Archive for the ‘Gb3n story 1’ Category

tugas antropologi indonesia

Posted: April 22, 2014 in Gb3n story 1

Nama Kelompok :
1. Riskawati / 41182170100029
2. Fatmah Algasia / 41182170100048
3. Pitri Handayani/41182170100016
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Jurusan : Pend. Geografi
UNIVERSITAS ISLAM ’45 BEKASI
EKSISTENSI KEBERADAAN KEBUDAYAAN LUAR DI TENGAH-TENGAH KEBUDAYAAN LAMPUNG (Kab. Lampung Tengah)
Kebudayaan Lampung yang semakin pudar dapat di lihat dari bahasa daerah Lampung. Bahasa Lampung di bagi dua bagian yaitu dialek A (API) dan O(nyo), dua dialek ini dipakai oleh orang lampung A untuk daerah pesisir dan O untuk daerah tengah. Namun sayangnya karena minimnya masyarakat Lampung yang menggunakan bahasa lampung sendiri, bahasa yang seharusnya menjadi budaya Lampung ini kian tenggelam diantara bahasa-bahasa lain, seperti bahasa pendatang dari pulau Jawa dan pulau Bali. Disamping hal tersebut saat ini pihak pemerintah juga kurang begitu memperhatikan bahasa daerah Lampung, instansi pendidikan, dan kebanyakan orang tua yang ada di Lampung juga enggan berbicara bahasa daerah Lampung kepada anak-anak mereka. Hal inilah yang membuat eksistensi kebudayaan Lampung berkurang. Selain itu rumah adat Lampung juga semakin hari semakin jarang terlihat karena sudah tergantikan dengan model rumah yang bentuknya lebih modern. Kebudayaan Lampung yang semakin memudar ini dikarenakan masuknya warga pendatang luar pulau yang sekarang mendiami Provinsi Lampung. Provinsi Lampung yang telah terlanjur dinobatkan dengan sebutan ‘Indonesia Mini’ karena keanekaragaman suku-suku bangsa bermukim di tempat ini (karena adanya transmigran dan pendatang lainnya), juga tak terkecuali dengan Lampung Tengah. Kabupaten yang dimekarkan tahun 1999 itu sendiri, selain didiami penduduk pribumi banyak pula masyarakat pendatang yang berdiam serta menetap. Berbagai suku bangsa seperti Jawa, Bali, Sunda, Palembang, Padang, Batak dan sebagainya mendiami belahan daerah-daerah Kabupaten Lampung Tengah. Eksistensi kebudayaan luar Lampung dapat di lihat dari beberapa budaya Luar yang mampu menggeser kebudayaan Lampung, yakni:
1. Eksistensi Kebudayaan Jawa
Kampung paling dominan di Kabupaten Lampung Tengah dihuni oleh masyarakat suku Jawa. Agama yang dianut mayoritas Islam dan sebagian lagi agama Kristen Katolik, Kristen Protestan, Budha dan Hindu. Sebagian besar dari masyarakat ini tadinya bermula dari transmigran yang ditempatkan di Lampung Tengah waktu itu. Mereka berasal dari bagian tengah dan timur pulau Jawa. Didalam pergaulan hidup sehari-hari di kampung, mereka mempergunakan bahasa Jawa sebagai penutur. Di lingkungan setempat, terutama dalam pergaulan hidup sehari-hari masyarakat Jawa di Kabupaten Lampung Tengah, bahasa yang digunakan lebih banyak menuturkan bahasa Jawa Kasar atau Jawa Pasaran. Penuturan ini lebih gampang di mengerti dan sering di pakai di dalam bercakap-cakap. Bahkan tidak sedikit suku lain mampu bercakap-cakap mempergunakan bahasa Jawa tersebut. Masyarakat suku Jawa di Lampung Tengah masih memegang teguh kultur daerah asal. Hal ini nampak jelas terlihat dari bahasa yang digunakan, sistem kekerabatan serta kebudayaan yang ada di lingkungan setempat. Berbagai kesenian tradisional Jawa seperti: Jaranan, Reog Ponorogo dan Campursari terlihat seringkali di tanggap, baik di saat perayaan pernikahan, hari besar nasional dan lain-lain.
2. Eksistensi Kebudayaan Bali
Masyarakat dominan lain yang bermukim di Lampung Tengah adalah penduduk suku Bali. Sebagian besar mendiami di beberapa kecamatan di wilayah timur dan sisanya berada di kecamatan lain di Lampung Tengah. Agama yang di anut mayoritas memeluk agama Hindu-Bali. Kampung-kampung Bali akan terasa bila saat berada di lingkungan setempat. Sama halnya dengan masyarakat suku Jawa dan Sunda, masyarakat suku Bali bermula dari transmigran yang ditempatkan di daerah ini. Penempatan itu terdiri dari beberapa tahapan. Sehari-harinya, penduduk setempat mempergunakan bahasa Bali sebagai penutur. Memasuki kampung-kampung masyarakat suku Bali terlihat khasanah yang begitu menonjol. Kehidupan keagamaan dan seni ukir Bali sangat akrab dilingkungan penduduknya. Tempat melakukan ibadat agama Hindu-Bali disebut Pura. Dalam kehidupan keagamaan, mereka percaya akan adanya satu Tuhan, dalam konsep Trimurti, Yang Esa. Trimurti mempunyai tiga wujud atau manifestasi, yakni wujud Brahmana; yang menciptakan, wujud Wisnu; yang melindungi dan memelihara serta wujud Siwa; yang melebur segalanya. Di samping itu, orang Bali juga percaya pada dewa dan roh yang lebih rendah dari Trimurti serta yang mereka hormati dalam upacara bersaji. Kebudayaan Bali sebagai bagian dari budaya masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah, terlihat pada lingkungan kampung-kampung bersuku Bali yang bermukim di daerah ini. Adat istiadat serta kebudayaan lainnya berkembang dengan sendirinya seiring perputaran waktu. Berbagai kesenian baik seni rupa, seni pahat, seni musik dan tari tetap menjadi khasanah daerah.
3. Eksistensi Kebudayaan Bugis-Makasar
Sementara itu, di kabupaten ini ada pula kelompok masyarakat suku Bugis-Makasar. Sebagian besar dari masyarakat suku Bugis-Makasar bertempat tinggal di daerah pesisir, terutama di Kecamatan Bandar Surabaya. Walaupun jumlah penduduknya tidak banyak namun di Kabupaten Lampung Tengah mereka sudah dikenal sejak dulu sebagai suku pelaut. Di daerah pedalaman (sekitar pusat ibukota kabupaten) jarang sekali ditemui kelompok orang Bugis-Makasar. Bahasa penutur kelompok masyarakat ini mempergunakan bahasa Bugis-Makasar sebagai bahasa percakapan. Biasanya penggunaan bahasa daerah lebih sering di pakai di dalam lingkungan keluarga maupun sesama suku. Keberadaan mereka di Lampung Tengah pada awalnya atas inisiatif sendiri atau bukan atas dasar pentransmigrasian. Karenanya masyarakat Bugis-Makasar tidak banyak berdiam pada sebuah kampung tetapi hidup membaur dengan suku-suku lain di daerah belahan pesisir umumnya.
Sekarang ini, di Kabupaten Lampung Tengah berdiam berbagai macam suku-suku bangsa dalam jumlah yang tidak sebanyak suku Jawa, Sunda, Bali maupun Bugis-Makasar. Suku-suku bangsa seperti Ogan, Palembang, Padang, Batak dan lainnya telah menjadi bagian dari penduduk kabupaten ini. Satu sama lain berinteraksi serta menyesuaikan diri dengan lingkungan masing-masing, tempat dimana mereka sekarang tinggal dan menetap.

