Genk Belimbing

Posted: September 23, 2011 in Gb3n story 1

Ini adalah ulang tahunku yang ke 28, ulang tahun yang menurutku sangat special. Bagaimana tidak, seminggu yang lalu aku dan Yuda baru saja bertunangan dan hari ini aku mendapat kado yang tak pernah aku kira akan aku dapatkan.

Seorang kurir mengirimi aku pohon belimbing dalam pot berukuran sedang. Dihiasi pita berwana merah, sebuah kartu yang menggelantung pada bagian pita seperti pohon natal pada umumnya. Aku segera membuka kartu itu, tak ada ucapan ulang tahun buatku, didalamnya berisi alamat sebuah desa yang pernah aku singggahi dulu dan di bagian kanan bawah bertulis “GENK BELIMBING”. Senyumku terbuka lebar karenanya.

Sabtu malam aku diantar Yuda ke stasiun, sayangnya dia tidak bisa menemaniku karena urusan pekerjaan. Aku tiba di stasiun Yogyakarta atau juga dikenal sebagai stasiun Tugu pukul 6.20 WIB. Turun dari kereta aku dikejutkan oleh dua lelaki dan dua perempuan yang sebaya denganku, mereka memegangi sebuah papan nama yang cukup besar. Dipapan itu namaku tertulis jelas;

“ANISA DIANA-GENK BELIMBING” lagi-lagi senyumku terbuka lebar.

Aku menghampiri mereka, kami sangat heboh. Maklum kurang lebih 10 tahun, baru kali ini kami bertemu lagi. Meskipun begitu aku dapat dengan mudah mengenali mereka. Fadli masih tinggi besar dengan wajah imutnya, Farah dengan badan mungilnya, Lulu yang tetap terlihat feminine dan Edo. Berbeda dengan yang lain aku kesulitan mengenalinya. Hampir 95% dari dirinya berubah; lebih dewasa, tampan, tapi masih tidak kehilangan selera humornya.

Kami kemudian melanjutkan perbincangan kami sembari sarapan. Setelah itu kami meluncur ke desa Wukirsari yang letaknya kurang lebih 18 kilometer dari pusat kota Yogya. Bagiku desa Wukirsari adalah salah satu tempat yang cukup indah yang pernah aku tinggali. Selain objek situs purbakala, Wukirsari juga memiliki pemandangan alam yang sangat menawan. Pertama adalah Sungai Opak yang memiliki daya tarik khas dari segi alur sungai dan posisinya di pinggir bukit, sehingga dapat digunakan sebagai kawasan rekreasi air. Bantaran sungai juga dapat dipakai sebagai areal penghijauan yang sejuk dan tempat singgah bagi para pelancong. Kedua, perbukitan di wilayah Wukirsari yang luasnya mencapai lebih dari separuh luas total desa merupakan tempat rekreasi alam yang paling menarik di wilayah Imogiri karena bisa melihat panorama wilayah DIY, Gunung Merapi, serta Keraton sebagai poros kekuatan imajiner Yogyakarta. Tak banyak yang berbeda di desa ini masih tetap asri dan menakjubkan buatku. 3 tahun aku menghabiskan bangku SMAku disini, dan disini pula GENK BELIMBING terbentuk. Banyak kisah suka dan duka yang kami lewati bersama. Itu sebabnya aku selalu merindukan tempat ini.

Kami menghentikan mobil kami di kediaman Fadli. Atas izin ayahnya kami meminjam sepeda-sepeda tua koleksinya. Edo memboncengku, bak Galih dan Ratna saja kami. Sepanjang jalan kupandangi punggung lebar Edo yang membelakangiku. Tapi mengapa ada yang aneh dihatiku.

“Hemm,, mungkin terbawa suasana saja,” gumamku dalam hati.

Kami bergegas ke kebun belimbing milik bude Dewi. Disana aku senang sekali karena aku merasa kembali ke masa-masa sekolah dulu dan yang pasti aku bisa memetik belimbing sebanyak aku suka hehehe.. .

Iseng-iseng aku bertanya pada bude Dewi mengenai belimbing. Meskipun kami sudah lama disini tapi yang kami tau hanya Genk Belimbing saja. Hemmm..

Bude Dewi tidak keberatan dengan pertanyaanku, dia mulai menjelaskan kepada kami dengan gayanya yang sedikit formal. Maklum bude Dewi itu lulusan Pertanian dulunya;

“Selain dari Indonesia, belimbing berasal dari  India dan Sri lanka juga. Dan sekarang sudah  tersebar hampir  ke seluruh Asia Tenggara,  Brasil, Peru, dan Polinesia. Di Amerika tepatnya di Florida Selatan dan Hawaii, belimbing sengaja di tanam untuk tujuan komersial. Di Indonesia sendiri belimbing dijadikan sebagai ikon kota Depok dari tahun 2007. Meskipun begitu justru Demak yang lebih dikenal produksi belimbingnya. Karena  belimbing Demak ukurannya lebih  besar, warnanya kuning cerah dan rasanya manis pastinya.”

