Mentari

Posted: July 1, 2011 in Puisi-puisi Gb3n

Sedekat inipun, aku tak pernah bisa mencapai hatinya. Andai aku bisa berdiri dipuncaknya, sehingga aku dapat melihat dengan jelas semua yang tengah ia rasakan.

 

Aku terus memandanginya, wajah yang kaku dengan mata yang berkaca-kaca.

Ia pasti ingin membelakangiku, dan menangis dengan keras.

Ia pasti ingin aku pura-pura tidak mendengar, dan berteriak lepas.

Tapi ia hanya diam, tersenyum dengan tidak lebar.

 

Ia seperti jalan yang tak pernah aku sampai di ujungnya. Aku tak benar-benar bisa memahaminya.

 

Dan, ini kali kedua aku melihatnya begitu sedih.

Tapi kali ini ia berusaha keras menyanggah air matanya. Padahal justru ia jauh lebih terluka dari sebelumnya. Kenyataan yang tak ingin didengarnya, kenyataan yang mungkin menghancurkan pengharapan di lorong kecil hatinya.

Entah apa sebabnya ia tak membiarkan airmata menetes dipipinya.

 

Aku melihatnya begitu tegar sekaligus rapuh.

Aku lagi-lagi tak dapat memahaminya…

Kelak aku harap ia tetap menjadi pelengkap dari kebahagian yang tengah mereka cari.

Dan tetap hangat seperti MENTARI,,,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s