Madu-Madu Suamiku

Posted: June 23, 2013 in Gb3n story 1

Dalam hidup kadang kita menemui pilihan yang salah atau pilihan yang salah itu adalah bagian dari takdir. Kisahku terlalu berliku dengannya banyak bahagia dan perih yang kurasa. Setiap tahap kuanggap sebagai perjuangan, hingga detik ini aku masih berjuang.

45 tahun yang lalu, aku adalah ragil dari 9 bersaudara. Cantik dan menarik, sudah tentu banyak pria ganteng, baik, dan mapan mengantri. Tapi aku rasa, aku telah menjatuhkan pilihan pada orang yang salah. Alex, pria arogan yang jauh dari mapan adalah pilihanku. Dia juga yang membuat aku berani meninggalkan bangku SMAku dan mengabaikan kata orang tuaku untuk kawin lari dengannya. Waktu itu mungkin yang ada dipikiranku hanya cinta dan Alex. Aku mendampinginya dari nol, kami berjuang bersama-sama dan aku ikhlas melakukannya. 1 tahun dari pernikahan kami, kami dikaruniani putra yang membuat kami lebih berusaha keras untuk hidup yang lebih baik. Beruntung pada akhirnya Alex mendapat posisi yang baik di perusahaanya dengan cepat kami dapat membeli rumah dan kendaraan. 2 tahun kemudian putri kami lahir, tentu saja kebahagian kami semakin lengkap saja.

5 tahun pertama, aku masih berpikir bahwa tidak ada yang salah dengan keputusanku. Namun setelah pindah kantor Alex sering ke luar kota. Aku masih menganggapnya wajar, mungkin urusan kantor. Tak sedikitpun aku menaruh curiga terhadapnya. Sampai suatu ketika, Aida teman baikku suatu di SMA yang kini menjadi Bidan. Tiba-tiba menelponku dan mengatakan bahwa Alex tengah mengantar seorang wanita muda melahirkan di tempatnya. Aku berulang kali menyakinkan apakah yang Aida lihat benar suamiku. Aida bahkan mengirim bukti photo ke ponselku. Tanpa pikir panjang aku bergegas ke tempat Aida, 4 jam perjalanan akhirnya aku tiba. Dengan perasaan yang bercampur aduk aku menemui Aida, setelah mendapat no. ruangan dimana wanita itu dirawat aku melangkahkan kakiku dengan penuh amarah.

Aku langsung masuk saja ke kamarnya, kebetulan Alex ada didalam.
“Lagi jenguk siapa bang?” tanyaku
“De kok kamu disini? Ayo kita bicara diluar,” ajaknya sambil menarik tanganku.
“Ga usah bang saya ada perlu sama dia,” ujarku menolak
“Bener kamu istrinya Alex?” tanyaku pada wanita itu
“Bener mba, maaf mba ini siapa?”
“Oo, jadi Alex belum kasih tahu kamu ya. Saya istrinya Alex,” tegasku
“Mba ini jangan bercanda, mas Alex nikah sama saya statusnya masih bujang. Ngga mungkin mba, bener kan mas?”
Alex hanya terdiam.
“Liat dia ga bisa jawab kan. Sekarang kamu bisa liat photo-photo ini,” Aku melempar photo pernikahan dan photo keluarga kami kemukanya.
“Bener ini, mas?” tanyanya pada Alex.
“Ya, itu bener.”
“Maaf mba saya ga tahu kalau mas Alex udah nikah, tapi maaf kalau saya harus tinggalin mas Alex saya ga bisa. Kasian anak saya yang baru lahir mba,” ujar wanita itu sambil menangis.
“Eehh saya ga mau tahu ya, saya juga ada anak-anak. Pokoknya kamu harus cerei sama ALex!”
Tiba-tiba wanita itu mengalami pendarahan, dan harus mendapat penanganan yang serius. Karena sudah muak dengan semua ini, aku pulang meninggalkan Alex.

3 hari kemudian, Alex pulang. Ia benar-benar memohon maaf atas kekhilafannya dan memintaku untuk menerima wanita itu ditengah-tengah kehidupan kami. Tak mau dianggap kalah, aku bertahan sebagai istri Alex juga demi anak-anak kami. Waktu berlalu tapi Alex mengulangi kesalahannya, ia menikahi seorang gadis yang baru lulus dari bangku SMA. Aku marah mengetahuinya, tapi tidak sesakit penghianatan pertamanya. Aku menggunakan gadis itu untuk membalas rasa sakitku pada Neni istri kedua Alex. Dan aku berhasil membuat Neni merasakan hal yang sama denganku yaitu dihianati Alex.

Setelah semua itu berlalu, hubunganku dengan Alex terasa hambar. Aku mulai masa bodo dengan apa yang dilakukannya diluar. Aku mulai dengan kehidupanku sendiri membiasakan diriku dengan keadaan ini dan berfokus pada pendidikan anak-anak kami. Sekarang perjuanganku adalah masa depan yang baik untuk putra putri kami. Meski sejujurnya masih ada cinta yang tersisa buat Alex.

gb3n (geben)

Posted: May 19, 2013 in Gb3n story 1

“gb3n” (geben) sebuah kata yang pernah kusalah artikan tapi justru kini melekat bahkan menjadi icon dari diriku. Yups, seperti artinya dalam bahasa Jerman (memberi) akupun ingin selalu dapat menjadi pemberi kebahagiaan bagi orang-orang disekitarku.

Meskipun hidup terbilang cukup keras buatku, tapi aku mensyukuri betapa aku telah menjadi bagian dari kehidupan mereka yang dengan penuh kasih menyayangi aku. Dalam hidup aku selalu menyakini satu hal bahwasanya jika kita membantu orang lain dengan tulus maka Allahlah yang kelak akan membantu kita. Sesulit apapun keadaan kita.

