Pulang (Just A Name)

Posted: July 13, 2011 in Gb3n story 1

Hatiku seakan mendayu-dayu, meraba apa yang harus aku katakan setibanya nanti, aku tidak tahu apakah aku sanggup menatap mata bude Wiwi dan melihat kesedihanya lebih dalam.

Sepanjang jalan aku terus melihat arah jendela, hatiku terasa lengang seperti jalan yang ku lalui yang semakin sepi. Lampu-lampu di pinggir jalan itupun muram seperti wajah malam ini.

Hatiku tersayat sepanjang jalan mendengar raungan sirine ambulan didepan kami. Didalamnya ada jasad sahabatku yang rindu akan pulang.

Mentari terlalu cepat menjemput pagi, menghantarkan kami ke tempat yang kami tuju, rumah sahabatku.

Kami disambut suara tangis yang berkoar-koar, yang membuat telingaku tidak nyaman. Aku benar-benar tidak tega menyaksikan bude Wiwi memeluk jasad Saswita yang hampir sewindu meninggalkannya. Ku tahu dihatinya terpatri kerinduan yang takkan pernah hilang.

Setelah jasad Saswita dimandikan dan disholatkan, aku meminta waktu untuk bicara berdua saja dengan bude Wiwi karena ada pesan yang harus kusampaikan dari Saswita.

“Maaf  bude, sebelum Saswita meninggal. Ia sempat meminta saya menyampaikan keinginan terakhirnya kepada bude.”

“Saswita bilang apa ratih?” tanyanya.

“Bude, Saswita ingin di nisanya hanya ditulis namanya saja. Ia menyerahkan ini untuk bude.”

Aku menyodorkan sebuah surat yang memang di tujukan untuk bude dari Saswita. Kemudian dengan perlahan ia membuka surat itu dan membacanya. Bude Wiwi menahan tangisnya, sesekali ia menghela nafas panjang. Raut wajahnya tiba-tiba berubah, ada penyesalan yang tersirat di sudut matanya. Ia tiba-tiba memeluku dengan erat, tubuhnya gemetar kala itu.

“Bude gagal menjadi ibu yang baik buat Saswita, Tih,” katanya.

Aku terkejut dengan perkataannya. Bude Wiwi terus menggenggam surat dari Saswita. Aku sangat ingin tahu apa yang di tulis Saswita disuratnya sehingga tubuh yang sedang memeluku ini terasa begitu nelangsa. Aku membiarkan bude Wiwi menumpahkan tangisnya dipeluku, meski tak ada yang ingin ia bagi denganku.

Kami keluar dari kamar, bude Wiwi memanggil para kerabatnya. Mereka berbicara cukup serius, pasti sedang membahas permintaan Saswita yang terdengar cukup aneh memang.

Meski mengiyakan, permintaan bude Wiwi. Pakde Dita, dan Bude Dewi terlihat agak kesal atas keputusan bude Wiwi. Aku mengerti di desanya agak tidak lazim jika sebuah nisan hanya bertulis nama si mayit. Biasanya selain tanggal lahir dan tanggal kematian ditulis juga nama ayah dari si mayit. Untuk lelaki menggunakan bin dan untuk perempuan menggunakan binti, itu juga disebut saat acara ijab kabul. Mereka pasti akan mempergunjingkan hal itu.

Setelah membaca surat dari Saswita, bude Wiwi lebih banyak diam, ia tidak lagi menumpahkan tangisnya seperti waktu pertama aku datang. Entah apa yang membebani pikirannya saat ini, pikirannya seakan terus kebelakang. Dipemakaman iapun terus memandangi nisan putri bungsunnya itu. Tiba-tiba ia jatuh pingsan. Aku bisa merasakan kesedihannya begitu mendalam. Terlihat jelas orang yang paling berduka adalah dirinya.

Kami membawa bude Wiwi pulang, dan membiarkannya beristirahat. Setelah satu jam, bude Wiwi tersadar dari pingsannya. Ia memintaku masuk kekamar, aku melihat tubuhnya yang terkulai lemas diatas tempat tidur. Airmatanya terus mengalir dipipi yang sudah banyak kerutannya itu.

“Ratih bisa kau ambilkan album dia atas lemari itu,” pintanya.

