Sandaran Hati

Posted: January 19, 2011 in Gb3n story 1

Kembali aku bertemu Maya sahabat kecilku. Meski banyak yang berubah dari penampilannya tapi dia masih tetap Maya sahabatku yang ceria dan perhatian pada keluarga juga sahabat-sahabatnya. Bertahun-tahun tetap saja dia dapat membuat kebisuanku tentang kehidupan pribadiku terlontar begitu saja dihadapnya. Nyaman, itu yang selalu aku rasakan bila didekatnya.

Minggu pagi Maya memintaku mengantarnya mengunjungi sahabat-sahabatnya. Setelah mengunjungi beberapa sahabatnya kemudian kami  mengunjungi kediaman Tia sahabatnya yang telah meninggal setahun yang lalu.
Waktu itu kami hanya bertemu Rani kakak Tia.Disana kami tidak lama, Maya tak banyak bicara, matanya bekeliling menatap setiap benda disekitar kami. Ku lihat matanya mulai berkaca-kaca, nampak dia masih sangat kehilangan Tia. Kemudian kami berpamitan, di tengah jalan tiba-tiba saja Maya menyandarkan kepalanya di punggungku, ia menangis tersedu-sedu sementara aku hanya dapat membiarkannya menangis, melepas semua kesedihan dihatinya. Beberapa saat kemudian tangisnya mereda.

“Maaf bajumu jadi agak basah,” ucapnya dengan lirih.

“Tidak apa-apa.”

Entahlah, perasaan ini kerap kali muncul, perasaan ingin melindunginya dan tak ingin
membiarkannya bersedih lagi.

“Apa aku? Ahh tidak mungkin,” gumamku dalam hati.
 
Beberapa tahun kemudian, Maya datang bersama tunangannya mereka hendak melangsungkan pernikahan mereka. Jujur aku bahagia mendengar kabar itu, tapi kenapa aku juga merasa sedih. Aku masih tidak mengerti akan perasaanku.

Dihari pernikahannya, Maya nampak sangat berbeda dia terlihat sangat cantik dan sangat bahagia. Tetapi hari itu menjadi hari terburuk di hidupnya karena calon suami Maya meninggal dalam kecelakaan menuju kediamannya. Hari itu Maya seperti kehilangan kendali dia menangis histeris dan begitu terpukul. Aku sangat sedih melihatnya, ingin sekali aku memeluknya dan menghapus airmatanya. Tapi aku tidak bisa melakukan itu karena Wina tengah bersamaku.

Setelah kejadian itu Maya tinggal bersama neneknya dan menutup hatinya selama bertahun-tahun. Sementara aku baru menyadari bahwa aku sangat menyayanginya untuk itu aku memutuskan pertunanganku dengan Wina. Aku tau keputusanku sangat menyakiti Wina, keluargaku dan banyak pihak. tapi aku tak bisa membohongi perasaanku terhadap Maya. Meskipun aku tak yakin Maya akan menerimaku, aku tetap pergi menemui Maya.

“Mana Wina??” tanya Maya sesampainya aku disana.

“Aku memutuskan pertungan kami,” jawabku

“Apa maksudmu, kenapa apa alasannya???” tanyanya.

“Kau.”

“Apa..!”

“Ya, karena aku sadar. Aku sangat menyayangimu May.”

“Hahh, apa aku tidak salah dengar. Kamu pasti sudah gila, cepat pulang dan minta maaf pada Wina jangan bertindak bodoh..!!” ujarnya dengan nada keras.

“Yach, aku memang terlalu bodoh. Terlalu lama mengerti dan menyadari bahwa aku menyayangi
kamu. Maya dengar jangan tutup hatimu selamanya, aku takkan bisa membiarkan Maya sahabat kecilku terkubur dalam duka dan kesetiaan pada cintanya. Maya aku mohon izinkan aku menyayangimu dan menghapus air matamu.”

“Aku tak pernah mencintaimu dan tidak membutuhkanmu, pulanglah.”

 “Aku tak peduli, aku hanya ingin menjaga dan menjadi tempat bersandar bagimu, itu saja sudah cukup bagiku, ” ujarku.

“Aku dapat menjaga diriku sendiri jadi pulanglah,” ujarnya sembari meninggalkan aku.

“Baiklah Maya aku pulang,” teriakku dengan nada kecewa.

Sesaat sebelum aku beranjak pulang tiba-tiba saja Nenek Maya menghampiriku. Ia memintaku untuk tetap tinggal dan menjaga Maya untuknya. Aku sangat terkejut sekaligus tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh nenek Maya. Lalu ia mengatakan alasan mengapa Maya tak mau membuka hatinya untuk siapapun karena Maya mengidap kanker otak mungkin hidupnya tak akan lama lagi. Itu sebabnya Maya menghindari orang-orang yang disayanginya termasuk dirinya. Baginya aku sahabat terbaiknya.

