Money Love

Posted: February 22, 2012 in Gb3n story 2

“Bagaimana jika seorang Ibu tiri dan anak tiri terjebak pada situasi berbahaya yang mana mengharuskan si anak tiri harus berusaha keras melindungi diri sendiri dan ibu tirinya yang paling dibencinya untuk bertahan hidup. Bersembunyi dari kejaran para lintah darat karena ulah ayahnya membuat mereka mengasingkan diri ke sebuah tempat terpencil. Menjalani kehidupan baru yang berbanding terbalik dengan kehidupan mereka sebelumnya,  hidup dengan orang yang baru saja menjadi bagian dari hidup mereka masing-masing. Akankah cinta bersemi diantara keduanya?”

Dengan setelan jas hitam, Rangga melangkah pasti menuju meja dimana seorang lelaki paruhbaya melambaikan tangan padanya. Ia kemudian berdiri tepat di belakang wanita yang duduk tepat di depan kursi ayahnya.

“Kemari Rangga, duduk disamping ayah.”

Rangga hanya mengangguk, lalu menuju kursi disebelah ayahnya.

“Perkenalkan dia Meta, calon istri ayah.”

Meta dan Rangga saling memandang, keduanya sama-sama terkejut karena ini bukan kali pertama mereka bertemu. Mereka ternyata adalah seorang Dosen dan mahasiswa. Tapi sanyangnya hubungan mereka tidak terlalu baik lantaran sikap Rangga yang kerap sinis pada Meta di jam kuliahnya. Dimata Rangga Meta merupakan dosen yang galak dan selalu memberi banyak tugas. Ia juga pernah memberi nilai Rangga D, mungkin hal itu yang menyebabkan keduanya tidak pernah akur.

“Hallo, Ibu Meta. Senang bertemu anda disini. Wow ini adalah kabar baik anda akan menjadi bagian dari keluarga kami,” ujar Rangga sembari menyodorkan tangannya pada Meta.

Meta hanya melempar senyuman sembari menjabat tangan Rangga dengan erat.

Selama makan malam berlangsung, Meta dan Rangga sesekali mencuri pandang. Pasti dipikiran mereka muncul pertanyaan yang sama yaitu “Kenapa harus bocah itu?” “Kenapa harus wanita itu?”.

Meskipun Rangga dan Meta saling membenci, tapi mereka mencintai orang yang sama yaitu Aldo. Dan karena alasan itu mereka mulai belajar mengkesampingkan masalah pribadi mereka. Selang 2 bulan Meta resmi menjadi ibu tiri Rangga. Meskipun usia Aldo dan Meta diatas empat puluhan tetap saja mereka adalah sepasang pengantin baru yang kerap mengumbar kemesraan. Dan bagi Rangga itu pemandangan yang memuakan.

3 bulan kemudian Aldo tiba-tiba meminta izin untuk pergi ke Jerman karena urusan bisnisnya. Namun hanya setelah 5 hari dari kepergian Aldo, sekelompok penagih hutang menyambangi kediam mereka. Para penagih hutang itu adalah suruhan Lintah Darat dimana tanpa sepengetahuan Rangga dan Meta Aldo meminjam uang dengan jumlah yang sangat besar dengan jaminan Perusahaannya. Namun karena ternyata perusahaan Aldo bangkrut dan diam-diam ia telah menjualnya dan melarikan diri sendiri. Meta dan Rangga kemudian harus menjual semua milik mereka termasuk rumah dan mobil untuk membayar hutang Aldo, meskipun itu masih belum cukup. Sampai mereka pindah ke kontrakan kecilpun para Lintah Darat itu masih selalu mencari mereka untuk memberitahu dimana Aldo berada. Sayangnya Aldo tidak pernah memberitahu kemana tepatnya ia akan pergi. Tidak mendapat informasi yang mereka inginkan para Lintah darat itu memukuli Rangga dan Meta. Merasa terancam keselamatan mereka Rangga dan Meta memutuskan untuk pergi ke tempat yang jauh dimana para Lintah Darat itu tidak akan menemukan mereka. Tengah malam mereka berkemas, dan mengunakan kereta mereka melarikan diri.

Malam semakin pekat namun kedua mata Meta masih membelalak mengarah ke luar jendela. Linangan airmata dengan segera memenuhi matanya dan luber seketika membasahi pipinya yang lebam.

“Maafkan atas sesalahan ayahku, tidak seharusnya kau dalam situasi ini.”

Meta tetap memandang ke arah jendela, sesekali menyigap airmatanya yang mudah sekali jatuh.

Tiba-tiba Meta menjatuhkan kepalanya ke pundak Rangga. Ranggapun membiarkan Ibu tirinya menyandar padanya.

“Kenapa, kenapa Aldo tega berbuat ini pada kita. Kenapa ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Kenapa?” kata-kata itu terulang berulang kali dari mulut Meta hingga matanyapun terpejam.

“Maafkan aku. Aku tidak cukup kuat untuk bisa melindungmu bahkan untuk melindungi diriku sendiri,” gumam Rangga dalam hati.