Dan setiap rencana indahku untuk mereka yang aku sayangi, sepertinya Allah selalu memberi jalan dan memudahkannya untuk menjadi nyata. Menjadi penyempurna kebahagiaan orang lain terutama orang-orang disekitarmu adalah hal yang juga membahagiakan buat diriku. Aku selalu ingin dapat menghapus mendung dari wajah mereka. Seperti seniman yang mengukir senyuman dan menjadikan harapan mereka menjadi bentuk. Aku adalah g3bn pemberi yang selalu ingin memberi karena aku menyayangi mereka.


Saya 20 Tahun Kemudian

20 tahun kemudian saya akan telah berumur 47 tahun, saya akan tinggal di Kalianda, Lampung Selatan bersama suami tercinta dan kelurga kecil kami. Tentunya saya akan menjadi seorang ibu namun saya akan menjadi ibu yang modis dan dekat dengan anak-anak.

Selain menjadi ibu rumah tangga yang baik, saya akan punya kesibukan lain yaitu sebagai guru PAUD dan menjadi pemilik toko pakaian yang letaknya tepat didepan rumah kami. Dan kegiatan yang paling menarik di keseharian saya adalah dapat berbagi ilmu dan menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi orang lain disekitar saya. Saya dan ibu-ibu sekitar rumah saya, membuat kerajinan perhiasan seperti kalung, gelang, cincin, bross yang terbuat dari hasil laut (keong, kerang, dan batu2 yang kecil). Kami juga mengolah hasil perkebunan seperti keripik nangka, ubi, dan pisang. Meskipun hasilnya tidak banyak tapi kegiatan ini cukup membantu para ibu rumah tangga untuk member uang saku anak-anak mereka. Biasanya kami menjual hasil produksi kami pada pedagang-pedagang disekitar tempat pariwisata di sekitar kami.

Bicara tempat pariwisata, di Lampung banyak sekali pantai yang sangat indah. Saya dan keluarga hampir setiap bulan bertamasya ke sana. Dan pantai favorit keluarga kami adalah Grand Elty Krakatau, selain pantainya yang indah Grand Elty Krakatau juga memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Disana juga tersedia vila untuk menginap.

Di umur saya yang 47 tahun saya akan telah memiliki 3 orang anak, anak pertama saya akan telah berumur 20 tahun dan sedang mengambil kualiah jurusan pertenakan di Bogor, karena dia mewarisi kecintaan terhadap hewan peliharaan dari ayah dan kakeknya. Anak kedua kami akan telah berumur 17 tahun, dia akan sedang kelas 3 SMA dan dia sangat tertarik didunia pengajaran jadi kami pikir akan memasukan kuliah dengan jurusan FKIP di UNILA nantinya. Sedangkan anak ketiga kami akan telah berumur 12 tahun. Dia baru akan telah kelas enam SD, seperti saya dia sangat suka dunia fashion, dunia lukis melukis, dan tulis menulis. Dia dan saya setuju jika nantinya dia akan masuk sekolah seni untuk mengembangkan bakatnya.

Di dalam kehidupan setiap orang pastilah banyak menemui masalah dan kesulitan-kesulitan, juga saya. Hal yang paling sulit menurut saya adalah ketika mengajak para ibu-ibu untuk lebih kreatif dan menciptakan lapangan kerjanya sendiri. Karena kebanyakan dari mereka berpikir wanita itu tidak perlu mandiri karena sudah ada suami. Tapi saya rasa saya telah bisa mengubah pemikiran mereka. Dan saya sangat bersyukur untuk itu.

Saya tahu saya akan dapat menjadi orang yang lebih berguna bagi orang-orang disekitar saya di masa depan, tapi saya tidak pernah tahu rasanya sebahagia ini dan ini sangat membanggakan bagi saya juga keluarga saya. Terima kasih buat keluarga dan orang-orang yang telah mendukung saya selama ini.

 

 

 

I Twenty Years Later

20 years later I would have been 47 years old, I would stay in Kalianda, South Lampung with my dear husband and our little family. Surely I would be a mother, but I would be a mother who is fashionable and close to my children.

Besides to being a good housewife, I would have something else to do that as playgroup teachers and become the owner of a clothing store that is located right in front of our house. And the most interesting activities in my daily life is to share knowledge and become more useful to others around me. The mother around our house, make crafts jewelry such as necklaces, bracelets, rings, bros made from marine products (snails, clams, and small stones). We also cultivate plantation such as jackfruit chips, yams, and bananas. Although the result was not much but this activity help enough the housewife to give pocket money for their children. Normally we sell our products at merchants around the tourist places around us.

Talk tourism places, in Lampung there are so many beautiful beaches. My family and I almost every month jaunt there. And our family’s favorite beach is Grand Elty Krakatau, in addition to its beautiful beaches Grand Elty Krakatau also has complete facilities. There is also available villa for your stay.

In the 47 years of my life I would have had 3 children. My first child would have been 20 years old and currently taking college in science of animal husbandry in Bogor, because he inherited a love of pets from his father and grandfather. Our second son would have been 17 years old, he will was third grade of senior high school and he is very interested in the world of teaching so we thought he would be entering college with a major in Guidance and Counseling in UNILA later. While our third child would have been aged 12 years, she will have a new sixth grade, like me she really likes fashion, painting, and writing. She and I agree that she will be entered art school to develop her talent.

In the life of every person must have a lot of problems and difficulties as well as I. The most difficult thing in my opinion is when invites mothers to be more creative and create his own field. Because most of them think that women do not need to be self-sufficient because there husband. But I think I have been able to change their minds. And I’m very thankful for that.

I knew I would be able to be more useful for the people around me in the future, but I never knew it will be as happy as this and this was so proud to me also my family. Thanks for my family and the people who have supported me over the years.

My new place

Posted: March 8, 2013 in Gb3n story 1

CIMG0386CIMG0373CIMG0377CIMG0375CIMG0387

ImageImage

ImageImageImageImageImageImageImageImageImageImage

ImageImageImageImageImage

My new place, My new life

Posted: February 4, 2013 in Gb3n story 1

Aku sekarang berada disini, Desa Tanjung Sari, Kec. Palas, Lam-Sel. Desa yang mayoritas penduduknya adalah pembuat gula merah dan petani. Setiap pagi para pembuat gula memanjat pohon-pohon kelapa mereka untuk mengambil air dari dahan kelapa ( kegiatan ini disebut juga Menderes), Setelah itu air kelapa itu di rebus hingga kurang lebih 4-6 jam. Setelah proses itu baru gula dicetak. Mereka tidak khawatir tentang bagaimana mereka akan menjualnya karena sudah ada pengumpul yang siap membayari gula-gula mereka. Perkeluarga setiap harinya bisa mendapat 20-25kg dengan harga per kg sekitar 9000-10000. Sementara para petani kebanyakan menanam jagung, tentu saja sebagian dari mereka juga menanam padi, karet, dan sayur mayur ala kadarnya. Meskipun bukan desa yang sangat sangat pelosok, aku pikir mereka cukup ramah. Kehidupan disinipun terbilang cukup nyaman meskipun agak sepi.

