Konsistensi dan Dia

Posted: July 25, 2012 in Gb3n story 2

Ketika langit samar-samar mulai ungu. Diana masih terpaku dengan kedua tangannya yang menyanggah dagu. Guratan di wajahnya yang nampak kaku bersama bibirnya yang terus membisu mencair bersama airmata yang meleleh dipipinya.

“Aku masih kesal,” ujarnya
“Kenapa kau kesal?” tanya Juwita yang sedari tadi duduk menemaninya di teras depan rumahnya.
“Kau tahu setiap orang bisa berbuat lebih baik, lebih maksimal untuk orang lain disekitarnya. Tapi jarang dari mereka yang mau mengorbankan atau menunda kepentingan pribadi mereka demi orang lain.”
“Siapa yang kau maksud, hemm?” tanya Juwita yang mencoba memahami kekesalan yang tengah dirasakan sahabat baiknya itu.
“Orang yang tidak pernah memahami kata KONSISTEN.”
“Memangnya apa yang dia perbuat?”
“Dia itu sama seperti calek-calek kita, yang kebanyakan umbar janji tanpa ada bukti pastinya. Mereka ngga pernah pikir janji mereka bagi orang lain adalah harapan hidupnya. Tapi dengan mudah mereka hancurkan tanpa peduli perasaan orang lain. Kalau gitu mending ngga usah ngomong kan!!!”
“Kau tahu semua orang punya keterbatasan untuk mewujudkan keinginan atau harapan dalam hidup mereka. Kadang hal kecil bagi kita bisa menjadi hal besar atau bahkan sangat berharga bagi orang lain dan sebaliknya. Dan bagi kita yang membantu mewujudkan harapan mereka tentunya dengan ikhlas akan juga merasakan kebahagiaan mereka.”
“Tapi setiap orang punya pilihan, mereka berhak melakukan apa saja, bukan? Termasuk tidak melakukan sesuatu untuk orang lain.” ujar Juwita
“Ya, tapi tidakah mereka menyesali melihat kesedihan dimata orang-orang disekitarnya, tanpa berbuat apa-apa?”
“Bisa jasa, mungkin hal itu karena mereka tidak menyayangi orang-orang disekitarnya.”
“Ya, kau benar. dia tidak menyayangi orang lain. Aku terlalu memaksakan keinginanku, terlalu berharap dia melakukan sesuatu yang lebih baik. Hemmm,” Diana menghela nafas panjang.
“Sudahlah,” ujar Juwita sembari menepuk pundaknya.
“Dengar Juwita, kalau kau merasa kecewa dengan pilihan mereka atau “Dia”. Kau harus berlaku sebaliknya untuk orang lain disekitarmu. Walaupun sulit aku yakin benar kau bisa melakukan yang terbaik yang kau bisa untuk mereka.”
“Yups, aku mengerti. Terima kasih kau sudah mau mendengarkanku.”
Diana dan Juwita bangkit dan melangkah masuk. Namun dalam pikiran Juwita masih dipenuhi tanya siapa orang yang disebut Diana tidak pernah memahami kata konsisten itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s