Predikat “IBU”

Posted: January 14, 2012 in Gb3n story 3

Jum’at malam hatiku benar-benar dibuat ngiris oleh tangisan bocah perempuan sekitar 3-4tahunan. Ironisnya ibu bocah  itu ada disebelahnya dan bukan menenangkan  anaknya, ia malah membuat airmata bocah itu semakin mengucur deras. Bukan pelukan yang bocah itu dapatkan melainkan pukulan super keras di bagian baha si bocah. Disebelah bocah itu ada kakak laki-lakinya (14-15tahunan) yang juga jadi korban amuk ibunya. Sedikit berbeda dengan sang adik, ia hanya dihujani kata-kata kasar dan tidak sopan oleh ibunya. Entah seberapa malunya anak laki-laki itu yang kena semprotan pedas ibunya di muka umum. Ibu itu sangat mirip dengan preman yang sedang mengamuk, sungguh menyeramkan…

Lalu apakah masih pantas dia menyandang predikat IBU?

Jika Predikat ibu hanya diukur oleh karena seorang wanita telah melahirkan seorang anak, akan banyak sekali seorang anak yang tidak merasakan peran ibunya. Pasalnya selain tindakan para ibu yang anarkis, juga banyak kasus yang sudah menjadi rahasia umum dimana tidak sedikit para ibu khususnya ibu muda yang tidak siap menjadi ibu karena hamil sebelum menikah. Sebagian dari mereka meninggalkan anak-anak mereka di panti asuhan, di depan rumah orang lain, di pinggiran atau sudut jalan bahkan menggugurkannya sebelum lahir.

Seorang ibu harusnya punya welas asih terhadap anaknya. Sudah menjadi kewajiban seorang ibu mengasihi, merawat, menjaga, dan membimbing putra putri mereka. Menjadi seorang ibu bukan hanya melahirkan tapi juga melakukan segala tanggungjawabnya sebagai ibu yang baik. Buat para ibu coba renungkan kembali sudah pantaskah anda menyandang predikat IBU?

Tindakan yang kurang atau bahkan tidak baik seorang ibu terhadap anaknya tidak terlepas dari faktor lingkungannya sendiri. Misalnya; hubungan yang tidak baik dengan suami, faktor ekonomi yang menghimpit, tekanan kerja dll. Namun adapun alasan-alasan tersebut tidak membenarkan mereka memperlakukan anak-anak mereka dengan kasar atau buruk. Mereka harus sadar betul bahwa anak-anak mereka punya hak mendapatkan figur ibu yang baik dari ibu mereka. Mereka butuh kasih sayang, penghormatan sebagai anak, dan peran ibunya dalam kesehariannya. Jangan sampai mereka kecewa dan membencimu sebagai ibunya.

“IBU” bukan hanya sekedar predikat.

 

 

Advertisements
Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s