Sayangi Aku Ibu

Posted: June 27, 2011 in Gb3n story 2

Ini kepulanganku yang pertama setelah hampir 5 tahun aku meninggalkan ibu untuk menimba ilmu di negeri orang. Aku berharap mendapat pelukan hangat dari ibuku setibanya dirumah. Tapi sayang ibuku justru sedang diluar kota karena urusan bisnisnya. Ibuku dulunya memang sudah mulai belajar mengelola bisnis restoran kakek namun setelah bertemu ayah dan menikah, ia memutuskan menjadi ibu rumah tangga biasa. Mereka pindah ke kota kecil lantaran tugas ayah sebagai seorang pegawai negeri. Meskipun begitu mendampingi ayah adalah penggabdian terindah buat ibuku. Bisa dibilang ayahku adalah cinta sejatinya. Sepeninggal ayah ibu meneruskan lagi bisnis restoran yang memang sudah turun temurun diwariskan dari keluarga ibu. Aku bisa melihat ibu berjuang keras untuk tidak jatuh, tegar sebisanya. untuk itu ia meninggalkan kota yang mana telah ia habiskan 8 tahun dengan sangat bahagia bersama ayah. Dan sekarang aku kembali menginjakan kakiku di kota ini.

Rumah kami masih terlihat sama, ibu sengaja meminta Pak Min tukang kebun kami untuk merawat dan tidak mengubah apapun yang ada didalamnya. Berbeda dengan rumah kami di Jakarta, rumah ini jauh terasa lebih hangat meskipun udara mampu membekukanku saat ini. Kupandangi photo favorite kami, photo yang diambil saat usiaku masih 5 tahun dimana dengan bangganya ayah menggendongku dan memegangi piala kemenangan pertamaku. Ibu terlihat begitu manis dengan lesung pipit yang tersungging dipipinya. Waktu itu aku hanya menjuarai lomba menyanyi di Taman Kanak-kanak tempatku belajar. Tapi buat ayah itu adalah hal besar yang dilakukan anak kesayangannya. Sepeda ungu itu adalah hadiahnya buatku, buat kemenanganku. Seperti halnya ibu aku sangat bahagia pernah memiliki ayah di kehidupanku karena ayah sangat menyayangi aku, ayah yang terbaik buat kami. Tanpa kusadari airmata terus menetes dipipiku. Aku keluar untuk mencari udara segar. Aku berjalan kebibir pantai yang tak jauh dari rumah kami, tempat paling banyak kami habiskan di waktu senggang kami. Tempat paling bersejarah buatku, tempat yang tak hanya merenggut nyawa ayah tercintaku tapi juga sekaligus menenggelamkan sosok ibuku.

“AYAH..!!! aku menyayangimu…!!!” teriakku berulang kali. Semoga saja angin menyampaikannya pada ayah.

Aku merasa lelah hari ini, dan tertidur di kamar ayah dan ibu. Aku merasa ada yang membelai rambutku, samar kulihat seorang wanita duduk di sampingku. aku terbangun karenanya.

“Kau sudah pulang Mentari, kenapa kau tak menemui ibu di Jakarta?” tanyanya

“Aku tidak bermaksud untuk tidak menemui ibu, hanya saja ku dengar dari kakek ibu sedang keluar kota. Dan aku tiba-tiba saja rindu tempat ini jadi aku kemari. Bagaimana dengan ibu?”

“Sama sepertimu ibu juga sedang rindu tempat ini.”

Malam sudah larut ibu tidur disampingku tapi kami saling membelakangi. Rasanya tak ada rindu diantara kami, tak ada cerita yang perlu kami bagi. Canggung, kaku, seperti yang lalu-lalu. Mataku enggan terpejam lagi dan aku tau ibu juga begitu. Suara jangkrik dan debur ombak mulai terdengar semakin jelas.

“Ibu aku ingin mengatakan banyak hal, aku ingin ibu dengar. Maaf rasanya aku sudah lelah menyimpannya sendiri. Ibu aku mohon jangan membalikan badanmu sebelum aku selesai bicara, aku takut tidak semua dari yang inginku sampaikan bisa kukatakan jika kita saling berhadapan. Ibu aku merasa beruntung bisa memiliki kau dan ayah dihidupku. Aku tumbuh berlimpah kasih sayang dari kalian berdua, aku yakin ibu juga ayah sangat menyayangiku. Aku minta maaf jika aku menyebabkan ibu kehilangan cinta sejati ibu, harusnya ayah tidak perlu menyelamatkan aku 17 tahun lalu. Harusnya ayah membiarkan aku ditelan gelombang, karena dengan begitu aku tidak harus kehilangan ayah dan kehilangan sosok ibu darimu. Aku juga sangat sedih harus kehilangan ayah bu, tapi aku lebih sedih lagi ketika melihat ibu yang tak henti-henti memandangi photo ayah, dan menitikan airmata buatnya. Kemudian ibu mulai menyibukan diri dengan bisnis restoran kakek dan tak lagi punya waktu buatku. Ibu mencoba menghindariku, bukan? Aku tahu bu, aku bisa merasakan pelukan ibu tak lagi hangat padaku dan ibu tak lagi berani menatap mataku. Semua orang bilang mataku mirip sekali dengan ayah dan dimataku ibu bisa melihat semua kebahagiaan ibu bersama ayah sekaligus melihatku yang telah merenggutnya darimu. Aku mulai bisa menerima alasan ibu sebagai wanita yang kehilangan kekasihnya karenaku. Aku mulai terbiasa mengkesampingkan diriku sebagai anak yang merindu ibunya. Aku kehilangan sosok ibuku sejak itu. Ibu lihat piala-piala dilemari ruang tamu kita, tak berarti satupun buat ibu. mungkin jika ayah masih ada aku akan mendapat hadiah sebanyak jumlah piala-piala itu. Aku tidak tahu sedalam apa luka ibu. Ibu aku tak pernah menyalahkan sikap ibu terhadapku. Aku hanya ingin ibu memaafkan aku karena aku merenggut ayah darimu. Maafkan aku ibu.”

Aku bangkit dari ranjang yang tetap kokoh meski sudah puluhan tahun lalu. Aku berlari keluar karena tak lagi bisa menyembunyikan tangisku. Ibu mengejarku, menghentikanku untuk tidak pergi. Ini pertama kali setelah bertahun-tahun aku bisa merasakan pelukan hangat ibu, pelukan ibu tercintaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s