“Tentu bude,” aku lalu mengambil album itu.

Bude Wiwi menunjukan setiap photo yang ada didalamnya, dialbum itu berisi photo Saswita dari SD sampai ia Kuliah. Saswita tak terlihat banyak berubah ia ternyata sudah tomboy dari kecil. Aku melihat photo kami juga ada disitu, photo ketika aku berulang tahun ke 20 dan Saswita memberi aku sebuah kejutan kecil. Aku tak bisa menahan tangisku, aku masih tidak percaya sahabatku itu sudah tiada. Kenapa harus secepat ini, jujur aku masih belum bisa ikhlas melepasnya.

“Ratih, kau berada disisinya sebelum ia meninggal bukan. Ceritakan pada bude bagaimana keadaannya. Ia bilang apa saja. Bude ingin dengar semua Ratih.”

“Maaf sebelumnya bude, bukan maksud saya tidak mau memberitahu bude dan keluarga tentang keadaan Saswita. Selama tiga bulan saya besama Saswita dan selama itu juga saya mencoba mencari alamat bude dari teman-teman karena Saswita tidak mau memberitahu kepada saya tetapi hasilnya nihil. Terakhir sehari sebelum ia meninggal ia menyerahkan surat untuk bude dan secarik kertas yang berisi alamat bude. Saya bertemu Saswita dirumah sakit 3 bulan lalu, ia ternyata pasien suami saya. Ia sedang kemo waktu itu.”

“Memangnya Saswita sakit apa Tih?”

“Saswita sakit kanker payudara bude. Meskipun begitu Saswita sangat tegar, ia tidak pernah menunjukan rasa sakitnya didepan saya. Justru malah dia yang banyak menasehati saya disaat-saat terakhirnya. Di Yogya Saswita membuka galeri lukisan dan selama 8 tahun kurang lebih dia banyak menghabiskan waktunya dengan melukis. Itu yang dia ceritakan pada saya. Dua bulan sebelum meninggal ia meminta saya menemaninya ke makam seseorang di Solo yang ia bilang masih kerabatnya. Saya justru baru tahu kalau ia punya kerabat disana, setahu saya kerabatnya hanya di Bengkulu saja. Saswita hanya bilang ke saya kalau sebelum ia meninggal, ia ingin meminta maaf kepada dua wanita yang tidak ia sebut namanya. Saya masih tidak mengerti apakah ucapannya itu serius atau hanya sekedar gurauan.”

Aku melihat airmata bude Wiwi hampir luber. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar bude Wiwi.

“Mba Wiwi, ini Dian.”

“Masuk Yan,” sahut bude Wiwik dengan suara pelan.

“Mba ini saya antarkan makanan, mba makan dulu dari pagi kan belum makan apa-apa. Ratih kamu juga makan ya, temani bude Wiwi makan.”

“Iya, bude. Terima kasih.”

Bude Dian kemudian meninggalkan kami berdua.

“Ayo bude, makan dulu.”

Bude Wiwi hanya menggeleng, airmata lagi-lagi jatuh dipipinya. Aku mengambil piring yang berisi nasi dan lauk pauk diatas meja. Aku mencoba menyuapi bude Wiwi, namun lama sekali ia baru mau membuka mulutnya. Bude Wiwi mengunyah makanan di dalam mulutnya dengan sangat lamban, sesekali ia berhenti mengunyah. Bibirnya terlihat gemetar, air mata membanjiri pipinya lagi. Setelah makan bude Wiwi tertidur, terbaca jelas dari wajahnya kalau ia sangat terpukul, sangat kehilangan, dan lelah.

Bude Dian kembali masuk ke dalam kamar.

“Bagamana mba Wiwi sudah makan Ratih?” tanyanya.

“Sudah tapi hanya sedikit.”

“Bude, mungkin ini bukan waktu yang tepat tapi saya sangat ingin menanyakan ini. Karena Saswita tidak memberi saya jawaban yang jelas untuk ini.”

Aku memberanikan diri menanyakan pertanyaan yang sudah lama ada di kepalaku ini.

“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya bude Dian.

