Seribu Langkah Terakhir

Posted: October 7, 2012 in Gb3n story 2

Terbiasa hidup bebas, Tania selalu menjalani hidup dengan caranya sendiri. Wanita kelahiran Bandung yang kini berprofesi sebagai guru tari ini, semasa remaja hidupnya selalu berpindah-pindah lantaran tugas ayahnya. Berpindah-pindah kota tak lalu mempertemukannya pada tambatan hatinya. Kini usianya menginjak 29 tahun, tapi ia masih sangat menikmati kesendiriannya. Baginya berkumpul dengan banyak teman lebih menarik ketimbang terikat dalam sebuah hubungan. Lebih tepatnya Tania tidak menyukai sebuah aturan. Sampai Ia bertemu Galih, lelaki yang tinggal satu lantai di atas apartemennya. Galih adalah seorang pekerja kantoran yang selalu berpenampilan rapi, tepat waktu, perfectionist dan jelas dia bukan tipe lelaki idaman Tania. Kesamaan mereka hanyalah sama-sama menyukai kopi dan mereka berlangganan kopi di cafe yang sama di sekitar apartemen mereka. Sering bertatap muka di cafe ataupun di lift tidak membuat Tania tertarik pada Galih. Tapi suatu malam, Galih membuat kehebohan di cafe. Malam itu dia naik kepanggung cafe lalu membawakan satu lagu romantis dengan seikat bunga mawar di tangannya. Semua wanita dalam cafe itu terpanah dengan aksinya tak terkecuali Tania. Mereka berpikir pasti Galih hendak melamar kekasihnya. Tapi ternyata tidak, di akhir lagunya Galih berkata:

“Lagu ini aku persembahkan untuk wanita yang sangat special dan istimewa buat sahabatku Danar, “Melody”.”
Galih turun dari panggung dan menyerahkan bunga itu kepada Danar. Danar segera merogoh sakunya dan mengambil sebuah cincin yang sudah ia persiapkan untuk wanita yang sangat dicintainya. Malam itu menjadi malam bersejarah bagi Danar karena berkat bantuan sahabat baiknya ia berhasil melamar Melody.

Beberapa hari kemudian Tania tidak sengaja menguping pembicaraan Melody dan Galih di pintu lift;
“Apakah mencintai harus begitu?” tanya melody
“Kau masih bisa memaafkannya dengan apa yang dia sudah lakukan padamu?” tanya Melody lagi.
“Ini bukan yang pertama, jadi lupakan saja. Kau tahu Shandra bagaimana, dia akan segera kembali padaku.”
“Andai aku jadi Shandra, aku tidak akan menyia-nyiakan dirimu.”
“Sudah jangan khawatirkan aku, temanku yang cantik. Persiapkan saja pernikahanmu dengan Danar,” ujar Galih sembari mendorong Melody masuk ke lift.
“Jaga dirimu,” kata Melody.
Galih mengacungkan jempolnya sembari tersenyum.

“Hemmm, ternyata dia sudah mempunyai pacar. Bodoh sekali dia mau dipermainkan wanita,” gumam Tania
“Hey kau,” ujar Galih.
“Iya, ada apa?” jawab Tania agak sedikit kaget
“Wajahmu tidak asing, kita sering bertemu kan? Namaku Galih,” ucap Galih sembari menyodorkan tangan sebagai tanda perkenalan.
“Tania,” Tania menjabat tangan Galih
“Nama yang bagus. Lain kali jangan menguping pembicaraan orang ya,” ujar Galih lalu masuk kedalam lift.
“Apa yang dia katakan barusan, siapa yang menguping. Jelas-jelas mereka yang bicara terlalu keras,” Tania menggerutu.

Waktu berlalu namun tidak menghapus kesan menyebalkan Galih di otak Tania dan mereka bertemu lagi di dalam lift.
Saat itu Tania tengah bersama teman-temannya hendak keluar makan. Di dalam lift teman-teman Tania asyik berbisik tentang kekaguman mereka pada Galih.
Usai Galih keluar dari lift, mereka menyerbu Tania dengan pertanyaan.
“Siapa dia Tania?” tanya mereka kompak.
“Galih,” jawab Tania datar.
“Wahh kau mengenalnya, jangan bilang dia lelaki yang kau ceritakan pada kami?”
Tania mengangguk.
“Pantas saja kau betah tinggal di apartementmu. Kau punya tetangga sekeren Galih,” ujar teman-temannya meledek.
“Iya keren, tapi aneh.”
“Aneh kalau dia sampai jatuh cinta padamu Tan,” ujar salah satu temannya yang mengundang tawa diantara mereka.
“Dia bukan tipeku, dia atau aku tidak mungkin jatuh cinta. Kalian dengar,”
“Awas jangan sesumbar, nanti kemakan omongan kamu Tania.”
“Kalian mau taruhan?”
“Tentu saja.”
“Baiklah kalau kami sampai berpacaran, maka kalian bisa makan di tiga tempat semau kalian.”
“Setuju..!!” jawab mereka serentak.