Diluar dari itu semua, aku suka tempat ini. Yups, siapapun pasti akan berkata ini menakjubkan. Aku suka sekali pantai dan entah sejak kapan aku menyukainya. Dan disini aku bisa melihat begitu banyak hamparan pantai-pantai yang indah dengan gunung-gunung yang tinggi disekitarnya. Hemm.. aku bisa menghiruk udara pagi yang segar, melihat kabut masih menyelimuti gunung dan para petani, pembuat gula yang bergegas melakukan aktifitas mereka.

Dan yang membuat semua itu lebih berarti, adalah seseorang disampingku sekarang. Yups, dia Suamiku. (Thanks for bring me to the beautiful place).

Mulai hari ini aku kan bercerita, aku akan menulis, lagi..lagi..dan lagi.. Semangat!!!

Cerita kecil pak Dady

Posted: June 22, 2012 in Gb3n story 1

Ini kali pertama aku berkunjung ke tempat kerja Dani, disana aku diperkenalkan dengan seseorang yang sudah paruhbaya. Beliau adalah pak Dady yang mana merupakan pengawas di tempat Dani bekerja. Pak Dady cukup ramah menurutku, ia juga murah senyum. Ketika Dani pergi memeriksa pekerjaanya, pak Dady sedikit banyak bercerita tentang kisah cinta pertamanya dulu. Mungkin karena melihat aku dan Dani lantas membangunkan ingatannya pada gadis yang ia cintai dimasa remajanya.

“Awalnya ia bercerita tentang pekerjaannya kemudian beralih tentang pendidikan yang sebenernya membalut kisah cintanya dulu.
Dizamannya transportasi sangatlah sulit, tidak banyak kendaraan yang mondar-mandir. Setelah mendaftarkan diri ke SMP diluar kotanya yaitu Semarang. Pak Dady menunggu kendaraan Truk untuk membawa mereka kembali ke Yogyakarta. Sayangnya tak satupun Truk yang bersedia mereka tumpangi. Merekapun menunggu seharian di tepi jalan. Seorang bapak tua untuk kedua kalinya melintasi mereka dan kemudian berhenti untuk yang ketiga kalinya.
“Mau kemana bu?” tanyanya.
“Kami mau ke Yogyakarta pak, saya baru mendaftarkan anak saya di SMP negeri Semarang. Tapi sampai sekarang kami belum mendapatkan tumpangan truk untuk kembali pulang,” jelas ibu pak Dady.
“Oo begitu, yasudah berbuhung hari sudah sore ibu dan adik bisa menginap dulu dirumah saya.”
“Tidak usah pak, terimakasih.”
“Sudah tidak apa-apa, pasti kalian lelah menunggu seharian disini. Mari bu.”
Akhirnya pak Dady beserta ibunya mengiyakan ajakan bapak tua yang namanya adalah pak Kijo. Rumah pak Kijo tidak jauh dari tempat mereka menunggu truk, hanya sekitar setengah kilo saja. Sesampainya di rumah pak Kijo, pak Dady dan Ibunya di perkenalkan pada istri pak Kijo (Lasmi) dan anak mereka yang seumuran dengan pak Dady (Retno). Ditengah makan malam, pak Kijo menawarkan seandainya pak Dady memang nanti diterima di SMP negeri Semarang. Tinggalnya tidak usah dimana-mana melainkan dirumah pak Kijo saja. Tentu saja tawaran tersebut disambut gembira oleh pak Dady dan ibunya. Setelah beristirahat semalam, pak Dady dan ibunya pulang ke Yoyakarta keesokan paginya.

Seminggu kemudian pak Dady kembali ke Semarang untuk melihat pengumuman penerimaan siswa baru, syukur alhamdulillah nama pak Dady tertulis diantara nama-nama siswa yang diterima di SMP negeri Semarang. Mulai ajaran baru dimulai pak Dadypun mulai tinggal di rumah pak Kijo dan di mulai pula kisahnya bersama Retno. Retno sangat senang dengan hadirnya pak Dady dikediamannya. Pak Dady baginya tidak hanya teman bermain, teman di sekolah, teman belajar tapi juga seorang kakak. Begitu juga Retno bagi pak Dady. Keduanya sudah seperti saudara, Retno sering ikut ke desa pak Dady ketika liburan sekolah. Melihat hamparan sawah, bermain di sungai adalah pengalaman yang sangat menyenangkan buat Retno.
Tiga tahun berlalu hanya keriangan serta perasaan nyaman satu sama lain yang mereka kenal. Namun setelah menginjak bangku SMU perasaan keduanya mulai menjadi cinta. Minder karena tingkatan sosial diantara mereka, pak Dady hanya memendam perasaannya di dalam hati saja. Hingga suatu malam pak Dady hendak menonton layar tancep dan ketika mengeluarkan sepeda miliknya ibu Lasmi bertanya dari balik kamarnya;
“Siapa?”
“Saya Dady bu,” jawabnya
“Mau kemana Dy?”
“Mau nonton layar tancep bu.”
“Aku ikut mas Dady!” Sahut Retno.
Pak Dady hanya diam dan kemudian mengembalikan sepeda miliknya, ia tak mau Retno ikut bersamanya karena ia tahu benar pasti Ibu Lasmi tidak akan memperbolehkannya. Tidak hanya mengurunkan niatnya untuk menonton malam itu tapi pak Dady juga harus mengurunkan cintanya pada Retno setelah didengarnya dari celah jendela bu Lasmi tengah memarahi Retno, ia melarang keras Retno berhubungan dengan pak Dady.
Waktu berlalu agak sulit bagi pak Dady. Yups, sulit bagi pak Dady menghadapi perasaan cintanya pada Retno. Lega rasanya akhirnya mereka meninggalkan bangku SMU, pasalnya pak Dady memutuskan untuk meneruskan kuliahnya di Yogyakarta sementara Retno tetap meneruskan kuliah di Semarang.

Lama tak bertemu Retno datang memintanya untuk menemaninya beserta calon suaminya ke tempat pamannya di Yogyakarta. Antara senang dan sedih mendengar kabar bahwa Retno akan menikah. Tapi itu adalah keputusan terbaik buat mereka.
Setelah menikah dan dikaruniai 3 orang putra, kabar buruk sampai ditelinga pak Dady. Suami Retno jatuh sakit. Pak Dady hanya bisa berharap Retno bisa melalui semuanya dengan baik.

Tak lama berselang pak Dady menemukan jodohnya yang tak lain adalah teman kantornya (Tina). Merekapun memutuskan untuk menikah. Di pesta pernikahannya Retno turut hadir bersama tiga putranya tanpa didampingi suaminya. Ia duduk di bangku depan seorang diri, matanya berkaca-kaca entah apa yang sedang dilamunkanya. Pak Dady mencuri pandang ke arahnya. Dirinya masih saja menghawatirkan wanita yang masih dianggapnya gadis kecil.
Waktu yang mempertemukan mereka waktu juga yang mengharuskan mereka untuk memilih jalan mereka masing-masing.”

