Gray’s Love (My partner)

Posted: July 6, 2011 in Gb3n story 2

Mungkin benar pepatah yang mengatakan “Tresno jalaran seko kulino” yang berarti cinta datang karena terbiasa. Mungkin itu yang juga tengah aku rasakan pada Reno, Manager Marketing baru di tempatku bekerja. Meskipun tidak satu divisi aku cukup tahu tentangnya karena Reno cukup terkenal di kalangan karyawati lantaran Reno seorang duda beranak satu yang boleh dibilang masih cukup muda. Pantas saja dia menjadi incaran wanita-wanita lajang dikantorku. Dimataku dia pintar, serius, bertanggungjawab dengan pekerjaannya, kreatif, inovatif dan berwibawa. Aku suka memperhatikannya diruang meeting, aku suka gayanya saat sedang presentasi, terlihat sangat percaya diri. Dia juga punya senyum yang cukup manis. Itu menyamarkan raut wajahnya yang selalu kaku. Selama 1 tahun tak ada yang berubah antara aku dan Reno, masih sebatas rekan kerja.

Sampai dia pindah tepat diseberang rumahku, tertunya itu hanya kebetulan saja. Aku mulai tahu kesehariannya yang terpampang jelas dimataku. Anaknya Alena yang masih berusia 5 itu terlihat sangat menggemaskan. Aku sering bertemu mereka saat lari pagi di taman dan berbelanja. Bahkan kami kadang minum kopi dan sarapan bersama di kedai kopi langgananku. Sejak itu aku mulai mengenal Reno lebih dalam bukan sebagai rekan kerja tapi lebih sebagai seorang teman. Berbeda dengan di kantor Reno lebih sering mengumbar senyum bahkan tawanya, dan itu disebabkan oleh putri tercintanya Alena. Aku mulai bisa melihat sisi kebapakannya yang lembut, dan hangat. Dia sangat menyayangi Alena, aku tau itu dari caranya memperlakukan Alena.

Belakangan aku mulai dekat dengan Alena, kami bertiga sering pergi bersama seperti layaknya sebuah keluarga. Aku benar-benar menikmati waktu yang kami lalui bersama. Hingga aku tersadar akan perasaanku pada Reno. Entah sejak kapan aku mulai mencintainya, yang aku tahu saat ini yang ada dikepalaku hanyalah dia. Tapi  ironisnya ketika aku mulai yakin dan berharap pada Reno justru harus ku telan kenyataan pahit yang mana mematahkan hatiku. Mantan istri Reno meminta rujuk kembali, itu yang aku dengar dari mulut Reno sendiri.  Dan sebelum membuat keputusan untuk kembali Reno mengajakku bicara, dia minta pendapatku. Aku tak mengerti yang dipikirkannya, mengapa dia merasa perlu meminta pendapatku padahal jelas-jelas ini tentang kehidupannya.

Dia memandangku cukup lama sebelum  akhirnya bicara.

“Sandra Pratiwi, aku mengenalmu sangat baik. Kau wanita cerdas, ceria, menarik, dan hangat. Jujur aku merasa nyaman saat bicara denganmu, kau  bisa diajak bicara tentang urusan kantor dan bicara tentang hidup. Harusnya hari ini aku memintamu untuk menjadi pendampingku tapi seperti yang kau tahu, aku sangat menyayangi Alena. Dan Alena sangat menyayangi Rita, ibunya. Karena permintaannya aku harus kembali pada Rita. Aku harap kau memahami keputusanku dan tidak membenciku. Terima kasih atas semua yang kau lakukan untuk aku dan Alena.” Ujarnya sangat jelas.

Perasaanku berbaur antara bahagia dan kecewa. Dari perkataannya aku bisa menangkap kalau Reno juga punya perasaan yang sama terhadapku. Aku memahami benar keputusannya. Kendati begitu tetap saja aku merasa sedih.

Setelah malam itu Reno dan keluarganya pindah ke luar kota. Sementara aku mulai menata kembali hatiku, berharap suatu saat bertemu sosok seperti Reno.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s