Sabtu malam bersama teman-temannya Tania menghabiskan waktu mereka dicafe, tak disangka Galih dan Shandra juga ada disana. Mereka sepertinya sedikit cekcok setelah seorang lelaki yang tidak lebih keren dari Galih datang menghampiri mereka.

“Kau tidak bisa memutuskan aku. Menunggu hanya itu pilihanmu,” ujar Shandra dengan penuh percaya diri.
“Maaf aku tidak bisa menunggumu lagi, pergilah bersamanya dan jangan kembali. Kita sudahi saja perjodohan kita,” ujar Galih dengan tetap tenang
“Maksudmu?”
“Iya, aku bertemu dengan wanita yang jauh lebih baik darimu dan aku menyukainya.”
“Kau pasti bohong, bukan?”

Galih lalu membawa Shandra ke meja Tania.

“Kenalkan dia Tania wanita yang aku sukai, dia pacarku.”

Galih menarik Tania dari bangkunya, sementara Tania masih terpelongo dengan apa yang baru didengarnya.

“Apa, serius Tania? Kalian jadian?”
“Ohh aku tidak percaya ini.”
“Selamat yach buat kalian berdua kami ikut senang.”
“Tania, jangan lupa traktirannya.”

Cecar teman-teman Tania. Sementara Shandra dan teman lelakinya segera meninggalkan cafe.

“Senang bertemu kalian, tapi maaf aku masih ada urusan. Sampai berjumpa lagi,” Galih berpamitan.
Setelah Galih meninggalkan cafe, Tania mencoba menjelaskan bahwa sebenarnya dia dan Galih tidak berpacaran. Tapi sayangnya teman-temannya keburu percaya omongan Galih ketimbang dirinya.

Keesokan harinya, Tania dan Galih bertemu di Cafe. Tania yang melihat Galih langsung menghampirinya.
“Masalah kemarin, bisa kita bicara?” tanya Tania.
“Dengan senang hati. Duduklah,” ujar Galih
“Bisa kau jelaskan, apa maksud tindakanmu kemarin?”
“Maaf telah melibatkanmu dalam kekacauan ini, apa kau merasa dirugikan? Bukankah kau tidak punya pacar, jadi tidak masalah donk. Aku kan hanya mengakui kau pacarku di depan Shandra.”
“Tentu saja, karena ucapanmu teman-temanku jadi percaya kalau kita pacaran dan aku harus mentraktir mereka di 3 tempat.” ujar Tania sedikit kesal.
“Kalian taruhan?”
Tania mengangguk dengan sedikit malu.
“Kau yang taruhan kenapa menyalahkan aku?”
“Ya karena ucapanmu aku jadi dianggap kalah, pokoknya kau yang harus mentraktir mereka!!”
“Iya, baiklah. Aku yang traktir mereka.”

Setiap akhir pekan selama tiga minggu Galih pergi bersama Tania dan teman-temannya untuk mentraktir mereka. Hal itu membuat hubungan pertemanan mereka semakin erat.
Galihpun mengajak Tania untuk menemaninya hadir ke pesta pernikahan Danar dan Melody. Melihat Galih bersama teman-temannya membuat Tania tahu sisi kehidupan Galih yang hangat.