Aku melihat dimata pak Dady bahwa sebenarnya ia berharap seandainya cintanya bersama Retno adalah mungkin. Aku bisa merasakan cinta disetiap tutur katanya ketika ia menceritakan tentang kisahnya. Aku pikir kisah mereka hanya sampai disitu saja. Tapi pak Dady kemudian melanjutkan ujung dari cerita itu;

“3 tahun kemudian dia meninggal.”
“Suami Retno?” tanyaku.
“Bukan, tapi Retno.”
Aku tercengang mendengarnya, setahuku suami Retnolah yang sedang jatuh sakit. Pak Dadypun melanjutkan;
“Retno kena tumor, dari kecilpun dia sudah sakit-sakitan. Aku tahu benar tentang kondisinya. Kalaupun saya menikah dengan Retno mungkin saya sekarang sudah tidak punya istri,” tutupnya.

Aku tidak tahu harus bicara apa lagi, kupandangi wajahnya yang masih sangat kehilangan Retno. Aku yakin cintanya pada Retno masih tersimpan sangat rapi dilubuk hatinya.

Koin

Posted: April 4, 2012 in Gb3n story 1

“Jika nanti kau tak menemukan aku disini, berhentilah mencariku.”

Hari ini aku baru dapat memaknai kata-kata itu. Meskipun tidak menyesali menghabiskan hampir separuh hidupku untuk mencarinya, karena ketidaktahuanku.  Tapi jika boleh aku memilih aku lebih suka masih dalam pencarianku. Setidaknya aku masih punya harapan bertemu dengannya suatu hari nanti.

Haris menjatuhkan tubuhnya pada pagar yang membatasi antara dirinya dan laut. Tangan kanannya menggenggam erat sebuah koin yang didapatnya dari wanita yang sangat ia sayangi. Senyum kepedihan tersungging di sudut bibir merahnya. Haris dengan mudah tenggelam dalam kenangannya bersama wanita pemilik koin itu.

1978 merupakan awal pertemuan mereka. Hari itu seperti biasa Haris dengan Vespanya meluncur ke pasar tambak dan segera membuka toko sepatu miliknya. Hari itu juga sebuah toko bunga,  baru dibuka tepat di seberang tokonya. Pemiliknya adalah seorang wanita yang piawai dalam merangkai bunga tapi ia dikenal tidak terlalu ramah pada pelanggannya. Meskipun di tokonya dipenuhi bunga-bunga yang mengembang indah tapi jarang sekali terlihat senyuman merekah di bibirnya. Yups, Mety.  Nama itu tertulis jelas pada kertas nota pembelian bunga yang baru diterima Haris dari pemilik toko bunga diseberang tokonya. Setiap hari bertemu tidak lantas membuat mereka mudah akrab. Mety adalah sosok yang misterius yang mengundang keingintahuan Haris tentang dirinya.

1981 Masih tidak bisa menebak seperti apa Mety sesungguhnya. Dan suatu pagi ketika Haris tengah sibuk melayani pelanggannya. Terdengar suara teriakan Mety dari tokonya, Haris bergegas ke toko Mety.

“Ulat..Ulat!! ada ulat dibahuku,” Teriak Mety hampir menangis.

Haris dengan segera mengambil ulat itu dari bahu Mety.

“Terima kasih,” ucap Mety datar.

“Iya,” balas Haris sembari tersenyum memandangi wajah mety yang pucat karena ketakutan.

“Kenapa kau tersenyum? ada yang aneh dengan wajahku?”

“Tidak, hanya saja aku pikir kau tidak takut dengan apapun.”

“Lalu kau mau mengejekku karena takut pada ulat?”

Haris menggelengkan kepalanya.

“Baiklah aku harus kembali ke tokoku. Hati-hati banyak ulat di bungamu,”

“Kau,” Ujar Mety sedikit kesal.

Lain kesempatan, Mety berkunjung ke toko sepatu haris. Ia membeli beberapa pasang sepatu untuk anak-anak.

“Buat adikmu?” tanya Haris.

Raut wajah Mety tiba-tiba menegang, ia langsung membayar sepatu yang ia sudah tahu harganya dengan uang pas dan kemudian pergi. Merasa ada yang salah dengan ucapannya Haris bermaksud minta maaf. Ia mengejar Mety ke tokonya, tapi mety tidak ada disana. Ketika bermaksud kembali ke toko, Haris melihat Mety tengah memberikan sepatu-sepatu yang baru ia beli pada anak-anak yang suka membantu para pembeli juga penjual untuk mengangkat barang. Senyuman kecil nampak dibibir wanita yang boleh dibilang sangat pelit dengan senyum itu.

Keesokan harinya, Haris datang ke toko bunga Mety. Ia membawa sepasang sepatu wanita dengan aksen pita diatasnya dan memberikannya pada Mety.

“Untuk apa aku harus menerima sepatu ini? Aku tidak membutuhkannya, bawa kembali.”

“Kau tidak tahu, kata orang tua pamali menolak pemberian orang.”

“Aku tidak tahu.”

“Sudahlah terima saja, kau ini kan wanita tapi gayamu sudah seperti laki-laki saja. Paling tidak kau harus tampil cantik, kau kan penjual bunga.”

“Kenapa kau harus mengurusi cara berpakaianku, kau tidak punya kerjaan?”

“Tentu aku punya kerjaan. Kebetulan aku punya banyak waktu dan kau mengganggu pandanganku,” kata Haris lalu tertawa.

“Maaf aku hanya bercanda, jangan marah ya.”

“Tidak bisa, aku sudah terlanjur marah.”

“Ya sudah, aku pulang.”

“Pulang saja, sepatu ini sekalian kau bawa.”

“Tidak, sudah buatmu saja.”

Haris kemudian meninggalkan toko Mety tanpa membawa sepatunya.

Kedekatan mereka tak ayal memimbulakan cinta dihati keduanya, meski membiarkan hubungan mereka mengalir begitu saja tapi Haris punya niatan untuk membina sebuah hubungan yang lebih serius dengan Mety. Mungkin hanya menunggu waktu yang tepat saja. Disisi lain Mety mulai merasa  nyaman dengan Haris, Haris seperti sahabat yang tahu bagaimana harus menghadapinya.

Hari yang indah dengan  111 tangkai mawar merah, Haris meminta Mety menjadi kekasihnya.

“Dari awal kita bertemu aku hanya melihat 110 senyuman dari bibirmu, tapi aku yakin benar kau akan memberiku satu senyuman lagi sehingga jumlahnya akan sama seperti bunga mawar ini. Mety bunga-bunga di toko ini sangat indah juga terlihat sangat jelas dari toko sepatuku tapi aku sudah pernah bilang bukan kalau kau mengganggu pandanganku dan kau tahu ternyata kau tidak hanya mengganggu pandanganku tapi juga hatiku,” Haris tersenyum.

