Biarku Tatap Cintamu Jauh

Posted: September 24, 2011 in Gb3n story 2

“Tinggalkan saja jika kau sudah tidak merasa nyaman!!”

Masih teringat jelas perkataannya sendiri jauh sebelum Bella berada diposisi ini. 5 tahun bukan waktu yang singkat untuk saling memahami satu sama lain tapi masih selalu kurang buatnya. Leo seperti pelangi yang mempunyai warna yang apik bagi Bella. Ia menjadikan harinya merah, kuning, hijau, dan jingga. Tak pernah ada sesal dihatinya telah memilih Leo sebagai pendamping hidupnya. Tapi hari tak selalu seindah pelangi. Sebelumnya Bella pikir hubungan meraka baik-baik saja meski ia dapat merasakan sikap Leo yang mulai berubah dan iapun masih berpikir semua akan baik-baik saja dengan Bella membiarkan wanita lain masuk kekehidupan mereka. Mungkinkah ia seorang yang naif ? Karena ia selalu percaya bahwa Leo akan dapat bijak kepada mereka, dirinya dan Laila.

5 tahun berlalu begitu cepat, tak menyisakan pengharapannya untuk memiliki Leo seutuhnya. Meski Bella dan Laila tahu posisi mereka masing-masing dan saling menghargai sebisa mungkin tapi ia terlalu lelah diantara keduanya, Ia lelah secara emosional. Tapi Bella tak pernah berujung pada keputusannya, selalu luluh ketika ia pandangi wajah tidur putri mereka Alisa. Itukah satu-satunya alasan yang menghentikan langkahnya hingga detik ini ataukah Bella hanya tak berani mengakui kekalahannya.

Besok adalah ulang tahun ke-10 atas pernikahan mereka, separuh dari usia pernikahan Leo dengan Laila. Bella tak lagi menyiapkan sebuah makan malam yang romantis, kejutan kecil atau semacamnya. Ia juga tak lagi mengharapkan hadiah kecil atau seikat mawar merah kesukaanya dari Leo. Malam ini ia habiskan dengan memandangi perasaanya tempo dulu yang bebas. Ia ingin begitu, lagi.

Mencoba menyembunyikan perasaanya yang mengharu biru dari putri mereka Alisa, ia menikmati kesendirianya sendiri di teras belakang. Ditemani secangkir kopi  ia mengbahiskan separuh malam, sendiri.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Leo .

“Tidak ada, aku hanya belum bisa tidur saja. Kau?”

“Aku haus dan melihatmu disini.” Kata Leo sembari memegang segelas air ditangannya.

Perlahan Leo melangkahkan kakinya dan duduk tepat disebelah Bella.

“Ada apa sebenarnya? ujar Leo untuk memastikan keadaan Bella.

Bella hanya menggelengkan kepalanya.

“Baiklah. Kau terlihat sangat lelah, istirahatlah.”

Leo beranjak dari duduknya, dan mulai melangkah pergi.

Bella segera meraih tangannya, bangkit dan memeluknya seerat mungkin. ia tak dapat menahan airmatanya di pelukan Leo.

“Apa kau bisa melepaskanku?” tanyanya.

“Apa maksudmu?”

“Aku sangat mencintaimu tapi juga sangat terluka berada disisimu. Dulu aku bisa berpura-pura tidak tahu kalau kau sebenarnya membagi cintamu buatku. Tapi dengan kehadiran Laila. Aku tak bisa mengelak lagi, semua terlihat jelas dimataku. Cintamu buatnya jauh melebihi cintamu buatku, bukan? Biarkan aku pergi dari kehidupan kalian.” Tegasnya

Leo melepaskan pelukanya dan mengajak Bella kembali duduk. Ia meraih kepala Bella dan sengaja menyandarkan dibahunya.

“Maaf tidak bisa membuatmu bahagia disisiku. Aku tidak pernah bermaksud melukai perasaanmu. Maaf aku tidak tahu begitu sulit kau karenaku. Tapi bisakah kau bertahan demi Alisa, biar aku coba lebih bijak setelah ini.”

“Ini adalah titik dimana aku terlalu lelah dengan semua ini, aku rasa tak mungkin lagi buatku bertahan. Karena ini justru akan tidak baik buat kita semua dan keputusan ini bukan tanpa pertimbangan. Aku sudah memikirkannya dengan baik, aku sudah melalui proses panjang hingga sampai pada keputusanku. Maaf, biar aku sudahi saja. Kau boleh merawat Alisa.”

Leo mengambil nafas panjang, ia kemudian terdiam. Matanya mengarah pada Bella, metatap pembulatan dari keputusannya. Ia lalu meraih tangan Bella yang hampir membeku karena dingin udara malam. Hanya “Maaf” kata yang Bella dengar sebelum matanya terpejam. Malam ini ia merasa lelah tapi juga merasa sangat lega.

Keesokan harinya, Bella terbangun dengan melewatkan bunyi alarm yang selalu berdering pukul 5 pagi. Melewatkan sarapan pagi bersama Alisa dan juga Leo.

Kini dimeja makan hanya ada Bella dan Laila, tapi mereka tidak saling bicara. Bella menghabiskan makanan dipiringnya, makanan yang disediakan Laila sedari pagi.

“Jangan pergi Bell.” Ujar Laila, sontak mata Bella memandangnya.