Minggu pagi Galih dan Tania pergi bersepeda di taman. Tentunya setelah sarapan dan minum kopi di cafe langganan mereka. Setelah lelah menggoes sepeda mereka mengelilingi taman, mereka lalu duduk dibangku taman untuk melepas lelah.
“Boleh aku menanyakan sesuatu Galih?”
“Tentu saja, tanyalah.”
“Kenapa kau sebelumnya mempertahankan hubunganmu dengan Shandra, bukankah dia sudah menghianatimu berulang kali?”
“Oo soal Shandra, aku seperti tidak punya alasan untuk mencegah Shandra datang dan pergi dari kehidupanku dengan sesukanya. Mungkin karena Shandra sangat mirip dengan almh ibuku. Jika bersamanya aku jadi merasa dekat dengan ibuku.”
“Kau tidak mencintainya,” tambah Tania.
“Aku selalu bisa memaafkannya dan dengan setia menunggunya, apa itu termasuk cinta? Galih balik bertanya.
“Hahh,, Kau tidak peduli padanya. Akui saja, kau tidak pernah menunggunya untuk kembali tapi kau menunggunya untuk benar-benar pergi. Apa tebakanku salah?”
“Kau ini sok tahu,” ujar Galih sembari mengusap-ngusap rambut Tania.
“Dari tadi kita membicarakan aku, kau sendiri bagaimana? Kau sudah 29tahun, mengahabiskan harimu dengan anak-anak dan bergaul dengan teman-temanmu yang cerewet sekali, sama sepertimu. Kau kesepian, bukan?”
“Tidak, I’m single and I’m happy.”
“Gengsimu tinggi sekali. Kau sering mengahabiskan kopi sendiri, bukan? rasa kopi membuat perasaanmu nyaman dan melupakan kesepianmu?”
“Aku suka kopi dan kau tahu itu.”
“Tidak,” kata Galih dengan senyuman mengejek.
“Sudahlah, aku mau pulang!!”
Galih menarik tangan Tania agar tetap duduk.
“Dengar Tania, kalau diperhatikan kau ini punya wajah yang cantik, kau pintar dan cukup menarik. Bagaimana kalau aku menyukaimu?” tanya Galih
“Hahhh… sudah jangan berusaha merayuku, kau perlu ingat kau sama sekali bukan tipeku,” tegas Tania.
Tania bangkit dan melangkah meninggalkan Galih.
“Dasar wanita yang sombong,” gumam Galih
“Hai Tania, lalu seperti apa tipemu. Biar aku carikan, temanku banyak. Aku bisa mengenalkanmu pada mereka, bagaimana Tania? Kau mau?” teriak Galih.
“Terima kasih!!” balas Tania sembari tetap berjalan.

Beberapa bulan kemudian Galih berulang tahun Danar, Melody, Tania dan teman-temannya turut hadir di pestanya. Tania diam-diam memperhatikan Galih yang tak melepaskan pandanganya dari Melody. Ada yang berbeda dari caranya memandang Melody. Dikesempatan berdua dengan Galih, Tania mengatakan apa yang ingin iya katakan;

“Sekarang aku mengerti bagaimana perasaanmu dan siapa yang sebenarnya kau sukai. Wanita itu bukan Shandra tapi Melody, bukan?”
“Apa?” tanya Galih yang pura-pura tidak mengerti.
Galih lalu tersenyum yang menandakan ia membenarkan perkataan Tania.
“Kenapa kau tidak memperjuangkan cintamu?”
“Untuk apa? Melody dan Danar sama-sama teman baikku. Keduanya sama pentingnya buatku.”
“Tapi,” ujar Tania
“Sudahlah, jangan lagi bicarakan mereka atau apalah yang berada di belakangku. Sekarang kenapa kita tidak membicarakan hubungan kita saja. Menikahlah denganku,”
“Kau becanda,” ujar Tania terkejut.
“Aku serius, menikahlah denganku”
Tania terdiam.
“Sudahlah aku mau bergabung dengan teman-temanku,” Tania bangkit dari bangkunya.

Tiba-tiba Galihpun bangkit dari bangkunya dan mengambil perhatian tamu-tamunya.

“Hari ini sangat special buatku karena tidak hanya waktu yang telah membulatkan umurku menjadi 30 tahun, tapi terlebih karena kehadiran kalian semua disini. Terimakasih telah menjadi orang-orang yang selalu peduli padaku dan menyayangiku tentunya. Di hari yang sangat berbahagia ini, aku ingin bilang pada seseorang bahwa dia adalah pelangi yang memberi warna dihidupku. Aku ingin dia selalu memberi warna di setiap hari yang akan kulalui selanjutnya.”
“Tania menikahlah denganku,” tutupnya sembari memandang ke arah Tania.
Semua orang bersorak “Terima!!” “Terima..!!” “Terima..!!”

