Cerita kecil pak Dady

Posted: June 22, 2012 in Gb3n story 1

Ini kali pertama aku berkunjung ke tempat kerja Dani, disana aku diperkenalkan dengan seseorang yang sudah paruhbaya. Beliau adalah pak Dady yang mana merupakan pengawas di tempat Dani bekerja. Pak Dady cukup ramah menurutku, ia juga murah senyum. Ketika Dani pergi memeriksa pekerjaanya, pak Dady sedikit banyak bercerita tentang kisah cinta pertamanya dulu. Mungkin karena melihat aku dan Dani lantas membangunkan ingatannya pada gadis yang ia cintai dimasa remajanya.

“Awalnya ia bercerita tentang pekerjaannya kemudian beralih tentang pendidikan yang sebenernya membalut kisah cintanya dulu.
Dizamannya transportasi sangatlah sulit, tidak banyak kendaraan yang mondar-mandir. Setelah mendaftarkan diri ke SMP diluar kotanya yaitu Semarang. Pak Dady menunggu kendaraan Truk untuk membawa mereka kembali ke Yogyakarta. Sayangnya tak satupun Truk yang bersedia mereka tumpangi. Merekapun menunggu seharian di tepi jalan. Seorang bapak tua untuk kedua kalinya melintasi mereka dan kemudian berhenti untuk yang ketiga kalinya.
“Mau kemana bu?” tanyanya.
“Kami mau ke Yogyakarta pak, saya baru mendaftarkan anak saya di SMP negeri Semarang. Tapi sampai sekarang kami belum mendapatkan tumpangan truk untuk kembali pulang,” jelas ibu pak Dady.
“Oo begitu, yasudah berbuhung hari sudah sore ibu dan adik bisa menginap dulu dirumah saya.”
“Tidak usah pak, terimakasih.”
“Sudah tidak apa-apa, pasti kalian lelah menunggu seharian disini. Mari bu.”
Akhirnya pak Dady beserta ibunya mengiyakan ajakan bapak tua yang namanya adalah pak Kijo. Rumah pak Kijo tidak jauh dari tempat mereka menunggu truk, hanya sekitar setengah kilo saja. Sesampainya di rumah pak Kijo, pak Dady dan Ibunya di perkenalkan pada istri pak Kijo (Lasmi) dan anak mereka yang seumuran dengan pak Dady (Retno). Ditengah makan malam, pak Kijo menawarkan seandainya pak Dady memang nanti diterima di SMP negeri Semarang. Tinggalnya tidak usah dimana-mana melainkan dirumah pak Kijo saja. Tentu saja tawaran tersebut disambut gembira oleh pak Dady dan ibunya. Setelah beristirahat semalam, pak Dady dan ibunya pulang ke Yoyakarta keesokan paginya.

Seminggu kemudian pak Dady kembali ke Semarang untuk melihat pengumuman penerimaan siswa baru, syukur alhamdulillah nama pak Dady tertulis diantara nama-nama siswa yang diterima di SMP negeri Semarang. Mulai ajaran baru dimulai pak Dadypun mulai tinggal di rumah pak Kijo dan di mulai pula kisahnya bersama Retno. Retno sangat senang dengan hadirnya pak Dady dikediamannya. Pak Dady baginya tidak hanya teman bermain, teman di sekolah, teman belajar tapi juga seorang kakak. Begitu juga Retno bagi pak Dady. Keduanya sudah seperti saudara, Retno sering ikut ke desa pak Dady ketika liburan sekolah. Melihat hamparan sawah, bermain di sungai adalah pengalaman yang sangat menyenangkan buat Retno.
Tiga tahun berlalu hanya keriangan serta perasaan nyaman satu sama lain yang mereka kenal. Namun setelah menginjak bangku SMU perasaan keduanya mulai menjadi cinta. Minder karena tingkatan sosial diantara mereka, pak Dady hanya memendam perasaannya di dalam hati saja. Hingga suatu malam pak Dady hendak menonton layar tancep dan ketika mengeluarkan sepeda miliknya ibu Lasmi bertanya dari balik kamarnya;
“Siapa?”
“Saya Dady bu,” jawabnya
“Mau kemana Dy?”
“Mau nonton layar tancep bu.”
“Aku ikut mas Dady!” Sahut Retno.
Pak Dady hanya diam dan kemudian mengembalikan sepeda miliknya, ia tak mau Retno ikut bersamanya karena ia tahu benar pasti Ibu Lasmi tidak akan memperbolehkannya. Tidak hanya mengurunkan niatnya untuk menonton malam itu tapi pak Dady juga harus mengurunkan cintanya pada Retno setelah didengarnya dari celah jendela bu Lasmi tengah memarahi Retno, ia melarang keras Retno berhubungan dengan pak Dady.
Waktu berlalu agak sulit bagi pak Dady. Yups, sulit bagi pak Dady menghadapi perasaan cintanya pada Retno. Lega rasanya akhirnya mereka meninggalkan bangku SMU, pasalnya pak Dady memutuskan untuk meneruskan kuliahnya di Yogyakarta sementara Retno tetap meneruskan kuliah di Semarang.

Lama tak bertemu Retno datang memintanya untuk menemaninya beserta calon suaminya ke tempat pamannya di Yogyakarta. Antara senang dan sedih mendengar kabar bahwa Retno akan menikah. Tapi itu adalah keputusan terbaik buat mereka.
Setelah menikah dan dikaruniai 3 orang putra, kabar buruk sampai ditelinga pak Dady. Suami Retno jatuh sakit. Pak Dady hanya bisa berharap Retno bisa melalui semuanya dengan baik.

Tak lama berselang pak Dady menemukan jodohnya yang tak lain adalah teman kantornya (Tina). Merekapun memutuskan untuk menikah. Di pesta pernikahannya Retno turut hadir bersama tiga putranya tanpa didampingi suaminya. Ia duduk di bangku depan seorang diri, matanya berkaca-kaca entah apa yang sedang dilamunkanya. Pak Dady mencuri pandang ke arahnya. Dirinya masih saja menghawatirkan wanita yang masih dianggapnya gadis kecil.
Waktu yang mempertemukan mereka waktu juga yang mengharuskan mereka untuk memilih jalan mereka masing-masing.”

Aku melihat dimata pak Dady bahwa sebenarnya ia berharap seandainya cintanya bersama Retno adalah mungkin. Aku bisa merasakan cinta disetiap tutur katanya ketika ia menceritakan tentang kisahnya. Aku pikir kisah mereka hanya sampai disitu saja. Tapi pak Dady kemudian melanjutkan ujung dari cerita itu;

“3 tahun kemudian dia meninggal.”
“Suami Retno?” tanyaku.
“Bukan, tapi Retno.”
Aku tercengang mendengarnya, setahuku suami Retnolah yang sedang jatuh sakit. Pak Dadypun melanjutkan;
“Retno kena tumor, dari kecilpun dia sudah sakit-sakitan. Aku tahu benar tentang kondisinya. Kalaupun saya menikah dengan Retno mungkin saya sekarang sudah tidak punya istri,” tutupnya.

Aku tidak tahu harus bicara apa lagi, kupandangi wajahnya yang masih sangat kehilangan Retno. Aku yakin cintanya pada Retno masih tersimpan sangat rapi dilubuk hatinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s