“Pasti kayak aku muuannis tenan. Hehehe..,” timpah Farah sembari menyeringai.

“Narsismu mbo yo di obati toh Rah,” celetuk Fadli.

“Ntar kalau narsisku sembuh kamu kangen loh Fad, Lulu sama Edo kan ndak bisa kalau di suruh narsis kayak aku. Terus kalau kamu sampe sakit karena kangen kenarsisanku, aku juga yang repot nanti, ” balasnya sambil tertawa.

“Iyo-iyo.., Orak iso menang aku nek ngomong karo kuwe Rah,” ujar Fadli dengan bahasa Jawa.

Penjelasan bude Dewi terpotong oleh tawa kami semua lantaran ulah Farah. Ternyata kebiasaan Farah dari dulu belum berubah, kebiasaan yang selalu mengukir tawa diantara kami. Bude Dewi lalu kembali menlanjutkan penjelasannya;

“Belimbing itu punya bentuk yang khas seperti bintang. Makanya  disebut juga Star Fruit

Pohonnya punya cabang yang banyak dan bisa tumbuh sampai 5 m. Tidak seperti tanaman tropis lainnya, pohon belimbing tidak perlu banyak sinar matahari. Penyebarannya juga sangat luas, karena benihnya disebarkan oleh lebah. Dan karena banyak mengandung air, belimbing kadang dibuat wine buah. Malahan di Myanmar, belimbing dipakai  sebagai bahan pembuat acar teh.

Oya belimbing wuluh itu satu dari jenis belimbing juga,  seringnya dipakai buat bumbu masakan. Tapi mungkin karena rasanya yang terlalu asam jadi tidak banyak orang yang suka memakanya.”

“Bude kenapa mbah kakung tidak boleh makan belimbing toh, padahal dulunya mbah kakung suka sekali buah ini?” Tanya Edo.

“Pertanyaan bagus Do, tidak boleh karena belimbing  mengandung asam oxalat dan itu sangat membahayakan untuk orang yang punya penyakit ginjal seperti mbah kakung.”

“Oo, begitu yach. Ngerti aku sekarang,” ujar Edo.

“Dan kalian perlu tahu kalau jus belimbing itu lebih berbahaya karena konsentrasi asamnya yang lebih tinggi, “ tutupnya sembari tersenyum.

“Hemmm, pantas saja Ayah Fadli rela meninggalkan karirnya di Jakarta  demi mendapatkan cinta bude Dewi. Lawong bude Dewi tidak hanya cantik tapi pintar dan keibuan banget. Pokoknya bude Dewi itu wanita yang memang patut diperjuangkan,” ujarku dalam hati.

Menghabiskan waktu di kebun hingga sore, kamipun kembali ke kediaman Fadli. Semalaman kami lewati dengan mengobrol, bercanda dan saling berbagi cerita. Sesekali aku dan Edo saling menatap, saling melempar senyuman yang sepertinya tidak lazim. Aku tidak bisa menutupi perasaanku padanya dulu. Sebenarnya dulu diam-diam aku sempat jatuh hati pada Edo. Tapi sekarang tidak mungkin memilihnya lagi karena aku tahu kami tidak mungkin menyakiti orang-orang disamping kami. Aku juga takkan membawa pulang perasaanku dan akan masih menyimpannya di kebun belimbing bude Dewi, mungkin selamanya.

Waktu begitu cepat menjemput mentari. Waktunya aku harus pulang kembali ke aktifitasku di Jakarta dan entah kapan aku bisa kembali berkumpul bersama Genk Belimbing lagi.

Mereka berempat mengantarku sampai stasiun. Bude Dewi membawakanku sekeranjang belimbing-belimbing segar sebagai oleh-oleh. Ini moment yang paling membuatku haru dan tidak hanya aku yang tidak dapat menahan tangis, Farah dan Lulu juga. Bahkan tangis mereka lebih keras dariku. Hampir semua orang di stasiun melihat kami, mereka pasti bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada kami.

Sebenarnya aku masih tidak rela meninggalkan mereka, tapi sayangnya aku tak punya pilihan. Satu persatu mereka memberi aku pelukan, tapi aku enggan melepas pelukan Edo. Entahlah, lagi-lagi hatiku berdebar-debar. Aku tidak mengerti apa yang sedang aku rasakan hanya saja nyaman sekali dipeluknya.

Perpisahan ini diakhiri dengan pelukan kami berlima. Kami saling menatap satu sama lain dan saling mendo’akan.

Aku masuk ke dalam kereta dan duduk di bangkuku. Melihat mereka dari balik jendela membuatku tak bisa membendung airmataku. Belum selesai aku merasa haru tiba-tiba Fadli mengacungkan sebuah belimbing ditangannya  dan kemudian menepukan di dadanya. Aku tak bisa menahan senyumku dan aku mengerti benar maksudnya. Genk Belimbing akan selalu di hati kami masing-masing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s