“Benarkah ini semua Nek? Nenek tidak sedang bergurau kan?”

“Ini semua benar Edo, untuk itu buat Maya selalu tersenyum di sisa waktunya karena hanya kau yang mampu mengukir senyuman dibibirnya,” Pinta Nenek Maya.

“Tentu saja nek, aku akan tetap tinggal dan menjaga Maya untuk Nenek juga untuku.”

Keesokan harinya, pagi-pagi benar aku sudah menunggu Maya di toko souvenir miliknya di pinggiran pantai. Tak lama kemudian Maya datang bersama neneknya.

“Hi.. Maya,” sapaku dengan senyuman termanisku.
“Kenapa kamu masih belum pulang??” tanya Maya dengan sinis.

“Aku tak punya uang jadi aku tak bisa pulang, makanya izinkan aku bekerja di tokomu, boleh yach” pintaku dengan muka memelas.

“Kau pikir kau bisa menipuku sudah sana pulang,” jawabnya dengan tegas.

“Jangan begitu. Biarkan dia membantumu. Nenek sudah lelah nenek mau dirumah saja,” Ujar Nenek.
”Tapi nek.”

“Sudahlah terima saja.”

“Kau diterima Edo, kerja yang benar!”

“Beres, Nek!”

Mulai hari itu aku bekerja pada Maya, aku sangat bahagia bisa menghabiskan waktuku bersamanya melihat senyum dan keceriaannya, tapi aku juga sedih ketika aku membayangkan kelak dia akan pergi meninggalkan aku selamanya.
Hampir dua bulan aku bersamanya dan belakangan ini kondisinya mulai memburuk. Tapi Maya terlalu keras kepala dia tak pernah mau dibawa ke rumah sakit. Dia selalu berkata “Aku baik-baik saja.”
Hingga sore 3 Mei, tepat dihari ulang tahunnya, Maya memintaku merayakannya bersamanya. Dengan condisinya yang sangat lemah aku menggendongnya ke tepi pantai. Dia duduk menyandar dibahuku, dan berkata;

“Kamu tau Do, aku tak pernah bosan untuk melihat keindahan matahari tenggelam disini. Aku mau kamu sesekali datang melihatnya untukku, saat aku tak dapat melihatnya lagi.”

“Aku tidak mau, kamu saja yang melihatnya sendiri. Aku akan mengendongmu setiap hari kesini tapi jangan lupa kamu tambah uang gajiku he,,he,,”

Aku mengerti benar apa maksudnya, namun aku harus berpura-pura tidak tau tentang kondisinya dan berusaha tegar didepannya.

Senyuman tersungging dibibirnya.

“Do maaf aku mungkin tak pernah menjadi sahabat yang baik malahan aku terlalu sering menyusahkanmu. Jujur aku senang kau ada disini. Maaf kalau aku masih sangat egois.”

“Sudahlah May kamu ngomong apa sich.”

“Ngga Do, biarkan aku mengatakan ini semua. Aku takut, aku tidak akan punya waktu lagi buat mengatakan ini.”

“Kau pasti masih punya banyak waktu, kau juga harus menghadiri pernikahanku kelak.”

“Kau ini.”

“Makasih Do, kamu sudah menjadi tempat bersandar aku selama ini. Kembalilah pada Wina, karena dia benar-benar menyayangimu dan aku yakin dia pasti masih menunggumu.”

“Wina tidak akan menerimaku lagi, aku tidak hanya menyakitinya tapi juga keluarga besarnya.”

“Aku sudah bicara padanya,” Ujar Maya.

“Maksudmu?”

“Sudahlah kau tak perlu tau, itu pembicaraan antara wanita dengan wanita. Anggap saja ini kado buatmu karena kau sudah sangat baik padaku. Jadi berjanjilah padaku untuk kembali pada Wina,” pinta Maya.

“Ayolah berjanji padaku.” Maya merengek bak anak kecil.

“Baiklah, aku janji akan kembali pada Wina.”

“Terimakasih Edo.”

Setelah beberapa saat Maya tak lagi bicara, aku mencoba menyentuh tangannya dengan gemetar. Tangannya begitu dingin, wajahnyapun sangat pucat. Aku sadar Maya sudah tidak ada meski aku mencoba mengelaknya. Aku tau hari itu pasti akan tiba, tapi aku tak pernah tau akan sesakit itu kehilangannya. Yang bisa kulakukan saat itu hanya memeluknya dan menangis seperti orang gila. Aku tidak hanya kehilangan sahabat terbaikku tapi juga wanita yang sangat aku sayangi. Dan aku harus mencoba mengikhlaskan kepergiannya.

Setelah Maya di kebumikan, aku pulang untuk menepati janjiku.,
kembali pada Wina.

Advertisements

Comments are closed.