Pilihan

Posted: January 26, 2012 in Gb3n story 1

Malam semakin larut, namun Teo masih di meja kerjanya. Sementara Kinar masih dengan segala kebimbangannya, ia mondar-mandir di depan pintu ruang kerja suaminya. Berulang kali ia menurunkan tangannya untuk tidak mengetuk pintu, setelah seluruh tekad dan keberaniannya beradu ia akhirnya masuk ke ruang kerja suaminya.

“Bisa kita bicara sebentar Mas?” tanya Kinar

“Duduklah, ada apa? kenapa kau belum tidur?”

Kinar menghela nafas panjang sebelum ia mulai bicara, sementara Teo memperhatikan raut wajah istrinya yang nampak berbeda malam itu.

“Mas, aku minta kau menceraikanku.? ujar Kinar to the point.

“Apa!! Cerai? Kenapa Nar?” Teo tersetak oleh perkataan yang baru saja Kinar lontarkan.

Kinar Mengangguk penuh keyakinan.

“Aku terlalu lelah dengan semua ini, aku ingin bebas dan hidup lebih baik.”

“Apa maksudmu, aku tidak mengerti. Apa kau punya simpanan? kau ingin pergi dengan lelaki itu, siapa dia?”

Kinar bangun dari bangkunya dan menatap mata lelaki yang menikahinya selama 6tahun lebih.

“Aku tidak percaya kau mengatakan itu, kita berpacaran 3 tahun dan aku merelakan perjodohanmu dengan Lisa. Untuk menjadi istrimu aku menunggu 2tahun. Dan hari ini kau masih meragukan kesetiaanku. Hahh.. Aku harusnya tidak menunggumu waktu itu.”

“Maafkan aku Kinar. Lalu apa alasanmu?”

“Mungkin kau tidak pernah tau, seperti apa ibu dan adikmu memperlakukanku. Mereka menghinaku sesuka mereka, tidak pernah menganggapku sebagai istrimu. Sejak awalpun mereka tidak pernah menyukaiku. Lalu kau tahu benar bagaimana keluarga kita tidak akur, aku lelah dengan pertikaian mereka, aku lelah berada ditengah-tengah keduanya Mas.¬† Dan Lisa begitu membuatku cemburu, kau memperlakukannya begitu istimewa. Apa karena dia menyelamatkan nyawa ibumu atau memang karena kau juga mencintainya? Oh ya aku lupa, Lisa juga istrimu. Dengan alasan itu semua, untuk apa aku terus disini????” Ujar Kinar.

Airmata meluap dari matanya, Teo menghampiri Kinar dan mencoba memeluk istri keduanya yang juga cinta pertamanya itu.

“Aku benar-benar minta maaf, karena aku telah sangat melukaimu. Maafkan aku Kinar, aku mohon jangan pergi.” pinta Teo

“Lepaskan aku,” ujar Kinar sembari menatap wajah lelaki yang begitu ia cintai.

“Aku tidak bisa meneruskan ini, aku sudah sangat lelah, lelah, dan lelah.”

Sebulan kemudian Kinar resmi bercerai dari Teo. Ia memutuskan meneruskan S2nya di Yogyakarta. Tinggal disekitar pantai, memhabiskan waktu luangnya dengan melukis dan mengajar anak-anak yang kurang mampu disekitar lingkungan membuatnya melupakan Teo, keluarganya dan kehidupannya yang buruk. Menjalani hidup dengan caranya sendiri. Bebas meski tanpa orang yang paling dicintainya.

waktu seperti roket yang meluncur sangat cepat. Seperti bom waktu, yang pada waktunya akan meledak. Ada kalanya kita harus melepaskan apa yang telah kita perjuangkan karena dengan memilikinya tidak membuat kita hidup dengan bahagia. Mungkin benar jika sebagian orang bilang bahwa akan lebih sulit mempertahankan ketimbang berjuang mendapatkannya.

Kebahagian adalah masalah keputusan, dan kita berhak menentukan pilihan yang lebih baik untuk hidup kita.

Advertisements
Comments
  1. indrapratama says:

    berarti back to ‘ ilmu ikhlas harusnya….hehehehe’

  2. Nining says:

    Yups, Selain ilmu ikhlas juga harus buka kacamata kudanya. Biar ga hanya fokus di satuk pilihan aja. Karena di kanan – kiri kita masih ada pilihan yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s