Koin

Posted: April 4, 2012 in Gb3n story 1

“Jika nanti kau tak menemukan aku disini, berhentilah mencariku.”

Hari ini aku baru dapat memaknai kata-kata itu. Meskipun tidak menyesali menghabiskan hampir separuh hidupku untuk mencarinya, karena ketidaktahuanku.  Tapi jika boleh aku memilih aku lebih suka masih dalam pencarianku. Setidaknya aku masih punya harapan bertemu dengannya suatu hari nanti.

Haris menjatuhkan tubuhnya pada pagar yang membatasi antara dirinya dan laut. Tangan kanannya menggenggam erat sebuah koin yang didapatnya dari wanita yang sangat ia sayangi. Senyum kepedihan tersungging di sudut bibir merahnya. Haris dengan mudah tenggelam dalam kenangannya bersama wanita pemilik koin itu.

1978 merupakan awal pertemuan mereka. Hari itu seperti biasa Haris dengan Vespanya meluncur ke pasar tambak dan segera membuka toko sepatu miliknya. Hari itu juga sebuah toko bunga,  baru dibuka tepat di seberang tokonya. Pemiliknya adalah seorang wanita yang piawai dalam merangkai bunga tapi ia dikenal tidak terlalu ramah pada pelanggannya. Meskipun di tokonya dipenuhi bunga-bunga yang mengembang indah tapi jarang sekali terlihat senyuman merekah di bibirnya. Yups, Mety.  Nama itu tertulis jelas pada kertas nota pembelian bunga yang baru diterima Haris dari pemilik toko bunga diseberang tokonya. Setiap hari bertemu tidak lantas membuat mereka mudah akrab. Mety adalah sosok yang misterius yang mengundang keingintahuan Haris tentang dirinya.

1981 Masih tidak bisa menebak seperti apa Mety sesungguhnya. Dan suatu pagi ketika Haris tengah sibuk melayani pelanggannya. Terdengar suara teriakan Mety dari tokonya, Haris bergegas ke toko Mety.

“Ulat..Ulat!! ada ulat dibahuku,” Teriak Mety hampir menangis.

Haris dengan segera mengambil ulat itu dari bahu Mety.

“Terima kasih,” ucap Mety datar.

“Iya,” balas Haris sembari tersenyum memandangi wajah mety yang pucat karena ketakutan.

“Kenapa kau tersenyum? ada yang aneh dengan wajahku?”

“Tidak, hanya saja aku pikir kau tidak takut dengan apapun.”

“Lalu kau mau mengejekku karena takut pada ulat?”

Haris menggelengkan kepalanya.

“Baiklah aku harus kembali ke tokoku. Hati-hati banyak ulat di bungamu,”

“Kau,” Ujar Mety sedikit kesal.

Lain kesempatan, Mety berkunjung ke toko sepatu haris. Ia membeli beberapa pasang sepatu untuk anak-anak.

“Buat adikmu?” tanya Haris.

Raut wajah Mety tiba-tiba menegang, ia langsung membayar sepatu yang ia sudah tahu harganya dengan uang pas dan kemudian pergi. Merasa ada yang salah dengan ucapannya Haris bermaksud minta maaf. Ia mengejar Mety ke tokonya, tapi mety tidak ada disana. Ketika bermaksud kembali ke toko, Haris melihat Mety tengah memberikan sepatu-sepatu yang baru ia beli pada anak-anak yang suka membantu para pembeli juga penjual untuk mengangkat barang. Senyuman kecil nampak dibibir wanita yang boleh dibilang sangat pelit dengan senyum itu.

Keesokan harinya, Haris datang ke toko bunga Mety. Ia membawa sepasang sepatu wanita dengan aksen pita diatasnya dan memberikannya pada Mety.

“Untuk apa aku harus menerima sepatu ini? Aku tidak membutuhkannya, bawa kembali.”

“Kau tidak tahu, kata orang tua pamali menolak pemberian orang.”

“Aku tidak tahu.”

“Sudahlah terima saja, kau ini kan wanita tapi gayamu sudah seperti laki-laki saja. Paling tidak kau harus tampil cantik, kau kan penjual bunga.”

“Kenapa kau harus mengurusi cara berpakaianku, kau tidak punya kerjaan?”

“Tentu aku punya kerjaan. Kebetulan aku punya banyak waktu dan kau mengganggu pandanganku,” kata Haris lalu tertawa.

“Maaf aku hanya bercanda, jangan marah ya.”

“Tidak bisa, aku sudah terlanjur marah.”

“Ya sudah, aku pulang.”

“Pulang saja, sepatu ini sekalian kau bawa.”

“Tidak, sudah buatmu saja.”

Haris kemudian meninggalkan toko Mety tanpa membawa sepatunya.

Kedekatan mereka tak ayal memimbulakan cinta dihati keduanya, meski membiarkan hubungan mereka mengalir begitu saja tapi Haris punya niatan untuk membina sebuah hubungan yang lebih serius dengan Mety. Mungkin hanya menunggu waktu yang tepat saja. Disisi lain Mety mulai merasa  nyaman dengan Haris, Haris seperti sahabat yang tahu bagaimana harus menghadapinya.

