Rindu, Maaf, dan putriku

Posted: June 23, 2013 in Gb3n story 2

Aku segera kembali setelah mendengar kondisi ayah tiriku tidak sehat, seharian ku lihat ia masih dibangkunya.
Aku tak hanya melihat linangan air mata yang berusaha ia bendung, tapi juga melihat betapa ia sangat kecewa pada dirinya sendiri. Selama ini aku tidak terlalu dekat dengannya, tapi aku pikir ia seorang ayah yang baik buat kami. Belakangan ini, setelah ia menerima kabar putri tunggalnya wafat ia nampak sering melamun disudut perapian itu. Dan aku rasa hangatnya api perapian itu tak mampu mencairkan hatinya yang membeku.
Ku beranikan diriku duduk disampingnya berharap ada yang mau ia bagi denganku, tentang kesedihannya, tentang kerinduannya.

“Bagaimana kabar ayah?” tanyaku
“Ayah baik-baik saja,” jawabnya sambil memijat-mijat keningnya.
“Apa yang diderita putri ayah?” tanyaku.
“Delia tidak sakit, ia dan suaminya mengalami kecelakaan dan Delia tidak terselamatkan.”

Aku terdiam sesaat, tak tahu apa lagi yang harus aku katakan. Sesekali kupandangi dirinya yang entah kemana arah matanya memandang.

“Waktu tak akan membawa kembali apapun kecuali hanya ingatan yang terus terbawa serta dalam raga yang menua. Ada ruang kosong yang masih selalu senyap disini, didadaku. Andai waktu bisa kuputar kembali, akan kugapai kesempatan yang telah kuabaikan yang kini menjadi bukit penyesalanku,” ujarnya lirih.
Ia kemudian menoleh arahku.
“Aku bukan ayah yang baik,” ucapnya
“Ayah tidak seperti itu,” kataku
Ia menghela nafas panjang
“Ya, mungkin kau benar. Tapi tidak buat putriku Delia”
“Harusnya aku datang pada pernikahannya, melengkapi kebahagiaannya. Atau aku datang setelahnya, tapi aku hanya diam disini. Sampai tak ada kesempatan untuk menjumpainya lagi. 29 tahun bukan waktu yang singkat dan aku tak melakukan apapun untuknya sebagai ayah.”
Kemudian ia mengais kotak disampingnya, didalamnya ada photo-photo Delia, putrinya.
Tak mau mengganggunya aku bangkit dan meninggalkannya beserta kenangan dan penyesalannya.

Pagi-pagi benar, ibu sudah berteriak histeris medapati suaminya sudah tak bernyawa.
Aku melihat ayah masih dibangkunya, bangku dekat perapian beserta photo-photo putrinya di genggamannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s