Itu senyuman yang paling manis yang pernah Mety lihat dari Haris.

Mety mulai salah tingkah, ia kemudian masuk dan mengambil sebuah koin miliknya.

“Aku sudah berhenti mengambil keputusanku sendiri, jadi semoga kau beruntung dengan koin ini. Koin ini punya dua sisi, Matahari dan Bintang. Jika Bintang berarti “Iya” dan “Tidak” untuk Matahari.”

“Baiklah.”

Kemudian Mety melempar koin itu ke udara dan segera mengkapnya.

Wajah Haris harap-harap cemas, Ia menghargai cara Mety menentukan keputusannya meskipun dengan cara yang tidak biasa.

Perlahan Mety membuka tangan kanannya, “Bintang”  gambar itu yang terlihat di koin itu. Berarti jawabannya adalah “Iya”.

Sejak itu Mety sedikit banyak mulai membuka diri pada Haris, tapi bukan Mety kalau ia tidak punya sisi yang misterius dari dirinya.

1986 Haris meminta Mety untuk menunggunya, karena ia akan pulang untuk menemui orang tuanya.

Namun setelah kembali, Haris tak menjumpai Mety di tokonya. Mety malah menitipkan sepatu pemberiannya pada penjaga tokonya. Ada selembar pesan didalamnya;

“Jika nanti kau tak menemukan aku disini, berhentilah mencariku.”

“Kapan Mety menyerahkan ini padamu?” Tanya Haris pada penjaga tokonya.

“Tadi pagi mas, aku lihat mba Mety memegang tiket kereta api dan baru 30menit yang lalu mba Mety menitipkan kunci tokonya. tapi tidak bilang apa-apa mas.”

Haris bergegas pergi ke stasiun dengan Vespanya.

Beruntung ia masih menemukan Mety di bangku tunggu.

Mety lalu bangkit dari bangkunya kerena menyadari kehadiran Haris.

“Kenapa kau mau pergi, kau bermaksud meninggalkan aku?” Tanya Haris

“Maaf Haris, rasanya sudah cukup aku bersamamu.”

“Aku tidak mengerti ucapanmu.”

“Haris dengar, kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku.”

“Aku memang tidak tahu apa-apa, tapi aku ingin tahu semuanya.”

“Untuk apa, tidak ada gunannya buatmu.”

“Aku peduli dan sayang denganmu, kau masih bisakah berpura-pura tidak menyadarinya? Apa kau anggap keseriusanku ini main-main?”

Mety terdiam.

“Pergilah,” ucapnya lirih.

“Menikahlah denganku,” Ujar Haris mantap

“Kau tidak dengar, pergilah..!!!” teriak Mety.

“Kenapa, aku perlu tahu alasanmu.”

“Aku tak baik buatmu, kelak kau akan menemukan wanita yang pantas untuk kau nikahi.”

“Mety, aku cukup mengenalmu. Kau wanita yang baik, dan aku tidak peduli kau punya masa lalu yang kelam atau kau pernah membunuh seseorang sekalipun.”

Kata-kata Haris sepertinya telah membawa Mety kembali pada titik dimana titik itu terpenuhi dengan luka yang tak ingin ia sambangi lagi.

“Yups, aku seorang pembunuh. Aku membunuh adikku.”

“Kau dengar itu, lupakan aku.”

Dengan kereta yang tak mau lagi menunggu seorangpun, Mety meninggalkan Haris dengan berjuta tanya dibenaknya.

“Kau pasti bercanda,” Ujar Haris lirih.

Setelah tak mampu mencegah kepergian Mety. Haris duduk lemas dibangku tunggu sembari memeluk lututnya. Didalam hatinya  penuh tanya “Benarkah kata-kata  Mety barusan, ia seperti bukan Mety yang ia kenal selama ini. Itukah sisi misteriusnya? Benarkah itu alasan sesungguhnya atau itu hanya untuk menutupi alasan lain, Lalu apa alasan lain itu?”.

Bertahun-tahun berlalu Haris tak menemukan Mety juga jawaban atas semua pertanyaannya.

1991 Seorang wanita yang sebaya dengan Mety datang ke toko Haris.

“Kau Haris?” tanyanya

“Benar, maaf anda siapa?”

“Saya sabahat Mety. Firda,” wanita itu mengenalkan diri.

“Sahabat Mety, dimana dia?” Tanya Haris  penuh harap.

“Maaf bisa kita bicara di tempat yang tidak ramai,” pinta Firda.

“Tentu saja,” kata Haris lalu mengajaknya ke taman tengah kota.

Keduanya duduk bersebelahan, mereka nampak canggung satu sama lain. Ada goresan ketidaksabaran, keingintahuan, dan pengharapan di wajah Haris.

“Mety banyak bercerita lewat suratnya,” ujar Firda membuka pembicaraan.

“Apa yang dikatakan tentang aku?”

“Dia bilang, Ia kembali menemukan sosok ayah didirimu. Membuatnya merasa nyaman dan dilindungi. Kau laki-laki yang sangat baik.”

“Benarkah Mety mengatakan semua itu?”

Firda mengangguk sembari tersenyum.

“Dimana Mety Firda? Dia baik-baik saja kan?”

“Emmm…,” Firda menghela nafas panjang.

“Sebaiknya kau terima ini,” Firda menyerahkan kotak kecil pemberian Mety yang mana ia pinta untuk diserahkan pada Haris.

Kotak itu, Haris sudah tahu maksudnya. Bukan kabar baik. Perlahan Haris membuka kotak yang didalamnya hanya ada selembar kertas dan satu buah koin. Haris lalu mengambil kertas didalamnya. Dengan seksama iapun membacanya.

“Haris, maaf kali inipun aku tak bisa menentukan pilihananku dengan keputusanku sendiri juga dengan koin ini. Aku bukan tidak menyadari perasaanmu terhadapku. Tapi ternyata akupun mempunyai perasaan yang sama padamu. Hanya saja perasaan itu terlalu indah buatku, meski aku sangat merasa nyaman berada didekatmu, meski mungkin sebenarnya aku sangat membutuhkanmu. Tapi aku hanya akan membuatmu sedih, dan aku tidak mau itu. Terima kasih telah mengukir hari-hariku dengan senyuman. Aku menyayangimu, Mety.”

Haris menundukan kepalanya kebawah, nampak bahunya bergetar. Firda lalu menepuk pundaknya.

“Mety wafat 5 tahun yang lalu, karena gagal ginjal.”

“Dia sakit? Kenapa tidak memberitahuku?”

“Maaf itu keinginannya Haris.”

