Untuk sebuah Cinta

Posted: December 22, 2010 in Gb3n story 1

 

Setelah hampir 2 tahun Hafiz bertugas di pelayaran, dan selama itu ia tak dapat bertemu Rima kekasihnya. Terlebih satu setengah tahun belakangan Hafiz kehilangan kontak dengan Rima.
Setelah mendapat kesempatan pulang ia langsung pergi ke rumah Rima di Surabaya.
Setibanya di kediaman Rima,, dak dik duk detak jantung Hafiz berdegup kencang.. “Huhh .. kenapa aku jadi segugup ini,” gumam Hafiz dalam hati.
”Permisi… Rima…,” lama Hafiz menunggu tak seorangpun membukakan pintu. Memang sedikit aneh, kediaman Rima nampak lengang. Kemudian Hafiz mencoba bertanya kepada tetangga sekitar rumah Rima dan mereka memberitahunya bahwa Rima sudah menikah dengan kerabat jauh dari ayahnya dan ia beserta keluarganya sudah pindah ke Yogyakarta sekitar satu setengah tahun yang lalu.
Marah, sedih, dan kecewa mengetahui Rima menghianatinya terlebih Rima tak memberitahu hal sepenting itu kepadanya. Karena alasan itu Hafiz memutuskan untuk menemui Rima di Yogyakarta meski hanya untuk sekedar mendengar alasan dari Rima.

Setibanya di Yogyakarta Hafiz langsung menuju ke kediaman Rima, disana ia disambut dengan ramah oleh seorang wanita separuh baya yang belakangan ia ketahui adalah tante Rima.

“Permisi bu, benar disini kediaman keluarga Rima atau ibu Hesti?” tanya Hafiz.

“Maaf ade ini siapa, dan ada kepentingan apa mencari Mereka?” wanita separuh baya itu malah balik bertanya.

“Ohh.. saya Hafiz teman Rima dari Jakarta, Rimanya ada bu?” tanya Hafiz lagi.

“Mari silahkan masuk, sebentar saya panggilkan mba Hesti.”

“Baik bu, terima kasih.”
Hampir 5 menit Hafiz harus menungu, sesaat kemudian Rina (kakak pertama Rima) keluar menghampirinya.
“Maaf Hafiz teman Rima yang mana yach?” tanya Rina.

Maklum Hafiz memang belum pernah diperkenalkan ke keluarga Rima sebelumnya. Kemudian Hafiz menjelaskan tentang hubungannya dengan Rima dan maksud kedatangannya.

“Maaf mba apa benar Rima sudah menikah? Bisa saya ketemu dengan Rima mba, tolong..!!” kata Hafiz.

“Hemmm.., Itu benar. Hafiz saya atas nama keluarga minta maaf, kami tidak tahu tentang hubungan kalian, dan Rima tidak bisa menolak perjodohan yang telah diatur oleh Ayah kami.Sebaiknya kamu jangan mengganggunya lagi,” Ujar Rina.
“Saya mengerti mba, saya juga sudah merelakan Rima menikah dengan orang lain. Saya hanya ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya, saya perlu bicara padanya. Jadi dimana saya bisa menemui Rima mba?” tanya Hafiz.

“Maaf Hafiz lebih baik kamu tidak bertemu dengan Rima, biarkan ia dengan kehidupannya sekarang. Pertemuan kalian justru akan memberatkannya.”

“Maaf mba dan keluarga tidak bisa memberitahumu dimana Rima sekarang,” tegas Rina. “Kenapa mba? tolong mba saya sudah jauh-jauh datang kesini, saya janji akan meminta izin langsung kepada suami Rima dan menjelaskan semua. Tolong mba Rina!” pinta Hafiz.
“Sekali lagi maaf Hafiz kami benar-benar tidak bisa. Lebih baik kamu kembali ke Jakarta,” jawab Rina.