“Emm, mengenai kepergian Saswita ke Yogya 8 tahun lalu. Apa yang membuatnya mengambil keputusan untuk menghilang atau mungkin bersembunyi tepatnya. Karena saya dengar ia batal menikah tepat dihari pernikahannya. Dan setiap kali saya tanya tentang hal ini, Saswita hanya menjawab “Mungkin belum jodoh saja, Tih”. Sebenarnya apa yang terjadi waktu itu bude?”

Bude Dian terdiam dan kemudian mengambil nafas panjang.

“Sebenarnya ini hubungan antara anak dan ayah yang bisa dibilang rumit. 3 windu mereka terpisah karena alasan tertentu. Kemudian dipertemukan kembali, tapi mungkin tidak diwaktu yang tepat jadi banyak yang harus terluka hari itu.”

Banyak yang tidak aku mengerti dari perkataan bude Dian, terlalu banyak yang masih ditutupi menurutku. Tapi aku tidak memotong pembicaraannya. Ia terus bercerita meskipun aku tahu bude Dian bisa melihat banyak sekali tanya di wajahku.

“Mas Hendra datang dengan maksud menebus kesalahannya karena tidak pernah melakoni perannya sebagai seorang ayah buat Saswita. Ia bermaksud melaksanakan tugas seorang ayah yaitu menikahkan putrinya. Harusnya Saswita gembira saat itu pasalnya selain bertemu ayahnya yang hampir seumurnya tidak ia jumpai, mas Hendra juga akan menjadi wali nikahnya di pernikahan yang seharusnya berlangsung itu. Tapi entahlah aku tidak tahu bagaimana sebenarnya hubungan antara anak dan ayah itu. Saswita saat itu berubah 360derajat dari yang tadinya bahagia menjadi seseorang yang bukan dirinya atau malah sebaliknya. Bude tidak mengerti.”

“Lalu bagaimana respon Saswita pada saat itu bude?” aku tidak sabar menunggu kata selanjutnya dari mulut bude Dian.

“Kedatangan mas Hendra tentu saja sangat mengejutkan Saswita apalagi dihari yang seharusnya membahagiakan buatnya. Lama Saswita hanya memandangi mas Hendra, ia tidak terlihat ingin memeluk ayahnya. Lalu ia berkata dengan lantang; “Untuk apa kau datang?”, mas Hendra menunjukan rasa bersalah dan niat baiknya itu. Tapi Saswita justru membatalkan pernikahanya dengan Leo secara sepihak. Semua orang geger dibuatnya, Saswita sendiri tidak sedikitpun menangis waktu berhadapan dengan mas Hendra. Ada kebencian yang meluap dari hatinya. Ia menangis saat minta maaf kepada keluarga besarnya juga keluarga besar Leo, terutama Leo pribadi. Hari itu juga Saswita pergi dan tak seorangpun mampu mencegahnya.” Tutur bude Dian.

Aku mulai sedikit mengerti mengapa Saswita enggan membagi ceritanya tentang ini kepadaku. Tapi aku masih tidak memahami alasan mengapa ia melakukan hal itu. Mungkin hanya bude Wiwi yang tahu jawabannya atau hanya Saswita seorang yang tahu tentang ini.

Sebelum kembali ke Yogya aku menyempatkan diri mengunjungi makam Sahabatku, ada seorang laki-laki yang tengah berdo’a dimakamnya. Sepertinya laki-laki itu menyadari keberadaanku, ia kemudian bangkit dan meninggalkan makam Saswita. Kulihat matanya memerah saat kami berpapasan. Sepertinya aku pernah melihatnya, lelaki itu nampak seperti Leo di photo yang ditunjukan bude Wiwi hanya lebih dewasa saja wajahnya. Apakah itu benar-benar Leo, aku tidak yakin.

Keesokan harinya, aku berpamitan pada bude Wiwi dan keluarga. Kami tidak bisa meninggalkan anak-anak dan pekerjaan kami terlalu lama. Bude Wiwi memeluku dengan erat, tubuhnya kembali gemetar matanya yang masih sangat sembab itu kembali meneteskan airmata. Aku berharap itu airmata terakhir yang aku lihat darinya.

Semenyakitkannya ini buatku aku tetap bersyukur kepada Allah bahwasana aku dipertemukan lagi dengan Saswita walau dengan keadaan yang menyedihkan sehingga aku dapat mengantarkannya berpulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s