Dilarang Jatuh Cinta

Posted: January 4, 2012 in Gb3n story 1

Reno mulai terlihat bosan menunggu, sementara Nara bergegas berlari menghampirinya setelah terlambat hampir 1 jam.

“Hufhh..Maaf yach Ren aku telat jemputnya. Soalnya tadi ujan terus jalanan macet banget,” Ujar Nara terengah-engah.

“Iya, gak apa-apa Ra. Terus kenapa kamu basah kuyup gini,” tanya Reno.

“Ya kena hujanlah, masa kena asep. hehee..” jawab Nara lalu menyeringai.

“Iya, tadi aku kesini kan naik motor terus lupa ga bawa jas hujan jadinya beginilah,” tambahnya.

“Ya udah mendingan kita pulang sekarang , dan biar aku aja yang bawa motornya. Ini pakai  jaket ku biar kamu gak kedinginan,” ujar Reno sambil menyerahkan jaketnya.

“Yups, makasih Ren.”

Sesampainya di rumah, Nara langsung menunjukan dimana kamar Reno Setelah mereka membersihkan diri. Nara mengajak Rano untuk makan.

“Ren, ayo makan pasti kamu udah laper banget kan. Oya mulai sekarang kamu harus membiasakan diri untuk makan masakanku setiap hari tapi kalau kamu gak suka kamu bisa masak sendiri atau cari makan diluar,” Ujar Nara singkat padat dan jelas.

“Ternyata cewek tomboy kayak kamu bisa masak juga toh.”

“Ya mau ga mau, setelah mama meninggal aku terpaksa jadi ibu rumah tangga dadakan dech. Yaudah ayo makan, kebanyakan ngobrol nich he..he…”

Setelah makan Nara dan Renoa nonton tv sambil mengobrol hingga larut malam. Tak lama kemudian papa Nara pulang dari kantornya.

“Hi.. Reno kamu sudah datang rupanya, bagaimana kabarmu juga keluargamu di Semarang?” sapa Dwiki.

“Baik Om,, kok hari minggu ga libur sich Om?” tanya Reno.

“Ya, papa kan pengacara yang lagi naik daun nich sekarang, jadi ya mana ada punya hari libur” timpah Nara.

“Kamu bisa aja Nara, Hari ini om ketemu client di bandung Ram. Gimana kamu udah siap magang di kantor Om selama 2 bulan kedepan?” tanya Dwiki.

“Siap boss!!” jawab Reno.

“Berhubung sudah malam dan kamu pasti masih lelah jadi ngobrol-ngobrolnya di lanjutkan besok saja. Sekarang ayo kita tidur.”
Keesokan harinya, setelah sarapan Nara buru-buru berangkat kesekolah karena ada test.

“Dahh semua aku duluan yach..!!!”
“Nara ga bareng Om?” tanya Reno.

“Nara tidak pernah mau, katanya malu takut dikira dianter om-om. Berhubung Om kan masih muda he..he..”

“Sebenarnya Nara lebih suka naik motor bersama teman-temannya lagian sekolahnya kan tidak begitu jauh.

“Oo begitu ya Om,” sahut Reno.

Lalu mereka berangkat ke kantor.

Semenjak kehadiran Reno, Nara jadi betah di rumah dan hari-harinya lebih menyenangkan karena ia jadi punya teman ngobrol, teman jalan, juga teman curhat. Ia juga tidak harus sendirian dirumah kalau papanya keluar kota.

Hampir dua bulan terlewat begitu saja. Nara  kini telah memiliki kekasih. Nicko namanya, teman sekolahnya. Sabtu malam Nara  mengajak Nicko kerumah dan memperkenalkannya pada Reno tapi sepertinya ia tidak begitu menyukai Nicko. Itu sebabnya Reno bersikap dingin pada Nicko dan hal itu membuat Nara marah dan hubungan mereka merenggang.

Diam-diam Reno  merasa cemburu pada Nicko, Ia tidak suka Nicko merebut perhatian Nara darinya. Memang rasanya sedikit aneh jika Rama merasa demikian, mungkinkah ia telah jatuh cinta pada Nara sepupunya sendiri dan belum menyadarinya.

Hingga suatu malam, Reno begitu terpesona melihat Nara yang begitu anggun mengenakan gaun malam berwarna hitam dengan sebuah pita merah besar di salah satu pundaknya. Itu kali pertama ia melihat Nara mengenakan sebuah gaun karena selama ini Nara selalu dengan ketomboyannya dalam kesehariannya.
“Ren aku mau pergi ke pesta ulang tahun temen dan mungkin aku pulang agak malam,” Nara berpamitan.

“Perlu ku antar?” tanya Reno.

“Tidak usah. Nicko akan menjemputku,” jawabnya.

“Ya sudah hati-hati jangan pulang terlalu malam,” pesan Reno.

“Iya.”

Beberapa saat setelah Nara berangkat hujan turun sangat deras, Reno memutuskan untuk tidur. Belum lama pulas  ia terbangun oleh suara ketukan pintu.

“Siapa ya hujan-hujan begini. Tidak mungkin Nara pulang secepat ini,” ujar Reno penasaran.

Dibukanya pintu dengan perlahan nampak wajah kesal Nara didepanya.

Tubuh Nara basah kuyup dan menggigil, ia langsung saja memeluk Reno yang baru saja membukakannya pintu.

“Ada apa Ra??” tanya Reno.

Sambil menangis Nara menceritakan bahwa Nicko menduakannya dan mereka kini putus.

