Mentari Diujung Senja

Posted: December 21, 2011 in Gb3n story 2

“Jika karena alasan takdir Tuhan. Aku mundur dari rencana kita sekaligus dari kehidupanmu, bagaimana?”

Ini bukan kali pertama ia menanyakan hal ini padaku, dan aku tak pernah menyiapkan jawaban untuk itu. Pertanyaannya kadang membuatku berpikir kalau ada seseorang ditengah-tengah kami dan ia berusaha untuk pergi dariku. Tapi mestinya aku tak pernah meragukannya sedikitpun karena aku tahu dia wanita yang setia terhadap pasangannya.

Kali ini aku balik bertanya untuk apa ia tanyakan itu, dan jawaban seperti apa yang ia inginkan dariku sebenarnya. Ia hanya tersenyum dan berkata berkata dengan lembut;

“Aku tak butuh jawabanmu, dari pertanyaan itu aku hanya ingin memastikan kau akan baik-baik saja dan akan terus melanjutkan hidupmu semisal tanpa aku. Kau akan dengan mudah bangkit karena banyaknya orang-orang yang menyayangimu disekitarmu.”

“Kau tahu, pertanyaanmu ini membuat aku takut. Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan?”

“Tidak,” jawabnya singkat.

Malam itu kami bercakap cukup lama melalui telepon, aku merasa sangat dekat dengan rencana kami, rencana baik kami 1 tahun mendatang. Rasanya sudah 85% kami sudah membahas semua tentang hal-hal yang berkaitan dengan rencana kami. Untuk sementara pekerjaan kami masing-masing mengharuskan ada jarak diantara kami selama ini. Hanya sesekali kami dapat saling bertatap muka. Tapi itu bukan soal untuk kami karena kami percaya satu sama lain.

Seminggu setelah percakapan panjang itu, tepatnya 03 November. Hari itu adalah 3 tahun usia hubungan kami tapi tidak seperti tahun-tahun yang lalu dimana aku menerima pesan yang berisi do’a dan sebuah pengharapan untuk kami berdua darinya. Hari itu hari begitu lengang tanpa telepon atau pesan singkat darinya. Aku selalu gagal menghubunginya dan aku mulai risau meski berusaha untuk menghilangkan prasangka buruk yang berkecamuk di benakku. Pemikirin bahwa ini bagian kejutan kecil yang ia buat adalah satu-satunya pemekiran positip yang bisa melegakan kegalauanku.

Waktu menunjukan pukul 5 sore, aku berkemas dan bermaksud meninggalkan kantor.  Tiba-tiba ponselku bordering. “My dear Mentari” panggilan dari Mentariku. Banyak kata yang ingin kuucap saat kuangkat teleponnya, aku ingin memarahinya karena telah membuatku sangat khawatir seharian ini. Aku juga ingin bilang bahwa aku sangat merindukannya dan sangat menyayanginya.

“Hallo, Assalamualaikum..”

Itu bukan suara Mentariku, lalu siapa?

“Waalaikumsalam.”

“Ini Tante Ida, Gi.”

“Ya, kenapa tante?”

“Bisa kamu datang ke Yogya secepatnya?”

“Ada apa dengan Mentari, tante?”

“Nanti tante jelaskan disini, bisa kamu berangkat malam ini juga?”

“Tante, saya mohon. Ada apa dengan Mentari?”

Aku dengar tante Ida menghela nafas panjang sebelum pada akhirnya memberitahuku tentang kabar itu, kabar itu membuat sekujur tubuhku kaku. Tante ida bilang;

“Yang tabah Gi, Tuhan berkenan menjemput Mentari lebih awal. Siang tadi pukul 03.15 Mentari menghembuskan nafas terakhirnya. Ia terkena serangan jantung.”

Aku duduk kembali ke kursi kerjaku, airmata melumer dipipiku. Kabar itu sangat mencengangkan bagiku, membuat duniaku seakan berhenti berputar. Aku segera mengabarkan kepada keluargaku dan meminta ibuku menemaniku ke sana. Karena aku tak sanggup sendiri menemuinya dalam keadaan ini.

Malam itu juga aku, Ibu dan kakak perempuanku terbang ke Yogyakarta. Sesampainya di kediaman Mentari kami disambut oleh wajah-wajah penuh haru. Semua mata tertuju padaku, seakan akulah pemilik kedukaan itu. Setiap orang mengelus rambutku, menepuk pundakku, dan menatapku penuh rasa kasihan. Aku semakin jatuh, semakin merasa begitu, merasa akulah sejatinya pemilik duka itu.

Kakiku gemetar ketika bersimpuh dihadapannya, raga yang diselimuti secarik kain jarik dengan corak kesukaannya. Wajahnya tak lagi terlihat transparan ketika selembar selendang tipis yang menutupi bagian wajahnya dibuka oleh tangan ibunya. Dia benar-benar Mentariku.

Mentariku telah diujung senjanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s