Best friend or Girl friend

Posted: December 22, 2010 in Gb3n story 1

Kegundahan masih nampak mebias di kedua matanya yang sembab. Hubugan yang telah ia lakoni kurang lebih 3 tahun itu masih tak dapat mengukuhkan hatinya, masih sulit baginya untuk mengatakan “Ya” atas lamaran Ardian.

“Kenapa kau masih meminta waktu untuk menjawab lamaran Ardian, Za?” tanya Nila pada sahabat baiknya.
“Entahlah.”
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi, aku pikir hubungan kalian baik-baik saja selama 3 tahun ini. Dari pihak keluarga juga tidak ada masalah kan, apa ada pria idaman lain Za?” tanya Nila sedikit curiga.
Reza hanya menggelengkan kepalanya.
“Hemm,,Tidak pernah terpikir olehku untuk menghianati Adrian juga sebaliknya, Aku memahami Adrian sejak di bangku SMA, dia yang ku tau adalah sosok pelindung yang mana merasa nyaman menumpahkan semua keluh kesahnya kepadaku. Aku sahabat sekaligus pendengar yang baik baginya. Dan mungkin hanya sebatas itu aku di hati Adrian.” tegas Reza.

“Jadi selama ini kau meragukan aku?” ujar Adrian, yang tidak sengaja menguping pembicara mereka.
Nila dan Reza tersentak oleh perkataan yang baru saja Adrian lontarkan, mereka tak menyadari kedatangan Adrian yang sedari tadi.
“Aku rasa kalian perlu bicara” Ujar Nila sembari menepuk pundak Adrian dan kemudian meninggalkan mereka berdua.

Sejenak ruangan serasa hening, lirih terdengar degup jantung mereka yang tak beraturan. Keduanya masih membisu, Reza menundukan kepalanya ia tak berani menatap mata Adrian yang tengah marah. Kemudian perlahan Adrian menghampiri Reza dan memeluknya erat.
“Apa benar kau masih meragukan aku Za?” Adrian mengulangi pertanyaanya.
“Tidak” jawabnya lirih.
“Maafkan aku Adrian, aku capek.”
“Apa maksudmu?”
“Selama ini aku terus mencoba meraba hatimu untuk memastikan dimana tempatnya aku berdiri dihatimu.”
Huhh,, Reza menghela nafas panjang dan melepaskan pelukan Adrian.
“Aku sadar Yan, aku hanya dapat memeluk tubuhmu tapi aku tidak akan pernah sanggup memeluk hatimu” Ucapnya sembari menatap mata Adrian yang penuh kebingungan itu.
“Aku tidak mengerti ucapanmu Za, jika jarak yang terpaut diantara kita selama ini membuat aku tidak selalu ada buatmu dan aku tak cukup memperhatikanmu. Aku minta maaf,” kata Adrian dengan meremas kedua pundak Reza.
“Bukan itu, hanya saja mungkin aku memang tidak pernah siap dengan pendapat mereka tentang hubungan kita. Di ingatan mereka kau pacar Alisa dan aku sahabat kalian Yan. Kamu lupa itu!! Aku ga tau mesti ngomong apa ke Alisa nantinya.”

“Kita sudah membicarakan ini sebelumnya, aku tidak mengerti apa yang ada di pikiranmu. Hubunganku dan Alisa sudah berakhir jauh sejak di SMA dan Alisa sudah punya kehidupannya sendiri. Jadi aku pikir kau terlalu berlebihan jika masih menenggelamkan dirimu di dalam masa lalu kita.”

“Yahh, benar aku masih tenggelam di dalam masa lalu kita. Dan kau yang menenggelamkan aku. Kau tak pernah tau aku sulit bernafas karna kau tak pernah memberi aku ruang gerak untuk menyayangi utuh sebagai kekasihmu. Karena kau memang hanya menganggapku sebatas teman baikmu bukan!!!!” teriak Reza.
“Kau,,hahh” Adrian menggigit bagian bawah bibirnya karena kesal.
“Baik, sepertinya kau tidak pernah memahami aku. Kau terlalu peduli apa kata mereka dan kau terlalu sibuk menenggelamkan dirimu dalam masa lalu kita sehingga kau tidak pernah menyadari betapa aku menyayangimu. Jika melepaskanmu membuatmu lebih bahagia akan kulakukan itu. Minggu depan aku berserta keluargaku akan datang untuk memeresmikan berakhirnya hubungan kita. Kau puas bukan?” Dengan marah kemudian Adrian meninggalkan Reza.