“Ada apa sebenarnya, apa yang sedang terjadi mengapa keluarga Rima terkesan menutupi sesuatu,” tanya Hafiz dalam hati.
Karena keingintahuannya mengenai Rima, Hafiz tak lalu kembali ke Jakarta setelah pulang dari kediaman Rima. Ia tetap tinggal dan mencari tahu keberadaan Rima.

Dua hari Hafiz tak mendapat sedikitpun informasi tentang Rima. Lalu ia memutuskan untuk membuntuti mba Rina beserta keluarganya. Dua-tiga hari kemudian masih belum mendapat informasi apa-apa. Tapi Hafiz masih kukuh pada pendiriannya bahwa ia harus bertemu Rima dan ia yakin Rima ada di Yogyakarta.
Hingga hari berikutnya Hafiz kembali membuntuti mba Rina, dan hari itu anehnya mba Rina pergi ke sebuah RSJ di kota itu. Hal itu membuat Hafiz bertanya-tanya. Apakah maksud kedatangan mba Rina untuk bekerja atau sekedar menjenguk kerabat atau ada hal lain.
Setelah Rina pulang, Hafiz mencoba mengorek informasi dari salah satu perawat dan pernyataan perawat itu sunggung mengejutkannya. Perawat itu mengatakan bahwa mba Rina datang untuk menjenguk adiknya. Setahu Hafiz Rima adalah satu-satunya adik Rina berarti yang tengah dirawat adalah Rima. Bagaimana mungkin, apa yang telah terjadi sebenarnya Hafiz sangat penasaran.
Tidak percaya mendengar kebenaran yang ia dengar, Hafiz memberanikan diri untuk menemui Rima diruang perawatan.
Perlahan perawat yang mengantarnya membukakan pintu sebuah kamar di sudut lorong dan perlahan terlihat sosok wanita yang tengah duduk membelakanginya.

“Rima ada yang ingin bertemu denganmu,” ujar perawat.

Kemudian wanita itu menoleh, dengan tatapan kosong ia memandang Hafiz. Runtuh sudah ketidak percayaan Hafiz ia tak lagi bisa menyangkal kebenaran dihadapannya. Wanita itu benar-benar Rima. Sesaat Hafiz mematung, matanya mulai berkaca-kaca, dan ia tak tau harus bicara apa pada wanita yang dicintainya. Perawat itu kemudian meninggalkan mereka berdua.

“Rima, aku Hafiz,” ucapnya dengan gemetar. Dengan pelahan ia menghampiri Rima dan kemudian memeluknya erat.

“Rima apa yang terjadi padamu, kenapa kamu bisa jadi seperti ini?”

“Kau tau Rim aku masih sangat menyayangimu, aku kembali untukmu untuk janji kita.” Hafiz terus mencoba bicara, airmata terus berderai dipipinya. Sementara Rima hanya diam membisu. Ia sama sekali tidak mengenali Hafiz.
Setelah jam besuk usai, Hafiz langsung kembali ke rumah Rima untuk meminta penjelasan. Hafiz yang marah dengan ketidak jujuran dari keluarga Rima mengetuk pintu dan berteriak dengan keras.

“Mba Rina..!! Bu Hesti,,!! Buka pintuny,.” Teriak Hafiz.
“Hafiz, kamu masih disini kenapa kamu belum kembali ke Jakarta?” tanya mba Rina terkejut.

“Saya yang harusnya bertanya ke mba Rina, kenapa mba Rina bohongi saya kenapa mba tidak bilang kalau Rima dirawat di RSJ. Apa yang terjadi dengan Rima mba??” tanya Hafiz dengan marah.

Kemudian ibu Rima keluar,

“Hafiz, bisa masuk sebentar biar kami jelaskan semua didalam,” pinta ibu Hesti.

Kemudian Hafiz, Rina , dan ibu Hesti masuk kedalam. Mereka duduk saling berhadapan dan ibu Hesti mulai menjelaskan duduk permasalahan sebenarnya.