Hari yang indah dengan  111 tangkai mawar merah, Haris meminta Mety menjadi kekasihnya.

“Dari awal kita bertemu aku hanya melihat 110 senyuman dari bibirmu, tapi aku yakin benar kau akan memberiku satu senyuman lagi sehingga jumlahnya akan sama seperti bunga mawar ini. Mety bunga-bunga di toko ini sangat indah juga terlihat sangat jelas dari toko sepatuku tapi aku sudah pernah bilang bukan kalau kau mengganggu pandanganku dan kau tahu ternyata kau tidak hanya mengganggu pandanganku tapi juga hatiku,” Haris tersenyum.

Itu senyuman yang paling manis yang pernah Mety lihat dari Haris.

Mety mulai salah tingkah, ia kemudian masuk dan mengambil sebuah koin miliknya.

“Aku sudah berhenti mengambil keputusanku sendiri, jadi semoga kau beruntung dengan koin ini. Koin ini punya dua sisi, Matahari dan Bintang. Jika Bintang berarti “Iya” dan “Tidak” untuk Matahari.”

“Baiklah.”

Kemudian Mety melempar koin itu ke udara dan segera mengkapnya.

Wajah Haris harap-harap cemas, Ia menghargai cara Mety menentukan keputusannya meskipun dengan cara yang tidak biasa.

Perlahan Mety membuka tangan kanannya, “Bintang”  gambar itu yang terlihat di koin itu. Berarti jawabannya adalah “Iya”.

Sejak itu Mety sedikit banyak mulai membuka diri pada Haris, tapi bukan Mety kalau ia tidak punya sisi yang misterius dari dirinya.

1986 Haris meminta Mety untuk menunggunya, karena ia akan pulang untuk menemui orang tuanya.

Namun setelah kembali, Haris tak menjumpai Mety di tokonya. Mety malah menitipkan sepatu pemberiannya pada penjaga tokonya. Ada selembar pesan didalamnya;

“Jika nanti kau tak menemukan aku disini, berhentilah mencariku.”

“Kapan Mety menyerahkan ini padamu?” Tanya Haris pada penjaga tokonya.

“Tadi pagi mas, aku lihat mba Mety memegang tiket kereta api dan baru 30menit yang lalu mba Mety menitipkan kunci tokonya. tapi tidak bilang apa-apa mas.”

Haris bergegas pergi ke stasiun dengan Vespanya.

Beruntung ia masih menemukan Mety di bangku tunggu.

Mety lalu bangkit dari bangkunya kerena menyadari kehadiran Haris.

“Kenapa kau mau pergi, kau bermaksud meninggalkan aku?” Tanya Haris

“Maaf Haris, rasanya sudah cukup aku bersamamu.”

“Aku tidak mengerti ucapanmu.”

“Haris dengar, kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku.”

“Aku memang tidak tahu apa-apa, tapi aku ingin tahu semuanya.”

“Untuk apa, tidak ada gunannya buatmu.”

“Aku peduli dan sayang denganmu, kau masih bisakah berpura-pura tidak menyadarinya? Apa kau anggap keseriusanku ini main-main?”

Mety terdiam.

“Pergilah,” ucapnya lirih.

“Menikahlah denganku,” Ujar Haris mantap

“Kau tidak dengar, pergilah..!!!” teriak Mety.

“Kenapa, aku perlu tahu alasanmu.”

“Aku tak baik buatmu, kelak kau akan menemukan wanita yang pantas untuk kau nikahi.”

“Mety, aku cukup mengenalmu. Kau wanita yang baik, dan aku tidak peduli kau punya masa lalu yang kelam atau kau pernah membunuh seseorang sekalipun.”

Kata-kata Haris sepertinya telah membawa Mety kembali pada titik dimana titik itu terpenuhi dengan luka yang tak ingin ia sambangi lagi.

“Yups, aku seorang pembunuh. Aku membunuh adikku.”

“Kau dengar itu, lupakan aku.”

Dengan kereta yang tak mau lagi menunggu seorangpun, Mety meninggalkan Haris dengan berjuta tanya dibenaknya.

“Kau pasti bercanda,” Ujar Haris lirih.

Setelah tak mampu mencegah kepergian Mety. Haris duduk lemas dibangku tunggu sembari memeluk lututnya. Didalam hatinya  penuh tanya “Benarkah kata-kata  Mety barusan, ia seperti bukan Mety yang ia kenal selama ini. Itukah sisi misteriusnya? Benarkah itu alasan sesungguhnya atau itu hanya untuk menutupi alasan lain, Lalu apa alasan lain itu?”.

Bertahun-tahun berlalu Haris tak menemukan Mety juga jawaban atas semua pertanyaannya.

1991 Seorang wanita yang sebaya dengan Mety datang ke toko Haris.

“Kau Haris?” tanyanya

“Benar, maaf anda siapa?”

“Saya sabahat Mety. Firda,” wanita itu mengenalkan diri.

