kemudian masuk kedalam rumah.

Pagi-pagi benar Kenya bersiap-siap, setelah berpamitan dengan tetangga sekitar iapun berangkat ke stasiun menggunakan Bis.
Matahari terbit dengan pelan-pelan menerangi jalanan. Udara pagi yang sejuk ditambah pepohonan nan hijau membuat Kenya tak ingin mengedipkan matanya, ia terus menyaksikan keindahan yang dilaluinya.
Di benaknya bergilir kenangan-kenangan yang telah ia lalui di desa Sukowati. Selain murid-muridnya juga Rangga mendominasi kenangan-kenangan itu.
Sesekali bibirnya menukik senyuman, airmata meleleh dipipinya. Kenya tenggelam bersama ribuan kenangan.
“SIIITTTT,,! !!” tiba-tiba bis mengerem mendadak. Seperti hampir menambrak sesuatu.
Kenya terbangun dari lamunan, ia bangkit dari bangkunya mencoba mencari tau apa yang baru saja terjadi.
Ia sangat terkejut karena kedua matanya mendapati Rangga yang tengah dimarahi sopir bis karena sengaja menyalipkan mobilnya tepat didepan bis.
“Maaf pak, saya tidak bermaksud untuk mencelakakan bapak juga penumpang lain. Saya hanya harus bicara pada satu penumpang Bapak. Saya mohon kasih saya waktu sebentar saja Pak” kata Rangga sembari mencari keberadaan Kenya.
Kenya yang sedari tadi menyaksikan perdebatan Rangga dan supir bis itu kemudian berkata:
“Apa yang kau lakukan disini Rangga..!!”
“Kenya,,” kemudian Rangga mengabaikan ucapan supir dan menerobos masuk.
“Kenya aku mohon jangan pergi, tetaplah tinggal” pintanya
Supir dan para penumpang lain kemudian terdiam, mereka tau ada dua insan yang tengah jatuh cinta dan mencoba bicara tentang perasaan mereka.
“Kenapa aku harus tetap tinggal” tanya Kenya
“Aku mengerti alasanmu, dan aku tau kamu punya semuanya di Jakarta. Jakarta akan sangat mengembangkan karir wanita sepintar kamu. Tetapi tidakkah kamu bisa tetap tinggal demi murid-muridmu yang sangat menyayangi dan membutuhkanmu disini”
“Hanya itu?” Kenya menimpali
Rangga menghela nafas panjang
“Hmm,, baiklah Kenya, jujur kamu telah membuat banyak orang disini menyayangimu juga aku” Rangga merogoh saku celananya untuk mengambil sesuatu
“Kenya menikahlah denganku” katanya sembari membuka kotak kecil yang isinya sebuah cincin yang baru ia ambil dari saku celananya.
“Kenya aku tau kamu gadis tomboy dan apa adanya. Tapi tidak hanya itu kamu juga ramah dan tulus. Karena itu aku menyayangimu. Kenya aku mohon tetaplah tinggal”

Sesaat Kenya terpaku lalu ia keluar dari bangkunya melangkah menghampiri Rangga.
Senyuman melebar dibibirnya “Ayo cepat pakaikan cicin itu, jangan biarkan tanganku pegal menunggu” sembari menyodorkan jemarinya tepat di hadapan Rangga.
Rangga sedikit terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar, kemudian dengan lembut memakaikan cincin itu di jari manis Kenya lalu memeluknya.
“Terima kasih Kenya, ini adalah hal terindah dalam hidupku”
“Maaf Rangga aku tidak bisa tetap tinggal, kali ini bukan aku yang mengambil keputusan” Kenya melepaskan pelukan Rangga kemudian meraih kedua tangan Rangga.
“Maksudmu..? ?” Rangga tak mengerti
“Ikutlah denganku, kau harus merayu seseorang agar mereka mengizinkan aku tetap tinggal. Bagamana ”
“Oo,, tentu saja” Rangga mengerti bahwa yang dimaksud Kenya adalah orang tuanya.
Hari itu juga Kenya bersama Rangga akhirnya ke Jakarta untuk meminta restu dari kedua orang tua Kenya serta keluarganya.

“Nak Rangga,, nak rangga” Pak penghulu menyebut nama Rangga beberapa kali.
Kenya menggenggam tangan Rangga dan Rangga tersadar dari lamunannya. Mereka saling memandang sekali lagi seakan keduanya mengisyaratkan kesiapan mereka.
“Ya, Pak penghulu” ujar Rangga
“Bisa kita lanjutkan ijab kabulnya ” tanya Pak penghulu.
“Tentu pak, silahkan.” Rangga menyanggupi

“Saya nikahkan Kenya Dewi binti Dwi Darmawan dengan maskawin sepasang sandal dibayar tunai!!” kemudian pak penghulu menghetakan tangannya yang tengah menjabat tangan Rangga.
Dengan yakin dan tidak gerogi Rangga mengucapkan;
“Saya terima nikahnya Kenya Dewi binti Dwi Darmawan dengan makawin Sepasang Sandal dibayar tunai.”
“Bagaimana shah” tanya penghulu pada hadirin.
Dengan serentak hadirin mengatakan “Shah..!!!” .

Advertisements
Comments
  1. 孫悟空 says:

    jangan double dong copy – pastenya 🙂

  2. gb3n says:

    Sorry baru sempet ngedit nih,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s