Secangkir kopi buat “Nenek” (Dia pasti datang)

Posted: December 15, 2010 in Gb3n story 2

Hujan nampak deras diluar jendela, tubuh rentanya menyandar pada dinding. Pikirannya dipenuhi tarian masa kecilnya nampak jelas dari matanya yang sayu bahwa ia merindukan masa itu. Perlahan air mata meleleh melewati kerutan di pipinya.

“Maaf Nek, pesanannya sudah siap,” kata seorang pelayan memberitahu.

“Ohh ya, terima kasih nak.”

Nenek itupun kembali ke bangkunya. Secangkir kopi hangat tersaji di meja.

Ia masih memandang ke luar jendela sembari jarinya memegang kuping cangkir.

Dari kejauhan Pemilik kedai kopi terus memperhatikan nenek yang mana adalah pelanggan  setia dari kedai kopi miliknya. Nenek itu hanya datang setiap akhir pekan, sendiri sejak 10 tahun terakhir.

Kemudian ia melangkah menuju meja Nenek itu, diletakannya beberapa donat isi coklat di atas meja.

“Maaf nak, apakah aku memesan donat-donat ini?”

“Tidak, Nenek tidak memesannya. Ini pemberian saja untuk teman ngopi Nenek.”

Nenek itu lalu tersenyum.

“Terima kasih, duduklah aku akan metraktirmu secangkir kopi.”

“Baiklah ujar Pemilik kedai kopi.

Nenek itu lalu memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi lagi. Pesanan segera diantar.

Nenek dan Pemilik kedai kopi itu mulai bercakap-cakap.

“Saya sering memperhatikan Nenek, tapi setahu saya Nenek tidak pernah datang bersama orang lain. Kenapa? Maaf saya menanyakan ini,” ujar Pemilik kedai dengan sopan.

“Saya sedang menunggu seseorang, dia pasti datang.”

“Lalu siapa yang sedang Nenek tunggu?”

Nenek itu kemudian diam, ia sepertinnya enggan untuk memberitahu siapa yang sedang ia tunggu. Pemilik kedai kopi itu lalu mengalihkan pembicaraan mereka mulai bercakap lagi tentang hal lain.

Nenek itu menyeruput kopinya, matanya kembali mengarah ke jendela. Hujan diluarpun telah mereda, setelah membayar dua cangkir kopi iapun meninggalkan kedai kopi itu.

Kepulangan nenek itu menambah jumlah tanya di benak Pemilik kedai kopi. Ia kemudian kembali meneruskan pekerjaannya.

Sudah tiga pekan, nenek itu tak lagi datang. Bangku itu kini diduduki sepasang remaja muda yang tengah di mabuk cinta. Mereka tidak memesan secangkir kopi melainkan dua donat berbentuk hati. Sepintas bayangan nenek itu tengah melambaikan tangannya di luar jendela. Ia kemudian pergi bersama lelaki yang menggandeng tangannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s