“Sebelum ia pergi, ia menolak lamaranku. Dia bilang dia membunuh adiknya, apa itu benar?” tanya Haris

“Tidak,” Firda menggeleng.

“Mety tidak pernah membunuh siapapun apalagi adik kesayangannya, satu-satunya yang ia punya di hidupnya setelah kedua orang tua mereka meninggal. Selama ini Mety memang selalu merasa kalau dialah yang menyebabkan kematian adiknya.”

“Adiknya meninggal bunuh diri.”

“Kenapa?”

“Dian Malu karena tidak lulus ujian Nasional dan merasa pengorbanan kakaknya terlalu besar untuknya.”

“Pengorbanan apa yang kau maksud?”

“Mety menjual satu ginjalnya, untuk membayar tunggakan uang sekolah dan biaya ujian Dian, juga untuk biaya hidup  mereka.”

“Memangnya dia tidak punya keluarga?”

Firda menggeleng

“Aku tidak tahu, waktu itu kami pendatang baru. Dan maaf Haris akulah penerima donor ginjalnya.”

“Apa!!! kau?” Haris menoleh pada Firda.

“Ya, aku. Waktu itu aku sakit dan membutuhkan donor ginjal segera. Ketika aku dan keluargaku hampir putus asa karena tidak menemukan pendonor yang cocok. Mety datang  menawarkan ginjalnya dan ginjalnya cocok denganku. Mety telah menyelamatkan hidupku. Sejak itu dia menjadi sahabatku juga keluarga baru kami.”

“Sejak adiknya meninggal dia pergi dari desa kami dan hanya setahun sekali pulang untuk menengok makam adiknya. Dan 5 tahun lalu ia pulang dan minta dimakamkan disebelah makan adiknya.”

“Bagaimana bisa dia..,” Haris tak bisa meneruskan ucapannya.

Airmata terus berderai dipipinya. Dan masih berderai ketika seorang kakek tua berdiri disebelahnya.

“Hei.. Anak muda, siapa yang sedang kau tangisi?” tanya kakek tua itu.

Haris hanya tersenyum dalam tangisnya.

“Kau pasti sangat menyayanginya, bukan?” ujar kakek tua itu sembari menepuk pundak haris.

Meskipun tak mendengar sepatah jawabanpun dari mulut Haris. Tapi dengan mudah ia menemukan jawaban itu dari raut wajah Haris. Kemudian kakek tua itu meninggalkan Haris sendiri.

Senja nampak indah di balik bukit  sementara deburan ombak semakin menderu keras. Laut sudah pasang, langitpun sudah jingga. Haris masih terpaku menatap jauh rasa  kehilangannya. Esok ia akan menjumpai perasaan yang sama,  seperti koin dalam genggamannya yang memiliki gambar yang sama di kedua sisinya.

Pilihan

Posted: January 26, 2012 in Gb3n story 1

Malam semakin larut, namun Teo masih di meja kerjanya. Sementara Kinar masih dengan segala kebimbangannya, ia mondar-mandir di depan pintu ruang kerja suaminya. Berulang kali ia menurunkan tangannya untuk tidak mengetuk pintu, setelah seluruh tekad dan keberaniannya beradu ia akhirnya masuk ke ruang kerja suaminya.

“Bisa kita bicara sebentar Mas?” tanya Kinar

“Duduklah, ada apa? kenapa kau belum tidur?”

Kinar menghela nafas panjang sebelum ia mulai bicara, sementara Teo memperhatikan raut wajah istrinya yang nampak berbeda malam itu.

“Mas, aku minta kau menceraikanku.? ujar Kinar to the point.

“Apa!! Cerai? Kenapa Nar?” Teo tersetak oleh perkataan yang baru saja Kinar lontarkan.

Kinar Mengangguk penuh keyakinan.

“Aku terlalu lelah dengan semua ini, aku ingin bebas dan hidup lebih baik.”

“Apa maksudmu, aku tidak mengerti. Apa kau punya simpanan? kau ingin pergi dengan lelaki itu, siapa dia?”

Kinar bangun dari bangkunya dan menatap mata lelaki yang menikahinya selama 6tahun lebih.

“Aku tidak percaya kau mengatakan itu, kita berpacaran 3 tahun dan aku merelakan perjodohanmu dengan Lisa. Untuk menjadi istrimu aku menunggu 2tahun. Dan hari ini kau masih meragukan kesetiaanku. Hahh.. Aku harusnya tidak menunggumu waktu itu.”

“Maafkan aku Kinar. Lalu apa alasanmu?”

“Mungkin kau tidak pernah tau, seperti apa ibu dan adikmu memperlakukanku. Mereka menghinaku sesuka mereka, tidak pernah menganggapku sebagai istrimu. Sejak awalpun mereka tidak pernah menyukaiku. Lalu kau tahu benar bagaimana keluarga kita tidak akur, aku lelah dengan pertikaian mereka, aku lelah berada ditengah-tengah keduanya Mas.  Dan Lisa begitu membuatku cemburu, kau memperlakukannya begitu istimewa. Apa karena dia menyelamatkan nyawa ibumu atau memang karena kau juga mencintainya? Oh ya aku lupa, Lisa juga istrimu. Dengan alasan itu semua, untuk apa aku terus disini????” Ujar Kinar.

Airmata meluap dari matanya, Teo menghampiri Kinar dan mencoba memeluk istri keduanya yang juga cinta pertamanya itu.

“Aku benar-benar minta maaf, karena aku telah sangat melukaimu. Maafkan aku Kinar, aku mohon jangan pergi.” pinta Teo

“Lepaskan aku,” ujar Kinar sembari menatap wajah lelaki yang begitu ia cintai.

“Aku tidak bisa meneruskan ini, aku sudah sangat lelah, lelah, dan lelah.”

Sebulan kemudian Kinar resmi bercerai dari Teo. Ia memutuskan meneruskan S2nya di Yogyakarta. Tinggal disekitar pantai, memhabiskan waktu luangnya dengan melukis dan mengajar anak-anak yang kurang mampu disekitar lingkungan membuatnya melupakan Teo, keluarganya dan kehidupannya yang buruk. Menjalani hidup dengan caranya sendiri. Bebas meski tanpa orang yang paling dicintainya.

waktu seperti roket yang meluncur sangat cepat. Seperti bom waktu, yang pada waktunya akan meledak. Ada kalanya kita harus melepaskan apa yang telah kita perjuangkan karena dengan memilikinya tidak membuat kita hidup dengan bahagia. Mungkin benar jika sebagian orang bilang bahwa akan lebih sulit mempertahankan ketimbang berjuang mendapatkannya.

Kebahagian adalah masalah keputusan, dan kita berhak menentukan pilihan yang lebih baik untuk hidup kita.