“Sudah Ra ganti bajumu dulu nanti aku masuk angin kelamaan kamu peluk he,,he..,” Reno mencoba membuat Nara tersenyum.

“Baiklah, terima kasih.”
Keesokan harinya Nara terkena demam tinggi dan mengharuskan Reno untuk menjaganya. Selama menjaga Nara, tak bisa dipungkiri kedekatan mereka makin membuat Reno galau dengan perasaannya terhadap Nara.
Hingga suatu malam dimana Nara membuat kejutan kecil di hari ulang tahun Reno, ia mempersiapkan sebuah makan malam yg sederhana dirumahnya.
“Tak seperti biasanya lampu ruang tamu nampak gelap, tapi mengapa pintu tidak dikunci?” ujar Reno sedikit cemas.

“Happy Birthday..!! ” seru Nara ketika Reno membuka pintu.

“Ya ampun, Nara apa-apa’an ini,” tanya Reno terkejut.

“Happy Birthday yach Ren, sorry ga bisa kasih apa-apa tapi tenang aku udah masakin nasi goreng kesukaan kamu. Ayo cepetan kita makan, aku udah laper nich abis kamu lama banget pulangnya,” ajak Nara sambil menarik tangan Reno.

“Iya, iya,,” kata Reno.
Setelah makan mereka mengobrol di teras luar.

“Makasih yach Ra, buat kejutannya dan buat nasi gorengnya juga, bikin aku kenyang he,,he,, ” gurau Reno.

“Iya sama-sama, makasih juga kamu udah ngerawat dan ngejagain aku waktu sakit,” kata Nara sembari tersenyum.
“Ren, sebenernya ada yang pengen aku omongin,” kata Nara serius.
“Yahh, kenapa Ra?” tanya Reno.

“Emm,,sebenernya kamu ngerasa ga sich kalau kedekatan kita selama ini merubah perasaan kita masing-masing. Bukan lagi perasaan sayang antara sepupu tapi perasaan itu sekarang lebih ke cinta. Seandainya aku suka sama kamu gimana Ren?” tanya Nara. Emm,, sesaat Reno terdiam. Keduanya saling memandang. Kemudian Nara tersenyum dan lalu tertawa ha..ha..

“Haloo,, Reno..!!, aku Cuma bercanda kalee,, serius banget, wahh jangan-jangan kamu. Curiga nich aku he,,he,,”

“Yaudah aku ambil minum dulu yach.”

Ketika Nara mulai beranjak Reno meraih tangannya dan berkata;

“Seandainya perasaan itu benar-benar ada dan akupun suka kekamu gimana Ra?” Reno balik bertanya.

“Hahh,, balik ngerjain nich, udah dech aku ambil minum dulu OK!” Nara berusaha mengelak.

“Tunggu Ra!!” kemudian Reno memeluknya.

“Maaf Ra, aku ga bisa bohongin perasaanku lagi. “Aku sayang kamu”. Aku tau ini ga boleh, aku juga ga tau kapan perasaan ini mulai ada.”

Kemudian Reno meninggalkan Nara.

“Ren, aku juga sayang kamu..!!” teriak Nara. Namun Reno tetap saja pergi menuju kamarnya. Semalaman seduanya gusar dengan perasaan mereka. Kecanggungan nampak pekat di wajah keduanya keesokan paginya, mereka seperti orang asing yang baru saja mengenal dan itu berlanjut hingga Reno selesai magang di kantor papa Nara dan kembali ke Yogya.
5 tahun kemudian, mereka dipertemukan kembali di pesta pernikahan kakak Reno. Meski sudah tidak nampak canggung lagi, terlihat dimata mereka bahwa perasaan itu masih bersisa.
Sesekali Reno memperhatikan Nara dari jauh. Sementara Nara terlihat salah tingkah bila Reno di dekatnya.
Malam sebelum Nara pulang, Reno dan Nara keluar ke teras depan bersamaan.

“Ra, belum tidur?” tanya Reno.

“Belum Ren, kamu sendiri?” Nara balik bertanya.

Dan pertanyaan- pertanyaan kecil terus bergulir diantara keduanya. Tapi nampak benar mereka ingin mengutarakan sesuatu tentang perasaan diantara mereka.
Akhirnya Reno membuka pembicaraan itu.

“Ra, makasih buat semua waktu aku di Jakarta, maaf soal itu,” kata Reno.

“Oo soal itu, lupain aja Ren, anggap aja ga pernah ada” ujar Nara sedikit dingin.

“Ra, jujur memang perasaan itu udah bener-bener ga ada di hati kamu?” tanya Reno.

“Kalaupun belum, kita pura-pura sajalah Ren. Toh meskipun kita punya keberanian buat perjuangin itu, kita ga akan pernah bisa bareng kan. Mungkin memang kita yang terlalu naïf membiarkan perasaan itu ada dan terlalu jujur untuk mengungkapkannya,” Nara mencoba menyikapi dengan bijak.

“Yap,, kamu benar sepupuku yang tomboy, mulai sekarang kita janji ga akan bahas hal ini lagi dan biarkan waktu menyembunyikannya. Semoga kita akan menemukan pasangan yang terbaik dalam hidup kita” ujar Reno.

“Baiklah sepupuku yang baik” kata Nara.
Hingga larut mereka mengobrol dan bercanda gurau seakan malam meniadakan perasaan cinta dihati mereka.
Keesokan paginya Nara dan Papanya sudah harus meninggalkan Semarang, mereka kembali ke Jakarta. Sejak saat itu cinta Nara dan Reno tersimpan rapi dihati keduanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s