“Hahh, rupanya Leo memberitahumu tentang niatku. Apakah dia yang memintamu memohon agar aku tidak pergi? Harusnya kau senang Leo pada akhirnya tidak akan membagi cintanya buatku dan aku rasa kau tidak perlu melakukan apapun untuk mencegahku. Karena jika itu kau lalukan dan aku berubah pikiran, kau yang akan menyesal,” kata Bella datar.

“Tidak, jika ada yang harus pergi dari rumah ini akulah orangnya. Maaf aku telah dengan sengaja masuk ke kehidupan kalian.”

“Semua orang boleh beranggapan begitu, tapi tidak dengan aku, kau dan Leo. Kita semua tahu akulah yang masuk ke kehidupan kalian. Maaf atas perjodohan orang tua kami yang mengharuskan Leo memilihku. Maaf telah memisahkan kalian sebelumnya. Maaf jika aku mencintai lelaki yang juga kau cintai.”

“Jangan begitu, aku tak keberatan berbagi cinta denganmu. Kau istri Leo yang sah, kau berhak atas dia. Dia juga menyayangimu Bell, aku tahu itu.”

“Tapi tidak sebanyak untukmu, kau juga tahu itu?”

“Kenapa kau begitu keras kepala, kau mengenal Leo lebih dari aku. Kau memahaminya dengan sangat baik. Kau tidak hanya istri baginya tapi juga sahabat terbaiknya.”

“Kau benar Laila, tempatku  lebih tepat sebagai sahabatnya. Kau tahu, aku jauh lebih nyaman sebagai sahabatnya ketimbang menjadi istri buatnya. Bujuk Leo untuk melepaskan aku.”

“Bagaimana dengan Alisa?” tanyanya

“Aku sudah membicarakannya dengan Leo. Alisa sudah cukup besar untuk memilih dengan siapa dia akan tinggal. Aku tidak akan khawatir jika Alisa tinggal bersama kalian, karena aku tahu kau juga menyayangi Alisa.”

Bella bangkit dan menepuk pundak Laila, melangkah dengan puing-puing hatinya yang hanya tersanggah seutas pengharapan bahwa ia tak harus menata, menata, dan menata lagi puing-puing itu yang selalu jatuh karena ia terlalu rapuh.

Selang waktu berlalu, Bella akhirnya bebas seperti yang ia inginkan.

Jauh di pertiga malam, Laila dan Leo sepertinya enggan memejamkan kedua mata mereka. Mereka asyik membicarakan perasaan mereka masing-masing.

“Kenapa kau tidak mencegahnya?” Tanya Laila.

“Entah kenapa akupun tak mampu menghentikannya, aku masih tak mengerti tentang perasaanku terhadapnya. Yang ada dipikiranku hanya tak mau membuatnya terluka lagi karenaku. Aku ingin memberinya tempat dimana kutahu dia akan lebih merasa nyaman, bisa leluasa mencintaiku diam-diam tanpa harus terluka disampingku. Sebagai sahabatku.” Jawab Leo sembari tersenyum dengan tidak lebar.

“Kau tahu Leo, aku pikir sebelumnya akulah satu-satunya wanita dihatimu. Tapi aku salah tentang itu. Tidak sadarkah kau? Kau peduli padanya, karena Bella sudah ada dihatimu tidak hanya sebagai sahabat tapi juga sebagai orang yang kau kasihi.”

“Yahh, mungkin kau benar.”

Percakapan mereka berhenti begitu saja. Kokok suara ayam mulai menjemput mentari.

Dua musim berlalu tanpa pelangi, disebuah minggu pagi yang hangat, Leo untuk pertama kali betemu kembali dengan Bella di sebuah pusat perbelanjaan. Keduanya memutuskan untuk bicara sebentar. Sambil menikmati secangkir kopi, mereka mulai saling menanyakan kabar.

“Harusnya aku melepaskanmu lebih awal, jadi kau tidak perlu terlalu lama terluka karenaku. Maaf harus membuatmu menangis dihadapanku, baru aku mengerti begitu kesulitan kau bersamaku.”

“Sudahlah, mungkin harus seperti ini baru bisa melihat tempat kita masing-masing. Tempat dimana kita tidak akan menyakiti satu sama lain. Aku masih akan menjadi sahabat baikmu. Kalau kau bersedia,” Ujar Bella dengan tersenyum.

“Tentu saja. Tidak akan ada yang menolak sahabat sepertimu apalagi aku.”

“Leo, terimakasih kau biarkan Alisa bersamaku.”

Leo menganggukan kepalanya.

Waktu berlalu begitu singkat, rasanya tak cukup bagi mereka untuk berbincang lebih lama. Bella harus pergi menjemput Alisa dari sekolah. Sementara Leo harus kembali ke kantornya.

Keduanya pergi dengan tanpa beban di hati mereka. Leluasa mencintai orang yang mereka cintai dengan cara mereka masing-masing.

Kadang ada kalanya kita lebih bahagia dengan tidak bersama orang yang kita cintai ketimbang bersamanya. Kita hanya perlu memutuskan secara tegas untuk tidak terluka lebih lama, memutuskan untuk pergi tanpa ada keraguan. Percaya kepada Tuhan bahwa akan ada tempat yang lebih indah buat kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s