Masa Kecil

Posted: January 15, 2012 in Gb3n story 1

Banyak yang sudah lupa masa kecil mereka seperti apa, lantaran memang sudah sangat lama sekali waktu itu tertinggal atau tak ada yang berkesan dimasa itu. Tapi tidak denganku. Aku malah selalu ingin mengulang masa-masa itu. Banyak sekali kisah lucu, dan membahagiakan buatku di masa itu.

SD N 1 Tanjung Jaya, Lampung Tengah. Tempat ku temukan sahabat-sahabat yang ikut serta mengukir indah pada kisah kecil kami. Anisa, Hoti (alm), Warti, Parni, Eko, Entik, Anang, Poneren, Dwi, Tuti, Novi, dkk.

Dwi, Nining, Novi, Tuti yang ku singkat menjadi Dunias. Kami adalah tetangga, sedangkan Dwi sepupuku. Meskipun aku tertinggal kelas dari mereka, mereka teman mainku dirumah. Bersyukur aku masih bisa merasakan permainan-permainan tradisional.  Bersama mereka, aku sering bermain BP-an (orang-orangan yang terbuat dari kertas yang bisa di ganti model bajunya). Biasanya kami membelinya di pasar Tanjung Jaya setiap senin dan Jumat. Aku masih ingat barang-barang yang aku punya sampai 1 plastik besar lebih. Di rumah tuti yang dulu kami suka memetik sirsak dan jambu kepunyaannya. Oya dalam permainan karet, BP-an, Rumah-rumahan dari tanah, gateng, Kerece, Tutilah yang paling  jago diantara kami berempat dan yang paling pasif si Dwi. Novi punya pohon pinang disebelah rumahnya, kami berempat suka menggunakan pelepah yang sudah jatuh untuk kami gunakan sebagai kereta yang di tarik 2 orang dari kami secara bergantian. Entah karena keadaan atau memang anak pada zaman kami yang cukup kreatif, dulu kami suka membuat orang-orangan menggunakan tangkai pohon pepaya. Tangkainya kami potong sesuai selera dan untuk rambutnya kami mempergunakan daun pisang yang seperlunya kami lipat 1-1.5″ di bagian atasnya kemudian kami sisir daunya menggunakan jarum. Untuk menghasilkan rambut keriting biasanya kami menjemur daun pisang itu terlebih dahulu. Terakhir gulung daun pisang dan masukan bagian yang dilipat tadi ke dalam pelepah pepaya dan jadilah boneka barbie ala kita hehehe…

Kami juga sering bergabung dengan anak laki-laki di lingkungan kami ( Eka, Wahyu, Eka, Eman, Heri, dkk) untuk bermain petak umpet, utat, rebonan, dan sepak bola. Pokoknya seru banget… banget… banget.

Lain cerita aku, Anisa, Hoti, Eko, dkk. Kami suka main ke kebon kelapa sawit (ada tugas sekolah buat sapu lidi), juga ke sawah & kali ( mencari ikan). Pernah kita orang nyari ikan di sawah mang sapa gitu..( Lupa), tepatnya di belakang rumah Parni. Kita orang di kejar-kejar sama yang punya karena dirasa merusak tanaman padinya,,, hehehe… (Maaf ga sengaja Mang..)

Pernah juga kita ambil rambutan di kebon Hoti (alm),, ehhh dimarahin bapaknya coz menurut bapaknya Hoti tuh rambutan belum pada mateng-mateng. Ga tahu aja tuh bapaknya Hoti, rambutannya udah mateng kok, meskipun masih belum merah tapi udah manis hehehe..

Aku, Eko, Hoti (alm), Rendy, dkk, kita orang pernah tuh mendaki gunung waras dekat rumah Eko. Waktu itu, tuh gunung lagi abis kebakaran jadi kaki, tangan & baju kita pada celemotan areng & abu. Oya di puncaknya ada makam yang di anggap keramat oleh warga sekitarnya. Dan isengnya si Rendy nakut-nakutin ada hantu pula, kita orang jadi lari terbirit-birit hufffttt… Di bawah gunung waras ada pohon bacang yang kebetulan lagi buah, buahnya gede-gede banget terus kita ambil beberapa ( Maaf ya yang punya bacang kita ga izin hehehe…).  Dideket rumah Eko, kita punya langganan es gula aren yang rasanya masih original + mantap lohhh.

Kita punya temen namanya Entik dia adeknya Enang yang juga satu kelas di SD, rumah mereka ditengah-tengah kebun kelapa sawit, sawah, + ladang. Selain udaranya yang masih seger dan pemandangannya yang indah tempat mereka juga agak serem coz di depannya ada dua pohon asem yang tinggi gede. Di jamin suasana malem disana pasti mistis banget. di luar dari kengeriannya,, tuh pohon asem punya kenangan yang ga bakal kita lupain, lucu,, seru,, serem… hemmmm

Kita suka minta tebu dan asem tempat Entik, kadangan mereka yang bawain ke sekolah (baik kan mereka). Pernah ada kisah waktu kita rame-rame ke tempat Entik buat ambil Asem. kita orang pada naek, kebetulan aku masih dibawah sih (ga berani naek hehehe). Anisa masih ditengah tangga, Eko, dkk udah nangkring diatas. Tiba-tiba sarang ular sawah / telampar yang mungkin meresa terganggu oleh kita pada buyar, si Eko ampe nangis ketakutan coz kakinya di lewatin ular. lucu,, liat Eko nangis, seru,,pada lari & ngejar ularnya,, seremmm,,, takut digigit… wkkkwkkkwkkwkk…

Oya, di SD N 1 Tanjung Jaya, ada gunung-gunungan (bukit kecil banget) dan kita di situ suka pada maen perosotan,, disekitarnya ada banyak pohon albasia dan beberapa pohob beringin tempat kita pada nangkring ( Duchhh petekelan banget yach kita orang), ada 1 pohon lagi dimana kita biasa nangkring. Yups pohon belimbing depan rumahku punya buah yang unik, buahnya tuh kecil-kecil dan ga asem. kita orang juga suka nangkring disitu, biasanya kita bawa garem buat temen makan belimbing diatas. Hemmm yammiiiii…

Sedikit mau cerita tentang Hoti (Alm) sahabat kita, Dia anaknya super tomboy secara penampilan, tapi cewek banget kok dia. dan kisah yang pasti kita orang inget tentang dia waktu di SD adalah waktu main Kasti. Pas grupnya jaga dan waktu hoti berusaha nangkep bola yang mengarah ke dia tangannya tuh kebukanya lebar banget jadi kayak mau berdo’a, alhasil bolanya bisa dengan mudah ngabur hahahhahaha…. (sedihhh…kangen..)

Meski tidak memiliki sesuatu yang utuh dan melewatkan moment yang seharusnya ada, Tapi aku bersyukur banget bahwa Allah menggantikannya dengan masa kanak-kanak yang sangat indah dan sahabat-sahabat yang tulus dan super seru. Terima kasih kepada Allah atas anugerah indah ini dan buat sahabat-sahabatku. I miss you all..