Pagi menyisir jalanan yang mereka lalui, sinar mentari mulai menampakan elok dan betapa asrinya pemandangan desa-desa yang terlewati kereta yang akan mengantarkan mereka ketempat tujuan. Desa. Karang Bolong, Yups, itulah tujuan mereka.

Turun dari bis Meta dan Rangga, berjalan menelusuri jalan setapak yang berakhir pada sebuah rumah tua dekat pematang sawah yang hanya memiliki beberapa tetangga di sebelah kanan dan kirinya.

“Permisi, Permisi, Permisi..” seru mereka

Perlahan seorang tua dengan balutan kain jarik membukakan pintu.

“Meta, Mas Rangga. Ayo masuk, maaf rumah mbok kecil dan tidak sebagus rumah kalian di Jakarta.”

“Tidak apa-apa Mbok, maaf kalau kami merepotkan.”

“Mbok tinggal sendiri?” tanya Rangga

“Iya, mas Rangga. Anak-anak Mbok sudah menikah semua dan ikut suami mereka.”

“Kalian pasti lelah sekali, mandilah dulu. Mbok akan siapkan makanan.”

“Terima kasih Mbok.”

Hari-hari berlalu dengan lamban, Meta dan Rangga mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan baru mereka. Mbok Tumirah yang akrab dipanggil dengan Mbok Tum saja, meski sudah tidak bekerja lagi dengan keluarga mereka tapi tetap melayani mereka dengan baik. Pasalnya ia telah bekerja sejak Meta dibangku SD dan Almarhum orang tua Meta sangat baik padanya. Meta dan Mbok Tum sudah seperti seorang Ibu dan anak.

Karena alasan keuangan Meta dan Rangga diharuskan bekerja untuk menyambung hidup, mereka tidak mau menggantungkan beban hidup mereka pada Mbok Tum. Meta mulai mengajar di sekolah-sekolah terdekat sementara Rangga menjadi pelayan di sebuah rumah makan dekat pasar. Menyadari kehidupan mereka yang tak seperti dulu lagi, mereka berusaha mensyukuri apa yang mereka dapatkan meski tak seberapa, apapun itu.

Sawah-sawah dihadapan rumah Mbok Tum masih berkabut tapi para petani sudah menginjakan kaki mereka di pematang sawah mereka. Meta dan Rangga sengaja duduk di depan rumah sambil menunggu mentari menujukan wajah indah pemandangan di hadapan mereka. Yups, itulah yang paling mereka syukuri. Alam dan keramahan warga sekitar yang tidak mereka lihat di Jakarta.

Mbok Tum keluar dan menyuguhkan dua gelas teh hangat dan sepiring singkong rebus yang Rangga cabut di kebon belakang Mbok Tum kemarin.

“Ini musim panen, jadi para petani banyak yang turun ke sawah untuk memanen pagi mereka.”

“Mbok beruntung punya tempat dan lingkungan seindah disini,” Ujar Meta.

“Tentu saja, Apa kalian betah tinggal di gubuk si Mbok?

Keduanya mengangguk bebarengan.

Musim panen berlalu, Petani menunggu hujan mengguyur lahan mereka. Sawah-sawah kering mereka kini di penuhi anak-anak yang bermain layangan. Meta dan Ranggapun tertarik untuk bergabung dengan mereka. Mereka duduk di pinggir sawah sembari tetap memegangi tali layangan mereka, menjaganya agar tidak putus.

“Kau tahu Bu Meta, aku tidak pernah melakukan hal seasyik ini di masa kanak-kanakku. Ibu dan Ayah selalu memberiku buku pelajaran dan sejak itu hidup terasa membosankan. Makanya setelah di SMA dan jauh dari ayah aku seperti burung yang lepas dari sangkarnya.”

“Aku mengerti, karena itu setiap di kelas ibu kau sangat menyebalkan.”

“Maaf, soal itu.”

Meta tersenyum dilihatnya seorang Rangga yang sudah jauh berbeda, lebih dewasa.

“Apa kau menyesal telah mengenal ayahku juga aku?”

“Aku tak pernah menyesali apapun, terlebih tentang kalian berdua. Aku tidak hanya mengenal Aldo yang sekarang, jadi hari ini aku disini tak akan mengubah apapun dihatiku. Yahh aku tak harus bohong jika memang aku kecewa dengan sikapnya pada kita, bukan?”

“Aku yakin Aldo punya penjelasan untuk ini.”

Suatu hari Meta jatuh sakit sementara Mbok Tum sedang pergi ke tempat anak ragilnya yang baru melahirkan.

Karena sakitnya tidak kunjung sembuh Rangga menggendong Meta ke Puskemas dekat pasar, Rangga begitu takut kalau terjadi sesuatu pada Meta. Ternyata Meta terkena DBD, untungnya Rangga tidak terlambat membawanya ke Puskesmas.

Selama beberapa hari Rangga tidak berkerja untuk merawat Meta karena Mbok Tum belum pulang juga.

Atas perawatan Rangga kesehatan Meta cepat pulih.

“Bu Meta jangan sakit lagi, nanti siapa yang akan menjagaku.”