Tak lama kemudian Nila masuk, dilihatnya Reza tengah memeluk lututnya. Isaknya semakin jelas terdengar.
“Za,,” Nila mengelus rambut sahabatnya yang sedang bersedih.
“Semua sudah berakhir Nil.”
“Apa Za, kalian putus?” tanya Nila tidak percaya.
Hahh,, Reza menghela nafas panjang. Ia kemudian bangkit.
“Maaf Nil aku harus pulang.”
“Tapi Za.”
“Tenang,, Nil aku baik-baik saja!” kata Reza sembari melambaikan tangannya.
“Dasar anak itu, selalu saja begitu,” Nila menggelengkan kepalanya.

Sudah beberapa hari Reza mengurung diri di kamar, ia masih terpukul dengan beakhirnya hubungannya dengan Adrian. Keluarga Reza maupun Adrian sebenarnya tidak ingin jika hububungan mereka harus berakhir. Keluarga keduanya juga sudah bertemu untuk membicarakan tentang hal ini tentunya tanpa sepengetahuan Adrian juga Reza. Tapi mereka tidak bisa banyak berbuat. Keputusan di kembalikan pada Adrian dan Reza. Semoga keputusan itu masih bisa di ubah.

Sementara itu Desty sangat menyayangkan putusnya hubungan Adrian dan Reza, sore itu juga setelah mendengar kabar dari Linda, ia bertolak ke Jakarta.
“Hi.. tante pakabar!! Bagaimana keadaan Reza?” sapanya pada ibunda Reza.
“Baik Des, Reza di atas. Cepat hibur dia!”
“Sipp,” Desty mengacungkan jempolnya kemudian bergegas menuju kamar Reza.
“Za,, Za,, ini aku Desty, Za buka pintunya donk.”
Krekkk,, Reza membuka pintu kamarnya.
“Kapan dateng Des?” sapa Reza.
“Baru aja kok. Kamu sakit Za? Mukamu pucat sekali” tanya Desty khawatir.
“Ngga, ak Cuma lagi ga enak badan aja. Ga apa-apa,” Reza lalu merebahkan tubuh lemahnya ke tempat tidur.
“Za apa bener yang dikatakan Linda, kenapa kalian putus? Za denger, kamu itu tidak hanya sedang memutuskan suatu hubungan, tapi ini lamaran Za. Kamu udah terlalu jauh melangkah dan menyeret banyak orang di dalamnya. Bagaimana dengan hubungan keluarga kalian?”
“Sudahlah Des, aku sedang malas membahas ini. Aku sudah jelaskan ke Ibu dan keluarga dan sabtu ini keluarga Adrian akan datang. Kami akan segera resmi putus. Jelas!!” tegasnya.
Merasa jengkel dengan ucapan Reza, kemudian Desty menarik Reza ke depan cermin.
“Lihat Za, betapa berantakannya dirimu sekarang. Harusnya kamu bahagia menyiapkan resepsi pernikahan kalian. Tapi kenapa malah kamu kacauin semua kebahagia itu.”
“Cukup..!!” teriak Reza sembari mendorong pundak Desty.
“Kamu harusnya tau, aku dan Adrian membina hubungan ini tanpa dasar yang kuat mungkin cinta diantara kami hanya 25% dan sisanya semua alasan-alasan. Aku capek jika harus berdiri di depan hati Adrian memandanginya masih memberi tempat istimewa buat Alisa. Sampai sekarangpun aku masih merasa di antara mereka. Sebagai sahabat keduanya. Aku ga nyaman ketika mata Adrian memandang Alisa penuh kekecewaan, karena dengan begitu Adrian ga pernah bisa menyembunyikan rasa cintanya ke Alisa!!”