Galih lalu berjalan ke arah Tania. Tania tersipu malu dan terlihat salah tingkah.
“Bagaimana Tania?” tanya Galih
“Ini terlalu manis buatku, terima kasih untuk ini. Tapi maaf..”
Semua orang tidak sabar mendengar Tania menyelesaikan ucapannya.
“Maaf aku tidak bisa menolakmu,” senyuman tersungging dibibirnya.
“Terima kasih,” ucap Galih lalu membubuhi kening Tania dengan kecupan.
Secara bergilir sahabat, kerabat serta keluarga memberi mereka selamat.

Setelah dua keluarga besar Galih dan Tania bertemu, akhirnya mereka sepakat akan melaksanakan pernikahan Galih dan Tania 5 bulan kedepan.

3 bulan kemudian, Tania dan Galih dikejutan oleh kabar duka dari Melody. Danar meninggal dalam sebuah kecelakaan. Selama seminggu Galih mencoba menenangkan Melody, tentunya atas izin Tania. Tania mengerti benar bagaimana perasaan Galih yang begitu kehilangan sahabat karibnya.

Tersisa dua bulan untuk menuju pernikahan mereka, Tania tak hanya sibuk dengan persiapan pernikahan mereka tapi juga persiapan pentas tari terakhirnya.
Namun semua ia persiapkan dengan sangat baik. Akhirnya pentas tari itu sudah ada didepan mata, Tania sudah mewanti-wanti Galih untuk bisa hadir. Galihpun sudah berjanji akan hadir. Tapi sampai acara selesai, bangku milik Galih tetap kosong. Disatu sisi ia sangat bahagia sekaligus bangga karena pentas tarinya terbilang sukses. Tapi disisi lain ia sangat kecewa karena ketidakhadiran Galih terlebih alasannya untuk tidak hadir adalah karena ia harus menjemput Melody dari bandara.

Malam sudah larut, Galih menggedor rumah Tania untuk meminta maaf.

“Untuk apa kau datang kesini, acaranya sudah selesai.”
“Maaf aku harus menjemput Melody dibandara, kau tahu dia baru kehilangan Danar.”
“Aku mengerti, kau mengkhawatirnya.”
“Harusnya aku tak perlu cemburu tapi pentas itu penting buatku, sangat penting bahkan. Aku ingin kau ada disana melihatku karena itu pentas terakhirku. Tapi sudahlah, itu sama sekali tidak penting buatmu.”
“Tania, maafkan aku.”
“Kau tak perlu minta maaf untuk ini. Aku mau istirahat,” ujar Tania sembari menutup pintu.

Sepekan Tania enggan bertemu dengan Galih, hanya pesan singkat yang ia kirimkan pada Galih;
“Aku rasa, aku tidak bisa melanjutkan ini. Aku ingin melangkah lebih jauh, berlari dan menari. Untuk itu aku berhenti, aku tidak ingin mengubah siapapun.Kau tidak bisa mencintai siapa-siapa, tidak Shandra juga tidak aku. Liat ke dalam hatimu, Melodylah yang kau cintai. Dia lebih membutuhkanmu ketimbang aku, sekarang. Jadi pergilah ke sisinya.”

“Hahhh… Dasar sok tahu,” gumam Galih.
Setelah membaca pesan Tania, Galih bergegas menuju tempat dimana dia tahu akan menemukan Tania disana.

“Ini seribu langkah terakhirku dari Melody, berada disisinya membuat aku dapat melihat dengan jelas siapa yang ada dihatiku. Kau tahu siapa? Bukan Melody tapi kau Tania.”
“Aku mundur tidak hanya karena masih meragukan perasaanmu tapi juga karena aku yang mungkin lebih suka hidup bebas, aku suka dengan kehidupan yang aku jalani sekarang meski aku berharap kau akan menemaniku menyeruput secangkir kopi setiap pagi, melihatku menari dan membiarkan aku tetap menjadi diriku. Kau benar-benar bukan tipeku, kau terlalu rapi dan terlalu banyak mengatur. Tapi sayangnya aku menyukaimu, ” Ujar Tania menjabarkan tentang perasaannya.

Galih tersenyum mendengar ucapan terakhir Tania.
“Aku tidak akan membatasi apa yang kau ingin lakukan. Aku akan membiarkanmu tetap menari dan aku akan menemanimu berlari ketempat yang kau suka, berkumpul dengan teman-temanmu yang cerewet itu. Itu aturanku sekarang, jadi menikahlah denganku.”
“Harusnya kau bilang itu dari dulu.”
“Jadi?”
Tania menganggukan kepalanya.

Musim berlalu dengan cepat dan kita tidak pernah tahu pada siapa kita akan menghentikan seribu langkah terakhir kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s