“Ayah Rima adalah orang yang sangat keras sehingga saya, Rina, dan Rima tak pernah bisa membantah perintahnya. Tapi untuk pertama kalinya Rima menolak perintah ayahnya dan itu dikatakannya sebelum ijab kabul di hari pernikahannya. Rima sangat menyayangi kamu Hafiz, itu yang membuatnya berani mengutarakan isi hatinya pada Ayahnya. Tapi karena hal itu juga ayah Rima terlalu marah, dan pada saat itu juga ayah Rima meninggal karena serangan jantung. Sejak itu Rima terus menyalahkan dirinya atas kematian ayahnya dan kemudian Rima harus dirawat di RSJ.”
“Biarkan saya tetap disini, saya akan menunggu Rima. Izinkan saya membantu rima untuk sembuh” pinta Hafiz.
“Pulanglah, anggap saja Rima sudah menikah dan hidup bahagia seperti yang kami katakan sebelumnya. Ikhlaskan Rima kehadiran kamu disini justru akan lebih menyakitinya” ujar bu Hesti.

“Tapi, bu” bantah Hafiz.

“Hafiz, dengar ibu. Ibu tau ini bukan salah Rima juga bukan salah kamu. Dan ibu yakin kamu anak yang baik, kamu juga sangat menyayangi Rima kan, untuk itu kembalilah ke Jakarta. Ini semua bukan hanya untuk kebaikan kamu juga buat Rima. Kamu mengertikan!” ujar bu Hesti.
Hafiz tak lagi bisa mengakatan satu katapun, ia terus tertunduk sambil menangis. Ia tak menyangka harus seperti ini akhir dari cintanya. Demi kebaikan rima ia akhirnya kembali ke Jakarta.

Namun, setelah kembali ke Jakarta Hafiz justru memutuskan meninggalkan semua hidupnya disana dan ia kembali ke Yogyakarta untuk Rima.

Hari-hari paling berat dihidupnya, dimana ia harus berjuang untuk memulihkan ingatan wanita yang paling dicintainya. Boleh jadi saat ingatan tentang dirinyalah yang tak ingin Rima ingat, namun Hafiz tau justru kenangan tentang merekalah yang mudah membuat Rima ingat kembali.

Hampir ½ tahun, Hafiz tak berhenti berjuang meskipun ia harus kucing-kucingan dari keluarga Rima.

Kondisi Rima berangsur pulih, dan itu berarti Hafiz mesti menjauh dari Rima. Ia masih di Yogya hingga ia memastikan Rima benar-benar telah sembuh.

Satu sore keduanya duduk sejajar di tepian pantai, namun mereka tidak mengetahui keberadaan mereka masing-masing. Airmata berlinang di kedua mata mereka.

“Sudah saatnya aku pulang, terima kasih Tuhan engkau membantu aku menyelesaikan tugasku untuk membantu Rima sembuh. Jaga dan lindungi ia selalu untukku karena aku tak bisa berada disinya bukan karena aku tak mau, tapi keadaan yang memaksaku harus menjauh.”

“Tuhan maafkan aku, harus membohongi Hafiz. Sejujurnya aku kerap ingin memeluknya ketika mesti berpura-pura tidak mengingatnya. Aku tak bisa memintanya untuk tetap tinggal. Bukan karena perjuangannya yang tak cukup buatku. Tapi ini terlalu sulit buatku. Semoga ia mengerti. Jaga dan lindungi ia buatku Tuhan.”

Keduanya kemudian bangkit dan mengayunkan kaki mereka meninggalkan pantai dengan arah yang berlawanan. Meninggalkan cinta sejati mereka.

Advertisements
Comments
  1. hmmm…. itulah jodoh, ibarat kita makan kerupuk, kalau memang bukan milik kita, kerupuk sudah ada didepan mulut eh jatuh juga ke tanah dan tidak jadi kita makan.

    soundtracknya:

  2. gb3n says:

    Ibarat kata kalo Jodoh ga kan kemana,, kalo ga jodoh cari lagi hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s