“Sahabat Mety, dimana dia?” Tanya Haris  penuh harap.

“Maaf bisa kita bicara di tempat yang tidak ramai,” pinta Firda.

“Tentu saja,” kata Haris lalu mengajaknya ke taman tengah kota.

Keduanya duduk bersebelahan, mereka nampak canggung satu sama lain. Ada goresan ketidaksabaran, keingintahuan, dan pengharapan di wajah Haris.

“Mety banyak bercerita lewat suratnya,” ujar Firda membuka pembicaraan.

“Apa yang dikatakan tentang aku?”

“Dia bilang, Ia kembali menemukan sosok ayah didirimu. Membuatnya merasa nyaman dan dilindungi. Kau laki-laki yang sangat baik.”

“Benarkah Mety mengatakan semua itu?”

Firda mengangguk sembari tersenyum.

“Dimana Mety Firda? Dia baik-baik saja kan?”

“Emmm…,” Firda menghela nafas panjang.

“Sebaiknya kau terima ini,” Firda menyerahkan kotak kecil pemberian Mety yang mana ia pinta untuk diserahkan pada Haris.

Kotak itu, Haris sudah tahu maksudnya. Bukan kabar baik. Perlahan Haris membuka kotak yang didalamnya hanya ada selembar kertas dan satu buah koin. Haris lalu mengambil kertas didalamnya. Dengan seksama iapun membacanya.

“Haris, maaf kali inipun aku tak bisa menentukan pilihananku dengan keputusanku sendiri juga dengan koin ini. Aku bukan tidak menyadari perasaanmu terhadapku. Tapi ternyata akupun mempunyai perasaan yang sama padamu. Hanya saja perasaan itu terlalu indah buatku, meski aku sangat merasa nyaman berada didekatmu, meski mungkin sebenarnya aku sangat membutuhkanmu. Tapi aku hanya akan membuatmu sedih, dan aku tidak mau itu. Terima kasih telah mengukir hari-hariku dengan senyuman. Aku menyayangimu, Mety.”

Haris menundukan kepalanya kebawah, nampak bahunya bergetar. Firda lalu menepuk pundaknya.

“Mety wafat 5 tahun yang lalu, karena gagal ginjal.”

“Dia sakit? Kenapa tidak memberitahuku?”

“Maaf itu keinginannya Haris.”

“Sebelum ia pergi, ia menolak lamaranku. Dia bilang dia membunuh adiknya, apa itu benar?” tanya Haris

“Tidak,” Firda menggeleng.

“Mety tidak pernah membunuh siapapun apalagi adik kesayangannya, satu-satunya yang ia punya di hidupnya setelah kedua orang tua mereka meninggal. Selama ini Mety memang selalu merasa kalau dialah yang menyebabkan kematian adiknya.”

“Adiknya meninggal bunuh diri.”

“Kenapa?”

“Dian Malu karena tidak lulus ujian Nasional dan merasa pengorbanan kakaknya terlalu besar untuknya.”

“Pengorbanan apa yang kau maksud?”

“Mety menjual satu ginjalnya, untuk membayar tunggakan uang sekolah dan biaya ujian Dian, juga untuk biaya hidup  mereka.”

“Memangnya dia tidak punya keluarga?”

Firda menggeleng

“Aku tidak tahu, waktu itu kami pendatang baru. Dan maaf Haris akulah penerima donor ginjalnya.”

“Apa!!! kau?” Haris menoleh pada Firda.

“Ya, aku. Waktu itu aku sakit dan membutuhkan donor ginjal segera. Ketika aku dan keluargaku hampir putus asa karena tidak menemukan pendonor yang cocok. Mety datang  menawarkan ginjalnya dan ginjalnya cocok denganku. Mety telah menyelamatkan hidupku. Sejak itu dia menjadi sahabatku juga keluarga baru kami.”

“Sejak adiknya meninggal dia pergi dari desa kami dan hanya setahun sekali pulang untuk menengok makam adiknya. Dan 5 tahun lalu ia pulang dan minta dimakamkan disebelah makan adiknya.”

“Bagaimana bisa dia..,” Haris tak bisa meneruskan ucapannya.

Airmata terus berderai dipipinya. Dan masih berderai ketika seorang kakek tua berdiri disebelahnya.

“Hei.. Anak muda, siapa yang sedang kau tangisi?” tanya kakek tua itu.

Haris hanya tersenyum dalam tangisnya.

“Kau pasti sangat menyayanginya, bukan?” ujar kakek tua itu sembari menepuk pundak haris.

Meskipun tak mendengar sepatah jawabanpun dari mulut Haris. Tapi dengan mudah ia menemukan jawaban itu dari raut wajah Haris. Kemudian kakek tua itu meninggalkan Haris sendiri.

Senja nampak indah di balik bukit  sementara deburan ombak semakin menderu keras. Laut sudah pasang, langitpun sudah jingga. Haris masih terpaku menatap jauh rasa  kehilangannya. Esok ia akan menjumpai perasaan yang sama,  seperti koin dalam genggamannya yang memiliki gambar yang sama di kedua sisinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s