Plaakkk,,!! Desty memberi tamparan keras pada pipi sebelah kanan Reza.
Tak ayal pipi sebelah kanan Reza langsung memerah. Sesaat Reza terdiam.
“Jika itu alasanmu, kau benar-benar bodoh. Kau sudah lupa ketika aku dan Robby menjalin hubungan, mereka bilang apa tentangku. Mereka bilang aku tidak punya otak bahkan tidak punya hati karena pacaran dengan mantan pacar sepupunya sendiri. Dan kau ingat kau bilang apa padaku, “Kenapa harus peduli omongan mereka toh yang menjalani ini semua kita. Aku dan Robby sudah tidak ada hubungan apa-apa. Dan itu adalah masa lalu.” Hahh kau lupa dengan kata-katamu sendiri?.”
Reza masih terdiam.
“Cukup!! aku mohon tinggalkan aku sendiri Des,” pinta Reza.
“Baiklah Za, aku minta maaf. Aku harap kau akan lebih bijak dalam memutuskan hal ini. Aku pikir masih belum terlambat untuk meraih kebahagiaanmu kembali. Tapi apapun keputusanmu aku hanya bisa berharap itu yang terbaik untukmu.”
Reza hanya menganggukan kepalanya, kemudian Desty meninggalkan Reza sendiri.
Dua hari sebelum Adrian datang merupakan waktu bagi Reza untuk merenungkan perasaanya dan semua hal tentang mereka.
Sabtu malam Adrian bersama keluarganya mendatangi kediaman Reza.
Nampak ketegangan dari kedua belah pihak ketika mereka di dudukan dalam satu ruangan.
Harap-harap cemas, begitu tersirat diwajah mereka.
Dengan perlahan Reza keluarga dari kamar dan menuju ruang tamu.
Disalaminya keluarga Adrian dengan senyuman lebar di bibirnya.
“Sebelumnya saya minta maaf, boleh saya dan Adrian bicara berdua sebentar?” pinta Reza dengan sopan.
“Oo tentu, ucap mereka serentak.”
“Ayo Adrian, ayo sana,” Ibu Adrian, sambil menggoyangkan sikunya ke perut Adrian.
“Iya bu, maaf semua kami permisi sebentar.”
Adrian dan Reza keluar ke teras depan.

“Apa yang ingin kau katakan Za?” tanya Adrian.
“Aku hanya ingin minta maaf Yan, aku sadar tidak hanya membuatmu terluka tapi juga membuat keluarga kita kecewa. tapi ini benar-benar sulit buatku.”
“Aku ngerti kok Za. Tidak semua salahmu, maafkan aku juga. baiklah aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Semua sudah cukup jelas buatku.”
Adrian membalikan badannya bermaksud untuk kembali ke ruang tamu.

Reza kemudian memeluk Adrian, ia menyandar di punggung Adrian. Air mata tak kuasa meleleh dipipinya.
“Za,” Adrian mencoba melepas pelukan Reza.
“Biarkan aku memelukmu lebih lama Yan,” Reza memeluk Adrian lebih erat. Perasaan nyaman menyeruak tiba-tiba.
“Aku ga tau mesti ngomong apa Yan, aku tau ini salahku. Bantu aku untuk bertahan.”
“Maksudmu Za?” tanya Adrian sembari membalikan badannya menghadap Reza.
” Yahh, kasih aku kesempatan sekali lagi Yan,”
“Apa kau serius dengan yang kau katakan Za?”
“Yapp.” kata Reza sembari mengangguk.
“Baiklah,, kita mulai semua dari awal, tanpa masa lalu kita.”
“Iya.,” Reza kembali memeluk Adrian.
“Rasanya kita sudah cukup lama disini, mereka pasti sudah menunggu kita,” ujar Reza.
“Kau benar, ayo kita kembali menemui mereka.”

Kemudian mereka kembali ke ruang tamu. Mata Reza yang masih nampak sembab menarik opini bahwa hubungan mereka benar-benar telah berakhir.
Semua orang terdiam di ruang itu. Mereka tidak sabar mendengar keputusan yang telah mereka buat. Suasana menjadi sedikit menegangkan.
“Hemm,, Sebelumnya kami ingin minta maaf yang sebesar-besarnya kepada Ibu, Ayah, dan semua keluarga. Mengenai hubungan kami tentunya kita semua telah mengetahui permasalahannya, dan kami telah membicarakan ini dengan cukup matang dan kami telah membuat keputusan.”
Dipandanginya raut wajah keluarga mereka yang nampak cemas dan penuh pengharapan itu. Dengan bersamaan bibir keduanya membentuk senyuman.
“Kami ingin meminta restu dari Ibu, Bapak, dan semua untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan,” Ujar Adrian.
Lega dan bahagia mendengar perkataan Adrian. Kabar itu disambut dengan suka cita baik dari keluarga Adrian maupun keluarga Reza. Dan hari itu sekali lagi Adrian melamar Reza, dan tentu saja Reza mengiyakannya.

Advertisements
Comments
  1. waduh waduh kenapa pake kekerasan segala… plaak…:) hehehehehe….

  2. gb3n says:

    UPS,, kelepasan hahaha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s