“Bocah baik, tenang saja aku punya 7 nyawa untuk melindungimu,” pungkasnya

“Terima kasih kau repot-repot menggendongku ke Puskesmas. Aku mungkin akan kehilangan 7 nyawaku itu jika kau tidak…”

“Sudah, jangan teruskan. Mulai sekarang aku akan menjadi pelindungmu,” Rangga memotong perkataan Meta.

Mata mereka beradu, ada perasaan istimewa di hati keduanya yang mana seperti kembang api di pesta tahun baru yang indah. Tanpa mereka sadari cinta rupanya mulai tumbuh dihati keduanya.

2 tahun seperti dua langkah yang begitu singkat, ketika Meta dan Rangga mulai melupakan kehidupan mereka sebelumnya. Aldo tiba-tiba datang dan menjemput mereka pulang. Selama ini Aldo berusaha keras membangun bisnisnya kembali di luar negeri dan setelah berhasil ia melunasi semua hutang-hutangnya. Hari itu Meta dan Rangga sebenarnya enggan kembali ke Jakarta, tapi setelah mendengar penjelasan Aldo dan permintaan maafnya. Mereka pada akhirnya ikut kembali dengan Aldo ke Jakarta.

Tinggal bersama Aldo lagi menjelaskan perasaan Meta pada Rangga yang ternyata adalah cinta, begitupun Rangga yang mulai tak bisa mengingkari kecemburuannya terhadap Aldo ayah kandungnya sendiri. Namun meski keduanya menyadari perasaan mereka masing-masing, mereka memutuskan menyimpannya sendiri.

Tapi waktu tidak bisa membohongi perasaan Meta yang terlanjur jatuh cinta pada Rangga, takut tidak bisa menahan perasaannya yang mungkin akan menghancurkan hubungan ayah dan anak serta hubungannya dengan keduanya. Meta memutuskan bercerai dari Aldo.

Setelah perpisahannya dengan Aldo, Meta melanjutkan karirnya tetap sebagai dosen. Sementara Rangga mulai belajar menekuni bisnis ayahnya.

Senin pagi yang cerah, Rangga sengaja mampir ke kampus dimana Meta mengajar. Duduk di salah satu bangku taman, Rangga begitu menikmati udara sepoi-sepoi disekelilingnya. Perlahan suara derap langkah sepatu kian jelas. Ditengoknya Meta mendekat ke arahnya, Senyumanpun tersungging dibibirnya.

“Hi, apa kabar Rangga?” Sapanya.

“Baik, senang melihatmu baik-baik saja.”

“Ada apa kau mencariku, ku dengar dari Aldo kau mulai sibuk mengurusi bisnisnya.”

“Yups, itu benar. Aku kesini hanya ingin menyerahkan ini buatmu,” ujar Rangga sembari memberikan sebuah buku karyanya sendiri.

“Apa ini, kau menulis buku?”

Rangga hanya mengangguk.

Sorot mata Meta  langsung tertuju pada sampul buku yang dipegangnya, di bagian bawah sampul itu bertulis; “Untuk wanita yang telah mengubah hidupku, wanita yang tak berani mengungkapkan perasaannya dan sayangnya aku tahu dia mencintaiku. Thanks a lot my women.”

Sontak setelah membaca tulisan itu, kedua mata Meta mengarah pada Rangga yang duduk tepat disampingnya.

“Kau tahu wanita yang ku maksud pada buku itu?” tanya Rangga

Meta tak bisa menjawab pertanyaan yang baru terlontar dari mulut Rangga, karena ia tahu benar yang dimaksud adalah dirinya.

“Emmm…, bagaimana apakah bukumu ini laris dipasaran?” Meta mengalihkan pembicaraan dengan salah tingkah.

“Menurutmu?”

“Tidak,” Meta menggeleng sembari tersenyum.

“Jahat sekali, harusnya kau bilang “Wahh,, pasti sangat laku.””

“Harusnya kau menyenangkan hatiku sedikit, kita kan sudah lama tidak bertemu.”

Keduanya lalu tertawa bersamaan.

“Terimakasih banyak Meta,” ucap Rangga lirih.

“Apa?” tanya Meta memperjelas ucapan Rangga.

“Terima kasih banyak,” ucapnya lagi sembari menatap mata Meta.

“Untuk apa.”

“Untuk semuanya, terima kasih kau telah menjagaku selama ini. Aku berharap kau akan menemukan kebahagiaanmu sendiri.”

Lagi-lagi Meta hanya membisu. Diraihnya kening Rangga dan membubuhinya dengan kecupan.

“Lain waktu, kau harus lebih kuat agar kau bisa melindungi orang-orang yang kau sayangi. Semoga kau selalu sukses dan jaga ayahmu baik-baik.”

“Yups, tentu saja.”

“Maaf aku masih ada kelas hari ini, aku harus kembali mengajar.”

“Baiklah, aku pergi dulu. Senang bertemu kau hari ini Rangga.”

Meta bangkit dari bangkunya, dengan menggenggam buku pemberian Rangga ia kemudian melangkah pergi. Sementara Rangga hanya mampu pandangi wanita yang selalu ingin ia lindungi sekaligus ia cintai itu pergi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s